Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Satu Turis Jepang Ditemukan Tewas, Gubernur Bali: Cek Izin Usaha Penyelaman

Satu Turis Jepang Ditemukan Tewas, Gubernur Bali: Cek Izin Usaha Penyelaman

Written By Dre@ming Post on Rabu, 19 Februari 2014 | 7:33:00 AM

Mangku Pastika: "Mana orang Jepang bisa mengetahui persis situasi di Lembongan kalau bukan orang Lembongan atau orang Bali yang sudah sering ke situ," ujar Pastika. Mantan Kapolda Bali itu juga menyayangkan masih banyaknya pemandu wisata (guide) liar yang dikhawatirkan bisa membahayakan wisatawan mancanegara yang dipandu akibat mereka belum mengetahui persis situasi dan kondisi di tempat wisata tersebut. "Selama ini sering terjadi `guide` liar dan itu tidak boleh, serta harus distop karena harus ada peraturannya," ujarnya.
Empat Turis Jepang Alami Luka Bakar

Empat turis Jepang yang terkatung-katung selama empat hari sejak dinyatakan hilang saat menyelam di perairan laut Nusa Penida, Klungkung, Jumat (14/2), masih menjalani perawatan intensif di RSUP Sanglah, Denpasar, akibat luka bakar dan memar.

"Kondisinya masih sadar, tapi mereka harus menjalani perawatan akibat luka-lukanya," kata Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Albertus Julius Benny Mokalu seusai membesuk turis Jepang di RSUP Sanglah, Selasa.

Sejak dirawat di rumah sakit terbesar di Pulau Dewata itu, Senin (17/2) malam, keempat wisatawan tersebut kini sudah tidak lagi mengalami dehidrasi akibat terlalu lama terombang-ambing gelombang di perairan Selat Badung itu.

Sampai saat ini dua turis Jepang lainnya masih belum diketahui nasibnya, sedangkan satu lainnya bernama Furukawa Saori (34) menjalani perawatan di RS Kasih Ibu, Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung, setelah dievakuasi dari Nusa Lembongan dengan menggunakan helikopter.

Dalam kesempatan itu, para korban juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang melakukan pencarian, termasuk jajaran Polri, Basarnas, dan masyarakat nelayan di Kabupaten Klungkung dan Kota Denpasar.

Kapolda memuji kekuatan fisik para korban yang mampu bertahan dalam situasi cuaca yang buruk. "Daya tahan tubuh mereka kuat dan saya sendiri tidak menyangkanya," ujarnya.

Ia berharap dua korban lainnya bisa ditemukan dalam keadaan selamat. "Tim kami masih dalam proses pencarian," ujar jenderal polisi bintang dua itu.

Menurut dia, para korban sudah menjalankan aktivitasnya sesuai prosedur, namun cuacalah yang menyebabkan peristiwa itu terjadi.

"Mudah-mudahan peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi semuanya," ujarnya.

Satu Turis Jepang Ditemukan Tewas

Enam (6) dari 7 wisatawan Jepang yang dilaporkan hilang saat diving di perairan Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Jumat (14/2) lalu, sudah ditemukan petugas. Namun, korban yang ditemukan terakhir, Selasa (18/2) petang, sudah dalam kondisi tewas. Sedangkan 5 korban selamat yang ditemukan sehari sebelumnya, Senin (17/2) ssore, hingga kini masih dalam perawatan di rumah sakit.

Satu-satunya korban tewas yang ditemukan Tim SAR, Selasa petang sekitar pukul 18.10 Wita, adalah Miyatha Ritsuko, 60. Jasad korban ditemukan mengambang di di area Water Sport Pantai Serangan, Denpasar Selatan---yang berjarak belasan kilometer arah barat lokasi tenggelam. Kepala Basarnas Denpasar, Didi Hamzar, jaas ditemukan petugas mengambang di Pantai Serangan, jasad korban masih menggunakan pakaian selam. Sedangkan tabung selamnya sudah hilang. "Yang menemukan warga setempat dan langsung dilaporkan ke petugas," ungkap Didi Hamzar saat dikonfirmasi NusaBali, tadi malam. Menurut Didi, petugas membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk mengevakuasi mayat korban Miyatha Ritsuko. Akhirnya, mayat perempuan Jepang berusia 60 tahun ini berhasil dievakuasi dari laut pukul 8.35 Wita dengan menggunakan speed boat Water Sport Serangan 02 milik masyarakat.

Proses evakuasi dilakukan dengan dikawal Kapal Sea Rider milik Basarnas. Setelah dievakuasi, jasad korban langsung dibawa ke RS Sanglah, Denpasar untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Jasad korban sudah sulit dikenali, karena rambut telah mulai rontok,” papar Didi. Sementara, jenazah wisatawan Jepang ini kemarin petang tiba di RS Sanglah dengan diangkut ambulans milik Basarnas. Mayat korban langsung dimasukkan ke Ruang Forensik RS Sanglah untuk dilakukan pemeriksaan. Pantauan NusaBali, Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, juga ikut hadir di RS Sanglah. Tak lama berselang, Wakapolda Bali Brigjen I Gusti Ngurah Raharja juga datang ke RS Sanglah. Namun, hingga tadi malam pukul 22.00 Wita, pihak petugas forensik belum bisa memastikan identitas korban tewas, apakah benar Miyatha Ritsuko.

Jika korban tewas yang ditemukan di Pantai Serangan, Selasa sore, memang benar Miyatha Ritsuko, maka satu-satunya wisatawan Jepang yang hingga kini belum ditemukan dan masih dalam pencarian adalah Takashi Shoko, 36. Menurut Kepala Basarnas Denpasar, Didi Hamzar, proses pencarian korban hilang ini akan dilanjutkan Rabu (19/2) ini. Sesuai prosedur, kata Didi, seharusnya operasi pencarian sudah dihentikan per Selasa kemarin. Tapi, karena kejadian ini tergolong musibah ‘lain’, bukan musibah pelayaran, maka operasi diperpanjang. "Karena dalam proses operasi ada penemuan, maka sesuai prosedur, operasi bisa diperpanjang sampai Kamis (20/2)," jelas Didi. Sebelumnya, 5 dari 7 wisatawan Jepang yang hilang saat diving di perairan Nusa Lembongan, ditemukan selamat dalam kondisi lemas, Senin (17/2) sore pukul 15.30 Wita.

Mereka ditemukan terperangkap di tebing karang terjal sisi selatan Nusa Penida, Klungkung, tepatnya dekat Pantai Karang Atuh, Banjar Pelilit, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida. Ke-5 korban selamat yang ditemukan sore itu masing-masing Furukawa Saori, 37, Yamamoto Emi, 33, Tomita Nahomi, 29, Morizono Aya, 60, dan Yoshidome Atsumi, 29. Satu korban di antaranya harus dievakuasi menggunakan pesawat helikopter, yakni Furukawa Saori. Korban yang bertindak sebagai pemandu wisata sekaligus instruktur diving yang diketahui tinggal di Perumahan Bougenvile Nomor 7-A, Jalan Raya Pamogan, Denpasar Selatan ini kemudian dilarikan ke RS Kasih Ibu Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung untuk dirawat intensif. Sedangkan 4 korban selamat lagi dibawa ke IRD RS Sanglah, masing-masing Yamamoto Emi, Tomita Nahomi, Morizono Aya, dan Yoshidome Atsumi. Keempat korban ini datang secara beriringan dibawa 3 unit ambulans BPBD Kota Denpasar dan 1 ambulans PMI.

Saat tiba di RS Sanglah, mereka dalam kondisi sadar. Namun, mereka mengalami hipotermi (kedinginan) akibat lama berada di atas perairan. Hingga Selasa kemarin, 4 wisatawan Jepang korban hilang yang ditemukan selamat ini masih dirawat intensif di Burn Unit RS Sanglah. Menurut Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Sanglah, dr AAN Jaya Kusuma SpOG (K), setelah dilakukan pemeriksaan secara komperehensif, keempat pasien dinyatakan stabil dengan pernapasan dan ritme jantung dalam kondisi baik. "Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, mereka dipindahkan ke ruang unit luka bakar (Burn Unit). Pasalnya, secara fisik di dalam ditemukan luka lecet dan luka bakar grade 1 akibat paparan sinar matahari. Mungkin karena terlalu lama di laut, ada luka bakar di wajah, kulit, serta anggota tubuh lainnya," jelas dr Jaya Kusuma di RS Sanglah kemarin.

Jaya Kusuma menegaskan, dengan kondisi yang stabil dan luka bakar grade 1, maka dalam sat-dua hari ke depan 4 wisatawan Jepang korban hilang ini sudah bisa dirawat di ruang perawatan biasa RS Sanglah---bukan lagi di Burn Unit. “Luka bakar akibat paparan matahari tidak terlalu serius. Hanya ada yang sedikit luas sampai 64 persen merah-merah. Daerah yang paling merah bagian wajah, karena tidak tertutup pakaian," terang Jaya Kusuma. Luka bakar grade 1 dengan luasan 65 persen dialami korban Tomita Nahomi. Selain itu, korban juga luka lecet. Sedangkan korban Yamamoto Emi mengalami luka bakar grade 1 dengan luasan 49,5 persen. Sementara korban Yoshidome Atsumi mengalami luka bakar grade 1 dengan luasan 34 persen.

Sebaliknya, korban Morizono Aya dengan luka bakar grade 1 dengan luasan 38,5 persen. Secara psikologis, kondisi pasien juga stabil. Namun, untuk mengetahui dampak psikologis, menurut Jaya Kusuma, pihaknya berencana mengkonsultasikan kondisi mereka ke psikolog. "Yang jelas, mereka (para korban) sudah bisa makan, malah ada yang telah bisa jalan sendiri ke toilet," katanya. Tujuh (7) wisatawan Jepang itu sendiri dilaporkan hilang saat diving (menyelam) di perairan Mangrove Nusa Lembongan, Jumat lalu. Mereka awalnya berangkat diving dari Sanur (Denpasar Selatan) menggunakan Boat Ocean Express, dengan nahkoda Agustinus dan I Gede Sukadana, Jumat pagi pukul 08.00 Wita. Ternuyata, hingga malam belum kunjung kembali.

Gubernur Bali Minta Pengecekan Izin Usaha Penyelaman

Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta pengecekan izin usaha akomodasi wisata penyelaman pascaperistiwa hilangnya tujuh wisatawan Jepang di perairan Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung, pada 14 Februari 2014.

"Harus dicek dulu ada izin apa tidak, kalau ada izin sejauh mana selama ini kredibilitasnya, rekam jejaknya. Saya lihat tidak ada pemandu wisata dari Bali," katanya usai memberikan pengarahan pada Forum Konsultasi Publik Rencana Kerja Pembangunan Daerah Bali, di Denpasar, Selasa.

Menurut dia, dengan tidak ada pemandu wisata lokal saja berarti sudah menyalahi aturan dan itu sesungguhnya tidak boleh.

"Mana orang Jepang bisa mengetahui persis situasi di Lembongan kalau bukan orang Lembongan atau orang Bali yang sudah sering ke situ," ujar Pastika.

Mantan Kapolda Bali itu juga menyayangkan masih banyaknya pemandu wisata (guide) liar yang dikhawatirkan bisa membahayakan wisatawan mancanegara yang dipandu akibat mereka belum mengetahui persis situasi dan kondisi di tempat wisata tersebut.

"Selama ini sering terjadi `guide` liar dan itu tidak boleh, serta harus distop karena harus ada peraturannya," ujarnya.

Dari tujuh wisatawan Jepang yang hilang tersebut, sudah ditemukan lima orang dalam kondisi selamat pada Senin (17/4) petang. Mereka yang sudah dievakuasi tersebut diantaranya Yamamoto Emi (34), Tomita Nahomi (29), Morizono Aya (60), Yoshidome Atshumi (29) dan kini dirawat di RSUP Sanglah Denpasar, sedangkan Furukawa Saori (38) dirawat di RS Kasih Ibu Kedonganan, Kabupaten Badung.

Sementara dua orang lainnya masih dicari bernama Takhasi Shoko (36) dan Miyatha Ritsuko (60).

Sebelumnya Kepala Instalasi IRD RSUP Sanglah dr Krisna Wibawa SpB memaparkan bahwa pasien mengalami "hipoglikemi" karena tidak makan selama empat hari serta mengalami dehidrasi.

Selain itu, para korban juga mengalami luka bakar terutama di bagian wajah dan lengan akibat terpapar sinar matahari. "Luka bakar dialami di bagian tubuh yang tidak tertutup dan masuk ke dalam luka bakar `grade` dua," kata Krisna.



sumber : antarabali, nusabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Pergerakan Magma GA Menurun, Drone Diterbangkan Ambil Sampel Gas

Gunung Agung siang tadi, Sabtu (18/11/2017) Pengamatan PVMG Seminggu Terakhir, Begini Pergerakan Magmanya AMLAPURA - Gunung Agung...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen