Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Dewan Minta Upaya Mandiri Listrik, Parta: “Petir di Jawa, Bali yang Repot Belum Lagi Ada Unsur Sabotase”

Dewan Minta Upaya Mandiri Listrik, Parta: “Petir di Jawa, Bali yang Repot Belum Lagi Ada Unsur Sabotase”

Written By Dre@ming Post on Senin, 14 Juli 2014 | 7:53:00 AM

Parta mengingatkan, jika bergantung terus kepada sistem Interkoneksi (listrik Jawa-Bali), maka sedikit saja ada persoalan, pasti berdampak luas. Bisa saja terjadi sabotase seperti perusakan kabel bawah laut sebagaimana kasus-kasus sebelumnya. Ini sangat rawan. “Petir di Jawa, Bali yang repot. Itu baru kasus normal dan biasa. Belum lagi misalnya kalau ada unsur sabotase, Bali pasti dirugikan,” tandas anggota Fraksi PDIP DPRD Bali Dapil Gianyar ini.


DENPASAR - Peristiwa listrik mendadak padam selama 1 jam yang melanda sebagian besar wilayah Bali, Sabtu (12/7) malam, memaksa kalangan wakil rakyat di DPRD Bali teriak. Dewan desak Pemprov Bali segera mengambil langkah untuk menjadikan Pulau Dewata mandiri di bidang energi listrik. Selama ini, Bali amat tergantung dengan pasokan listrik dari Jawa, sehingga setiap saat bisa gelap gulita jika terjadi gangguan seperti kasus Sabtu malam.

Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta, meminta eksekutif harus segera mengambil langkah menunju Provinsi Bali yang mandiri energi listrik. Ini satu keharusan, mengingat Bali sebagai daerah pariwisata. “Kalau masih seperti sekarang yang tergantung pasokan listrik dari Jawa, kondisinya sangat rawan,” ujar Nyoman Parta di Denpasar, Minggu (13/7).

Parta mengingatkan, jika bergantung terus kepada sistem Interkoneksi (listrik Jawa-Bali), maka sedikit saja ada persoalan, pasti berdampak luas. Bisa saja terjadi sabotase seperti perusakan kabel bawah laut sebagaimana kasus-kasus sebelumnya. Ini sangat rawan. “Petir di Jawa, Bali yang repot. Itu baru kasus normal dan biasa. Belum lagi misalnya kalau ada unsur sabotase, Bali pasti dirugikan,” tandas anggota Fraksi PDIP DPRD Bali Dapil Gianyar ini.

Karena itu, Parta meminta Pemprov Bali beserta para pemangku kepentingan dan elemen lainnya untuk segera memikirkan solusi energi listrik ini. Apa pun sumber energinya, menurut Parta, Bali harus bisa mandiri di bidang listrik. ”Entah itu tenaga surya, tenaga uap, batu bara, atau lainya. Yang penting, amankan dulu solusi mengatasi masalah listrik ini,” katanya.

Parta mengingatkan rakyat Bali dan elemen yang berkepentingan tidak lagi ribut-ribut soal sumber energi. Menurut Parta, banyak persoalan menjadi tidak terselesaikan karena kurang pahamnya masyarakat terhadap masalah. “Misalnya, masalah energi dikait-kaitkan dengan batas kesucian. Sumber energi dikaitkan dengan kawasan suci, padahal itu harus diuji dengan kajian ilmiah,” ujar Parta.

“Kalau bicara listrik, kami berharap pihak-pihak yang mengerti energi diajak bicara. Kalau masalah reklamasi, mereka yang memang berkompeten diajak bicara. Jangan dicampur-adukkan. Sekarang pikirkan itu energi yang mandiri untuk Bali,” tegas Parta, seolah menyentil kasus proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) Bedugul, Kecamatan Baturiti, Tabanan yang ditentang keras masyarakat karena terkait kawasan suci.

Secara terpisah, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Bali, Nengah Tamba, menyatakan mandiri energi listrik adalah harga mati bagi Pulau Dewata. Tamba memaparkan, kejadian listrik padam hingga membuat Bali gelap gulita merupakan persoalan klasik yang sudah berkali-kali dibahas. Sumber-sumber energi listrik alternatif juga sudah disodorokan pemerintah.

“Mungkin karena kurang sosialisasi atau adanya pemahaman separuh-separuh, usulan energi alternatif itu menjadi mentah, bahkan jadi bola panas. Kita kurang cerdas dan tidak punya pikiran yang luas untuk menyelesaikan persoalan listrik yang membelit cukup lama. Ini sudah masalah klasik,” sesal Tamba. Tamba menyebutkan, Fraksi Demokrat DPRD Bali melalui kepanjangan tangan anggotanya di Komisi III, sudah sering meminta supaya Pemprov Bali fokus upaya memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri. “Entah itu dengan menggandeng investor atau meminta campur tangan pusat. Yang penting, Bali bisa aman dengan kebutuhan listrik yang benar-benar mandiri. Bali tidak lagi tergantung dengan pasokan listrik dari Jawa,” tegas politisi Demokrat asal Jermbrana ini.

Sementara, Pemprov Bali melalui Karo Humas Setda Provinsi Dewa Putu Mahendra menyatakan pihaknya menampung pendapat dan usulan Dewan. “Kita apresiasi pemikiran rekan-rekan di Dewan. Kita akan koordinasikan ini supaya bisa dibahas lebih lanjut untuk mencari solusi terbaik. Pemikiran Bali yang mandiri di bidang energi, juga telah lama menjadi pemikiran Pemprov Bali,” ujar Dewa Mahendra saat dikonfirmasi terpisah, Minggu kemarin.

Versi PLN Distribusi Bali, kebutuhan listrik Bali saat beban puncak (malam hari) saat ini mencapai 650 Mega Watt (MW). Sedangkan sumber energi listrik Bali selama ini dengan daya 723,4 MW. Dari jumlah itu, sebanyak 200 MW di antaranya energi Interkoneksi (listrik Jawa-Bali) yang dialirkan melalui kabel bawah laut. Sedangkan sisanya, masing-masing energi dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggaran (denpasar Selatan) sebesar 224,4 MW, PLTG Pemaron (Buleleng) sebesar 170,0 MW, dan PLTG Gilimanuk (Jembrana) sebesar 130 MW. Artinya, jika sistem kabel bawah laut terganggu sebagaimana kasus Sabtu malam kemarin, beraryi terjadi pengurangan daya sekitar 200 MW, sehingga risikonya adalah pemadaman dan sebagian Bali gelap gulita. Persoalan listrik Bali sebetulnya praktis akan teratasi jika nanti megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng beroperasi. Namun, berdasarkan skenario, PLTU Celukan Bawang baru akan beroperasi sekitar September 2014 depan.

PLTU Celukan Bawang ini dirancang untuk menghasilkan energi listrik sebesar 850 MW. Untuk tahap awal pengoperasian per September 2014 nanti, PLTU Celukan Bawang baru akan memasok listrik 466 MW. Rencana ini sudah dibahas dalam pertemuan yang difasilitasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, 24 Februari 2014 lalu, yang dipimpin langsung Menteri ESDM Jero Wacik dengan menghadirkan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana.

Sementara itu, Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Arkad Matulu, memastikan faktor gangguan teknis menjadi penyebab utama padamnya listrik di Bali, Sabtu malam. "Listrik di Bali sempat padam total pukul 20.49 Wita, karena transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) Situbondo-Banyuwangi mengalami gangguan," ungkap Arkad Matulu dilansir Antara di Surabaya, Minggu kemarin.

Akibatnya, lanjut Arkad, kabel laut Jawa-Bali dengan kapasitas 234,5 MW secara tiba-tiba tidak dapat menyalurkan listrik dari Jawa. Terjadilah ketidakseimbangan sistem kelistrikan di Bali. "Pemadaman listrik ini karena daya yang ada tidak mencukupi. Namun, pada pukul 21.20 Wita beban mulai dinormalkan bertahap," papar Arkad. Terkait adanya isu yang beredar melalui BlackBerry Messenger (BBM) bahwa listrik Bali padam karena PLTG Pesanggaran dibom, itu hanya ulah oknum yang ingin meresahkan masyarakat. "Kami imbau agar masyarakat tidak mudah percaya isu-isu yang belum tentu kebenarannya," katanya.




propinsibali.com_____
NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen