Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Badai Rusty Terjang Bali, 4 Pura Dihancurkan

Badai Rusty Terjang Bali, 4 Pura Dihancurkan

Written By Dre@ming Post on Selasa, 26 Februari 2013 | 9:23:00 AM

Selasa, 26 Februari 2013, 09:09

Gambar Ilustrasi - Padmasana Surya juga ikut roboh. Bagian atas Meru Tumpang Pitu yang lengkap dengan penangkal petirnya ini jatuh hingga ke lahan PDAM Tabanan yang berlokasi di sebelah utara pura. Gara-gara robohnya Meru Tumpang Pitu ini, bukan hanya palinggih Padmasana Surya yang ikut ambruk namun juga menghancurkan tembok penyengker Pura Puseh di sisi utara dan timur. “Kerugian material akibat bencana puting beliung yang menghancurkan palinggih di Pura Puseh ini mencapai sekitar Rp 500 juta
TABANAN - Bencana angin puting beliung yang menerjang kawasan selatan Bali, Senin (25/2) dinihari, menyebabkan sejumlah pura rusak parah. Di Tabanan, setidaknya ada dua pura yang luluhlantak, yakni Pura Puseh (Desa Pakraman Pandak Gede, Kecamatan Kediri) dan Pura Luhur Gedong (Desa Pakraman Pejaten, Kecamatan Kediri). Sementara di Klungkung, pura yang remuk adalah Pura Ulun Setra dan Pura Dalem (Desa Pakraman Bakas, Kecamatan Banjarangkan).

Khusus untuk kawasan Tabanan, bencana puting beliung menerjang Senin dinihari sekitar pukul 03.00 Wita. Selain menyebabkan dua pura porakporanda, 15 rumah warga di Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan juga hancur. Sedangkan di Desa Kukuh, Kecamatan Kediri, pohon-pohon bertumbangan hingga menutup akses jalan menuju objek wisata Alas Kedaton.

Kerusakan paling parah menimpa Pura Puseh di Desa Pakraman Pandak Gede, Kecamatan Kediri. Bahkan, palinggih Meru Tumpang Pitu
(tingkat 7) di Pura Puseh sampai roboh.

Demikian pula palinggih Padmasana Surya. Untungnya, tidak ada korban jiwa maupun terluka dalam bencana ini, karena Pura Puseh malam itu dalam keadaan kosong. Menurut Sekretaris Panitia Pembangunan Pura Tri Kahyangan Desa Pakraman Pandak Gede, Dewa Made Yasa, 61, bangunan suci pertama yang roboh akibat puting beliung adalah Meru Tumpang Pitu. Palinggih menjulang tinggi ini roboh ke arah utara menimpa Padmasana Surya.

Akibatnya, Padmasana Surya juga ikut roboh. Bagian atas Meru Tumpang Pitu yang lengkap dengan penangkal petirnya ini jatuh hingga ke lahan PDAM Tabanan yang berlokasi di sebelah utara pura. Gara-gara robohnya Meru Tumpang Pitu ini, bukan hanya palinggih Padmasana Surya yang ikut ambruk namun juga menghancurkan tembok penyengker Pura Puseh di sisi utara dan timur. “Kerugian material akibat bencana puting beliung yang menghancurkan palinggih di Pura Puseh ini mencapai sekitar Rp 500 juta.

Itu belum termasuk biaya upakara,” jelas Ketua Panitia Pembangunan Pura Tri Kahyangan Desa Pakraman Pandak Gede, Dewa Made Yasa, Senin kemarin. Pura Puseh Desa Pakraman Pandak Gede itu sendiri, menurut Dewa Yasa, sebetulnya baru dipelaspas pada 3 Oktober 2012 lalu. Pembangunannya dilakukan secara bertahap sejak tajhun 2011 dan hingga kini belum rampung. “Bangunan belum selesai. Namun, dua palinggih yang baru saja kami pelaspas malah keburu roboh diterjang puting beliung,” keluh Dewa Yasa.

Sedangkan Pamangku Pura Puseh Desa Pakraman Pandak Gede, Jro Mangku Dewa Made Arka, 63, mengaku semalaman tidak bisa tidur. Dirinya gelisah tanpa sebab. Bukan hanya itu, seminggu sebelum musibah, dirinya juga sempat bermimpi aneh. Dalam mimpinya, Pura Puseh diterjang banjir. Ternyarta, mimpi aneh dan kegelisahan tak bisa tidur semalaman, merupakan firasat akan musibah yang menimpa Pura Puseh. Sebab, pagi kemarin, diketahui Pura Puseh sudah luluhlantak diterjang puting beliung.

“Kami masih menunggu petunjuk sulinggih dalam melaksanakan upacara pasca musibah yang menimpa Pura Puseh ini,” ujar Jro Mangku Arka. Pada saat bersamaan, Senin dinihari, Pura Luhur Gedong yang berlokasi di Banjar Pangkung, Desa Pakraman Pejaten, Kecamatan Kediri juga porakporanda akibat puting beliung. Salah satu bangunan suci di Pura Luhur Gedong yang roboh adalah Bale Gong. Bangunan Bale Gong remuk akibat tertimpa robohnya pohon beringin keramat di pura ini. Selain menghancurkan Bale Gong, robohnya beringin keramat berdiameter sekitar 50 cm ini juga merusak palinggih Beji dan joli (tempat pratima). Menurut salah seorang pengurus Pura Luhur Gedong, Nyoman Nada Umbara, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 80 juta. Di sisi lain, Camat Kediri I Gusti Agung Alit Adiatmika juga melaporkan pura keluarga (Merajan) milik keluarga besar I Wayan Barta di Desa Nyambu juga roboh diterjang angin kencang. Dua bangunan suci di merajan ini yang hancur adalah palinggih Pesaren dan Pesimpangan Gunung Agung.

Selain itu, bencana puting beliung juga menimbulkan kerusakan di Banjar Samsaman Kelod, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan. Terdata ada 15 rumah penduduk yang rusak akibat bencana dinihari kemarin. Empat rumah di antaranya rusak berat, yakni milik keluarga Pak Rahayu, keluarga Gede Wardana, keluarga Made Sueca, dan keluarga Putu Darmawan Giri (Kelian Dinas Banjar Samsaman). Sedangkan 11 rumah rusak lainnya masing-masing milik Made Sudarmanca, Pak Eni, Pak Dewa, Pak Yogi, Pak Kiki Ermawati, Wayan Nuraga, Nyoman Suarca, Made Karwa, Made Sukarata, dan Made Karda. “Sebelum kejadian, terjadi hujan yang tidak begitu lebat, kemudian muncul angin kencang. Dalam sekejap, 15 rumah sudah rusak, termasuk rumah saya. Beruntung, tak ada korban jiwa,” ujar Kelian Dinas Putu Darmawan. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk rumah warga yang rusak,” imbuhnya. Sementara itu, Pura Ulun Setra di Desa Pakraman Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung juga rusak parah diterjang puting beliung dinihari kemarin. Kerusakan terjadi karena robohnya pohon beringin di pura ini.

Pantauan di lapangan, bagian yang rusak di Pura Ulun Setra, antara lain, tembok penyengker, bangunan wantilan, pemedal agung, dan arca. Selain Pura Ulun Setra, Pura Dalem Desa Pakraman Bakas yang berjarak sekitar 100 meter arah utara juga mengalami kerusakan. Salah satu yang remuk di Pura Dalem adalah bangunan wantilan. “Putung beliung menerjang antara pukul 02.30 hingga 03.00 Wita,” ungkap sesepuh Desa Bakas, I Wayan Sudasih, 68, di lokasi bencana Pura Ulun Setra, Senin kemarin. Menurut Wayan Sudasih, pohon beringin tua yang berada di barat daya Setra Desa Pakraman Bakas roboh menimpa Pura Ulun Setra, hingga tercerabut dari akarnya. Hingga saat ini, belum dihitung berapa kerugian material akibat kerusakan Pura Ulun Setra dan Pura Dalem.

Namun, Sudasih memperkirakan kerugian material tembus ratusan juta rupiah. “Jro Bendesa kami (Bendesa Pakraman Bakas I Ketut Jumu) masih tangkil ke griya,” jelas Sudasih. Puru Ulun Setra, kata Sudasih, sebetulnya baru selesai dibangun sekitar 2 tahun lalu, namun keburu dihancurkan puting beliung. Ini baru pertama kali Pura Ulun Setra rusak akibat puting beliung. Sedangkan Pura Dalem yang berada di sisi utara, sebelumnya pernah mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang beberapa waktu lalu. Dinihari kemarin, Pura Dalem kembali diterjang puting beliung hingga bangunan wantilan roboh.

Badai Rusty Terjang Bali

Angin kencang yang menerjang wilayah Bali beberapa hari terakhir disebabkan oleh siklus topis Rusty atau lebih dikenal dengan istilah badai tropis Rusty. Akibat badai ini kecepatan angin di wilayah perairan utara maupun selatan Bali juga mengalami peningkatan mencapai 10-43 kilometer per jam. Bahkan, ketinggian gelombang laut diprediksi bisa mencapai 6 meter.

Kabid Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Nyoman Gede Wirajaya, ketika dikonfirmasi mengatakan, angin kencang ini akidat badai tropis Rusty yang bergerak dari perairan di Samudera Hindia menuju sebelah barat Australia. Kecepatan angin bergerak dari barat sampai ke barat laut. Tanda terjadinya badai ini, munculnya angin secara tiba-tiba dan berhenti pun secara tiba-tiba.

“Badai tropis Rusty sedang memasuki wilayah perairan Bali. Ini mengakibatkan terjadinya angin kencang dan gelombang laut tinggi. Tidak hanya di Bali, angin ini juga melewati Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” ujar Wirajaya melalui sambungan telepon, Senin (25/2) sore. Ketika ditanya apa dampak terhadap perairan di Bali, dia menjelaskan, dampak terburuk yang bisa ditimbulkan dari badai tropis Rusty adalah tingginya gelombang air laut dan kencangnya angin. Berdasarkan pantauan BMKG pada Senin kemarin, kecepatan angin yang menerjang pesisir Bali mencapai 10–43 kilometer per jam. Padahal kecepatan angina normal antara 5–15 kilometer per jam. Untuk gelombang air laut yang menerjang wilayah utara Bali mencapai 3 meter lebih.

Sementara untuk wilayah selatan Bali bahkan mencapai 5 meter. “Kalau yang di selatan Bali memang gelombangnya jauh lebih tinggi ketimbang yang di utara Bali. Bahkan, prediksi kami, Selasa (26/2), ketinggian gelombang di selatan Bali bisa mencapai 6 meter,” jelas Wirajaya. Diperkirakan, badai tropis Rusty ini baru berakhir tiga hari ke depan. Wirajaya menjelaskan, ketika angin mulai bergerak meninggalkan Bali menuju Australia, itu tanda berakhirnya badai ini. “Kalau sudah menjauh dari wilayah Indonesia dan menuju Australia, maka badai tropis Rusty tidak akan terjadi lagi,” imbuhnya. Meski begitu lantaran datangnya badai ini secara tiba-tiba, BMKG tetap mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk lebih waspada. “Kami prediksi angin kencang masih akan terjadi dalam tiga hari ke depan,” ujarnya.



Dre@ming Post______
sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen