Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Setelah Proses Sudhi Wadani, Ini Alasan KRA Mahindrani Masuk Hindu

Setelah Proses Sudhi Wadani, Ini Alasan KRA Mahindrani Masuk Hindu

Written By Dre@ming Post on Jumat, 21 Juli 2017 | 7:47:00 AM

K.R.A Mahindrani Kooswidyanthi Paramasari melaksanakan prosesi Sudhi Wadani yakni upacara suci Dharma di Pura Luhur Catur Kandapat Sari, Banjar Pondok, Desa Peguyangan Kaja, Jalan Antasura, Denpasar, Senin (17/7/2017).
DENPASAR - Kanjeng Raden Ayu Mahindrani Kooswidyanthi Paramasari telah menjalani proses Sudhi Wadani (upacara untuk masuk ke Agama Hindu) di Pura Luhur Catur Kandapat Sari, Pangideran Dewata Nawa Sangha, desa Peguyangan Kaja, Denpasar, Senin (17/7/2017).

Prosesi Sudhi Wadani Kanjeng Mahindrani dipuput oleh Sari Galuh Wiku Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun dari dari Kedhatuwan Kawista Bali, Blatungan, Pupuan, Tabanan.

Dalam sebuah kesempatan, wanita keturunan Keraton Surakarta ini bercerita terkait keputusannya menjadi Hindu.

Keinginan kembali ke jalan Dharma sebenarnya sudah dari dahulu dilakukannya dengan mengikuti persembahyangan di pura-pura namun baru sekarang diresmikan.

Keinginan menjadi seorang Hindu pun dinilainya karena kemauannya sendiri dan tanpa paksaan, karena yang ia rasakan ketika bersembahyang di Pura atau melaksanakan prosesi Hindu Kejawen khususnya adalah kedamaian.

“Sudah lama saya kira, saya kan berada di keluarga jawa. Sebetulnya sudah biasa perilaku Hindu Jawa, Kejawen. Panggilan masuk Hindu sejak mungkin lebih kuat lagi saat saya sering ke Bali dan semenjak saya tinggal di Puri Anyar Pemecutan tahun 2013,” ujarnya.

Terkait dengan rencananya kedepan ia nantinya akan membuat ashram atau padepokan yang terletak di Tabanan namun dengan kultur perpaduan Bali, Jawa, dan Nusantara.

Dirinya yang juga sebagai komposer pianis ini juga memiliki kakak dan adik yang tinggal di Bali dan semua keluarga mendukungnya untuk masuk Hindu.

“Mendukung semua keluarga, kesannya ya memang damai dan tidak ada orang yang memaksa saya masuk Hindu, ya itulah,” ujarnya yang tampak sederharna.

Ketua Umum Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena menambahkan beliau kembali ke jalan Dharma merupakan panggilan hati tanpa ada paksaan.

Teman-teman di Puskor Hindunesia hanya pendukung saja karena niat memang ada pada diri Kanjeng Mahendrani.

Hal itulah yang membuat beliau ini memperkuat keyakinannya dengan berbagai macam perjalanan spiritual termasuk perjalanan ke berbagai pura yang membuatnya semakin yakin bahwa ia harus kembali ke jalan Dharma.

“Mungkin saya wakili sedikit, beliau sangat merasa terharu. Dari diskusi kemarin malam beliau sangat merasa terharu sekali akan apa yang beliau putuskan hari ini bahwa dalam perjalanan ini kita ga ada memaksakan kehendak jadi murni karena keinginan beliau mengingat kembali perjalanan leluhur beliau yang masih Pakubuwono di Solo beliau merasa terkoneksi dari luhur beliau yang menjadi saksi kejayaan Hindu di Nusantara ini,” jelasnya.

Susena merasa berbahagia sekali rasanya upacara ini bisa berlangsung dengan baik dan dilihat masyarakat, karena pentingnya manusa saksi ini menguatkan bahwa Kanjeng Mahendrani secara tulus ikhlas untuk kembali ke jalan dharma.

Banyak hambatan dan ujian yang dirasakan oleh Kanjeng namun bisa lewati dengan baik.

Bahkan dipilihnya Pura Luhur Catur Kandapat Sari, Pangideran Dewata Nawa Sangha, sebagai tempat Sudhi Wedani juga ada sebab khusus karena pura diisni unik dan tidak ada tempat lain yang memiliki Parahyangan dan strukrur Pura dari semua arah.

Selain ada pelinggih pura dari barat, utara, selatan, timur (empat arah mata angin) juga ada pelinggih di sisi timur laut, tenggara, barat daya dan barat laut dengan ditengah sebagai sumbernya makanya disebut Pura Dewata Nawa Sangha.

“Pura ini sangat kuat dengan pelinggih di empat arah mata angin. Jadi ini juga tradisi di Jawa kuat memegang sedulur papat, itu menjadi sebuah konsep yang beliau yakini selama ini dan kita kuatkan disini,” jelasnya.

Ketika disinggung mengenai keluarga Kanjeng Mahendrani, Susena mengatakan dirinya tidak mau terlalu terlibat ke internal keluarga Kanjeng Mahendrani.

Dikatakannya dahulu memang Kanjeng pernah menikah dan memiliki anak namun ia tidak begitu tahu persis bagaimana sekarang.

“Kita ga menanyakan hal itu karena itu pribadi, ada pergolakan batin dari dalam diri karena dahulu menjalankan sipiritual yang sama. Kita ga melihat apakah dia ber KTP Hindu atau tidak yang penting dia menjalankan keyakinan sesuai yang dia yakini kita ga bisa paksakan,” jelasnya.

Prosesi Sudhi Wadani Kanjeng Raden Ayu Mahindrani Kooswidyanthi Paramasari dihadiri A.A. Gede Agung Bagus Suteja, Raja dari Puri Agung Jembrana, yang hadir sebagai Ketua Paiketan Puri-puri sejebag Bali, selain itu juga ada beberapa lainnya yakni beberapa pandita dan tokoh Hindu di Bali juga hadir.







sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen