Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 23 September 2017 | 10:29:00 AM

Pengungsi Nyebar ke Enam Kabupaten

SINGARAJA - Jumlah pengungsi bencana Gunung Agung hingga Jumat (22/9) petang pukul 18.00 Wita sudah tembus 12.488 orang. Mas Sumatri Khawatirkan Kesehatan Balita di Tenda.

Mereka mengungsi ke enam kabupaten di Bali, yakni Karangasem, Buleleng, Klungkung, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri, khawatirkan kondisi kehsetan balita di tenda-tenda pengungsian.

Data terkini yang diperoleh tadi malam, jumlah pengungsi terbanyak di luar Karangasem menyasar kawasan Buleleng, yakni mencapai 2.445 jiwa. Mereka ditampung di desa-desa kawasan Kecamatan Tejakula (Buleleng Timur). Sedangkan yang mengungsi ke wilayah Klungkung mencapai 1.077 jiwa, disusul ke wilayah Bangli (284 jiwa), Tabanan (259 jiwa), dan Gianyar (88 jiwa). Selebihnya, mengungsi di wilayah Karangasem, terbanyak di Kecamatan Rendang mencapai 3.556 jiwa.

Khusus yang mengungsi ke wilayah Tejakula, Buleleng, berasal dari dua desa bertetangga di Kecamatan Kubu, Karangasem yakni Desa Ban dan Desa Dukuh. Jumlah mereka terus bertambah, sejak awal mengungsi, Kamis (21/9). Semula, hanya tiga desa di wilayah Tejakula yang jadi tempat menampung pengungsi, maisng-masing Desa Tembok, Desa Sambirenteng, dan Desa Les.

Karena jumlah pengungsi terus bertambah, Jumat kembali, mereka juga diarahkan ke tiga desa lainnya di wilayah Kecamatan Tejakula, yaitu Desa Penuktukan, Desa Sembiran, dan Desa Pacung. Pengungsi yang datang belakangan langsung diarahkan untuk memanfaatkan fasilitas dan Gedung Serba Guna di tiga desa ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, I Made Subur, mengatakan jumlah pengungsian terus bertambah. Bahkan, jumlah pengungsi yang datang ke tenda-tenda di Desa Les sempat tembus 1.500 jiwa. Padahal, tenda yang ada hanya 17 unit dan sudah terisi penuh. “Pengungsi membludak sejak Kamis malam,” ungkap Made Subur saat ditemui di lokasi pengungsian di Desa Les, Jumat kemarin.

Menariknya, dua Bupati terjun ke lokasi pengungsian koban bencana Gunung Agung di Tejakula, Jumat kemarin, yakni Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Bupati Mas Sumatri datang lebih dulu ke tenda pengungsian di Desa Tembok lanjut ke Desa Les kemarin siang pukul 11.00 Wita, sementara Bupati Agus Suradnyana datang ke lokasi pengungsian di Desa Les sore sekitar pukul 15.00 Wita.

Dalam kunjungan kemarin, Bupati Mas Sumantri sempat mengkhawatirkan kondisi kesehatan sejumlah bayi dan balita yang ada di tenda-tenda pengungsian Desa Les. Menurut Mas Sumatri, cuaca panas dan lingkungan yang berdebu dikhawatirkan akan membuat bayi dan balita mudah jatuh sakit. “Saya minta para orangtua yang punya bayi untuk bersedia dipindahkan ngungsi ke bale banjar, gedung, dan fasilitas umum lainnya. Ini lebih aman untuk kesehatan bayi dan anak-anak mereka,” pinta Mas Sumatri.

Selain itu, Mas Sumatri juga mengimbau seluruh warganya yang mengungsi di Desa Les, Desa Tembok, dan desa-desa lainnya di wilayah Tejakula untuk tetap menjaga kesehatan, jangan terbebani masalah harta benda dan ternaknnya yang ada di rumah. Mas Sumatri berjanji akan mencarikan jalan keluar melalui Dinas Pertanian Karangasem, untuk mendata seluruh hewan ternak warganya yang mengungsi.

“Saya selaku penanggung jawab masyarakat Karangasem menitipkan warga kami di Buleleng. Sebelumnya, saya sudah koordinasi juga dengan Bapak Bupati Buleleng agar masyarakat kami mendapatkan pelanana yang bagus, tidak sampai kelaparan. Tolong bantu difasilitasi untuk penyimpanan maupun penarikan uang tabungan bila mereka memiliki tabungan,” harap Mas Sumatri.

Selain itu, Mas Sumantri juga menitipkan warganya yang masih sekolah untuk bisa menjalani proses belajar di sekolah terdekat lokasi pengungsian, tanpa syarat apa pun. Setelah pendataan selesai nanti, pihaknya berencana mendatangkan guru pengajar dari Karangasem untuk mengajar di titik-titik pengungsian.

Sementara, Bupati Agus Suradnyana mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan rapat koordinasi terkait penanganan jangka panjang pengungsi korban bencana Gunung Agung. Diharapkan, ke depannya semua masalah pengungsian dapat tertangani dengan baik, terutama yang menyangkut dan bertanggung jawab maslaah logistik.

“Untuk sementara, semuanya sudah tertangani. Selanjutnya, kami akan koordinasikan untuk penanganan jangka panjang, baik dari sisi logistik, maupun kesehatan terutama bayi, balita, dan para lansia yang mengungsi di sini,” jelas Bupati yang juga Ketua DPC PDIP Buleleng ini.

Agus Suradnyana mengatakan tidak tertutup kemungkinan nanti pengungsi ke Buleleng akan terus bertambah. Mereka kemungkinan akan mengungsi sampai ke wilayah Kecamatan Kubutambahan dan Kecamatan Sawan, jika memang dibutuhkan.

Sementara itu, jumlah pengungsi yang ditampung di GOR Swecapura, Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung terus bertambah. Hingga Jumat sore pukul 16.30 Wita, pengungsi sudah mencapai 1.496 jiwa dari 414 kepala keluarga (KK). Karena jumlahnya melebihi kapasitas, kondisi GOR pun penuh sesak. Padahal, baru terisi 945 pengungsi saja sudah krodit.

Pengungsi terpaksa diarahakan menuju tenda-tenda sebelah selatan GOR Swecapura, selain juga memanfaatkan bale banjar terdekat. Di samping itu, puluhan pengungsi juga menyebar cari rumah kontrakan atau rumah kerabatnya di Klungkung.

Khusus di GOR Suwecapura, timbul persoalan terkait toilet yang saat ini jumlahnya hanya 13 unit. Pengungsi harus memanfaatkan parit di sebelah selatan GOR. Sedangkan bayi pengungsi mulai kekurangan asupan gizi seperti susu. Belum lagi masalah kesehatan pengungsi kalangan anak-anak.

“Kami sudah merawat 60 warga sejak Kamis (21/9) malam. Untuk pasien anak-anak, sebagian besar terserang ganguan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) seperti pilek dan batuk,” ungkap Koordinator Public Safety Center (PSC) Kris Dinas Kesehatan Klungkung, Kadek Body Kotama.

Pengunggsi juga banyak mengalami mual dan mutah, kondisi tubuh panas dan lainnya. Bahkan, 3 pasien harus di rujuk ke RSUD Klungkung. Jumat kemarin, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta sempat terjun ke lokasi pengungsian di GOR Suwecapura, seraya menggendong bayi korban bencana Gunung Agung.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Klungkung, Dewa Gde Darmawan, tengah mendata jumlah siswa di tenda pengungsian. Berdasarkan data hingga sore kemarin, tercatat ada 61 siswa SD, 44 siswa SMP, dan 29 siswa SMA/SMK yang mengungsi di GOR Suwecapura.

Menurut Dewa Darmawan, bagi pengungsi bocah SD nantinua akan diarahkan belajar di SDN 1 Gelgel dan SDN 2 Gelgel. Sedangkan siswa SMP akan belajar SMPN 3 Semarapura. Sebaliknya, untuk siswa SMA/SMK pihaknya sudah berkoordinasi dengan UPT Provinsi agar kepala sekolah siap menerima mereka. “Hari Senin (25/9) nanti para siswa siap sekolah,” tandas Dewa Darmawan.

Sebagian Sulinggih Belum Mau Ngungsi

AMLAPURA - Sebagian sulinggih yang bermukim di zona merah atau KRB (kawasan rawan bencana) III Gunung Agung belum mengungsi ke tempat aman.

Hingga Jumat (22/9), mereka masih bertahan di kediamannya kawasan Desa Jungutan (Kecamatan Bebandem, Karangasem), Desa Sebudi (Kecamatan Selat, Karangasem), dan Desa Dukuh (Kecamatan Kubu, Karangasem).

Data yang dihimpun, para sulinggih di Desa Jungutan, tersebar di tiga griya, masing-masing Griya Ulon (sebanyak 6 sulinggih), Griya Tengah (4 sulinggih), dan Griya Pekarangan (3 sulinggih). Sedangkan di Desa Sebudi, sulinggih tinggal di Griya Dukuh Jayati, Banjar Badeg (2 sulinggih). Salah satunya, satunya Ida Rsi Mpu Dukuh Jayati. Sebaliknya, untuk Desa Dukuh, sulinggi tinggal di Banjar Caniga (2 sulinggih suami istri).

Menurut Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Jungutan, Ida Bagus Parwata, sebagian sulinggih di desanya telah mengungsi ke rumah keluarga mereka di luar Karangasem. Namun, sebagian sulinggih lagi masih bertahan di kampung seraya melihat situasi lebih lanjut. "Jadi, belum semua sulinggih mjengungsi, sebagian masih tunggu situasi," jelas IB Parwata, Jumat kemarin.

Sekadar dicatat, ketika terjadi bencana Gunung Agung meletus tahun 1963, semua griya di Desa Jungutan tertimbun lahar. Maklum, Desa Jungutan merupakan jalur lahar yang berada dalam radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung.

Kondisi berbeda terjadi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, yang masuk zona merah radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Di desa ini tidak ada sulinggih, yang ada puluhan pamangku. "Para pamangku di sini belum mengungsi, karena situasi Gunung Agung masih landai," ujar Pamangku Pura Merajan Kanginan Besakih, Jro Mangku Suyasa.

Di sisi lain, Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri mengingatkan siapa pun yang tinggal di zona merah (KRB III) wajib dievakuasi, sehingga tidak ada lagi warga yang bertahan, termasuk sulinggih dan para pamangku.

Menurut Mas Sumatri, karena yang diungsikan adalah sulinggih, maka sedapat mungkin dievakuasi ke rumah keluarganya yang lokasinya cukup aman. Warga masih diberikan kesempatan untuk berkemas-kemas selama status siaga, kemudian meninggalkan rumahnya untuk mengungsi.

Sementara itu, dari belasan ribu warga korban bencana bencana Gunung Agung yang sudah mengungsi, Jumat kemarin, sebagian di antaranya membawa serta hewan ternak mereka. Termasuk di antaranya warga yang menghungsi ke Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, yang membawa serta ternak kambing.

Sedangkan pengungsi dari Banjar Temukus, Desa Besakih, I Wayan Pasek, mengaku terpaksa menjual ternak sapi miliknya dengan harga miring. Sapinya yang normal berharga Rp 12 juta, dijual hanya Rp 9 juta. Satu sapinya lagi yang berharga Rp 15 juta dijual dengan Rp 12 juta.

Gunung Agung Naik Status Awas

AMLAPURA - Semalam terjadi kepanikan di Kota Amlapura, sejumlah pasien juga dipindahkan dari RSUD Karangasem. Warga dalam Radius 9 Kilometer Harus Dievakuasi.

Status Gunung Agung di Karangasem akhirnya naik dari level III (siaga) menjadi level IV (awas), Jumat (22/9) malam pukul 22.30 Wita. Dengan status awas ini, zona merah (kawa-san bahaya) pun diperluas menjadi darius 9 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Informasi terakhir, semalam terrjadi kepanikan luar biasa di Kota Amlapura.

Penetapan status awas (level tertinggi) ini duputuskan Badan Geologi Pusat Volkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, melalui rapat evaluasi PVMBG Kementerian ESDM bersama para ahli, di Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Agung kawasan Banjar Rendang Dangin Pasar, Desa/Kecamatan Rendang, tadi malam. Rapat semalam dipimpin langsung Kepala Badan Geologi PVMBG Kementerian ESDM, Kasbani.

"Melihat perkembangan kondisi terakhir Gunung Agung, yang apinya sudah tinggi dan peningkatan kegempaannya juga sangat luar biasa, maka kita tingkatkan statusnya dari siaga menjadi awas," jelas Kasbanni.

Dengan peningkatan status ini, menurut Kasbini, maka wilayah steril yang semula untuk radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung diperluas menjadi radius 9 kilometer. Bukan hanya itu, untuk wilayah sektoral (ke arah utara, timur laut, dan barat daya) juga diperluas sterilnya dari semula radius 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer.

"Seluruh daerah itu harus dikosongkan. Masyarakat yang ada di kawasan itu harus dievakuasi mulai malam ini (tadi malam) pukul 20.30 Wita. Tidak boleh ada wisatawan atau aktivitas masyarakat di dalamnya,” tandas Kasbini, yang tadi malam didampingi Kepala Bidang Mitigasi Badan Geologi PVMBG Kementerian ESDM, I Gede Suantika.

Menurut Kasbani, pihaknya sudah perintahkan pemerintah daerah untuk secepatnya mengevakuasi masyarakat yang tinggal di radius berbahaya. Berdasarkan informasi dari Pemkab Karangasem, radius 6 kilometer dihuni 15.000 penduduk. Sedangkan kalau 12 kilometer dari kawajh puncak Gunung Agung, berarti ada sekitar 100.000 penduduk yang perlu dievakuasi. Rencananya, Sabtu (23/9) siang ini pukul 13.00 Wita akan digelar rapat koordinasi tingkat nasional. "Pak Menteri ESDM (Ignatius Jonan) sudah memerintahkan pendirian Posko Nasional sebagai pendampingan Pemkab," jelas Kasbani.

Meski Gunung Agung sudah naik ke status awas, hingga tadi malam secara visual belum terlihat adanya letusan, demikian pula asap mengepul, dan munculnya awan panas. Menurut Kasbani, magma Gunung Agung masih tetap terakumulasi di kedalaman 5 kilometer dari puncak. Magma inilah yang siap meledak seraya memuntahkan lava dan gas beracun, terutama belerang dengan ambang batas berlebihan. "Gunung Agung bisa saja langsung meletus, tanpa diawali adanya kepulan asap. Memang sulit diprediksi," jelas Kasbani.

Sementara, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan pihaknya bersama pejabat terkait telah berada di Bali untuk berkoordinasi dengan Gubernur Made Mangku Pastika dan Bupati karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri.

"Posko nasional segera diaktivasi untuk memberikan pendampingan pemerintah daerah. Bantuan logistik dan peralatan segera didorong ke titik-titik pengungsian. Rapat koordinasi antar kementerian, lembaga, dan unsur lainnya akan segera dilakukan," ujar Sutopo dikutip Antara secara terpisah, tadi malam.

Selain itu, BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali juga sedang menyiapkan rambu-rambu jarak radius yang akan segera dipasang di tempat-tempat strategis. Tujuannya, agar masyarakat dapat mengetahui posisi di radius aman atau berbahaya. "Masyarakat diimbau untuk tenang, jangan terpancing isu-isu yang menyesatkan. Hingga saat ini, Gunung Agung belum meletus. Pemantauan diintensifkan," tegas Sutopo.

Sementara, infoirmasi terakhir, Sabtu (23/9) dinihari pukul 0.30 Wita, terjadi kepanikan di Kota Amlapura. Jalanan menuju Denpasar macet total, karena banyak warga yang bergerak ke arah barat untuk mengungsi. Sumber menyebutkan, kepanikan juga terjadi di RSUD Karangasem di Amlapura. Sejumlah paisen VIP di Lantai I, Lantai II, dan Lantai III konon diinstruksikan untuk dievakuasi keluarganya ke tempat lain. “Ada paisen hamil pecah ketuban yang dirawat di Ruang VIP Wijaya Kusuma Lantai II RSUD karangasem mau dievakuasi ke RSUD Mangusada Badung. Sialnya, jalanan macet, hingga tidak bisa bergerak ke Denpasar,” ujar sumber tersebut.

Sementara itu, hingga Jumat petang pukul 18.00 Wita, jumlah pengungsi korban bencana Gunung Agung sudah tembus 12.488 jiwa. Mereka mengungsi ke 50 titik pengungsian di enam kabupaten se-Bali, yakni Karangasem, Buleleng, Klungkung, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Khusus untuk wilayah Tabanan, pengungsi merambah kawasan Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti.

Petugas Polres Karangasem terus melakukan patroli di enam desa di KRB III (zona merah), 5 desa di KRB II, dan 22 desa di KRB I. Patroli Jumat malam dipimpin langsung Kapolres Karangasem, AKBP I Wayan Gede Ardana, dengan. Patroli tersebut digelar sekaligus untuk mensosialisasikan status Gunung Agung yang sudah naik ke level tertinggi awas.

Bukan hanya itu, menyusul naiknya status Gunung Agung ke level awas tadi malam, langsung terjadi gelombang pengungsi dadakan dari Kelurahan Padangkerta (Kecamatan Karangasem) dan Kelurahan Subagan (Kecamatan Karangasem). Warga dari Kelurahan Padangkerta mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Sedangkan warga dari Lingkungan Gede, Kelurahan Subagan mengungsi ke Pura Dalem Desa Pakraman Subagan. Sebaliknya, warga dari Lingkungan Galiran, Kelurahan Subagan mengungsi ke Bukit Pejanuran. Akibat gelombang pengungsi dadakan ini, terjadi kemacetan arus kendaraan maulai dari Jalan Sudirman Amlapura, Jalan Ahmad Yani Amlapura menuju jalur Denpasar.

Sementara, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Dewa Gede Mahendra Putra, meminta masyarakat untuk menyalurkan bantuan peduli pengungsi Gunung Agung ke Posko Utama Satgas Siaga Darurat di Dermaga Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Karangasem. "Masyarakat dapat menyalurkan bantuan melalui Posko Utama, dengan menghubungi Koordinator Posko atas nama Bapak Subandi di nomor 08123920931/08776281935, sehingga bantuan yang dikirim bisa dicatat dan jelas disalurkan kemana," ujar Dewa Mahendra di Denpasar kemarin.

Dewa Mahendra menambahkan, bila masyarakat ingin menyalurkan bantuan secara langsung melalui beberapa posko induk, tetap bisa dilakukan. "Tapi, masyarakat sebe-lumnya harus sudah menghubungi Posko Utama Tanah Ampo untuk dilakukan pendataan, karena bantuan disalurkan melalui satu pintu," tegasnya.

Denpasar Siapkan 3 Posko Pengungsian

DENPASAR - Tiga posko pengungsian yakni posko I di Jalan Danau Tempe No 1, Desa Sanur Kauh, posko II ada di GOR Lapangan Kompyang Sujana, dan posko II di Desa Serangan. 237 Jiwa Warga Karangasem Ngungsi ke Denpasar.

Para pengungsi dari Karangasem terkait dengan status Awas Gunung Agung menyebar di Kota Denpasar hingga Jumat (22/9). Dari data sementara BPBD Kota Denpasar, ada sebanyak 237 orang yang sudah terdata dan berada di 3 lokasi di Kota Denpasar yakni, Jalan Sekuta Gang Arum, Kelurahan Sanur, Jalan Batur Sari Gang V dan Gang Tunjung Sari, Desa Sanur Kauh yang hingga kini masih berada di tempat sanak saudara mereka.

Namun untuk mempermudah pemberian bantuan dan koordinasi, pihak BPBD Denpasar menyiapkan 3 titik posko bagi para pengungsi yang rencananya akan dipindahkan hari ini.

Hal itu diungkapkan oleh Plt Kepala BPBD Kota Denpasar I Made Prapta, kemarin. Menurut Prapta, pihaknya sudah melakukan pendataan dan melakukan pendekatan agar pengungsi mau untuk dipindahkan ke posko pengungsian yang disediakan oleh BPBD yakni posko pertama ada di Jalan Danau Tempe No 1, Desa Sanur Kauh, tepatnya di gedung baru yang rencananya dipakai untuk pemilahan sampah dengan kapasitas sekitar 200 orang, posko II ada di GOR Lapangan Kompyang Sujana, Jalan Gunung Agung, yang bisa menampung sekitar 600 orang dan di Desa Serangan, gedung tempat evakuasi tsunami yang dapat menampung sekitar 500 orang.

"Kami memiliki 3 posko, yang pertama kita malam ini (kemarin) akan buka dan fasilitasi di Jala Danau Tempe, sehingga bagi pengungsi yang mau pindah malam ini bisa kami tampung. Namun karena mereka masih di sanak saudara kemungkinan besok kita mulai angkut sesuai dengan kesepakatan bahwa mereka mau ke pos penampungan agar memudahkan koordinasi dan pemberian bantuan yang nantinya akan dikondisikan di masing-masing posko. Untuk posko lainnya kita akan selesaikan besok (hari ini) untuk melengkapi fasilitasnya dan siap ditempati," kata Prapta.

Untuk itu pihaknya menghimbau agar masyarakat Karangasem yang mengungsi ke Denpasar agar segera melapor diri ke nomor kontak 112 untuk didata agar mempermudah berkoordinasi jika memang mau ditampung di posko pengungsian. Pihaknya sudah menyiapkan mobil pengangkut untuk masyarakat yang akan diangkut ke posko pengungsian. "Masyarakat yang datang mengungsi ke Kota Denpasar bisa menghubungi nomor kontak 123, untuk mempermudahkan koordinasi, ketika mereka mau diajak ke pos pengungsian kami siap menjemput di titik berkumpulnya," imbau Prapta.

Sementara itu, Walikota Denpasar, Rai Mantra didampingi Ketua PKK Kota Denpasar,Ny Selly Mantra beserta jajarannya berinisiatif memberikan dukungan moral langsung ke para pengungsi yang berada di kawasan Sanur tepatnya di jalan Sekuta Gangg Harum, Jumat (22/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Rai Mantra mengintruksikan langsung kepada seluruh OPD untuk terjun langsung memberikan bantuan serta memantau para pengungsi yang akan berdatangan. Untuk para perbekel dan lurah agar mendata secara detail keberadaan para pengungsi yang nantinya berdatangan ke wilayahnya masing-masing, untuk itu pihaknya sudah menyediakan tempat yang lebih representatif.












sumber : nusabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Tapakan Diiring Ke Kayu Sakral Berusia Ratusan Tahun, Terkait Ida Batara di GA

Warga Pagutan, Batubulan Gianyar, ngiring tapakan ke Kayu sakral di Alas Pala serangkaian Karya Agung di Pura Pucak Sari, Sangeh, Rabu (...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen