Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Satu Keluarga Ditemukan Tewas Membusuk

Satu Keluarga Ditemukan Tewas Membusuk

Written By Dre@ming Post on Selasa, 21 Februari 2012 | 8:37:00 AM

Selasa, 21 Pebruari 2012, 08:29

I Made Purnabawa, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni,  dan Ni Wayan Risna Ayu Dewi
NEGARA - Satu keluarga yang dilaporkan menghilang secara misterius dari rumahnya di Perum Kampial Residence, Lingkungan Menesa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas membusuk. Jasad korban I Made Purnabawa, 28, bersama Ni Luh Ayu Sri Mahayoni, 27 (istri), dan Ni Wayan Risna Ayu Dewi, 9 (anak) ditemukan bertumpuk pada semak-semak jurang di Dusun Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Senin (20/2) pagi pukul 07.00 Wita.

Ketiga mayat membusuk ini ditemukan di semak-semak jurang di perkebunan milik keluarga I Gusti Kade Dandra, 60, yang berada sekitar 300 meter arah selatan dari Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk—di sebelah timur jalan aspal menuju Setra Desa Adat Yeh Embang Kangin. Mayat satu keluarga ini ditemukan tanpa sengaja oleh kakak adik I Gusti Putu Agung Yasa, 55, dan I Gusti Kade Agung Sutarsa, 52, saat hendak buang hajat.

Kisahnya, kakak adik yang bekerja sebagai petani ini merasakan sakit perut seusai mengembalakan sapinya. Nah, saat mau jongkok untuk buang hajat, saksi Agung Yasa mencium bau busuk. Spontan Agung Yasa memanggil adiknya, Agung Sutarsa, untuk bersama-sama memastikan sumber bau tersebut. Mereka terkejut karena kemudian melihat sesosok mayat pria yang terbungkus kain sprei dalam kondisi membusuk dan
dikerumuni belatung, persis di bawah pohon kelapa.

Temuan heboh ini kemudian dilaporkan kepada pemilik kebun, Gusti Kade Dandra, lanjut ke Kelian Banjar. Selanjutnya, Kelian Banjar melaporkannya ke polisi. Begitu mendapat laporan, tim kepolisian pun langsung datang ke TKP. Pada saat bersamaan, warga sekitar juga berbondong-bondong ke KTP. Sosok mayat yang pertama-tama ditemukan adalah korban Made Purnabawa. Saat ditemukan, jasad guide freelance asal Desa Adat Peminge, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung ini masih mengenakan kaos warna hitam dan celana pendek warna hitam, dengan posisi kepala nyungsep ke bawah. Sedangkan anggota tubuh lainya mengarah ke atas berselimut sprei.

Dari olah TKP, terlihat ada luka robek di bagian perut dan kaki kanan korban. Selain itu, juga mengalami luka di rahang, wajah, dan sekujur tubuh lainnya. Sedangkan rambut korban sudah mengelupas, sehingga petugas kesulitan melakukan identifikasi. Setelah jasad korban diangkat, ternyata di bawahnya ada lagi sosok mayat perempuan.

Mayat kedua ini diduga kuat Ni Luh Ayu Sri Mahayoni, istri dari Made Purnabawa. Kondisinya juga sama: telah membusuk. Mayat kedua ini terbungkus bed cover warna cokelat-putih, dalam posisi telungkup di mana separuh tubuhnya ditutupi baju batik merah muda bermotif garis-garis, dan dalamnya menggunakan singlet, tanpa memakai CD. Di sebelah mayat perempuan ini ditemukan HP Nexian, BlackBerry, bantal hati, boneka kelinci warna pink, remote TV merek LG, sandal, dan sebatang kayu panjang 60 cm yang diduga digunakan untuk memukul korban. Setelah kedua mayat tersebut diangkat, tim evakuasi dengan dibantu warga kembali melakukan penyisisran di sekitar lokasi. Hanya berjarak 10 meter dari lokasi TKP pertama, kembali ditemukan sesosok mayat anak perempuan berambut panjang yang memakai celana ketat warna cokelat. Mayat ketiga ini adalah korban Ni Wayan Krisna Ayu Dewi, putri semata wayang pasangan Made Purnabawa dan Ayu Sri Mahayoni.

Kondisi mayat bocah kelas IV SD ini juga sudah membusuk, dipenuhi belatung. Korban ditemukan masih memakai jam tangan merek Rip Curl warna merah di pergelangan kiri. Mayat ketiga ini ditemukan tersangkut di batang pohon awar-awar, dalam kondisi terbungkus bed cover warna cokelat. Tragisnya, tengkorak (kepala) korban ditemukan terpisah sekitar 1,5 meter dari tubuhnya.

Ketiga mayat yang ditemukan di semak-semak dalam jurang ini kemudian dibawa ke RSUD Negara. Selanjutnya, jasad ketiga korban sekeluarga ini dirujuk ke RS Sanglah, Denpasar untuk dilakukan otopsi. Pantauan sebelum jasad korban dibawa ke RS Sanglah, hingga kemarin sore RSUD Negara didatangi sejumlah petugas dari Polda Bali. Kapolsek Kuta Selatan Kompol I Putu Gede Dedi Ujiana, juga terjun ke RSUD Negara bersama perwakilan keluarga korban. Polisi belum memastikan kalau tiga jasad yang ditemukan membusuk di jurang Desa Yeh Embang Kangin, Jembrana ini merupakan satu keluarga yang dilaporkan hilang misterius bersama sopirnya, Heru Ardianto, serta Ni Putu Anita (istri sopir), dan Agus, 16 (anak dari si sopir). Namun, salah seorang perwakilan keluarga, I Made Kutir, sudah berani memastikan bahwa ketiga jasad tersebut merupakan kerabatnya yang hilang misterius: Made Purnabawa, Ayu Sri Mahayoni, dan Krisna Ayu Dewi.

Menurut Made Kutir, kepastian itu berdasarkan ciri-ciri fisik beserta beberapa barang yang digunakan korban. “Melihat dari fisiknya, saya berani pastikan itu keluarga saya yang hilang misterius. Jam yang yang digunakan juga merupakan milik anaknya (Krisna Ayu Dewi). Dari penampilan ibunya (Ayu Sri Mahayoni), juga saya bisa lihat itu dia,” terang Made Kutir.

Made Kutir, yang mengaku sebagai teman dekat korban di tempatnya bekerja, bisa mengenali dari tubuh serta baju yang dikenakannya. "Keluarga ini memang suka berpakaian modis. Mayat ini jelas mereka (keluarga Made Purnabawa)," ujarnya. "Ini pasti mayat Made Purnabawa. Saya kenal anaknya (Krisna Ayu Dewi), karena merupakan teman main anak saya," sambung perwakilan keluarga lainnya, I Wayan Kirim.

Ditemui terpisah di Instalasi Jenazah RS Sanglah, tadi malam, salah satu kerabat korban, I Made Jaya, meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. “Harapan kami, kalau namanya kasus pembunuhan, jelas sesuai hukum yang berlaku harus diusut,” pinta Made Jaya.

Pihaknya juga meminta agar dilakukan otopsi ketiga jenazah kerabatnya yang ditemukan membusuk di Desa Yeh Embang Kangin tersebut. “Demi penyelidikan kasus, iya kami minta dilakukan otopsi,” terang Made Jaya. Terkait dugaan motif pembunuhan, Made Jaya mengaku belum bisa memastikan termasuk siapa pelakunya. “Kami tidak bisa menduga-duga, kami tunggu dari polisi,” urainya.

Tiga jenazah sekeluarga itu sendiri baru tiba di Ruang Jenazah RS Sanglah, Senin malam sekitar pukul 20.00 Wita. Ketiga jenazah dibawa ambulans, namun dalam kantong yang berbeda-beda. Sejumlah kerabat korban pun semalam langsung mendatangi kamar Jenazah RS Sanglah.

Sedangkan Kepala Instalasi Kamar Jenazah RS Sanglah IB Putu Alit, mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari keluarga korban terkait otopsi. “Kami masih menunggu persetujuan keluarga korban,” terangnya. Jika sudah ada persetujuan, maka otopsi akan dilakukan besok pagi (hari ini),” janji IB Putu Alit. Di sisi lain, Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi mengatakan pihaknya belum menyimpulkan kalau ketiga mayat itu adalah keluarga korban yang hilang misterius dari rumahnya di Perum Kampial Residence, Kuta Selatan. Pasalnya, pihak kepolisian harus mengikuti prosedur untuk menentukan identitas korban. “Kalau pihak keluarga berpendapat itu adalah korban hilang, sah-sah saja. Tapi, kami belum bisa memastikan hal itu. Kami mengkuti prosedur yang ada. Apalagi, kondisi mayatnya sudah sedikit hancur,” ujar Hariadi.

Sementara itu, warga di kampung asal korban Made Purnabawa kemarin berkumpul di rumah keluarga besarnya di depan Bale Banjar Peminge, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan. Mereka berkumpul di rumah yang beralamat di Jalan Srikandi Nomor 44 ini untuk mengetahui perkembangan kasus yang menimpa korban Made Purnabawa bersama istri dan anaknya.

Camat Kuta Selatan I Wayan Puja juga berada di rumah keluarga besar korban ini bersama Bendesa Pakraman Peminge I Wayan Lemes, dan Kelian Suka Duka Banjar Peminge I Made Sana. Berbicara mewakili pihak keluarga, Made Sana mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan informasi dari polisi terkait temuan tiga mayat membusuk di Jembrana. “Kalau memang itu sudah pasti mayat warga kami yang hilang misterius sekeluarga, kami harap segera dipulangkan ke sini (Desa Pakraman Peminge) secepat mungkin. Sehingga, kami dapat menindaklanjutinya secara adat dengan tetap meminta petunjuk Ida Pedanda,” terang Made Sana. “Kami harap polisi dapat segera mengungkap kasus ini. Harapan kita semua, ini merupakan menjadi yang pertama dan terakhir di Indonesia, khususnya di Bali,” imbuh Made Sana.

Korban Made Punarbawa bersama istri dan anaknya diketahui menghilang sejak 14 Febrari 2012 dinihari. Demikian pula sopir Heru Ardianto beserta istri dan anaknya. Sehari-hari, Heru Ardianto bersama istri dan anaknya tinggal di rumah keluarga Made Punarbawa. Heru Ardianto bertugas sebagai sopir, sementara istrinya, Ni Putu Anita, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka tinggal dan bekerja di sana sejak setahun lalu bersama anaknya, Agus.

Putu Anita yang menjadi pembantu rumah tangga di sana diketahui masih memiliki hubungan kekerabatan dengan istri majikannya, Ayu Sri Mahayoni. Korban Made Purnbawa selaku kepala keluarga (KK) di rumah ini merupakan putra asli Badung, yang berasal dari Desa Adat Peminge, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan. Kesehariannya, korban bekerja sebagai guide freelance di salah satu hotel.

Sedangkan istrinya, Luh Ayu Sri Mahayoni yang asal Buleleng, diketahui bekerja di Hotel Novotel Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan. Sementara putri semata wayangnya, Ni Wayan Krisna Ayu Dewi, masih duduk di kelas IV SDN 5 Benoa. Si kecil Krisna Ayu Dewi diketahui sudah tidak sekolah sejak Senin (13/2) lalu, sedangkan ibundanya, Ayu Sri Mahayoni, terakhir kali bekerja di hotelnya hari itu juga.

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

PVMBG Belum Pastikan Penurunan Status, GA Masih Alami Erupsi

Visual gunung agung dari desa Suwat Gianyar sabtu(16/12) pada pukul 6.00 dan pukul 7.30 wita Hembusan asap berwarna putih dan kelabu ...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen