Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Tradisi Sesajen Setinggi 2,5 Meter di Pura Samuan Tiga Gianyar

Tradisi Sesajen Setinggi 2,5 Meter di Pura Samuan Tiga Gianyar

Written By Dre@ming Post on Rabu, 06 Mei 2015 | 11:41:00 AM

Istri Jero Bendesa Desa Desa Pakraman Bedulu saat membawa banten pajegan ke Pura Samuan Tiga, Senin (4/5/2015).
Pajegan! Begitu nama banten yang menjulang hingga tingginya mencapai 2,5 meter. Ini adalah banten yang selalu dipersembahkan oleh sejumlah krama pengempon Pura Samuan Tiga setiap piodalan dan menjadi sebuah tradisi turun-temurun.

Banten pajegan merupakan bentuk persembahan umat Hindu, dalam hal ini krama pengempon Pura Samuan Tiga, sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Makna atau filosofi banten pajegan ini terlihat dari bentuknya yang menjulang seperti gunung, makin ke atas makin mengerucut (lancip), dan di atasnya juga diletakkan canang dan sampiyan sebagai wujud persembahan dan bhakti ke hadapan Tuhan sang pencipta alam semesta.

Tinggi rendahnya pajegan tergantung dari keiklasan dan kemampuan dari masing-masing individu, karena nilainya tidak diukur dari tinggi atau rendahnya, tapi dari keiklasan hati dalam menunjukkan rasa syukur. Namun rata-rata pajegan memiliki tinggi 2 meter.

Sejak jaman dahulu, menghaturkan banten pajegan ini menjadi tradisi krama pengempon Pura Samuan Tiga.

Paling tidak, 40 pajegan berdiri megah di pelataran pura yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali ini.

Untuk diketahui, Pura Samuan Tiga dalam sejarah Bali tercatat sebagai pura tempat pertemuan berbagai sekte untuk menyatukan persepsi soal tri kahyangan, lahirnya konsep desa pakraman, dan sistem pengairan tradisional bernama subak.

Namun seiring waktu berjalan, kini tidak semua krama pengempon Pura Samuan Tiga menghaturkan pajegan.

Saat ini yang tersisa hanya empat keluarga yang masih setia menjalankan tradisi warisan leluhur tersebut.

"Keluarga saya masih menghaturkan banten pajegan sampai saat ini," ujar Jero Bendesa Desa Pakraman Bedulu, Gusti Ngurah Made Serana, Senin (4/5/2015).

Menjaga tradisi menjadi alasan di balik kesetiaannya menghaturkan pajegan.

Leluhurnya jaman dahulu sudah membuat pajegan setiap piodalan.

"Saya tidak tahu, kami juga tidak tahu dari kapan. Yang jelas sudah turun temurun dari leluhur," kata pria 47 tahun ini.

Ada nilai spiritualitas tinggi dan manfaat niskala yang ia rasakan setiap kali menjelang piodalan.

Kesehatan dan rezeki, dua kata itu menjadi kunci komitmen Jero Bendesa bertahan hingga kini kendati krama yang menghaturkan pajegan kian menyusut jumlahnya.

"Setiap menjelang piodalan keluarga saya sehat semua. Rezeki pun ada. Sugestinya sangat besar sekali, kalau untuk kebaikan kenapa saya tidak pertahankan saja," tuturnya.

Ada juga nilai spiritualitas lainnya yang dirasakan. Banten pajegan tidak bisa di-suun oleh sembarang orang.

Seperti kehendak Tuhan, siapa yang membuat hanya dia yang bisa membawanya ke pura.

Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya nyuun banten setinggi 2,5 meter yang dibawa dari rumah dengan jarak hampir satu kilo.

Selain tinggi, banten pajegan juga memiliki bobot yang cukup berat. Banten ini berisikan 9 ayam panggang, buah-buahan, dan berbagai jenis jaje.

"Tidak sembarang orang bisa membawa banten pajegan ini. Seperti Tuhan memberikan energi walau yang bersangkutan tidak pernah atau tidak bisa mesuwunan sebelumnya. Ipar saya yang tinggal di Malaysia pernah membuktikannya," kisahnya.

Jero Bendesa mengisahkan banten pajegan selain sebagai wujud terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, juga merupakan bentuk tantangan dari leluhur.

Saat ia menjalani kewajiban tersebut, tantangan kian semakin terasa. Tantangan yang dimaksudkan adalah apa bisa anak cucu kelak melanjutkan tradisi ini seiring semakin sempitnya ruang karena tekanan ekonomi.

"Makna filosofis di balik banten pajegan adalah untuk menerima tantangan dari leluhur, apa anak cucunya mampu meneruskan tradisi ini atau tidak," ucapnya.

Secara pribadi ia berujar mampu. Ini bisa dibuktikan karena tak sekalipun ia absen dalam membuat banten pajegan sedari dahulu kala.

Begitu juga dengan generasi penerus yang sudah ia perhitungkan. Jero Bendesa rupanya sudah menanamkan kepada anak-anaknya agar tetap melanjutkan tradisi tersebut.

"Saya akan tetap lanjutkan. Sebisanya mungkin saya pertahankan. Anak saya sekarang suka nari dan mesuunan. Keyakinan kami sangat kuat tentang karunia Tuhan," tuturnya.








sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen