Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Pastika Curiga Masih Ada Teroris di Bali

Pastika Curiga Masih Ada Teroris di Bali

Written By Dre@ming Post on Rabu, 21 Maret 2012 | 5:39:00 AM

Rabu, 21 Maret 2012,05:29

DENPASAR - Gubernur Made Mangku Pastika mensinyalir masih ada teroris yang berkeliaran di Bali, meskipun 5 tersangka sudah tewas didor dalam penyergapan Tim Densus 88/Antiteror Polri di Denpasar, Minggu (18/3) malam. Masalahnya, Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional dianggap target ideal untuk aksi terorisme.

"Memang ada. Saya tidak tahu berapa jumlahnya yang ada," ujar Gubernur Pastika saat meninjau lokasi banjir bandang di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, Selasa (20/3). Gubernur yang mantan Ketua Tim Investigasi Bom Bali I 2002 ini mengaku mendapat informasi terkait kelompok teroris yang ada di Bali.

Sinyalemen masih adanya teroris berkeliaran di Bali ini, tidaklah berlebihan. Menurut Pastika, Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional akan selalu menjadi target ideal serangan teroris. "Secara teoritis, Bali ramai wisatawan asing. Ada petasan besar saja meledak, seluruh dunia akan tahu, terlebih kalau ada bom," ujar mantan Kapolda Bali dan Kalakhar BNN berpangkat Komjen Polisi (Purn) ini. Ditambahkan Pastika, Bali dijadikan target karena teroris ingin menyampaikan pesan kepada dunia internasional bahwa mereka masih eksis. "Jadi, tidak boleh
diremehkan itu," jelas Pastika.

Karena itu, kendati lima tersangka teroris sudah tewas didor di Denpasar, masyarakat Bali diharapkan tidak lengah, melainkan harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Bukan hanya itu. Jajaran kepolisian pun dilatih secara khusus teknik menembak jitu. Selasa kemarin, sekitar 60 polisi yang berdinas di bagian Sentra Pelaporan Kepolisan (SPK) Polres Badung dilatih khusus di Lapangan Tembak Desa Sembung, Kecamatan Mengwi.

"Latihan menembak ini menggunakan senjata laras panjang jenis V-2. Kalau untuk materi latihan, kita ajari teori dan praktek serta bongkar pasang senjata," ujar Kapolres Badung, AKBP Beny Arjanto, dilansir detikcom kemarin. Personel yang mengikuti latihan menembak jitu diprioritaskan anggota SPK, karena merekalah yang berada di posisi terdepan dalam markas kepolisian. "Mereka juga berjaga selama 1 x 24 jam di Markas Komando, sehingga SPK harus memiliki keterampilan menembak," imbuhnya. Hal serupa juga telah dilakukan jajaran Polres Tabanan, pasca tertembak matinya 5 tersangka teroris di Denpasar. Selain itu, semua pintu masuk Bali juga dijaga ekstra ketat untuk mengantisipasi penyelundupan teroris. Bahkan, Tim Densus 88/Antiteror Mabes Polri dikabarkan masih bertahan di Bali untuk mengantisipasi serangan balasan kelompok teroris dan adanya sisa-sisa pelaku yang belum tertangkap.

“Belum ada perintah untuk kembali (ke Jakarta), kita masih bertahan di sini,” ujar seorang petugas Densus 88. “Belum jelas hingga kapan tim ini bertahan di Bali. Ya, sampai batas waktu yang belum ditentukan,” imbuhnya.

Hingga Selasa kemarin, lokasi penembakan mati 3 dari 5 tersangka teroris di Bungalow 99, Jalan Danau Poso Nomor 58 Sanur, Denpasar Selatan, juga masih dijaga ketat polisi dan dipasangi police line. Tiga terangka teroris yang tewas didor di bungalow ini, Minggu malam pukul 21.15 Wita, masing-masing UH alias Kapten (asal Jepara, Jawa Tengah), Dd, 27 (diduga Dede, asal Bandung, Jawa Barat), dan M alias Abu Hanif, 30 (diduga Martino, asal Makassar, Sulawesi Selatan). Sedangkan 2 tersangka teroris lagi yang ditembak mati di tempat terpiah, di Jalan Gunung Soputan Nomor 2 Denpasar Barat, tepatnya di Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Minggu malam pukul 21.30 Wita, masing-masing HN, 32 (diduga bernama lengkap Hilman Afandi, asal Bandung) dan AG, 30 (diduga Anang, tinggal di Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung).

Sementara itu, pengejaran 5 anggota jaringan teroris yang tertembak mati di Denpasar ternyata sudah dilakukan Densus 88 sejak setahun lalu. Bahkan, saat dilakukan perburuan hingga ke Denpasar, komplotan teroris yang diduga dipimpin Hilman Afandi ini sangat cerdik dan sempat beberapa kali menghilang dari pantauan Densus 88.

Informasi dari sumber di kepolisian, perburuan jaringan teroris ini diawali pengejaran terhadap Hilman yang merupakan teroris buron perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Sumatra Utara, 18 Agustus 2010. Usai perampokan bank yang menewaskan anggota Brimob Briptu Manuel Simanjuntak itu, Hilman berhasil kabur.

Dalam pelariannya, Hilman sangat susah ditangkap karena kerap berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain. Di setiap tempat persembunyiannya, Hilman merekrut anggota baru untuk melancarkan aksinya. Densus 88 mengetahui keberadaan Hilman di Bali ini berawal dari komunikasi yang dilakukan Anang, tersangka teroris yang tinggal kos di Jimbaran. Setelah ditelusuri, ternyata jaringan teroris ini merencanakan perampokan toko emas dan money changer di Bali. Bahkan, Hilman dan 4 anggota lainnya sudah berada di Bali sejak seminggu sebelum ditembak mati, untuk melakukan survei lokasi perampokan.

Menurut beberapa anggota Densus 88 yang sempat ditemui, Hilman cs ini memang cerdik mengelabui polisi. “Pergerakannya sangat cerdik. Beberapa kali petugas sempat dikelabui,” katanya.

Dia mencontohkan saat dilakukan perburuan beberapa hari sebelum aksi penembakan, sejumlah anggota Densus 88 sempat dibuat kelimpungan. Pasalnya, saat Hilman cs keluar naik mobil Avanza merah dari tempat menginapnya di Hotel Puri Naga Kuta dalam kondisi diikuti petugas Densus 88, tiba-tiba mereka membalikkan mobil ke arah berlawanan di salah satu tikungan. Petugas pun kehilangan jejak. “Sempat menghilang dari pantauan selama beberapa jam, tapi berhasil ditemukan lagi,” ujar anggota Densus 88 asal Jakarta ini.

Hilman cs kemudian terendus ngumpul di sebuah warung Soto Makassar di Jalan Teuku Umar Denpasar, Minggu malam pukul 19.00 Wita. Selain makan bersama, mereka juga membahas rencana perampokan yang sedianya dilaksanakan Senin (19/3). Kemudian, mereka membagikan senjata di warung soto, lalu pergi berpencar.

Tersangka Anang dan Hilman naik motor Supra 125 berboncengan, sementara Kapten, Dede, dan Abu Hanif naik mobil Avanza warna merah. Tim Densus 88 langsung membuntuti motor yang ditunggangi Anang dan Hilman dari Jalan Teuku Umar Denpasar menuju Jalan Mahendradatta Denpasar, lalu belok kiri menuju Jalan Gunung Soputan Denpasar. Di sanalah mereka didor. Sedangkan tiga rekannya yang naik mobil Avanza tewas didor di bungalow Jalan Danau Poso Sanur. 

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

TNI Turun Tangan Memperketat Pos Jaga Gunung Agung

Gunung Agung AMLAPURA - Banyaknya warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) memilih balik ke rumah daripada tinggal di pengungs...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen