Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Tangan Warga Ini Bengkok, Jangan Sembarangan Buka Sumur Keramat Abad 11

Tangan Warga Ini Bengkok, Jangan Sembarangan Buka Sumur Keramat Abad 11

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 25 Februari 2017 | 8:34:00 AM

Palinggih Klepa Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji yang di bawahnya berisi sumur keramat.
SINGARAJA - Sumur keramat berdiameter 50 cm berada di bawah Palinggih Klepa Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji, diyakini tembus hingga ke kawasan Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar. Sisi Keunikan Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng

Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng, memiliki sejumlah keunikan. Selain jumlah palinggih (bangunan suci)-nya yang tidak lazim yakni mencapai 51 unit, di Utama Mandala Pura Desa juga terdapat sebuah sumur keramat untuk menghaturkan pakelem. Sumur keramat iini dipercaya tembus hingga ke  kawasan Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar.

Sumur misterius yang hingha saat ini dikeramatkan krama Desa Pakraman Beratan Samayaji tersebut dipercaya sudah ada sejak abad ke-11. Sumur keramat ini berada persis di bawah Palinggih Klepa di Utama Mandala Pura Desa. Tidak ada yang berani sembarangan membuka sumur keramat berupa lubang berdiameter sekitar 50 cm ini.

Kelian Desa Pakraman Beratan Samayaji, I Ketut Benny Dirgariawan, mengatakan tidak ada yang tahu pasti, kapan sumur keramat di Pura Desa ini dibuat. Namun, menurut keyakinan krama setempat, sumur keramat berdiameter 50 cm ini sudah ada sejak abad ke-11, bersamaan dengan dibangunnya Pura Desa.

Bendesa Ketut Benny Dirgariawan mengisahkan, sumur keramat yang diperaya sebagai tempat pakelem ini terakhir dibuka krama setempat, 11 tahun silam, ketika Wakil Bupati Buleleng (waktu itu) I Gede Wardana tangkil ke Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji untuk menghaturkan pakelem. “Saat terakhir kali dibuka, karena rasa penasaran, ada krama yang membawa sentir dan kamera dengan maksud ingin mendokumentasikan apa yang ada di dalamnya. Tapi, setelah sumur dibuka, hanya kegelapan yang terlihat, meskipun telah disorot sentor,” kenang Benny Dirgariawan saat ditemui di Pura Desa Pak-raman Beratan, beberapa hari lalu.

Menurut Benny Dirgariawan, saat disorot lampu sentir berkekuatan 500 watt, tidak ada pantulan cahaya oleh air di dasar sumur. Ketika bebek (itik) putih jambul dan sarana upacara pakelem lainnya dilepaskan ke dalam sumur keramat, hanya terdengar bunyi ‘kiak’ sekali, kemudian suaranya langsung lenyap.

Pasca upacara pakelem, krama Desa Pakraman Beratan Samayaji juga tidak ada mencium bau busuk dari sekitar Palinggih Klepa di Pura Desa. Pasalnya, lubang yang disebut sumur keramat di bawah Palinggih Klepa ini diyakini tembus hingga ke kawasan Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng (Barat).

Benny Dirgariawan menyebutkan, meski kepercayaan bahwa sumur tembus ke Labuan Aji tersebut belum dapat dibuktikan hingga saat ini, namun krama Desa Pakraman Beratan Samayaji tetap meyakini kebenarannya. Sedangkan ritual menghaturkan pakelem di sumur keramat tersebut hanya dilakukan saat piodalan di Palinggih Klepa.

Seorang krama yang ngayah bersih-bersih di Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji, sempat coba membuktikan sisi angker sumur keramat. Karena rasa penasaran, dia siam-siam membuka batu penutup sumur kemarat. Apa yang terjadi? Berselang beberapa hari kemudian, tangannya sempat bengkok secara tiba-tiba tanpa sebab.

Setelah ditanyakan kepada orang pintar, krama bersangkutan dapat petunjuk bahwa tanggannya bengkok mendadak karena berani membuka tutup lubang sumur pakelem secara sembarangan. Pada akhirnya, krama bersangkutan menghaturkan upacara guru piduka, hingga tangannya langsung sembuh seperti sediakala.

Sementara itu, di Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji terdapat total 51 palinggih, termasuk Palinggih Klepa, di mana sumur keramat berada. Menurut Benny Dirgariawan, Palinggih Klepa merupakan salah satu wujud hubungan krama setempat kepada ibu pertiwi.

Hal tersebut dilihat dari konsep awal bangunan Pura Desa yang menganut konsep Purusa Pradana. Sedangkan Palinggih Luhur Ring Akasa yang berhadapan dengan Palinggih Klepa, merupakan simbol Purusa, dengan pemujaan Dewa Akasa.

Keagungan Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji juga ditunjukkan oleh fungsi-fungsi palinggih yang ada. Selain Palinggih Klepa yang selama ini menjadi fokus pemujaan bagi krama setempat, ada puila Palinggih Ida Batara Sakti yang diyakini krama setempat memiliki kekuatan mahadahsyat. Palinggih Ida Batara Sakti biasanya difungsikan krama setempat untuk mohon anugerah, baik menyangkut kelancaran mengikuti lomba maupun kesuksesan.

“Ida Sesuhunan yang berstana di Palinggih Ida Batara Sakti ini sering memberikan anugerah buat krama. Biasanya, krama selalu memohon anugerah kelancaran di Palinggih Ida Batara Sakti setiaokali akan mengikuti lomba. Permohonan itu selalu diberkati, terbukti dengan hasil yang memuaskan dalam lomba,” jelas Benny Dirgariawan.












sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Titib Batal Gelar Diksa Pariksa, Ketua Panitia "Sayangkan" Pernyataan Ketua PHDI

Ida Bawati Made Titib bersama istrinya batal gelar diksa pariksa pad...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen