Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » 8 warga Banjar Semana Masih Diburu, Prajuru Minta Maaf

8 warga Banjar Semana Masih Diburu, Prajuru Minta Maaf

Written By Dre@ming Post on Jumat, 15 April 2011 | 8:45:00 AM

Jumat, 15 April 2011

GIANYAR - Sehari pasca bentrok di lokasi setra sengketa, prajuru Banjar Semana, Desa Pakraman Demayu, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar meminta maaf kepada jajaran kepolisian, menyusul aksi penghadangan penguburan warga Banjar Ambengan, Desa Sayan (Kecamatan Ubud) yang berujung terlukanya seorang anggota Polri. Sementara, polisi kembali memburu 8 warga Banjar Semana, yang diduga provokator kerusuhan di setra sengketa, Rabu (13/4) petang.

Ada delapan (8) prajuru Banjar Semana yang mendatangi Mapolres Gianyar, Kamis (14/4), guna meminta maaf atas bentrokan di lokasi setra sengketa sehari sebelumnya. Mereka menemui langsung Kapolres Gianyar, AKBP Heny Harsono. Rombongan prajuru Semana ini dipimpin langsung Bendesa Pakraman Demayu, I Ketut Sibir. Selain datang untuk meminta maaf, rombongan prajuru banjar ini sekaligus minta penangguhan penahanan atas empat warga Banjar Semana yang diamankan polisi pasca rusuh penghadangan penguburan jenazah Ni Wayan Samprig, 60 (warga Banjar Ambengan), Rabu petang pukul 18.00 Wita.

Empat warga Banjar Semana yang diamankan itu masing-masing I Wayan Dana, I Wayan Selamet, I Nyoman Sukarta, dan I Nyoman Suwitra. Mereka diciduk petugas karena diduga jadi provokator kerusuhan, yang menyebabkan seorang anggota Dalmar Polres Gianyar, Brigadir Dwi Setyabudi, 23, terluka di bagian punggung dan tangan akibat sabetan parang. Bendesa I Ketut Sibir minta maaf atas kelakuan warganya, yang telah bertindak melanggar ketentuan. “Kami sungguh tak bisa mengendalikan warga kami, karena mereka sangat emosi secara spontan. Apa yang dilakukan warga kami itu terjadi secara spontan, tanpa direncanakan,” ujar Ketut Sibir.

Sementara, Kapolres Heny Harsono tidak serta merta mengabulkan pemintaan prajuru dari Banjar Semana itu, terutama penangguhan penahanan empat warganya. Menurut Kapolres, pihaknya tetap profesional menyikapi kasus yang dipicu konflik adat rebutan setra antara Banjar Semana vs Banjar Ambengan ini.

Jika ingin keempat warga Semana itu ditahan di luar, Kapolres minta jaminan kepada prajuru bahwa mereka tidak akan lagi membuat keonaran atau memancing masalah. “Tapi, jika hasil pemeriksaan nantu menunjukkan keempat orang itu terancam hukuman lebih dari 5 tahun penjara, maka kami harus tahan dulu mereka. Kalau tidak, kami akan berikan tahanan luar,” tegas Kapolres.

Kapolres mengaku sangat menyayangkan tindakan warga Banjar Semana, yang bertindak anarkis tatkala semua pihak berusaha menyelesaikan kasus rebutan setra tersebut. Kapolres juga menyayangkan sikap Pemkab Gianyar yang dinilai tidak tegas dalam menyelesaikan kasus adat antara Banjar Semana vs Banjar Ambengan, yang sudah terjadi sejak lama. Akibatnya, Dalmas Polres Gianyar harus menghadapi dua babak menegangkan saat aksi penghadangan penguburan jenazah Wayan Samprig di setra sengketa, Rabu petang.

Pada babak pertama, lanjut Kapolres, pasukan Dalmas harus berhadapan dengan massa dari Banjar Ambengan, yang sore itu datang ke lokasi setra sengketa dengan mempersenjatai diri. Sedangkan pada babak kedua, pasukan Dalmas Polres Gianyar berbalik harus berhadapan dengan massa Banjar Semana yang berang gara-gara keputusan Pemkab Gianyar mengizinkan penguburan di setra bagian barat---padahal, sesuai surat ketetapan sebelumnya, warga Banjar Ambengan seharusnya mengubur jenazah di setra bagian timur.

Nah, saat menghalau massa Banjar Semana yang marah sambil membawa senjata tajam itulah, seorang personel Dalmas Polres Gianyar, Brigadir Dwi Setyabudi, terluka. Korban terkena sabetan parang di bagian punggung dan tangan kanan, sehingga harus menjalani perawatan medis. Petugas pun terpaksa mengamankan empat warga Banjar Semana, yang diduga menghasut rekannya untuk melawan polisi di dekat lokasi setra sengketa. Informasi yang dihimpun, Kamis kemarin, penyidik Polsektif Ubud dan Polres Gianyar kembali menemukan 8 warga Banjar Semana lainnya yang diduga sebagai memicu kerusuhan. Delapan ‘perusuh’ Semana itu hingga kemarin belum ditangkap. Identitas mereka pun masih dirahasiakan.

Kapolres Heny Harsono juga membenarkan ada 8 ‘perusuh’ Semana yang masih dibidik polisi, pasca rusuh di lokasi setra sengketa ini. “Hanya saja, keterkaitan dan tindakan delapan warga ini masih didalami, sehingga belum sampai diperiksa di kantor polisi,” jelas Kapolres.

Pantauan di setra sengketa Banjar Semana vs Banjar Ambengan, Kamis kemarin, situasi setempat sudah berangsur pulih, Jalan Raya Semana-Ambengan yang sebelumnya dipenuhi pecahan-pecahan botol, pecahan kaca, dan pohon tumbang tebangan warga, juga tampak sudah bersih.

Namun demikian, lokasi sekitar TKP masih dijaga polisi. Petugas patroli Polsektif Ubud tampak masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. Apalagi, sempat muncul isu bahwa pihak Banjar Semana akan membongkar kuburan jenazah warga Banjar Ambengan. “Pokoknya, kami masih harus mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan,” tegas Kapolsektif Ubud, AKP Redastra.

Dikatakan Redastra, dua pleton pasukan Dalmas Polres Gianyar sudah ditarik dari lokasi setra sengketa, Rabu tengah malam, setelah usainya prosesi penguburan jenazah Wayan Samprig. "Situasi saat ini sudah normal. Namun, penjagaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Mudah-mudahan tidak ada lagi peristiwa seperti kemarin," tandas Redastra.

Sementara itu, Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace mengatakan, apa yang dilakukan selama ini dalam penanganan konflik rebutan setra dua banjar bertetangga dari lain desa di Kecamatan Ubud, sudah sesuai asas keadilan. Termasuk juga keputusan untuk membagi areal setra sengketa antara Banjar Semana dan Banjar Ambengan.

Karena itu, Bupati Cok Ace sangat menyayangkan keadilan itu justru tidak bisa diterima pihak Banjar Semana. “Makanya, kami perlu langkah tegas harus membagi setra tersebut, dan inilah hasilnya,” ujar Cok Ace secara terpisah di Gianyar, Kamis kemarin. Menurut Cok Ace, langkah selanjutnya dalam penanganan kasus rebutan setra ini, Pemkab Gianyar segera akan menembok pembatas setra dan sekaligus mamasang plang nama setra masing-masing banjar. Untuk mencegah terjadinya gesekan, maka di Setra Banjar Semana akan dibuatkan Palinggih Prajapati tersendiri.

Guna memproses kasus ini, Kepala Badan Kebangpol dan Linmas Gianyar, Ida Bagus Putra Siwagatha, berjanji akan segera memanggil keduabelah pihak. “Mereka (pihak Banjar Semana dan Banjar Ambengan) akan dipertemukan terkait pembagian areal setra, sebagaimana diputuskan Bupati Gianyar,” jelas Cok Ace. Bentrokan di lokasi setra sengketa Banjar Semana vs Banjar Ambengan itu sendiri, seperti diberitakan, terjadi Rabu petang pukul 18.00 Wita saat aksi penghadangan prosesi penguburan Wayan Samprig oleh massa Banjar Semana. Sebelum penguburan digelar, ratusan massa Banjar Semana nglurg ke lokasi setra sambil gotong royong dengan peralatan seperti sabit dan parang, karena ada rencana penguburan jenazah dari warga Banjar Ambengan.

Mereka bermaksud mengamankan surat penegasan dari Badan Kesbangpol dan Linmas Gianyar, atas nama Bupati Gianyar, tertanggal 11 Mei 2009, tentang bagian areal setra untuk Banjar Ambengan yang berada di sebelah timur jalan. Sedangkan jenazah Wayan Samprig hendak dikubur di sebelah barat jalan, karena sesuai dresta selaku warga dari soroh Bun. Pihak Banjar Semana keberatan surat penetepan dilanggar. Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, prajuru Banjar Semana dan Banjar Ambengan sore itu untuk dipertemukan di Kantor Pos Polisi Singakerta, dengan dipimpin langsung Bupati Cok Ace, didampingi Kapolres Heny Harsono dan Dandim 1616/Gianyar Letkol Inf Yunianto.

Ternyata, Bupati Cok Ace punya pandangan berbeda dengan surat penegasan dari Badan Kesbangpol Linmas Gianyar, dalam menyelesiakan kasus ini. Cok Ace menawarkan agar setra di-status quo-kan, sedangkan jenzah Wayan Samprig bisa dikuburkan sesuai tradisi setempat. Artinya, Cok Ace setuju penguburan jenazah sesuai keinginan warga Banjar Ambengan, yaksi di areal setra sebelah barat. Inilah yang membuat warga Banjar Semana berang, hingga mereka bentrok dengan Pasukan Dalmas yang coba menghalaunya.

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Tujuan Mangku Mokoh Mendaki GA Untuk Ambil Benang Tridatu

Mangku Mokoh dan keadaan kawah Gunung Agung Hembusan Abu di Gunung Agung Kini Tercatat Berdurasi Sekitar 20 Detik Mengarah Ke Daerah In...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen