Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Rakyat Bali Pilih Pemimpin

Rakyat Bali Pilih Pemimpin

Written By Dre@ming Post on Rabu, 15 Mei 2013 | 8:40:00 AM

Sejak terbentuknya Pemprov Bali, tercatat sudah ada 8 figur Gubernur di Pulau Sorga. Almarhum AA Bagus Sutedja merupakan Gubernur Bali pertama yang menjabat periode 1950-1958. Bahkan, figur asal Jembrana ini sempat kembali terpilih menjadi Gubernur Bali periode 1959-1965 sebalum akhirnya menghilang misterius. Sebelum periode kedua jabatan Bagus Suteja, sempat ada figur ke-2 yang jadi Gubernur Bali yakni I Gusti Bagus Oka. Namun, dia hanya menjabat Gubernur Bali selama setahun peruiode 1958-1959. Sedangkan I Gusti Putu Martha menjadi figur ke-3 yang menjabat Gubernur Bali 1965-1967. Dia digantikan Brigjen TNI (Purn) Soekarmen (figur ke-4), perwira tinggi asal Jawa Timur, yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1967-1971 dan 1971-1978). Kemudian, Prof Dr Ida Bagus Mantra tampil sebagai figur ke-5 yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1978-1983 dan 1983-1988). Dia digantikan Prof Dr dr Ida Bagus Oka (mantan Rektor Unud/figur ke-6) yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1988-1993 dan 1993-1998). Sementara, Dewa Made Beratha (mantan birokrat asal Gianyar) menjadi figur ke-7 yang mejabat Gubernur Bali dua kali periode pada 1998-2003 dan 2003-2008. Datang kemudian Komjen Pol (Purn) Made Mangku Pastika sebagai figur ke-8 yang menjabat Gubernur Bali periode 2008-2013. Pastika merupakan Gubernur Bali pertama yang terpilih melalui Pilkada langsung, yakni Pilgub 2008.
DENPASAR - Setelah pergulatan panjang sejak penjaringan calon yang penuh ketegangan hingga lahirnya dua pasangan Calon Gubernur (Cagub)-Calon Wakil Gubernur (Cawagub), tibalah saat-saat yang amat menentukan Pilgub Bali 2013. Sekitar 2.926.571 penduduk Bali yang berhak memilih akan menggunakan hak pilihnya saat coblosan Pilgub Bali, Rabu (15/5) ini. Belum bisa ditebak, siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam tarung head to head antara Pasti-Kerta vs PAS ini.

Hampir 3 juta calon pemilih untuk Pilgub Bali 2013 ini akan melakukan pencoblosan di 6.369 TPS (tempat pemungutan suara) pada desa-desa yang tersebar di 57 kecamatan di 9 kabupaten/kota se-Bali. Pemilih terbanyak ada di wilayah Buleleng dengan jumlah mencapai 540.618 orang. Sedangkan jumlah pemilih terbanyak kedua berada di Kota Denpasar (428.760 orang), disusul Karangasem (369.140 pemilih), Tabanan (358.809 pemilih), Gianyar (356.262 pemilih), Badung (308.630 pemilih), Jembrana (222.276 pemilih), Bangli (184.891 pemilih), dan terkecil di Klungkung (hanya 157.185 pemilih). Suara mereka---yang datang ke TPS menggunakan hak pilihnya---akan sangat menentukan siapa di antara pasangan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Pasti-Kerta) dan AA Puspayoga-Dewa Sukrawan (PAS) yang berhak memimpin Gumi Bali periode 2013-2018. Pasti-Kerta adalah pasangan Cagub-Cawagub yang diusung Koalisi Bali Mandara.

Dalam koalisi besar ini, terdapat nawasanga parpol yang gabung dukung Pasti-Kerta, yakni Golkar, Demokrat, Gerindra, PNBKI, Hanura, PKPI, PKPB, Pakar Pangan, dan PAN. Sedangkan PAS merupakan pasangan Cagub-Cawabup Bali yang diusung PDIP bersama PKS. Baik Mangku Pastika maupun Puspayoga sama-sama kandidat incumbent. Pasalnya, Mangku Pastika---yang mantan Kapolda Bali dan Kalakhar BNN berpangkat Komjen Polisi (Purn)---masih menjabat Gubernur Bali hingga 28 Agustus 2013 nanti. Pastika sudah teruji kemampuannya selama 5 tahun menjabat Gubernur, dengan menaikkan APBD Bali dari semula Rp 1,8 trilun menjadi hampir Rp 5 trilun di tahun 2013. Sedangkan Puspayoga (politisi PDIP asal Puri Satria, Denpasar yang mantan Walikota Denpasar) saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Bali. Puspayoga pun sempat teruji saat 8 tahun menjadi walikota. Sebaliknya, Sudikerta yang kini Ketua DPD I Golkar Bali masih menjabat Wakil Bupati Badung periode kedua, mendampingi AA Gde Agung. Sementara Dewa Sukrawan yang notabene Ketua DPC PDIP Buleleng, saat ini menjabat Ketua DPRD Buleleng. Paket Pasti-Kerta dan PAS boleh dibiliang kombinasi kekuatan Bali Utara dan Bali Selatan.

Pastika yang berasal dari Buleleng merupakan representasi kekuatan Bali Utara, sementara Sudikerta yang asal Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung representasi kekuatan Bali Selatan. Demikian pula Puspayoga yang asal Denpasar adalah mewakili kekuatan Bali Selatan, sedangkan Sukrawan mewakili Bali Utara. Berdasarkan hasil Pileg 2009, modal politik awal PAS adalah 24 kursi DPRD Bali atau 43,64 persen suara parlemen. Sementara Pasti-Kerta bertarung dengan modal politik awal 30 kursi DPRD Bali atau 54,55 persen suara parlemen hasil Pileg 2009. Namanya Pemilihan Gubernur (Pilgub), tentu bukan jaminan mutlak hasilnya akan paralel dengan modal politik awal. Sebab, kekuatan figur amatlah menentukan, selain peran mesin partai. Pilgub adalah perkara memilih Gubernur bagi rakyat, bukan Gubernur partai, sehingga besar kecil maupun solid tidaknya parpol pengusung juga bukan mutlak jadi penenti kemenangan. Karena itu, masih sulit menebak siapa akan akan keluar sebagai pemenang antara Pasti-Kerta vs PAS. Masyarakat Bali tentunya sudah punya pilihan masing-masing dan cukup cerdas untuk memilih pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan 5 tahun ke depan. Yang dibutuhkan Bali adalah pemimpin yang mampu menjawab tantangan di tengah arus globalisasi.

Apalagi, Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Jadi, keberhasilan rakyat Bali melahirkan pemimpin berkelas juga sekaligus menjadi keberhasilan buat Indonesia. Versi akademisi dan pengamat politik dari Fisipol Unwar Denpasar, Dr AA Wisnumurthi, salah satu kriteria pemimpin yang dibutuhkan Bali ke depan adalah Gubernur yang memiliki wawasan global, tanpa harus tercerabut dari akar budayanya. “Tantangan yang dihadapi Bali ke depan tidaklah ringan, sehingga diperlukan pemimpin berwawasan global tanpa harus tercerabut dari akar budaya,” ujar Wisnumurthi dalam sesi dialog di TVRI beberapa waktu lalu. Menurut Wisnumurthi, ada dua tantangan besar yang dihadapi Bali ke depan. Pertama, harus memiliki daya saing minimal di kawasan Asia Tenggara. “Terkait daya saing ini, maka perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat diperlukan,” ujar Wisnumurthi sembari menyebut banyak krama Bali yang berada di luar daerah adalah manusia-manusia sukses. Tantangan kedua, kata Wisnumurthi, bagaimana Bali mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. “Bicara soal peningkatan kesejahteraan, maka faktor utama yang tak boleh diabaikan adalah pendidikan. Nah, peningkatan pendidikan ini adalah salah satu tantangan pemimpin Bali ke depan,” jelas akademisi bergelar Doktor yang mantan Ketua KPU Bali asal Desa Siangan, Kecamatan Gianyar ini.

Sementara itu, akademisi yang pengamat politik dari Fisipol Undiknas Denpasar, Dr Nyoman Subanda, mengatakan dari penelusuran informasi di lapangan, kedua pasangan kandidat yang akan tarung head to head: Pasti-Kerta vs PAS, sama-sama mengklaim akan menang Pilgub dengan 55 persen suara. Selaku pengamat, dirinya merasa tidak boleh memberikan komentar atas klaimkandidat. “Kita tidak boleh memberikan komentar salah satu menang sebelum coblosan Pilgub, karena sama artinya menggiring opini. Tapi, dari informasi kedua kubu yang kita dapatkan, mereka sama-sama klaim menang 55 persen. Ya sudah, berarti mereka sudah punya gambaran masing-masing,” ujar Subanda di Denpasar, Selasa (14/5). Subanda menegaskan, di balik klaim menang 55 persen masing-masing kandidat itu, ada fenomena pemilih yang patut diwaspadai karena justru bisa memberikan dampak kepada kemenangan dan kekalahan. Menurut Subanda, dalam Pilgub Bali 2013 ini, ada tiga kelompok calon pemilih. Pertama, klompok yang berkecenderungan cuek. Kedua, kelompok yang fanatic partai. Ketiga, kelompok yang pragmatis. Bagi kelompok cuek, kata Subanda, Pilgub sudah nggak penting, sehingga mereka bisa saja asal pilih. “Mau siapa Gubernurnya, nggak peduli.

Mereka instant saja berpikir. Mereka yang cuek ini bisa masuk dalam golongan suara mengambang,” ujar Subanda. Sedangkan kelompok fanatisme partai, mereka siap memenangkan calon yang diusung partainya, sebarapa kuat pun figurnya. Yang menarik, kata Subanda, adalah pragmatisme masyarakat pemilih atau kelompok pragmatis. Mereka ini menganggap suara bisa dilego. Artinya, siapa yang datang memberikan apa, itulah yang dipilih. “Bahkan, ada masyarakat yang terang-terangan mengatakan, kandidatnya apa, siap memberikan suara kalau cocok (duitnya, Red). JKBM yang diterima masyarakat juga termasuk pragmatisme. Di Buleleng, ada itu terang-terangan. Di Denpasar juga ada pragmatisme,” imbuh Subanda. Lepas soal kelompok mana dari yang disebutkan Subanda dominan, yang jelas coblosan Pilgub Bali 2013 hari ini akan menghadirkan dua kemungkinan. Pertama, jika Pasti-Kerta menang, maka Mangku Pastika akan menjadi figur ke-8 yang menjabat Gubernur Bali. Sebaliknya, jika PAS menang, Puspayoga akan menjadi figur ke-9 yang menjabat Gubernur Bali.

Sejak terbentuknya Pemprov Bali, tercatat sudah ada 8 figur Gubernur di Pulau Sorga. Almarhum AA Bagus Sutedja merupakan Gubernur Bali pertama yang menjabat periode 1950-1958. Bahkan, figur asal Jembrana ini sempat kembali terpilih menjadi Gubernur Bali periode 1959-1965 sebalum akhirnya menghilang misterius. Sebelum periode kedua jabatan Bagus Suteja, sempat ada figur ke-2 yang jadi Gubernur Bali yakni I Gusti Bagus Oka. Namun, dia hanya menjabat Gubernur Bali selama setahun peruiode 1958-1959. Sedangkan I Gusti Putu Martha menjadi figur ke-3 yang menjabat Gubernur Bali 1965-1967. Dia digantikan Brigjen TNI (Purn) Soekarmen (figur ke-4), perwira tinggi asal Jawa Timur, yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1967-1971 dan 1971-1978). Kemudian, Prof Dr Ida Bagus Mantra tampil sebagai figur ke-5 yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1978-1983 dan 1983-1988). Dia digantikan Prof Dr dr Ida Bagus Oka (mantan Rektor Unud/figur ke-6) yang menjabat Gubernur Bali dua kali periode (1988-1993 dan 1993-1998). Sementara, Dewa Made Beratha (mantan birokrat asal Gianyar) menjadi figur ke-7 yang mejabat Gubernur Bali dua kali periode pada 1998-2003 dan 2003-2008. Datang kemudian Komjen Pol (Purn) Made Mangku Pastika sebagai figur ke-8 yang menjabat Gubernur Bali periode 2008-2013. Pastika merupakan Gubernur Bali pertama yang terpilih melalui Pilkada langsung, yakni Pilgub 2008. 


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen