Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Agar Roh Arsa Tak Gentayangan Dilakukan Pecaruan di Air Terjun Tegenungan

Agar Roh Arsa Tak Gentayangan Dilakukan Pecaruan di Air Terjun Tegenungan

Written By Dre@ming Post on Jumat, 17 Maret 2017 | 7:53:00 AM

Krama Desa Pekraman Tegenungan menggelar ritual mecaru di objek wisata Air Terjun Tegenungan, Kamis (16/3/2017). Ritual dilakukan pasca tewasnya siswa SMPN 1 Kuta.
Anak Ketiga Camat Kuta Tewas Tersedot Pusaran di Air Terjun Tegenungan, Rai Terus Menangis

GIANYAR – Seorang siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Kuta, I Gede Arsa Kusuma Wijaya (14) tewas terhisap pusaran air di objek wisata air terjun Tegenungan, Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, Bali, Rabu (15/3/2017) pukul 08.30 Wita.

Tubuh remaja yang merupakan anak dari Camat Kuta ini, baru berhasil dievakuasi tim penolong Badan SAR Nasional (Basarnas) pukul 13.15 Wita.

Evakuasi membutuhkan waktu lama karena volume air terjun relatif besar dan warnanya keruh, yang kemungkinan akibat hujan sebelumnya.

Informasi yang dihimpun di TKP (tempat kejadian perkara), sebelum tewas, korban bersama 13 temannya dari SMPN 1 Kuta datang ke air terjun Tegenungan untuk mengisi liburan.

Murid-murid kelas 2 SMP Negeri Kuta 1 kemarin memang sedang libur, karena siswa kelas 3 SMP 1 Kuta sedang menggelar UTS (ujian tengah semester).

Karena pagi itu air terjun keruh dan apalagi debitnya besar dan deras, maka hanya tujuh anak saja yang mandi.

Tidak berselang lama, seorang teman Wijaya, yakni Agus Wahyu Putra Nandang (14), tersedot oleh pusaran air pada kubangan tempat jatuhnya air terjun.

Melihat keadaan tersebut, Wijaya berusaha menolong, dan Wahyu bisa diselamatkan.

Namun lantaran posisi Wijaya terlalu dekat dengan pusaran air terjun, justru dia sendiri tidak dapat menyalamatkan diri.

Wijaya sempat berteriak minta tolong.

Namun, teman-temannya yang mencoba menolong tak bisa meraih Wijaya.

"Pusaran air terlalu deras, akhirnya korban ketarik lagi ke dalam," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar, Anak Agung Oka.

Tubuh Wijaya pun tak terlihat karena diterpa limpahan air terjun yang deras.

Warga di dekat lokasi kejadian sempat melakukan pertolongan, namun lantaran kondisi medan berbahaya, pertolongan tersebut tidak bisa optimal dan membuahkan hasil.

Tidak berselang lama, pihak kepolisian bersama tim Basarnas dan anggota BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tiba di lokasi.

Tetapi mereka pun tidak bisa berbuat banyak.

Mereka hanya bisa menunggu tubuh korban keluar dari dalam air.

Karena itu, pihak keluarga, teman sekolah dan Kepala Sekolah SMPN 1 Kuta yang berada di lokasi hanya bisa melakukan prosesi menghaturkan sesajen agar tubuh Wijaya bisa cepat keluar dari pusaran air.

Namun di sisi lain, masyarakat tidak kehabisan akal.

Mereka membendung aliran sumber air terjun Tegenungan menggunakan kayu dan batang pisang.

Upaya tersebut membuahkan hasil, yakni tubuh Wijaya keluar dari dalam air.

Namun sayang, saat itu keadaan Wijaya sudah tidak bernyawa.

Jasad korban langsung dimasukkan ke dalam kantung jenazah, untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

Kapolsek Sukawati, Komisaris Polisi (Kompol) Pande Putu Sugiarta mengatakan, korban dan teman-temannya baru pertama kali datang ke air terjun Tegenungan.

Karena itu, mereka tidak mengenali keadaan air yang baik untuk mandi.

Bahkan, tim evakuasi pun menyatakan keadaan air saat itu sangat berbahaya, sehingga upaya penyelamatan pun harus menunggu hingga volume air dan kekeruhannya berkurang.

“Semoga hal ini menjadi pengalaman berharga bagi semua orang. Bahwa, sebelum mandi di air terjun, kita harus mengenali keadaannya. Informasi yang kami peroleh, pusaran air terjun di sini berputar ke dalam. Itu sangat berbahaya,” ujar Sugiarta. Berdasarkan data Desa Kemenuh, kasus seperti ini sudah terjadi sebanyak tiga kali sebelumnya.

Yakni, di tahun 1993, 1994 dan 2014.

Hampir semua kasus yang terjadi karena para korban tidak mengenali dan mengabaikan kondisi objek wisata.

Sejak Dua Minggu Selalu Gelisah

Mendengar anaknya kena musibah, Camat Kuta, Kabupaten Badung, Gede Rai Wijaya langsung mendatangi lokasi kejadian.

Saat berada di lokasi, ia terlihat tabah dan berharap anaknya bisa selamat.

Tak hanya itu, Rai pun menyiapkan air minum dalam kemasan untuk regu penolong.

Namun, ketegaran Rai Wijaya goyah tatkala melihat tubuh anaknya muncul dari dalam pusaran air dalam keadaan tak bernyawa.

Rai terus menangis dan memeluk jasad anaknya.

Gede Rai Wijaya mengatakan, korban merupakan anak ketiganya.

Kata dia, Wijaya merupakan anak yang aktif dalam berkegiatan.

Setiap hari libur Wijaya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke objek wisata.

Namun Rai tak menyangka bahwa rekreasi ke air terjun Tegenungan merupakan yang terakhir kali bagi Wijaya.

“Dia memang sering mengunjungi objek wisata saat liburan. Cuma, sepertinya ke air terjun ini dia baru pertama kali,” ujar Rai saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (15/3/2017).

Rai mengungkapkan, sebelum peristiwa nahas itu, dalam dua minggu terakhir dirinya selalu gelisah.

“Saya tidak tahu, ini firasat atau tidak. Tapi dalam dua minggu ini, saya selalu gelisah. Tidur tidak nyenyak, pikiran tidak konsentrasi, sedih dan bercampur segala macam,” kata Rai.

Mapag Kajeng Kliwon, Ibunya Sempat Melarang tapi Wijaya Tetap Pergi ke Air Terjun Tegenungan

MANGUPURA - Suasana haru sangat terasa di rumah orangtua almarhum I Gede Arsa Kusuma Wijaya (14), siswa kelas 2 SMPN 1 Kuta yang tewas terhisap pusaran air di kolam air terjun Tegenungan, Kemenuh, Sukawati, Gianyar, Bali, Rabu (15/3/2017).

Mendengar kabar meninggalnya Gde Arsa Kusuma Wijaya, para penghuni rumah, terutama ibunda Wijaya, sangat terpukul.

Menurut Gede Astika, kakeknya Wijaya, hingga tadi malam sang ibu masih pingsan, dan tidak bisa diganggu karena masih sangat terpukul atas insiden tersebut.

Menurut Astika, Wijaya biasa memanfaatkan hari liburnya untuk jalan-jalan ke tempat-tempat yang tak jauh dari rumahnya, di sekitar Kuta.

Tapi kemarin tumben Wijaya jalan-jalan jauh.

"Pukul 05.30 Wita, dia cuci sepeda motor. Lalu saya tanya ngapain cuci sepeda motor pagi-pagi, dia menjawab `ya supaya bersih`," kata Gede Astika saat ditemui, Rabu (15/3/2017) malam.

Beberapa menit setelah mencuci motor, Wijaya langsung pamit kepada ibunya untuk pergi jalan-jalan.

Tapi, Ni Luh Gede Sumareni (ibunda Wijaya) tidak mengizinkannya dengan alasan akan ada upacara Kajeng Kliwon.

Namun Wijaya tetap pergi saja bersama 12 temannya dari SMPN 1 Kuta.

"Setelah nyuci sepeda motornya, dia ambil baju dan permisi ke ibunya untuk pergi. Ibunya melarangnya pergi karena ada rainan atau upacara Kajeng Kliwon. Namun, Wijaya bilang `tenang saja bu`, dan langsung dia jalan," ujar Gede Astika.

Wijaya pergi dari rumahnya sekitar pukul 06.30 Wita.

"Saya lihat tempat yang digunakan untuk nyuci sepedanya masih berantakan. Lap masih berserak, wadah air juga belum diberesin. Dia berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 Wita," imbuhnya.

Astika mengatakan tidak mempunyai firasat apapun tentang kematian cucunya.

"Gak ada firasat sebelumnya. Cuma dia kok tumben pagi-pagi sudah cuci sepeda motor," katanya.

Putu, bibi Wijaya, juga mengungkapkan bahwa kepergian Wijaya sempat dihalangi oleh ibunya.

Namun, larangan sang ibu tak dihiraukan Wijaya.

"Gak ada firasat bakal ada sesuatu yang terjadi pada dia. Ibunya melarang hanya karena lokasi air terjun itu kan di Sukawati, cukup jauh dari sini ke Sukawati," kata Putu.

"Saya merasa kehilangan sekali, biasanya dia bercanda dengan anak-anak saya," tambahnya.

Gede Astika menambahkan bahwa Wijaya biasanya tidak jalan-jalan jauh dari rumahnya.

"Biasaya kalau liburan dia jalan-jalan di sekitar sini saja. Tapi, ini tumben sampai jauh ke Gianyar. Dia bersama 12 temannya dari SMP 1 Kuta," kata Astika.

Jenazah Wijaya, menurut sang kakek, akan diaben pada 19 Maret mendatang. "Tanggal 19 diaben di kuburan sini jalan bypass," kata Astika.

Krama Desa Pekraman Tegenungan Gelar Pecaruan Agar Roh Wijaya Tak Gentayangan

GIANYAR - Pasca kematian Gede Arsa Kusuma Wijaya yang tenggelam di Air Terjun Tegenungan, Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, krama adat setempat melakukan ritual mecaru, Kamis (16/3/2017).

Sebab sesuai keyakinan Hindu, kematian tak wajar tersebut akan menyebabkan roh korban menggentayangi objek wisata Tegenungan.

Sebagai upaya menghindari hal tersebut, maka krama melakukan penetralisiran aura negatif dengan cara mecaru.

Perbekel Kemenuh, Dewa Nyoman Neka mengatakan mecaru dilakukan di dua lokasi. Di antaranya di TKP dan catuspata desa.

“Upaya seperti ini memang wajib dilakukan. Apalagi sampai merenggut korban jiwa. Karena diyakini, kematian tidak wajar yang dialami korban akan membuat roh yang sebelumnya hidup di jasad korban, masih berada di lokasi kejadian,” ujarnya.

Kata dia, ritual ini belum dikatakan cukup. Sebab berdasarkan hasil paruman antara pihak pengelola dan desa pekraman, dalam 11 hari mendatang, akan digelar pecaruan labuh gentuh.

Ritual dalam kategori agung ini dilakukan, lataran TKP merupakan tempat yang dikeramatkan. Sebab di seputarannya terdapat pelinggih.

“11 hari ke depan akan digelar ritual labuh gentuh, untuk mengembalikan keseimbangan aura di sini, dan supaya tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari,” tegasnya.








sumber : Tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Aktivitas Vulkanik Masuk Tahap Kritis Kawah Keluarkan Uap, Tercium Bau Belerang

Suasana persembahyangan para pengungsi di Gor Swecapura AMLAPURA - Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Karangasem masuk tahap kritis. P...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen