Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Waduh...Rebutan Setra antara Dua Banjar, Terjadi Lagi, Polisipun Disabet Parang?

Waduh...Rebutan Setra antara Dua Banjar, Terjadi Lagi, Polisipun Disabet Parang?

Written By Dre@ming Post on Kamis, 14 April 2011 | 5:29:00 AM

Kamis 14 April 2011

GIANYAR - Konflik rebutan setra antara dua banjar bertetangga di Kecamatan Ubud, Gianyar, yakni Banjar Ambengan (Desa Pakraman Sayan) vs Banjar Semana (Desa Pakraman Demayu) kembali meletupkan bentrokan fisik, Rabu (13/4) petang pukul 18.00 Wita. Kerusuhan meledak saat massa Banjar Semana hadang prosesi penguburan jenazah warga Banjar Ambengan, Ni Wayan Samprig, 60. Akibat bentrokan itu, seorang polisi terluka.

Polisi yang menderita luka-luka dalam bentrokan di dekat areal setra sengketa kemarin petang adalah anggota Dalmas Polres Gianyar, Brigadir Dwi Setyabudi, 23. Korban menderita luka-luka di bagian punggung dan tangan
kanan akibat kena tebasan parang dalam bentrokan antara massa Banjar Semana vs aparat kepolisian yang coba mengamankan lokasi.

Buntut bentrokan kemarin petang, empat warga Banjar Semana terpaksa diamankan polisi ke Mapolres Gianyar untuk proses hukum lebih lanjut. Empat warga yang diamankan itu masing-masing I Wayan Dana, I Wayan Selamet, I Nyoman Sukarta, dan I Nyoman Suwitra.

Mereka ditangkap polisi berikut barang bukti senjata tajam berupa sabit, parang, dan kampak. Keempat warga Banjar Semana ini diduga melawan aparat saat mengamankan pembagian areal setra sengketa yang dipimpin langsung Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace.

Bentrokan yang berujung terlukanya seorang anggota Polri dan penangkapan empat warga Banjar Semana ini bermula dari meninggalnya seorang krama Banjar Ambengan, Ni Wayan Samprig, 60, Selasa (12/4) dinihari sekitar pukul 04.00 Wita. Karena Wayan Samprig termasuk soroh Bun, maka sesuai tradisi setempat, jenazahnya wajib dikuburkan di Setra Semana-Ambengan, yang berlokasi di sebelah barat jalan dan selatan pohon celagi.

Jenazah Wayan Samprig pun dijadwalkan akan dikuburkan di setra yang selama ini jadi sengketa kedua banjar bertetangga, Rabu kemarin. Nah, mendengar kabar akan ada prosesi penguburan warga meninggal dari Banjar Ambengan, ratusan warga Banjar Semana kemarin datang ke setra sambil bergotong royong membersihkan areal kuburan. Ratusan warga Banjar Semana ini lengkap membawa peralatan (senjata?) seperti sabit, parang, dan lainnya.

Kelian Banjar Semana, I Ketut Darmawan, mengakui kedatangan warganya ke setra sambil gotong royong, karena ada rencana penguburan jenazah dari warga Banjar Ambengan. Mereka bermaksud mengamankan surat penegasan dari Badan Kesbangpol dan Linmas Gianyar, atas nama Bupati Gianyar, tertanggal 11 Mei 2009, tentang bagian areal setra untuk Banjar Ambengan di sebelah timur jalan. Sedangkan jenazah Wayan Samprig, kata Karmawan, hendak dikubur di sebelah barat jalan. “Jelas kami keberatan. Kami harus taat aturan, karena ada surat penegasan itu,’’ ujar Darmawan.

Surat penegasan yang ditandatangani Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Gianyar, Ida Bagus Putra Siwagatha, itu berlampirkan tandatangan daftar hadir pertemuan tanggal 11 Mei 2009. Dalam lampiran itu terdapat tandatangan sejumlah prajuru, tokoh, dan warga Banjar Semana, namun tak ada tandatangan pihak prajuru Banjar Ambengan.

“Untuk Banjar Ambengan, dalam surat penegasan ini diwakili oleh Bendesa Pakraman Sayan Tjokorda Gde Arjana dan Kepala Desa Sayan, Dewa Agung Gede,” jelas Putra Siwagatha. Surat penegasan itulah yang dijadikan landasan bagi Kesbangpol Linmas dan Polres Gianyar untuk melarang penguburan Wayan Samprig, sesuai keinginan pihak Banjar Ambengan.

Karena merasa tidak pernah membuat penegasan penyelesaian kasus adat rebutan setra tersebut sebagaimana dalam surat, Kelian Banjar Ambengan, I Nyoman Dadi, dan warganya ngotot menguburkan jenazah Wayan Samprig sesuai dresta (tata aturan tradisi). Intinya, karena almarhum dari keluarga soroh Bun, maka jenazahnya dikuburkan di sebelah barat jalan dan selatan pohon celagi.

Karena merasa dapat penghadangan dari warga Banjar Semana dan kepolisian, maka ratusan warga Banjar Ambengan kemarin berkumpul di bale banjar setempat sebelum prosesi dimulai. Mereka menata strategi dan mempersenjatai diri dengan pelbagai senjata tajam, seperti tombak trisula, kelewang (parang), keris, sabit, tombak mata satu, hingga mata panah. Di sisi lain, pasukan Dalmas Polres Gianyar sudah siaga di setra.

Rabu siang sekitar pukul 14.00 Wita, massa Banjar Ambengan yang rata-rata bersenjata bergerak ke arah setra yang sedang dijaga pasukan Dalmas. Karena diberi peringatan, massa Banjar Ambengan langsung mejadeng (berhadap-hadapan) dengan pasukan Dalmas, namun tidak sampai bentrok. Pahumas Polres Gianyar, Kompol I Gde Sujana, pun memberikan peringatan demi hukum melalui pengeras suara.

Di sisi lain, ratusan warga Banjar Semana yang juga bersenjata, duduk santai di tengah setra, sambil ditenangkan aparat kepolisian. Mereka duduk sambil berjaga-jaga jika terjadi serangan dari pihak Banjar Ambengan.

Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Putra Siwagatha pun memanggil prajuru Banjar Semana dan Banjar Ambengan, untuk dipertemukan di Kantor Pos Polisi Singakerta. Pertemuan itu dipimpin langsung Bupati Cok Ace, didampingi Kapolres Gianyar AKBP Heny Harsono dan Dandim 1616/Gianyar Letkol Inf Yunianto.

Ternyata, Bupati Cok Ace punya pandangan berbeda dengan surat penegasan dari Badan Kesbangpol Linmas Gianyar, dalam menyelesiakan kasus ini. Cok Ace menawarkan agar setra di-status quo-kan, sedangkan jenzah Wayan Samprig bisa dikuburkan sesuai tradisi setempat. Artinya, Cok Ace setuju penguburan jenazah sesuai keinginan warga Banjar Ambengan. Petunjuk Cok Ace ini kemudian disampaikan prajuru Banjar Semana kepada warganya. Namun, warga Banjar Semana tidak terima dan ngotot agar surat penegasan dari Badan Kesbangpol Linmas itu yang dilaksanakan.

Keputusan Bupati Cok Ace di back up pasukan Dalmas yang berlawanan dengan surat penegasan Kesbangpol Linlimas ini ujung-ujungnya membat berang warga Banjar Semana. Situasi pun berbalik, di mana justru warga Banjar Semana yang kemudian dihalau pasukan Dalmas. Mereka diminta untuk tidak menghalangi prosesi penguburan jenazah Wayan Samprig.

Akibatnya, massa Banjar Semana turun ke jalan di sebelah utara setra dengan membakar sejumlah ban dan menebangi belasan pohon di sekitarnya. Bahkan, ada pohon kelapa yang ditebang menimpa kabel hingga listrik sekitar padam. Arus lalulintas di jalan rute Gianyar-Badung pun lumpuh total. Apalagi, massa melakukan penghadangan terhadap semua kendaraan yang melintas.

Pasukan Dalmas berusaha menghalangi aksi anarkis massa Banjar Semana, namun mendapat perlawanan. Suasana berubah menjadi mencekam, karena terjadi bentrokan antara polisi vs warga Banjar Semana. Akibatnya, seorang polisi terluka, yakni Brigadir Dwi Setyabudi, 23, karena terkena sabetan parang di bagian punggung dan tangan kanan. Polisi pun langsung mengamankan empat warga Banjar Semana, yakni I Wayan Dana, I Wayan Selamet, I Nyoman Sukarta, dan I Nyoman Suwitra.

“Empat warga Banjar Semana ini kami amankan karena terbukti berbuat anarkis dan memprovokasi warga lainnya, sehingga terjadi kekerasan. Mereka harus kami proses secara hukum,” tegas Kapolres Gianyar, Heny Harsono, di lokasi kerusuhan, tadi malam pukul 20.15 Wita.

Ini untuk kesekian kalinya terjadi ledakan yang dipicu kasus rebutan setra antara dua banjar bertetangga, Banjar Ambengan vs Banjar Semana, dalam 3 tahun terakhir. Dalam sejumlah kasus, kerusuhan terjadi saat penguburan jenazah warga. Salah satunya, bentrokan pada 2 Agustus 2008 malam, saat prosesi penguburan I Ketut Regug, 60 (krama Banjar Ambengan) gagal dilaksanakan gara-gara jalan menuju setra diblokade massa dari Banjar Semana.

Keesokan harinya, jalan menuju setra sengketa kembali diblokade dengan pohon-pohon yang ditebang massa Banjar Semana. Namun, jenazah Ketut Regug akirnya bisa dikubur dengan pengawalan Brimob, setelah sempat lumpuh total sekitar 5 jam. Muncul kemudian usulan untuk membagi setra.

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Tujuan Mangku Mokoh Mendaki GA Untuk Ambil Benang Tridatu

Mangku Mokoh dan keadaan kawah Gunung Agung Hembusan Abu di Gunung Agung Kini Tercatat Berdurasi Sekitar 20 Detik Mengarah Ke Daerah In...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen