Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Di Bali Setiap 3 Hari Orang Bunuh Diri

Di Bali Setiap 3 Hari Orang Bunuh Diri

Written By Dre@ming Post on Senin, 19 Januari 2015 | 7:58:00 AM

Tanda-tanda untuk bunuh diri, kata dia, juga sering tidak disadari oleh orang-orang sekitar pelaku. "Kalau ada anggota keluarga atau teman yang pernah bilang ingin mati, ingin bunuh diri, merasa tidak nyaman lagi dengan hidupnya, hal itu jangan dianggap main-main. Harus diseriusi," pesan Prof Suryani mengingatkan.Gbr Ist
DENPASAR - Minggu (10/1/2015) malam lalu, MW (15) menangis sembari memandangi ponselnya. Siapa sangka, Senin (11/1/2015) siang, dia kemudian sudah tewas tergantung di dapur rumahnya di Dusun Batang, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Dari kasus yang menghebohkan ini kemudian terungkap bahwa MW nekat bunuh diri karena soal sepele, yakni hanya karena ponselnya dianggapnya sudah lawas, dan ia belum dibelikan ponsel baru. Kasus bunuh diri yang mengejutkan di awal tahun 2015 adalah yang dilakukan oleh mantan Ketua DPRD Denpasar I Wayan Darsa pada 9 Januari lalu.

Berdasarkan data di Subbid Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Bidang Humas Polda Bali, tak sampai 2 minggu, pada Januari 2015 ini sudah ada 8 kasus bunuh diri di Bali. Padahal, pada Januari 2014 lalu, selama sebulan baru tercatat 10 kasus bunuh diri.

Lebih detil data PID Bidang Humas Polda Bali mengungkapkan, selama 2013 jumlah kasus bunuh diri di Bali sebanyak 95. Sedangkan pada 2014, kasus bunuh diri mencapai 120. Itu berarti dari 2013 ke 2014, ada peningkatan jumlah orang bunuh diri di Bali sekitar 26 persen. Dengan jumlah bunuh diri 120 orang selama 2014, maka rata-rata setiap sekitar 3 hari sekali ada orang bunuh diri di Bali..

"Selama 2014, jumlah orang bunuh diri di Bali yang tercatat di kami sebanyak 120,” kata Kepala Subbid PID Bidang Humas Polda Bali, AKBP Ni Ketut Sulasih pekan lalu .

Itu adalah angka bunuh diri yang tercatat secara resmi di kepolisian. Bisa jadi, angka riil bunuh diri lebih besar, karena kemungkinan ada juga kasus yang tidak dilaporkan ke kepolisian.

Berdasarkan wilayah, kasus bunuh diri terbanyak terjadi di Kabupaten Karangasem, berjumlah 24 orang atau setiap bulan rata-rata 2 orang bunuh diri di Karangasem.

Setelah Karangasem, angka bunuh diri terbanyak berikutnya terjadi di Buleleng dan Tabanan masing-masing 18 orang, Bangli 16 orang, Gianyar 14, Badung 13, Jembrana 13, Denpasar 4 dan Klungkung 3 orang.

Pada tahun 2013, kasus bunuh diri tertinggi juga ada di Karangasem, sebanyak 23 orang, kemudian Buleleng 20 orang, Bangli 11, Gianyar 9, Denpasar dan Jembrana masing-masing 8, Tabanan 7, Badung 6, Klungkung 3 orang.

Sebagai perbandingan, jumlah bunuh diri di Bali ini mengalahkan jumlah korban tewas akibat bencana alam di provinsi ini, yang hanya 1 orang selama 2014. Sedangkan jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya di Bali selama 2014 sebanyak 577 jiwa.

Meningkatnya kasus bunuh diri ini mengundang keprihatinan Prof Dr Luh Ketut Suryani SpKJ. Spesialis kedokteran jiwa senior ini telah beberapa kali melakukan penelitian secara khusus tentang fenomena bunuh diri di Bali. Dia juga menuangkan hasil penelitiannya ke dalam sebuah buku berjudul 'Hidup Bahagia'.

Prof Suryani yang membuka crisis center untuk pencegahan bunuh diri ini, mengungkapkan ada banyak faktor mengapa seseorang bunuh diri.

"Pertama karena depresi; kedua hubungan dengan keluarga, teman, pacar yang tidak harmonis; ketiga mengidap penyakit fisik; keempat faktor ekonomi," kata Suryani, Kamis (15/1) sore lalu.

Faktor pertama hingga ketiga, kata dia, memiliki kaitan dengan faktor keempat. Karena terbentur masalah ekonomi, seseorang tidak bisa mengobati penyakitnya secara maksimal. Karena faktor ekonomi juga seseorang menjadi depresi.

Tanda-tanda untuk bunuh diri, kata dia, juga sering tidak disadari oleh orang-orang sekitar pelaku. "Kalau ada anggota keluarga atau teman yang pernah bilang ingin mati, ingin bunuh diri, merasa tidak nyaman lagi dengan hidupnya, hal itu jangan dianggap main-main. Harus diseriusi," pesan Prof Suryani mengingatkan.

Perkataan atau keluhan ingin bunuh diri adalah sinyal bahwa seseorang sudah punya niat untuk bunuh diri. Hal ini pula yang ia dapatkan dari hasil risetnya selama ini.

"Setelah orangnya benar-benar bunuh diri, keluarga baru sadar bahwa sebelumnya pelaku pernah mengutarakan niatnya," imbuhnya. Karena tidak ditanggapi serius oleh keluarga, maka bunuh diri yang awalnya baru dalam niat, akhirnya diwujudkan.

Berdasarkan data 2003 hingga 2008 yang diteliti oleh tim Suryani sebelumnya, sebanyak 66,5 persen bunuh diri di Bali dilakukan oleh laki-laki, dan 42,7 persen darinya merupakan lelaki usia produktif (berusia 20 hingga 39 tahun). Sedangkan 13,7 persen pelaku bunuh diri masih berusia di bawah 20 tahun.





sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen