Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Dua Penjual Arak Maut Diamankan

Dua Penjual Arak Maut Diamankan

Written By Dre@ming Post on Kamis, 16 Januari 2014 | 7:26:00 AM

Polisi terus dalami kasus pesta arak oplosan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng yang menewaskan 3 warga setempat dan 35 korban harus dilarikan ke rumah sakit. Petugas amankan dua penjual arak maut di Desa Munduk, yakni I Komang Duta Artawan, 40, dan I Komang Sugita, 43, berikut ratusan liter arak Bali yang baru habis disuling. Gbr Ist
SINGARAJA - Polisi terus dalami kasus pesta arak oplosan di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng yang menewaskan 3 warga setempat dan 35 korban harus dilarikan ke rumah sakit. Petugas amankan dua penjual arak maut di Desa Munduk, yakni I Komang Duta Artawan, 40, dan I Komang Sugita, 43, berikut ratusan liter arak Bali yang baru habis disuling.

Komang Duta Artawan telah lebih dulu ditangkap polisi di rumahnya di Banjar Beji, Desa Munduk, Selasa (14/1) pagi, setelah kematian 3 korban yakni I Gede Suta Arjawa, 39, I Made Dwi Adnyana, 45, dan I Komang Rudi Alam, 35. Sedangkan Komang Sugita baru ditangkap polisi, Selasa sore. Nama Komang Sugita diperoleh polisi dari Komang Duta Artawan, yang ditangkap lebih awal. Sumber di kepolisian menyebutkan, Komang Duta memberikan informasi terkait penjual arak maut di Desa Munduk kepada polisi melalui sebuah lagu yang dinyanyikannya. Dalam nyanyiannya, Komang Duta menyusun kata-kata dengan menyebutkan dari mana asal muasal arak maut yang merenggut tiga nyawa. Jajaran Polsek Banjar pun langsung menggerebek Komang Sugita di rumahnya. Versi Kapolsek Banjar, Kompol I Made Sanjaya, Komang Sugita diciduk dari rumahnya di Banjar Beji, Desa Munduk, Selasa sore.

Namun, penyidik kepolisian menyebut rumah Komang Sugita berlokasi di Banjar Taman, Desa Bestala, Kecamatan Banjar. Saat dilakukan penggerebekan, Komang Sugita kepergok sedang menyuling arak di rumahnya. Polisi pun menduga kuat otak pelaku miras oplosan yang beredar di Desa Munduk adalah Komang Sugita. “Yang bersangkutan (Komang Sugita) ditangkap Selasa sore lalu. Dari rumahnya, polisi mengamankan sedikitnya 460 liter arak Bali yang baru usai disuling,” ungkap Kapolsek Made Sanjaya saat dikonfirmasi, Rabu (15/1). Menurut Kapolsek Made Sanjaya, dari 460 liter arak yang disita polisi tersebut, sebanyak 300 liter di antaranya telah dikemas dalam botol minuman isi 1.000 ml per botol. Sedangkan 160 liter sisanya disimpan dalam empat jeriken berukuran masing-masing 40 liter.

Selain menyita 460 liter arak maut, polisi juga mengamankan lima alat penyulingan arak Bali dari rumah Komang Sugita. Kapolsek Made Sanjaya mengatakan, baik Komang Sugita maupun Komang Duta sudah dilepaskan dari kantor polisi, Rabu kemarin, setelah sempat diamankan selama semalam di Mapolsek Banjar untuk dimintai keterangannya. Buat sementara, keduanya hanya dikenakan Tipiring (tindak pidana ringan), sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 15 Tahun 2011. Tapi, polisi masih berupaya menjerat mereka dengan pasal lain. “Anggota kami (Polsek Banjar) tetap mengawasi mereka agar tidak kabur dari Desa Munduk,” tandas Kapolsek Made Sanjaya. Sementara, Komang Sugita, saat diperiksa penyidik di Mapolsek Banjar, membantah lakukan praktek penyulingan arak. Komang Sugita berdalih selama ini dirinya membeli arak Bali di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng. “Saya beli arak di Bondalem seharga Rp 8.000 per botol. Arak itu saya jual di Desa Munduk dengan harga Rp 15.000 per botol,” jelas Komang Sugita.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Bali dari Fraksi Demokrat, I Gusti Putu Widjera, meminta aparat kepolisian dan instansi terkait lakukan pengawasan ketat terhadap peredaran minuman alkohol kadar tinggi, termasuk arak Bali. "Langkah membatasi peredaran arak perlu dilakukan. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan korban jiwa akibat meminum keras akan terus terjadi setiap tahunnya," ujar Widjera dilansir Antara secara terpisah di Gedung Dewan, Niti Mandala Denpasar, Rabu kemarin. Pengawasan miras jenis arak, kata Widjera, tidak saja menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, tapi semua komponen masyarakat diharapkan berpartisipasi. "Kejadian di Desa Munduk, Buleleng itu adalah pengalaman yang berharga bagi masyarakat Bali. Ke depannya, itu tidak boleh terjadi lagi.” Harapan serupa juga disampaikan Pemprov Bali, melalui Karo Humas Setda Provinsi I Ketut Teneng, Rabu kemarin. Teneng bahkan minta kepolisian lebih intensifkan razia agen-agen penjual miras.

"Kami harapkan kepolisian merazia agen-agen yang menjual minuman keras, apalagi yang tidak mengantongi izin," harap Teneng. Menurut Teneng, pihaknya sangat menyayangkan terulangnya kembali kasus warga tewas akibat menenggak arak oplosan. Padahal, kasus serupa sempat terjadi di Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli, awal September 2012 silam yang menelan 2 korban nyawa dan puluhan orang masuk rumah sakit. Kemudian, sempat muncul lagi kasus pesta miras di kawasan Sanur, Denpasar Selatan, yang menewaskan 3 orang. "Tolonglah seluruh krama Bali, kalau ada upacara adat, jangan diisi dengan acara tambahan meminum minuman yang tidak jelas seperti itu," pinta Teneng. Minum arak oplosan, lanjut dia, tidak hanya kerusak kesehatan, tapi juga mengancam nyawa sendiri. "Masyarakat kami minta agar mulai sadar dan jangan terpengaruh pada kenikmatan sesaat yang berdampak buruk bagi kesehatan,” kata birokrat asal Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini Di sisi lain, ahli mencampur minuman alkhol dan non alkhol (Mixologist) asal Bali, Ngurah Udayana, mengingatkan perlunya ada sosialisasi tentang alkohol, agar peristiwa serupa tidak terulang di masadatang.

"Perlu ada penyuluhan secara berkelanjutan tentang alkohol, mulai tingkat produsen arak Bali, distributor, hingga pengguna atau konsumennya," jelas Ngurah Udayanya. Juara bartender tingkat dunia ini menegaskan, perbincangan tentang alkohol selama ini dianggap tabu. Karenanya, jarang sekali ada sosialisasi atau seminar terkait alkohol. "Kenapa tidak dibagi saja teori tentang alkohol, pengetahuan tentang alkohol itu perlu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus keracunan arak ini?" tanyanya. Ngurah Udayana memaparkan, arak Bali yang dituding sebagai penyebab tewasnya tiga warga Desa Munduk, sebenarnya berbahan dasar alami dari alam. "Arak Bali aman untuk dikonsumsi, sepanjang tidak dicampur dengan bahan kimia seperti Methanol. Tapi, kalau sudah dicampur dengan Methanol, arak Bali akan sangat berbahaya,” tandas Ngurah Udayanya. Di luar negeri, lanjut dia, ada minuman keras yang kadar alkoholnya 75-80 persen, tapi karena bahan dasarnya alami, masih aman untuk dikonsumsi. "Minuman dengan kandungan 75 persen alkohol jenis Ethanol seperti Rum, itu tidak masalah untuk dikonsumsi, asalkan tidak dicampur-campur,” katanya.

Sebelumnya, 3 warga Desa Munduk tewas pasca keracunan setelah tenggak arak oplosan, yakni I Gede Suta Arjawa, I Made Dwi Adnyana, dan I Komang Rudi Alam. Korban Gede Suta Arjawa dan Komang Rudi Alam meninggal dunia, Selasa dinihar, sedangkan korban Made Dwi Adnyana telah lebih dulu meregang nyawa dua hari sebelumnya, Minggu (12/1) pagi. Karena ada kematian, warga kemudian begadang di rumah duka keluarga Made Dwi Adnyana di Banjar Taman, Desa Pakraman Munduk, Senin malam. Menurut Kelian Dinas Banjar Taman, I Putu Buda, sebagian warga yang makemit ini diduga minum arak maut di rumah duka. Akibatnya, jatuh dua korban nyawa lagi, yakni Gede Suta Arjawa dan Komang Rudi Alam. Namun, Putu Buda tidak tahu pasti apakan kedua korban susulan tewas karena tenggak arak maut di rumah duka atau sempat minum di warung. Selain jatuh 3 korban nyawa, ada lagi 35 warga Desa Munduk korban arak oplosan yang harus dilarikan ke RUSD Buleleng di Singaraja. Dua (2) korban di antaranya harus menjalani rawat inap di RSUD Buleleng, sedangkan 33 korban lainnya dibolehkan pulang dan hanya rawat jalan setelahs empat dirawat di ruimah sakit, Selasa dinihari.

Dua (2) korban arak oplosan yang duirawat inap di Kamar Flamboyan RSUD Buleleng masing-masing Kadek Jona Indrawan, 26, dan I Putu Wiarna, 51. Hingga Rabu kemarin, korban Kadek Jona Indrawan dan Putu Wiarna masih dirawat intensif dalam satu ruangan di Kamar Flamboyan RSUD Buleleng. Sedangkan 33 korban arak oplosan dan harus menjalani rawat jalan di RSUD Buleleng masing-masing Ardiono, 25, Ari Sudnyana, 38, Edi Wirawan, 27, Meli Adiawan, 32, Ari Astiawan, 25, I Komang Astina, 34, I Gede Widiantara, 21, Marlianta, 32, I Gede Mudita, 30, Rupadana, 39, I Nyoman Suterman, 52, I Gede Ripawan, 25, Budi Darma, 19, Arika, 42, I Putu Yorman, 30, I Nyoman Budiadnya, 45, I Made Suarca, 38, I Made Sarba, 52, Dwi Arnawa, 38, Rere Suherman, 19, Agus Winaya, 16, I Putu Martina, 36, Mahananda, 26, Toni Sutisna, 27, Edi Hermawan, 26, I Putu Suarnaya, 55, I Nyoman Sutarya, 49, Tri Adnyana, 43, I Putu Suartika, 33, I Putu Rupa, 30, I Gede Mudita, 45, I Ketut Carik, 40, dan I Putu Wayhudi Putra, 23.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen