Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Korban Meninggal, Dewan Minta Ubah Pola Lomba , Beredar Foto Layangan Maut

Korban Meninggal, Dewan Minta Ubah Pola Lomba , Beredar Foto Layangan Maut

Written By Dre@ming Post on Selasa, 17 Juli 2012 | 7:05:00 AM

Selasa, 17 Juli 2012 | 06:59

Korban Meninggal di Arena Lomba Layang-layang

Foto detik-detik jatuhnya layangan maut menimpa Gede Yudis Sastrawan
Made Adi Yudi Sastrawan, 8, korban tewas tertimpa layangan di arena lomba layang-layang di Pantai Padanggalak Denpasar, usai menjalani proses otopsi di RS Sanglah Denpasar, Senin (16/7) dini hari. Dari hasil pemeriksaan tim medis diketahui kepala korban mengalami cedera sangat parah atau cedera kepala berat (CKB), yang diduga karena hantaman kerangka kayu layangan yang menimpanya.

Proses otopsi mulai dilakukan pada Minggu (15/7) hingga Senin sekitar pukul 00.15 Wita. Sesaat setelah selesai, keluarga korban langsung membawa jenazah bocah ini ke rumah duka di Desa Adat Beringkit, Mengwitani, Mengwi, Badung. Selama proses otopsi ini sejumlah kerabat korban berdatangan di kamar jenazah RS Sanglah.

Tampak juga kedua orangtua korban, Ketut Murdana dan Ni Nyoman Warsiki, yang terus-terusan menangis. Beberapa kerabat lainnya berusaha untuk menenangkannya, namun ibu korban masih terlihat shock berat.

Bahkan saat jenazah korban dimasukkan ke dalam mobil ambulans milik RS Sanglah, ibu korban juga terus
menangis. Jenazah diberangkatkan sekitar pukul 01.00 Wita menuju rumah duka.

Kepala Instalasi Forensik RS Sanglah dr Dudut Rustyadi, mengatakan berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan, tim medis melihat adanya retakan tulang kepala pada pemeriksaan dalam. “Patahan tulang dalam ini menekan hingga sampai mengenai otak. Inilah yang menyebabkan kematian,” ungkapnya ditemui Senin dini hari kemarin. Sedangkan untuk hasil pemeriksaan luar ditemukan adanya luka terbuka pada bagian pelipis. Luka-luka ini diduga karena hantaman benda tumpul dalam hal ini kerangka layangan jenis bebean yang menerjang korban.

Sebelumnya, korban dibawa ke Rumah Sakit Sanglah dalam keadaan kritis. Setelah sempat mendapatkan perawatan beberapa jam di ruang medis, korban yang anak tunggal ini akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Minggu (15/7) pukul 16.45 Wita.

Sementara itu, suasana duka masih menyelimuti keluarga korban di rumah duka di Banjar Pengadaan, Desa Adat Beringkit, Mengwitani. Ibu korban Ni Nyoman Warsiki masih shock. Dia duduk di lantai di sebelah tempat jenazah putra tunggalnya, didampingi beberapa kerabat. Di pelipis kiri dan sekitar mata Warsiki masih bengkak dan dioles dengan obat tradisional. Warsiki ternyata juga menjadi salah satu korban yang terkena sambaran layang-layang itu. Begitu juga dengan ayah korban, I Ketut Murdana, juga masih shock dan belum mau diwawancarai terkait musibah yang menimpa keluarga dan anaknya. Suasana di rumah duka kemarin juga sudah terlihat ramai mempersiapkan upacara.

“Keluarga apalagi ibu dan bapaknya masih shock. Itu (korban) anak tunggal, bisa dirasakan bagaimana sedihnya. Sementara ini, maaf saya ditunjuk mewakili keluarga yang memberikan informasi,” ujar salah seorang paman korban, I Made Aryata, 53, kemarin..

Dia menceritakan keseharian dan kronologis kejadian maut yang menimpa Yudi. Korban memang dikenal hobi main layang-layang. Mulai dari membuat hingga bermain layang-layang. Korban yang seharusnya duduk di bangku kelas III SDN 4 Kapal, Mengwi, ini baru 2 kali melihat lomba layang-layang. Semasa hidup korban dikenal sebagai anak aktif dan mudah bergaul, meskipun prestasi di sekolah tidak terlalu menonjol dan biasa-biasa saja. Beberapa teman dan guru korban kemarin melayat ke rumah duka. Sebelum pergi melihat festival layang-layang, tidak ada firasat dari keluarga, dan tingkah polah korban biasa-biasa saja. Minggu (15/7) kemarin korban mengajak kedua orangtuanya menonton lomba layang-layang di Padanggalak. Waktu itu, semuanya seakan berjalan lancar hingga layang-layang diturunkan. Saat itu, korban bersama kedua orangtuanya berada di dekat tempat parkir layang-layang. Naas beberapa detik saja, angin kencang dan layang-layang yang akan diturunkan tidak bisa dikendalikan dan tiba-tiba mengarah ke korban. Kayu rangka bagian depan layang-layang menimpa tepat di kepala bagian belakang korban. Sedangkan ibu korban juga terkena pelipis mata sebelah kiri, namun luka yang diderita tidak begitu parah. Kronologis kejadian begitu cepat menimpa keponakannya, dan hanya hitungan detik saja. “Yudi langsung tidak sadarkan diri. Orangtuanya sendiri yang mengangkat karena tahu dan melihat anaknya terkena layangan. Kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit di Jalan WR Supratman (Denpasar). Karena lukanya sudah parah dirujuk ke Sanglah, sekitar dua jam Yudi dirawat di Sanglah, sekitar pukul 04.15 (pukul 16.15 Wita), nyawanya tidak bisa tertolong lagi,” kenang Aryata. Meskipun keluarga korban masih sedih dan shock, namun pihak keluarga mengikhlaskan kepergian korban. Pihak keluarga juga tidak menyalahkan siapa-siapa dan tidak akan menuntut terkait kejadian naas ini.

“Meskipun keluarga sangat terpukul kejadian ini, tetapi dari keluarga mengikhlaskan. Tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini sudah menjadi kehendak-Nya dan itu musibah murni,” jelas Aryata. Rencananya sore kemarin, korban akan diaben di Setra Banjar Pengadaan yang tidak jauh dari rumah duka atau sekitar 200 meter. Disebutkan, Camat Denpasar Timur sempat datang menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban. Namun dari pihak panitia lomba layang-layang hingga kemarin belum ada yang datang ke rumah duka.

Dewan Minta Ubah Pola Lomba

Kasus tewasnya bocah SD yang tersambar layangan jatuh saat Lomba Layang-Layang Bali XXXIV 2012 di Pantai Padanggalak, Denpasar Timur, Minggu (15/7), mendapat sorotan DPRD Bali. Dewan pun gulirkan dua usulan gres untuk lomba layang-layang yang dilaksanakan rutin sehabis Pesta Kesenian Bali (PKB) ini. Pertama, sterilkan lokasi lomba demi keamanan dan keselamatan. Kedua, sistem rakit layangan di lokasi lomba untuk hindari kemacetan lalulintas.

Ketua Komisi I DPRD Bali, I Made Arjaya, musibah maut yang merenggut nyawa I Gede Adi Yudi Sastrawan, 8, bocah kelas III SD asal Banjar Pengadaan, Desa Pakraman Beringkit, Kecamatan Mengwi, Badung harus jadi pelajaran berharga bagi panitia lomba layang-layang. Ke depan, panitia harus tegas soal keselamatan penonton. Dalam hal ini, lokasi lomba mesti disterilkan.

“Panitia harus berani sterilkan lokasi lomba. Penonton terutama anak-anak harus disiapkan lokasi menyaksikan lomba di tempat yang aman,” ujar Arjaya di Gedung Dewan, Niti Mandala Denpasar, Senin (16/7). Arjaya menyebutkan, Lomba Layang-layang Bali yang telah dilaksanakan selama 34 tahun ini tidak harus dihentikan hanya gara-gara ada musibah layanga jatuh menewaskan penonton. Pasalnya, kegiatan rutin pasca PKB ini sangatlah bagus untuk pengembangan pariwisata. Hanya saja, sistemnya mesti diperketat. “Kalau sampai mengancam keselamatan warga, lomba layang-layang itu akan jadi tidak ramah,” katanya.

Selain faktor keselamatan, menurut Arjaya, yang sangat mendesak harus dibenahi dalam lomba laying-layang ini adalah sistem dan polanya. Sebab, faktanya setiapkali digelar lombang layang-layang, selalu diikuti kemacetan arus lalulintas karena rombongan pemuda yang mengangkut layangan ukuran besar. Karena itu, Arjaya usulkan agar diterapkan pola satu tempat.

Artinya, sejak awal membuat kerangka layangan, merakit layangan, hingga pelaksanaan lomba dilakukan di satu tempat yakni Pantai Padsanggalak. Semua tahapan itu juga dinilai dewan juri di satu lokasi, mulai cara membuat, cara merakit, hingga cara menaikkan layangan dan keindahan saat terbang. “Katakanlah lomba itu selama seminggu di lapangan sejak mulai merangang, membuat, dan merakit layangan. Kan aman dan tidak bikin macet lalulintas. Ini bias dilakukan. Makanya, pemerintah juga harus membina para sekaa layangan itu (biasanya Teruna Teruni Tingkat Banjar, Red),” tegas politisi PDIP asal Sanur, Denpasar Selatan ini.

Ditambahkan Arjaya, ketika lomba layang-layang digelar bersamaan dengan berangkatnya layangan ukuran besar dari masing-masing banjar, sebagaimana yang terjadi selama ini, menimbulkan banyak persoalan. Selain bikin macet lalulintas, juga muncul arogansi anak-anak muda pengusung layangan tersebut di jalanan. “Kami tidak menyalahkan arak-arakan layangan ke lokasi lomba. Tapi, namanya massa (apalagi anak-anak muda), mereka kadang-kadang juga tidak mengindahkan masyarakat umum pengguna jalan,” tutur Arjaya.

“Saya juga sempat digertak rombongan pengusung layangan ketika berpapasan. Tapi, ya sudah, kita melihat mereka ini pragina (sekeha demen) yang harus disiapkan wadah dan dibina. Nah, pembinaan ini yang belum dilakukan. Kalau saya digertak tidak ada masalah, namun kalau turis asing yang jadi korban arogansi, ya bahaya juga,” imbuh Ketua Komisi I DPRD Bali dua kali periode ini. Hal senada juga disampaikan anggota Komisi IV DPRD Bali (yang membidangi masalah budaya), I Ketut Mandia. Politisi PDIP asal Klungkung ini sepakat ke depan harus ada pola khusus untuk menekan masalah saat penyelenggaraan lomba layang-layang. Selain mengutamakan faktor keselamatan, panitia juga harus memperhatikan tindak-tanduk peserta di jalanan.

“Panitia harus menyiapkan petugas keamanan untuk mengatur dan mengawasi peserta lomba. Bila perlu, peserta yang bikin macet lalulintas dan arogan di jalanan, didiskualifikasi saja. Tapi, perlu ada koordinasi terlebih dulu antara panitia dan peserta. Harus diatur tegas-lah,” tandas Mandia. Pantuan di lapangan saat hari terakhir lomba layang-layang, Minggi lalu, rombongan yang membawa layangan ke lokasi lomba tampak sangat menganggu di jalanan. Bahkan, ada iring-iringan krama yang melaksanakan upacara Atma Wedana ke Pantai Matahari Terbit Sanur distop paksa oleh rombongan pengusung layangan.

Karena massa pengusung layangan jauh lebih banyak, maka iring-iringan krama yang melaksanakan upacara Atma Wedana pilih mengalah biar tidak ribut. Mereka pun rela menunggu sampai rombongan pengusung layangan lewat. Sedangkan petugas keamanan mengatur kroditnya lalulintas saat itu sangatlah minim. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di Sanur, namun juga di tempat lain. Sementara itu, jajaran Polsek Denpasar Timur masih lakukan penyelidikan kasus tewasnya bocah Gede Adi Yudi Sastrawan, yang luka parah akibat tersambar layangan jatuh ini. Pihak kepolisian pun sudah ancang-ancang untuk menetapkan tersangka dalam waktu dekat.

Kapolsek Denpasar Timur, AKP I Wayan Parwata, mengatakan hingga Senin kemarin sudah ada lima saksi yang diperiksa polisi. Selain pemilik layangan dari Desa Batu Yang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, polisi juga memeriksa beberapa saksi mata termasuk panitia lomba. Dari pemeriksaan kelima saksi ini, kata Parwata, sudah ada yang mengarah ke tersangka. Namun, pihaknya tidak mau buru-buru menetapkan tersangka, dengan alasan pemeriksaan masih berjalan. Yang pasti, tersangkanya nanti akan dijerat pasal kelalaian. "Dari pemeriksaan sementara, sudah ada yang mengarah ke tersangka dengan jerat pasal kelalaian. Nanti akan kami dalami dulu,” ujar Parwata saat dikonfirmasi terpisah, Senin kemarin.

Dijelaskan Parwata, dari pemeriksaan saksi-saksi, diketahui bahwa saat musibah terjadi di Pantai Padanggalak, Minggu siang pukul 13.30 Wita, bocah Gede Adi Yuda Sastrawan melintas di lokasi TKP bersama ayahnya. Tiba-tiba, ada layingan jenis be-bean ukuran besar berputar-putar di atas korban dan langsung nyungsep melukai kepala bocah kelas III SD 4 Kapal, Kecamatan Mengwi ini. Menurut Parwata, areal lomba ternyata tidak disterilkan panitia dari penonton. Padahal, lokasi tersebut sangat berbahaya dan akhirnya jatuh korban jiwa. "Kalau areal lomba benar-benar steril, kejadian ini tidak perlu terjadi," jelas mantan Kanit I Reskrim Polresta Denpasar ini.

Musibah maut yang merenggut nuawa Gede Adi Yuda Sastrawan sendiri terjadi pada hari terakhir Lomba Layang-layang Bali XXXIV 2012, Minggu siang pukul 13.30 Wita. Ketika sedang asyik menonton lomba, tiba-tiba sebuah layangan tradisional jenis be-bean menyambar kepala korban. Bocah Yudi Sastrawan yang sekarat bersimbah darah pun langsung dievakuasi, kemudian dilarikan warga ke RS Sanglah untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawanya tidak terselamatkan. Sore sekitar pukul 16.45 Wita, bocah korban layangan jatuh ini menghembuskan napas terakhir.

Berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan tim medis RS Sanglah, Senin dinihari, ditemukan adanya retakan di tulang kepala korban “Patahan tulang dalam ini menekan hingga sampai mengenai otak. Inilah yang menyebabkan kematian korban,” ungkap Kepala Instalasi Forensik RS Sanglah, dr Dudut Rustyadi. Bocah Yudi Sastrawan merupakan anak tunggal pasangan I Ketut Murdana dan Ni Nyoman Warsiti, pasutri yang tinggal di Banjar Pengadaan, Desa Pakraman Beringkit, Kecamatan Mengwi, Badung. Jenazah bocah korban layangan jatuh ini telah diabenkan keluarganya di setra setempat, Senin sore.

Beredar Foto Layangan Maut Pembunuh Bocah Di Bali

Sehari pasca kematian tragis Gede Yudis Sastrawan, bocah 8 tahun yang tewas setelah tertimpa layangan raksasa saat Festival Layang-Layang di Pantai Padang Galak, Denpasar, Minggu (15/7/2012) lalu, beredar foto detik-detik saat layangan maut tersebut jatuh.

Dalam foto yang beredar melalui Blackberry Mesenger ini, tampak sebuah layang-layang raksasa jenis bebean jatuh menukik menimpa sejumlah penonton.

Belum diketahui keaslian foto ini karena sampai saat ini belum diketahui penyebar pertama foto ini. Layangan yang berukuran sekitar 8X5 meter ini diduga jatuh akibat minimnya angin.

Sejak hari pertama, Jum'at lalu, puluhan layangan raksasa yang mengikuti lomba juga mengalami kendala minimnya angin sehingga saling bergantian jatuh ke bibir pantai Padang Galak.

Aparat Polsek Denpasar Timur sampai saat ini masih menyelidiki kasus tewasnya bocah malang tersebut.

"Lima saksi dari penonton dan warga sedang kita periksa, panitia belum. Penyelidikan masih berlanjut," ujar Kapolsek Denpasar Timur, AKP Wayan Parwata, Senin (16/07/2012).

Seperti diberitakan, festival layang-layang di Pantai Padang Galak, Denpasar yang digelar selama 3 hari, mulai Jum'at (13/07/2012) hingga Minggu (15/07/2012) lalu, berujung musibah.

Gede Yudis Sastrawan, bocah 8 tahun yang menonton festival layang-layang bersama Ibunya, tertimpa layangan bebean dan meninggal setelah sempat dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar.


sumber : NusaBali, Kompas
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Titib Batal Gelar Diksa Pariksa, Ketua Panitia "Sayangkan" Pernyataan Ketua PHDI

Ida Bawati Made Titib bersama istrinya batal gelar diksa pariksa pad...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen