Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Tak Ada Pelinggih, Bendesa Muntigunung Larang Percaya Balian

Tak Ada Pelinggih, Bendesa Muntigunung Larang Percaya Balian

Written By Dre@ming Post on Rabu, 19 Oktober 2016 | 6:58:00 AM

  Jro Gede Putu Dana (kanan). Di Desa Pakraman Muntigunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem, di halaman rumah warga jarang ada palinggih.
AMLAPURA - Bendesa Pakraman Muntigunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem, Jro Mangku Gede Putu Dana, mengingatkan warganya agar tidak percaya omongan balian (dukun). Sebab, dampaknya sangat sedikit yang membangun palinggih sanggah di pekarangan rumahnya, sebagai implementasi dari konsep Tri Hita Karana. Eksesnya, hubungan manusia dengan Tuhan, belum sepenuhnya diimplementasikan oleh krama.

Karena kenyataannya omongan balian lebih diutamakan. Misalnya adanya warga yang melahirkan anak kembar, disarankan agar membuat dua palinggih, maka omongan balian itu dituruti. Jro Gede Putu Dana mengatakan hal itu di Amlapura, Senin (17/10). Menurutnya, rata-rata di Desa Pakraman Muntigunung, di halaman rumah warga jarang ada palinggih. Padahal palinggih sanggah untuk memohon keselamatan kepada sang leluhur, dan palinggih pangijeng sebagai tempat menjaga keharmonisan keluarga. Namun ternyata palinggih belum terbangun.

Padahal, lanjut Jro Gede Putu Dana, dirinya telah mencontohkan, membuat palinggih sesuai amanat ajaran Hindu. “Justru banyak warga bertanya untuk apa buat palinggih, sudah saya jelaskan tujuan dan fungsinya. Hanya saja, belum banyak yang meniru,” jelas Jro Gede Putu Dana.Bisa jadi, karena mengabaikan membangun palinggih, sehingga banyak warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan memilih menggepeng.

Perbekel Tianyar Barat dari Desa Pakraman Muntigunung I Gede Agung Pasrisak Juliawan membenarkan, banyak warga di Desa Pakraman Muntigunung, belum membangun palinggih. Rata-rata rumah warga tanpa panyengker dan tanpa palinggih, hanya mengenal upacara di Pura Desa. “Kami juga telah berkali-kali mengingatkan, hal itu. Tetapi imbauan itu, belum sepenuhnya dijalankan,” jelas Agung Pasrisak Juliawan.

Agung Pasrisak Juliawan optimistis, kelak di Desa Pakraman Muntigunung menjadi daerah yang maju, setelah beberapa terobosan dilakukan, diawali melakukan gerakan Muntigunung Membaca, Festival Muntigunung, dan memberdayakan 100 gepeng sebagai perajin menganyam daun lontar dan mengemas dupa, dengan bantuan modal usaha dari pemerintah pusat.

Desa Tianyar Barat yang mewilayahi 14 banjar, yakni Banjar Batu Meyeh, Tegalsari, Bengklok, Buana Pule, Taman Sari, Tirta Sari, Labuan Sari, Samuh, Kerta Buana, Pekurenan, Muntigunung Kauh, Muntigunung Kangin, Muntigunung Tengah, dan Muntigunung. Menurut Agung Pasrisak Juliawan, hanya Banjar Muntigunung yang perlu dioptimalkan sumber daya manusia (SDM)-nya.

Sebelumnya saat acara 100 gepeng jalan-jalan ke Objek Wisata Taman Sukasada Ujung bersama Bupati I Gusti Ayu Mas Sumatri, Sabtu (25/9), salah seorang gepeng Ni Wayan Rama, 43, dari Banjar Muntigunung, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu yang menikah umur 17 tahun, membantah dirinya lebih percaya kepada balian saat melahirkan anak. “Saya 10 kali melahirkan, atas bantuan suami,” kata Ni Wayan Rama.











sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Titib Batal Gelar Diksa Pariksa, Ketua Panitia "Sayangkan" Pernyataan Ketua PHDI

Ida Bawati Made Titib bersama istrinya batal gelar diksa pariksa pad...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen