Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Bencana Angin di Bali Telan 3 Nyawa

Bencana Angin di Bali Telan 3 Nyawa

Written By Dre@ming Post on Jumat, 11 Januari 2013 | 8:21:00 AM

Jumat, 11 Januari 2013, 08:29

Gbr Pohon Tumbang - Pada hari yang sama, Rabu siang, bencana angin kencang juga menewaskan I Made Nuraksa, kakek berusia 60 tahun yang tinggal di Banjar Keliki Kawan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar. Pria miskin ini tewas mengenaskan saat nanggap (diupah orang) memetik buah kelapa tetangganya.
SEMARAPURA - Bencana angin kencang yang melanda Bali, sejak Rabu (9/1) pagi, menelan tiga korban nyawa. Selain guru Agama Hindu di Tabanan, AA Ayu Sri Suarti, 50, yang tewas tertimpa pohon di Jalur Tengkorak Denpasar-Gilimanuk, dua korban tewas lagi jatuh di Nusa Penida (Klungkung) dan Payangan (Gianyar). Korban di Nusa Penida, I Wayan Sudarma, 53, tewas akibat diterjang ombak saat memancing, sementara korban di Payangan, I Made Nuraksa, 60, tewas akibat kelapa yang dipanjatnya mendadak roboh.

Korban Wayan Sudarma, asal Banjar Pengaud, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung tewas tenggelam saat mancing di Pantai Karangsari, Rabu (9/1) siang, setelah dihantam ombak setinggi 3 meter. Jasad korban baru ditemukan Rabu malam sekitar pukul 21.30 Wita.

Informasi di lapangan, saat musibah terjadi, korban Wayan Sudarma mancing di Pantai Karangsari, Nusa Penida bersama teman sebanjarnya, I Made Jaya. Keduanya berangkat mancing Rabu siang pukul 14.00 Wita. Baru beberapa menit memancing dengan duduk di atas batu karang, tiba-tiba muncul gelombang besar menghantamnya hingga korban jatuh ke laut, kemudian terseret arus dan akhirnya tenggelam.

Sedangkan temannya, Made Jaya, masih sempat menyelamatkan diri. Made Jaya tak berani menolong korban karena gelombang laut sedang mengamuk. Dia hanya beteriak minta tolong kepada warga sekitar. Kemudian, sejumlah warga datang untuk melakukan pertolongan dengan menggunakan ban sebagai pelampung, termasuk I Ketut Parwata dan Kadek Suta. Namun, upaya mereka sia-sia. Tak lama berselang, petugas Polsektif Nusa Penida juga terjun ke lokasi untuk melakukan pencarian, yang dipimpin langsung Kapolsek Kompol I Wayan Sarjana SH MH. Upaya pencarian oleh petugas kepolisian dan warga berlangsung sampai larut malam. Barulah sekitar pukul 21.30 Wita, korban Wayan Sudarma ditemukan
sudah tak bernyawa. Jasad korban ditemukan nyangkut dalam sebuang palung di sekitar tempatnya jatuh.

Jasad korban masih sempat dilarikan ke Puskesmas Nusa Penida, sebelum kemudian diantar ke rumah duka di Banjar Pengaud, Desa Suana, Nusa Penida. “Kami lakukan proses indentifikasi sebelum mengantar mayat korban ke keluarganya,” ujar Kapolsek Nusa Penida, Kompol Wayan Sarjana, saat dikonfirmasi NusaBali, Kamis (10/1).

Pada hari yang sama, Rabu siang, bencana angin kencang juga menewaskan I Made Nuraksa, kakek berusia 60 tahun yang tinggal di Banjar Keliki Kawan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar. Pria miskin ini tewas mengenaskan saat nanggap (diupah orang) memetik buah kelapa tetangganya.

Saat musibah terjadi, korban Made Nuraksa nanggap memanjat pohon kelapa setinggi 15 meter milik tetangga sebelah selatan rumahnya, I Made Keruntung. Awalnya, kegiatan memetik kelapa di bawah kondisi angin kencang siang itu berjalan lancar. Korban berhasil memetik puluhan buah kelapa, kemudian turun. Nah, saat turun ketika posisinya sudah sekitar 1,5 meter dari pangkal pelepah kelapa, tiba-tiba muncul angin sangat kencang. Korban berupaya memeluk erat batang pohon kelapa.

Namun, karena kuatnya hempasan angin, pohon kelapa yang dipeluk Made Nuraksa langsung roboh ke arah timur dan menimpa kandang babi. Korban pun ikut terhempas bersama pohon kelapa roboh. Pemilik pohon kelapa, Made Keruntung, kemudian melarikan korban yang sekarat ke RSUD Sanjiwani Ganyar untuk mendapatkan perawatan.

Sayang, nyawa korban tak tertolong. Kakek empat cucu ini tewas mengenaskan dengan kondisi luka berat, bahkan kepala belakangnya pecah, selain patah tulang punggung. “Ini musibah ketiga yang menimpa paman saya ini. Sebenarnya, tulang lengannya sudah patah. Tapi, harus maburuh menek (manjat pohon) kelapa karena tak ada pekerjaan lain,” ungkap keponakan korban, I Ketut Meja, saat ditemui di rumah duka, Desa Kelusa, Payangan, Kamis kemarin. Rencananya, jenazah korban pohon kelapa roboh ini akan dikuburkan di Setra Desa Pakraman Kelusa secara Nylubang pas Hari Raya Saraswati, Saniscari Umanis Watugunung, Sabtu (12/1) besok. Sedangkan kemarin sore pukul 16.00 Wita, telah dilakukan ritual nyiramang layon (memandikan jenazah) di rumah duka. Korban Made Nuraksa yang telah dikaruniai empat cucu berpulang buat selamanya dengan meninggalkan seorang istri, Ni Wayan Pelung, 55, serta tiga anak: Ni Ketut Rosi, 44, I Wayan Muka, 41, dan I Nyoman Tulus, 37.

Menurut salah satu anak korban, I Wayan Muka, ayahnya selama ini kerap nanggap memetik kelapa untuk menghidupi keluarga. Selain itu, almarhum Made Nuraksa juga membeli kelapa dan busung (janur) yang masih di pohon (majeg) untuk dijual. Jika nanggap memetik kelapa, korban diupah Rp 7.000 per pohon. “Pekerjaan berisiko itu sudah dijalani bapak sejak dulu. Seingat saya, bapak belum pernah punya pekerjaan lain,” ungkap Wayan Muka, Kamis kemarin. Wayan Muka mengisahkan, sebelum tewas akibat pohon kelapa roboh saat dipanjat, ayahnya sudah pernah dua kali tertimpa masalah yang nyaris merenggut nyawanya. Pertama, tahun 1992 silam, saat nanggap memotong pohon waru. Kala itu, Made Nuraksa dihantam pohon waru yang habis dipotongnya, hingga menderita patah tulang lengan.

Setahun kemudian, pada 1993, musibah kembali terjadi saat Made Nuraksa nanggap memangkas pohon wani. Ketika itu, jatuh dari pohon wani hingga pangsan beberapa jam. “Sekarang, bapak malah meninggal saat nanggap memetik buah kelapa,” kenang Wayan Muka.

Sementara itu, guru Agama Hindu yang tewas akibat bencana angina kencang di Tabanan adalah AA Ayu Sri Suarti SAg, yang kesehariannya mengajar di SMPN 2 Selemedeg Timur. Guru asal Banjar Bangkiang Sidem, Desa Gunung Salak, Kecamatan Selemadeg Timur ini tertimpa pohoh roboh saat melintas naik motor di Jalur Tengkorak Denpasar-Gilimanuk, tepatnya di Desa Berembeng, Kecamatan Selemadeg, Rabu siang pukul 13.00 Wita.

Gara-gara dihantam pohon mahoni roboh saat naik motor Vega DK 2496 HO, guru kelahiran Bangli ini tewas men genaskan dalam kondisi leher patah, sementara darah segar keluar dari hidung, mulut, dan telinganya. Pagi sebelum tewas di jalan, korban AA Ayu Sri Suarti masih sempat berangkat bareng suaminya, AA Putu Suarsana, 55, Bendesa Pakraman Bangkiang Sidem yang juga guru Agama Hindu di SMPN 3 Selemadeg Timur.

Hingga Kamis kemarin, jenazah guru Agama Hindu korban pohon roboh ini masih disemayamkan di Bale Dangin rumah duka, Banjar Bangkiang Sidem, Desa Gunung Salak, Kecamatan Selemadeg Timur. Rencananya, jenazah almarhum akan diabenkan kelurganya pada Sukra Paing Sinta, Jumat (18/1) depan.

Sehari sebelum puncak pengabenan, lebih dulu dilaksanakan ritual pada Wraspati Umanis Sinta, Kamis (17/1). “Pengabenan ini mengambil tingkatan madya, yang diakhiri dengan upacara mapandes (potong gigi) anak-anak dan keponakan sehari berikutnya (19 Januari 2013,” ungkap suami korban, AA Suarsana, kepada di rumah duka, Kamis kemarin. 

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen