Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Jangan Putarbalikkan Sejarah!, Museum Nasional: Gajah Mada Beragama Hindu Titik

Jangan Putarbalikkan Sejarah!, Museum Nasional: Gajah Mada Beragama Hindu Titik

Written By Dre@ming Post on Minggu, 18 Juni 2017 | 11:39:00 AM

Patung Gajah Mada di Mabes Polri
Viral Gaj Ahmada, Ini Penjelasan Penulis 'Majapahit Kerajaan Islam'

Jakarta - Mahapatih Majapahit Gajah Mada disebut-sebut memiliki nama asli Gaj Ahmada dan beragama Islam. Frasa Gaj Ahmada pun sempat viral di media sosial Twitter. Seperti apa kebenarannya?

Menelusuri sumber informasi viral Gaj Ahmada itu pada Sabtu (17/6/2017). Informasi yang viral itu menyebutkan bahwa Majapahit merupakan sebuah kerajaan Islam.

Setidaknya ada 6 poin yang menjadi dasar informasi itu, yakni penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293.

Poin-poin tersebut ini tentu berbeda dengan sejarah umum yang menyebut Majapahit adalah kerajaan Hindu, begitu juga dengan agama yang dianut Gajah Mada.

Informasi yang viral itu menyebut bahwa penelitian soal Gaj Ahmada dilakukan Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Benarkah?

Tulisan itu tak menyebutkan sumber. Meski demikian, penelusuran terkait informasi viral itu mengarah ke buku 'Majapahit Kerajaan Islam'. Buku tersebut ditulis oleh Herman Sinung Janutama. Viral Gaj Ahmada, Ini Penjelasan Penulis 'Majapahit Kerajaan Islam'Foto: Cover buku Majapahit Kerajaan Islam/internet

Mencoba menghubungi Herman, namun belum mendapatkan konfirmasi. Informasi soal penelitian LHKP PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan buku itu akhirnya datang dari Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta Ashad Kusuma Djaya.

"Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku," ujar Ashad, Sabtu (17/6/2017).

Ashad mengatakan Herman bicara banyak soal viral Gaj Ahmada tersebut di wall Facebooknya. Penjelasan Herman soal kekeliruan Gaj Ahmada ada di komentar-komentar pada status Ashad. Viral Gaj Ahmada, Ini Penjelasan Penulis 'Majapahit Kerajaan Islam'Tangkapan layar diskusi tentan viral Gaj Ahmada/Facebook

Dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis.

"Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam kasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja. Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya....," tulis Herman pada dini hari tadi.

Dia kemudian menjelaskan pula mengenai lambang Surya Majapahit di makam Pusponegoro. Menurutnya lambang yang disematkan di sana terdapat di makam keturunan Raja-raja Majapahit.

"Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data.... Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian," ungkap dia.

Viral Gaj Ahmada, Ini Koin Gobog yang Bertuliskan Syahadat

Jakarta - Frasa 'Gaj Ahmada' menjadi viral dan disebut sebagai nama asli dari Majapahit Gajah Mada. Gaj Ahmada disebut beragama Islam dan dikenal pula sebagai Syekh Mada.

Hingga kini belum ada penelitian sejarah mendalam tentang hal ini. Namun dalam informasi yang viral disebutkan bahwa salah satu bukti Majapahit kerajaan Islam adalah dari koin bertuliskan syahadat yang beredar di masa itu.

Mencari koin tersebut ke Museum Nasional, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017). Koin peninggalan Majapahit menjadi salah satu koleksi museum tersebut.

Ada 4 koin yang dipajang dengan label 'Majapahit' di Gedung A Museum Nasional. Di bawah bingkai keempat koin itu tertulis 'Uang Indonesia Masa Kerajaan Islam'.

Selama ini Majapahit dikenal sebagai kerajaan Hindu. Hal ini terlihat dari bentuk candi peninggalan Majapahit yang merupakan gaya kebudayaan Hindu.

Keempat sisi koin yang dipajang di Museum Nasional tak menampakkan tulisan Arab. Terlihat gambar wayang pada koin-koin tersebut.

Namun, dalam brosur resmi dari museum, rupanya ada tulisan Arab yang terdapat di balik koin bergambar wayang Semar dan Kresna. Masih informasi dari brosur, tulisan Arab itu adalah kalimat syahadat.

Koin itu disebut sebagai 'uang gobog'. Bagian tengahnya bolong, pada bagian muka terdapat gambar Semar, Kresna, gajah, dan ular.

Sedangkan di bagian lainnya tertulis 'Laa ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah' dengan aksara Arab. Pada bagian tengahnya terdapat gambar mirip lambang Majapahit, Surya Majapahit.

Koin itu berbahan kuningan yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Kerajaan Majapahit sendiri berdiri sejak abad ke-13 atau tahun 1293-1527 Masehi. Koin lain di era Majapahit bergambar wayang.Koin lain di era Majapahit bergambar wayang.

Pada brosur tertulis bahwa koin itu diperkirakan beredar pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Belum ada keterangan resmi yang menyebutkan mata uang itu dikeluarkan oleh Kerajaan Majapahit.

Kenapa Ada Kalimat Syahadat di Koin Zaman Majapahit?

Jakarta - Salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit adalah koin yang biasa digunakan dalam perdagangan. Hal yang menarik adalah adanya kalimat syahadat pada koin dari Majapahit yang secara umum dikenal sebagai kerajaan Hindu.

"Sejarah mata uang Majapahit itu kelanjutan dari kerajaan Mataram kuno, di mana masa abad ke-10 kerajaan Mataram kuno masih menggunakan emas dan perak. Mata uangnya juga bermacam-macam, mulai dari butiran jagung hingga perak yang kayak kontak lensa, itu hanya pada masa Mataram kuno. Uang itu berdasarkan intrinsik ya, berdasarkan berat uang tersebut," ujar Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional Tri Gangga di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017).

Pada koin zaman Majapahit yang dikoleksi oleh Museum Nasional, kalimat syahadat ditulis dengan bahasa Arab. Di sisi lain, pada koin itu ada gambar wayang Semar dan Kresna.

Tri Gangga kemudian menjelaskan kemungkinan alasan adanya kalimat syahadat. Menurutnya, ada kemungkinan koin itu juga dipakai sebagai jimat.

"Itu bisa saja digunakan sebagai pegangan atau jimat, dengan uang dan tulisan syahadat diharapkan orang juga ikut menyebarkan agama Islam pada masa kerajaan Majapahit," kata Tri.

Mengenai koin yang juga berfungsi sebagai jimat, Tri mengaitkan pula dengan budaya China. Di China juga banyak koin yang berfungsi sebagai jimat.

"Bisa digunakan sebagai pegangan jimat dan alat penukaran uang. Sama kayak China, bisa sebagai alat tukar juga menolak bala, bentuknya sama ya bulat. Kalau uang dengan ada tulisan Arab, ya kemungkinan besar ada untuk menyebarkan agama ke Kerajaan Majapahit," ujar Tri.

Agama Islam sendiri masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi melalui Barus, wilayah di barat daya Medan, Sumatera Utara. Selain itu, di Gresik, Jawa Timur, yang tak jauh dari Mojokerto, terdapat makam Fatimah binti Maimun. Makam itu ada sejak 1082 Masehi, sedangkan Majapahit berdiri pada 1293 Masehi.

"Memang ada bukti kalau Islam sudah ada pada masa Majapahit, dibuktikan dengan adanya makam-makam Islam di Troloyo," ungkap Tri.

Selain Nama Gaj Ahmada, Wajah Gajah Mada pun Ada Versi Lain

Jakarta - Nama Mahapatih Majapahit Gajah Mada ditulis Gaj Ahmada menjadi viral di media sosial. Rupanya, selain nama yang berbeda, diperkirakan ada versi lain dari bentuk tubuh dan wajah Gajah Mada.

Wajah Gajah Mada yang selama ini muncul disesuaikan dengan buku tulisan M Yamin tahun 1945 berjudul 'Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara'. Tetapi ada versi lain dari wajahnya seperti dalam buku 'Gajah Mada: Biografi Politik' karya Agus Aris Munandar.

Gajah Mada digambarkan sebagai sosok yang berbadan tegap, berambut ikal, dengan kumis yang melintang. Agus mendapatkan sosok itu dari arca yang ditemukan di Trenggalek dengan rangka tahun 1357. Sementara itu, M Yamin dalam bukunya menyatakan sketsa wajah Gajah Mada sesuai dengan temuan berupa gerabah.

Lain lagi dengan wajah Gajah Mada yang ada di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Di sana wajah Sang Mahapatih jadi mirip rupa Bapak Brimob Komjen (Purn) M Jasin.

Ada pula wajah Gajah Mada yang terdapat di Pendopo Agung Trowulan, Jawa Timur. Di sana Gajah Mada digambarkan sebagai sosok yang memiliki rambut panjang, sorot mata yang tajam, serta dagu dan tulang pipi yang menonjol. Salah seorang penjaga Pendopo Agung, Muntolib, mengatakan patung setengah badan itu dibangun oleh Korps Polisi Militer dan diresmikan oleh Komandan Pusat Polisi Militer Brigjen TNI Sardjono pada 22 Juni 1986.

Selama ini memang wajah Gajah Mada hanya direka-reka. Keterbatasan teknologi pada masa itu membuat proses perekaman menjadi minim.

Viral Gaj Ahmada, Museum Nasional: Gajah Mada Beragama Hindu

Jakarta - Gaj Ahmada disebut-sebut sebagai nama asli Mahapatih Majapahit Gajah Mada. Gaj Ahmada juga disebut beragama Islam dengan nama lain Syaikh Ahmada.

Pihak Museum Nasional menanggapi isu Gaj Ahmada yang jadi viral di media sosial ini. Gaj Ahmada dianggap hanya isu mencocok-cocokkan belaka. Tak ada bukti kuat yang mendukung hal tersebut. Beda halnya dengan nama Gajah Mada, yang disebutkan di sejumlah prasasti.

"Nama 'Gajah Mada' itu ada disebutkan dalam prasasti, ada prasasti Gajah Mada, ada lagi Prasasti Mada," kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional Tri Gangga di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (17/6/2017).

Tri juga menyebutkan prasasti lainnya yang dibawakan oleh Tribhuana Tungga Dewi, anak pendiri Majapahit Raden Wijaya. Tapi, dari semua data prasasti, didapati namanya adalah 'Gajah Mada'.

"Disebutkan Gajah Mada, tidak ada Gaj Ahmada," ungkap Tri.

Selain soal nama Gaj Ahmada, informasi yang jadi viral menyebut Raden Wijaya merupakan seorang muslim. Namun, menurut Tri, hal itu juga keliru.

"Raden Wijaya dan Gajah Mada itu adalah orang Jawa beragama Hindu atau Buddha. Ada prasasti yang membuktikan sekarang ini. Kebanyakan prasasti itu ada di Jawa Timur. Mereka (penyebar info viral) itu tidak tahu dan mengerti prasasti," kata Tri.









sumber : detik
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen