Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Karena Suka Mabuk, Ayah Dibunuh Anak

Karena Suka Mabuk, Ayah Dibunuh Anak

Written By Dre@ming Post on Senin, 28 Oktober 2013 | 7:07:00 AM

Dadong Krening mengaku malam sebelumnya hanya mendengar sang suami (korban Pekak Dita) bertengkar dengan anaknya, Putu Aryawan. Cekcok seperti itu memang sering terjadi, gara-gara korban Pekak Dita doyan pesta tuak hingga mabuk. Apalagi, tatkala mabuk, kakek berusia 70 tahun itu sering mengumpat anaknya, tersangka Putu Aryawan, dan para tetangganya. Sang anak pun malu kepada tetangga. Namun, malam itu Dadong Krening tidak tahu kalau suaminya ternyata tewas dibantai sang anak. Sementara itu, jasad korbabn Pekak Dita kemarin pagi langsung dibawa ke RSUD Karangasem di Amlapura, setelah diketahui sebagai korban pembunuhan. Jasad Pekak Dita selanjutnya dirujuk ke Instalasi Jenazah RS Sanglah, Denpasar untuk diotopsi. Kapolsek Abang, AKP Cok Arimbawa, menyatakan pihaknya masih mendalami kasus ayah tewas dibantai anak kandung ini. Selain mengamankan tersangka Putu Aryawan, opetugas juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa selendang putih dan talenan. Gbr Ist
AMLAPURA - Gara-gara doyan pesta tuak hingga mabuk, seorang pria sepuh di Banjar Lebuh, Desa Tri Buana, Kecamatan Abang, Karangasem, I Gede Dita alias Klendit, 70, diduga tewas dianiaya anak kandungnya, I Made Putu Aryawan, 19. Uniknya, tersangka Putu Aryawan sengaja menggantung mayat ayahnya agar seolah-olah tewas gantung diri.

Kasus penganiayaan berat anak kandung terhadap ayahnya ini terjadi Sabtu (26/10) malam sekitar pukul 22.00 Wita, setelah korban Pekak (Kakek) Gede Dita pulang dari pesta tuak. Namun, kematian tragis Pekak Dita baru diketahui Minggu (27/10) pagi dan kasusnya dilaporkan ke Polsek Abang atas dugaan tewas bunuh diri. Sekitar pukukl 08.30 Wita, korban Pekak Dita dipastikan tewas akibat dibantai anaknya, Putu Aryawan. Kepastian tewas dibantai itu terungkap setelah petugas kepolisian melakukan olah TKP di rumah korban di Banjar Lebuh, Desa Tri Buana. Saat terjun melakukan olah TKP kemarin pagi, tim kepolisian dipimpin langsung Kapolsek Abang, AKP Cok Arimbawa, didampingi Kanit Reskrim Ipda I Made Dwi Susila. Dari hasil olah TKP, ditemukan beberapa kejanggalan, salah satunya, kepala korban dalam kondisi bonyok, meskipun matanya mendelik, lisdak menjulur seperrti layaknya orang tewas gantung diri.

Petugas pun langsung menangkap Putu Aryawan dan dibawa ke kantor polisi. Dari hasil diinterogasi, anak korban ini terus terang mengakui telah membunuh ayah kandungnya. Masalahnya, sang ayah, Pekak Dita, doyan matuakan hingga mabuk dan sering mengumpat sepulang dari pesta tuak. Kepada petugas, tersangka Putu Aryawan mengakui ayahnya sempat menantang dirinya saat ditegur sepulang pesta tuak, Sabtu malam pukul 22.00 Wita. Tersangka Putu Aryawan pun marah, lalu mengambil sebuah talenen (bantalan kayu untuk potiong daging dan bumbu). Talenan itu kemudian dipakai menganiaya ayahnya dengan menghantamkannya ke kepala belakang hingga langsung tewas di tempat.

“Saya malu, selama ini ayah saya (korban Pekak Dita) kerjanya mabuk dan sering ngomel-ngomel dengan berkata kasar kepada saya maupun tetangga,” ungkap tersangka Putu Aryawan di Mapolsek Abang, Minggu kemarin. Karena kejengkelannya memuncak, Putu Aryawan akhirnya nekat membantai sang ayah hingga tewas sepulang pesta tuak malam itu. Setelah ayahnya tewas akibat dihantam menggunakan talenan di kepala belakang, tersangka Putu Aryawan kemudian merekayasa dengan menggantung jasad ayahnya di palang tempat tidurnya, agar seolah-olah korban tewas gantung diri. Leher korban Pekak Didra dijerat menggunakan selendang warna putih yang dikaitkan ke palang kamar tidur.

Selanjutnya, Minggu pagi, tersangka ke tegalannya pukul 07.00 Wita, pura-pura menyabit rumput. Di tegalan, dia bertemu ibu kandungnya, Ni Ketut Krening, 67 (istri korban Pekak Dita). Tak lama berselang, Dadong (Nenek) Ketut Krening mendahului pulang dari tegalan. Setibanya di rumah, Dadong Krening langsung histeris dan berteriak minta tolong, begitu menemukan suaminya tewas menggantung. Para tetangga pun berdatangan ke lokasi TKP. Ada tetangga yang melapor ke Polsek Abang soal temuan heboh di rumah korban Pekak Dita. Ketika p[agi-pagi buta pergi ke tegalan, Minggu kemarin, Dadong Krening belum tahu suaminya tewas. Sebab, pasangan kakek-nenek ini menempati kamar terpisah. Barulah sepulang dari tegalan, Dadong Krening menengok kamar suaminya yang ternyata sudah tewas menggantung.

Kepada petugas, Dadong Krening mengaku malam sebelumnya hanya mendengar sang suami (korban Pekak Dita) bertengkar dengan anaknya, Putu Aryawan. Cekcok seperti itu memang sering terjadi, gara-gara korban Pekak Dita doyan pesta tuak hingga mabuk. Apalagi, tatkala mabuk, kakek berusia 70 tahun itu sering mengumpat anaknya, tersangka Putu Aryawan, dan para tetangganya. Sang anak pun malu kepada tetangga. Namun, malam itu Dadong Krening tidak tahu kalau suaminya ternyata tewas dibantai sang anak. Sementara itu, jasad korbabn Pekak Dita kemarin pagi langsung dibawa ke RSUD Karangasem di Amlapura, setelah diketahui sebagai korban pembunuhan. Jasad Pekak Dita selanjutnya dirujuk ke Instalasi Jenazah RS Sanglah, Denpasar untuk diotopsi. Kapolsek Abang, AKP Cok Arimbawa, menyatakan pihaknya masih mendalami kasus ayah tewas dibantai anak kandung ini. Selain mengamankan tersangka Putu Aryawan, opetugas juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa selendang putih dan talenan.

“Kami akan terus memeriksa saksi-saksi. Jika pemeriksaan telah cukup, akan berlanjut menggelar rekonstruksi,” tandas kapolsek Cok Arimbawa. Ini untuk kedua kalinya dalam kurun 6 bulan terakhir terjadi kasus pembunuhan lingkup keluarga di wilayah hukum Polres Karangasem. Sebelumnya, 26 April 2013 lalu, kasus serupa juga terjadi di Banjar Pedahan Tengah, Desa Tianyar Tengah, Kecamatan Kubu, Karangasem. Korban pembunuhan kala itu adalah I Wayan Mastri, 65, yang tewas dibantai adik kandungnya, I Nyoman Siar, 60, akibat dipicu masalah rebutan warisan. Sebelum pembunuhan terjadi, antara pelaku dan korban terlibat cekcok dan perkelahian. Pelaku Pekak Siar menyatakan peristiwa berdarag kala itu berawal sore pukul 17.00 Wita, saat dirinya sedang duduk-duduk di rumah yang lokasinya berdampingan dan berjarak hanya 10 meter dari rumah kakaknya, korban Pekak Mastri.

Ketika itu, korban Pekak Mastri pulang dari nonton tajen (judi sabung ayam). Begitu korban Pekak Mastri pulang, tersangka Pekak Siar langsung mendatangi kakaknya itu di rumahnya untuk membicarakan masalah tanah kebun warisan seluas 1 hektare. Sebab, tanah bagian Pekak Siar hendak dijual oleh Pekak Mastri. Namun, saat pembicaraan tanah warisan, Pekak Mastri marah-marah. Maka, terjadilah cekcok mulut. “Kakak saya mendahului menyerang saya dengan pisau yang terselip di pinggangnya. Perut saya ditusuk, beruntung saya berupaya menghindar. Tapi, jari tangan kanan saya terluka,” papar Pekak Siar kala itu. Tersinggung diserang kakaknya, Pekak Siar yang tidak bersenjata balik ke rumahnya mengambil blakas dan kapak. Kemudian, tersangka Pekak Siar langsung membantai kakaknya dengan senjata tajam secara membabibuta, hingga tersungkur bersimbah darah dan tewas.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen