Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Massa Pendukung Nglurug ke Kantor DPD PDIP Bali, Cok Rat: Silakan DPC Cabut PAW Sudana

Massa Pendukung Nglurug ke Kantor DPD PDIP Bali, Cok Rat: Silakan DPC Cabut PAW Sudana

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 21 Mei 2011 | 5:49:00 AM

Sabtu 21 Mei 2011 , 04:59

DENPASAR - Massa pendukung Made Sudana benar-benar nglurug ke Kantor DPD PDIP Bali, Jalan Banteng Denpasar, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Jumat (20/5). Massa yang terdiri dari simpatisan dan kader PDIP ini, salah satunya, menuntut reformasi di tubuh partai dan minta alasan pemecatan berikut PAW Sudana dari keanggotaan DPRD Bali. Sementara, DPD PDIP Bali menegaskan nasib PAW Sudana tergantung DPC PDIP Tabanan.

Massa pendukung Made Sudana yang nglurug ke Kantor DPD PDIP Bali sekitar pukul 11.10 Wita kemarin, sebagian besar simpatisan dan kader PDIP dari Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan. Mereka datang menggunakan 15 bus dan belasan mobil pribadi.

Made Sudana, politisi senior PDIP yang kini masih menjabat Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPRD Bali, kemarin dikawal sejumlah kuasa hukumnya yang notabene kader PDIP, seperti Made Arimbawa (mantan Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali 2004-2009) dan Ketut Bagus Riana (kader PDIP yang bertindak sebagai Koordinator Aksi massa Sudana).

Dalam barisan Sudana, juga tergabung Wayan Sukaja, politisi elite PDIP mantan Ketua DPRD Tabanan 2004-2009. Seperti halnya Sudana, Sukaja yang kini anggota Fraksi PDIP DPRD Bali 2009-2014, juga dipecat induk partainya dan direcall dari keanggotaan Dewan. Keduanya ‘diberangus’ induk partainya sebagai buntut isu pembelotan dalam Pilkada Tabanan 2010, di mana Sukaja lompat pagar nyalon Bupati Tabanan dengan kendaraan Golkar setelah dianulir DPP PDIP sebagai Cabup dari partainya.

Sudana cs dan massa pendukungnya kemarin diterima jajaran pengurus DPD PDIP Bali, yang dipimpin langsung Ketua DPD PDIP Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat. Petinggi DPD PDIP Bali lainnya yang kemarin mendampingi Cok Rat, antara lain, Nyoman Parta (Wakil Ketua), Ketut Tama Tenaya (Bendahara), Nengah Arnawa (Ketua Bappilu), Gede Kesuma Putra (Wakil Ketua), Ketut Mandya, dan Wayan Sutena.

Sedangkan Sekretaris DPD PDIP Bali, Nyoman Adi Wiryatama, tidak hadir. Adi Wiryatama mengaku kemarin dirinya sedang berada di Kantor DPP PDIP di Lenteng Agung Jakarta. “Saya kebetulan dipanggil Pak Sekjen (Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo) terkait dengan masalah pembahasan Ketua DPRD Badung pasca ditinggal Pak Made Sumer,” jelas Adi Wiryatama per telepon. Kehadiran massa Sudana sempat bikin macet arus lalulintas seputar Jalan Banteng Denpasar dan sekitarnya. Apalagi, massa pendukung fanatik yang rata-rata mengenakan pakian adat madya ini membentangkan sejumlah spanduk berisi beragam tuntutan, termasuk tangkap koruptor di Tabanan. Aksi mereka diiringi tabuh baleganjur dan kesenian Bali lainnya.

Dalam aksinya di Kantor DPD PDIP Bali kemarin, Sudana dan massa pendukungnya kemarin menyampaikan petisi yang disebutnya sebagai ‘Petisi Dasaaksara Reformasi Pengelolaan PDIP ke Depan’. Sudana menyatakan momen Kebangkitan Nasional yang ditingkahi dengan ‘Petisi Dasaaksara Reformasi’ ini dijadikan momentum kebangkitan bagi perjuang-pejuang partai yang berkiblat kepada kaum Marhaen, bukannya justru penghianat partai.

Sementara, Koordinator Aksi Massa Sudana, Bagus Riana, dalam orasinya sempat menyebut pihaknya sebetulnya sangat inin bertemu Adi Wiryatama di DPD PDIP Bali. Pihaknya ingin berbicara langsung dengan mantan Bupati Tabanan itu. Tapi sayangnya, Adi Wiryatama yang notabene ayah dari Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti (seteru duet Sukaja-Sudana) tidak muncul di Kantor DPD PDIP. “Yang kita mau datangi sebetulnya bukan mereka (sambil menunjuk ke arah Cok Rat dan pengurus DPD PDIP Bali lainnya), melainkan mau mencari Adi Wiryatama. Tapi, yang bersangkutan tidak ada di sini (Kantor DPD PDIP). Saya baru saja dapat telepon, katanya (Adi Wiryatama) tidak bisa hadir,” jelas Bagus Riana melalui pengeras suara.

Meski tanpa kehadiran Adi Wiryatama, Bagus Riana yang notabene mantan Sekretaris PAC PDIP Selemadeg Barat melanjutkan orasinya. Dia menegaskan, massa simpatisan dan kader PDIP menentang habis PAW Sudana dari keangotaan Dewan. Bagus Riana pun mengajak para elite DPD PDIP Bali untuk menegakkan aturan partainya. “Kita minta DPD PDIP menjelaskan alasan pemecatan Sudana dan Sukaja,” katanya. "Kita juga meminta DPP PDIP mencabut surat pemecatan terhadap Sudana," imbuhnya.

Dia menilai, pemecatan dan sekaligus recall terhadap Sudana dan Sukaja dari keanggotaan Dewan merupakan hasil dorongan pihak-pihak yang ingin menyingkirkan kedua kader terbaik PDIP asal Tabanan itu, tanpa ada evaluasi kinerja yang benar. "Yang jelas, ada demokratisasi yang menjadikan kepentingan sesaat, bahkan menjadikan demokrasi menjadi hitam," tandas Bagus Riana. "Kita meminta DPP PDIP untuk mencermati secara baik khusunya di DPD PDIP Bali, karena ada sesuatu yang salah di balik pemecatan tersebut.”

Bahkan, menurut Bagus Riana, pihaknya meminta DPD PDIP Bali agar membentuk tim investigasi dan tim pencari fakta, untuk menemukan prilaku-prilaku kader partai yang menyimpang. "Juga meminta agar menghentikan tindakan jual beli SK kepada kader sebagai pengurus partai yang dapat dilihat dengan kasat mata," kilahnya.

Sementara, Made Arimbawa dalam orasinya mengatakan, seandainya DPP PDIP komit dengan rekomendasi jilid I yang mengusung Sukaja sebagai Cabup Tabanan di Pilkada 2010, mungkin situasinya akan beda. Dipecat pun, Sukaja akan menerima dengan jiwa besar.

“Tapi, DPP PDIP tidak pegang komitmen. Saya tidak takut membuka yang salah dan yang benar di sini. Sebagai lawyer dan kader partai, saya akan bela kader yang teraniaya dengan gratis alias tidak bayar,” tandas Arimbawa.

“Apalagi, ada muncul calon PAW bernama Supartha. Dari mana datangnya itu? Anda para kader mungkin tidak tahu, siapa dia itu,” lanjut politisi senior PDIP asal Kerambitan yang mantan Ketua DPRD Tabanan 1999-2004 ini. Sementara itu, Cok Rat selaku Ketua DPD PDIP Bali, menyatakan masalah PAW Sudana dan Sukaja dari keanggotaan Dewan, semuanya berpulang ke DPC PDIP Tabanan. Memang, soal PAW merupakan kewenangan DPP PDIP, tapi semuanya tergantung DPC PDIP Tananan.

Cok Rat menegaskan, jika DPC PDIP Tabanan berniat mencabut usulan PAW Sudana dan Sukaja, maka tidak akan ada recall. “Sekarang DPC PDIP Tabanan, silakan cabut pengajuan PAW itu. Dulu ‘kan DPC PDIP yang mengajukan. Kalau sudah diajukan, kami di DPD PDIP Bali ya akan meneruskan pencabutan PAW itu ke DPP PDIP,” tegas Cok Rat yang juga Ketua DPRD Bali. Sedangkan Bendahara DPD PDIP yang kini Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya, menegaskan kader yang duduk di fraksi sebetulnya sudah berusaha berjuang untuk Sudana. Bahkan, Tama Tenaya menegaskan, jika Fraksi PDIP DPRD Bali mau bersikap dan menandatangani usulan pencabutan PSW Sudana, dirinya siap mengirimkan pencabutan PAW itu.

“Kami berharap teman-teman yang mendukung jangan hanya di permukaan saja. Kalau semuanya siap mendukung (Sudana dan Sukaja), ayo sama-sama, kami siap mengumpulkan tandatangan dan menyampaikannya ke DPP PDIP agar PAW ini dicabut,” pinta politisi PDIP asal Kuta Selatan, Badung yang menggantikan Sudana sebagai Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali 2009-2014 ini.

Sementara itu, sehabis berorasi Kantor DPD PDIP Bali kemarin, massa pendukung Sudana bergerak ke Gedung DPRD Bali, Nitimandala Denpasar, untuk aksi serupa. Sudana dan rombongannya diterima Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya dan Ketut Kariyasa Adnyana (keduanya kader PDIP).

Dalam orasinya di Wantilan DPRD Bali kemarin, Sudana menyatakan siap berjuang habis-habisan demi sebuah kebenaran. Sudana pun menuntut adanya reformasi di tubuh PDIP. “Saya akan berjuang habis-habisan sampai titik darah terakhir, demi menyuarakan kebenaran,” tandas politisi senior PDIP asal Desa Langlang Linggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan yang lolos ke DPRD Bali dengan raihan 32.000 suara lebih di Pileg 2009 ini.

Dalam kesempatan itu, Made Arjaya menyatakan sepakat bahwa pengelolaan partai ke depan harus sudah dipikirkan ada reformasi. Arjaya yang mengaku komit membela partainya, mengatakan banyak yang kader yang mengklaim sebagai pahlawan, padahal sejatinya pengkhianat partai. “Banyak yang muncul menjadi pahlawan, banyak yang mengaku-ngaku pejuang partai, padahal mereka pengkhianat partai,” ujar Arjaya.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

PVMBG Belum Pastikan Penurunan Status, GA Masih Alami Erupsi

Visual gunung agung dari desa Suwat Gianyar sabtu(16/12) pada pukul 6.00 dan pukul 7.30 wita Hembusan asap berwarna putih dan kelabu ...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen