Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Geredeg Datangi DPP Golkar

Geredeg Datangi DPP Golkar

Written By Dre@ming Post on Senin, 19 November 2012 | 7:34:00 AM

Senin, 19 Nopember 2012, 08:09


Bupati Geredeg saat terima anugrah adipura Jakarta
DENPASAR - Di tengah santernya isu persaingan dengan Wakil Ketua DPRD Bali I Ketut Suwandhi untuk berebut posisi Calon Wakil Gubernur (Cawagub) menuju Pigub 2013, Bupati Karangasem I Wayan Geredeg akan mendatangi Kantor DPP Golkar di Jakarta, Senin (19/11) ini. Kedatangannya ke DPP Golkar diduga sebagai bagian upaya lobi agar direkomendasi sebagai Cawabup pendamping Made Mangku Pastika---kandudat yang disebut-sebut akan diusung Golkar sebagai Calon Gubernur (Cagub).

“Itu (kedatangan Bupati Geredeg ke DPP Golkar) kemungkinan besar untuk lobi-lobi. Peluang untuk dapat rekomendasi tiket Cawagub Bali juga terbuka untuk Bupati geredeg. Dia kan Ketua DPD II Golkar Karangasem yang dekat dengan petinggi DPP PDIP,” ujar sumber di Amlapura, Minggu (18/11). Betulkah? Dikonfirmasi, Bupati Geredeg membenarkan dirinya akan mampir ke DPP Golkar, Senin ini. “Ya, saya memang ke Jakarta besok (hari ini) karena ada acara di Gedung DPR Senayan. Sekalian saya akan mampi ke Sekretariat DPP Golkar, setelah acara di DPR,” ungkap Bupati Geredeg.

Namun, dia membantah kedatangannya ke DPP Golkar hari ini dalam rangka melicinkan rekomendasi selaku Cawagub untuk Pilgub Bali 2013. Menurut Geredeg, dirinya sekadar mampir, apalagi dia sudah tidak asing lagi bagi pengurus DPP Golkar.

Terkait peluangnya direkomendasi sebagai Cawagub pendamping Mangku Pastika, Bupati Geredeg menyatakan itu tergantung DPP PDIP. Dia juga enggan mengait-ngaitkan kedekatannya dengan Ketua
Umum DPP Golkar Aburizal Bakrie dan rekomendasi tiket Cawagub Bali.

“Saya bukan hanya dekat dengan Ketua Umum DPP Golkar, tapi saya kan tidak asing lagi dengan pengurus DPP Golkar lainnya. Walau demikian, saya tidak ada maksud mengatakan bahwa saya adalah ‘paling’ kader,” kilahnya. Bupati Geredeg mengaku tetap taat mekanisme di partainya, melalui proses dari DPD II Golkar Karangasem mengusulkan namanya sebagai Cawagub ke DPD I Golkar Bali, lanjut diteruskan ke DPP Golkar. Dia memperkirakan, begitu namanya diusulkan ke pusat, DPP Golkar akan memanggil dirinya mengenai kesediaannya menjadi Cawagub pendamping Pastika.

“Kalai memang dipercaya, saya siap dipanggil dan siap pula menjalankan amanat partai. Sebagai kader, ya harus patuh dan tunduk dengan apa yang digariskan partai,” jelas Bupati Karangasem dua kali periode asal Banjar Kreteg, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem ini.

Bupati Geredeg sendiri mengaku masih melihat perkembangan politik terakhir dari Golkar, terutama soal figur Cawagub yang dikehendaki Pastika sebagai pendampingnya. Sejauh ini, Geredeg mengaku belum pernah berbicara dengan Pastika menyangkut Pilgub Bali 2013.

“Meski sempat hadir bersama dalam acara di Singaraja beberapa hari lalu, kami hanya membicarakan tentang berdirinya pasraman dan kelanjutan program pasraman itu sendiri. Tidak ada menyinggung masalah politik Pilgub,” tandas Bupati Geredeg yang juga Panglingsir Pasemetonan Tangkas Kori Agung. Geredeg belakangan disebut-sebut akan bertarung head to head dengan Ketut Suwandhi dalam memperebutkan tiket Cawagub Bali di internal Golkar untuk Pilgub 2013. Ketut Suwandhi merupakan politisi senior Beringin asal Denpasar yang kini Wakil Ketua DPD I Golkar Bali dan sekaligus Wakil Ketua DPRD Bali. Duel Geredeg vs Suwandhi terjadi setelah Bupati Badung Anak Agung Gde Agung menolak maju ke Pilgub Bali 2013 sebagai Cawagub pendamping Pastika. Bupati Gde Agung menolak maju ke Pilgub Bali 2013, dengan dalih karena tokoh Puri Agung Mengwi ini ingin menuntaskan tugasnya di Badung hingga tahun 2015. Baik Suwandhi maupun Geredeg sama-sama punya nilai plus untuk dipilih menjadi Cawagub Bali pendamping Pastika. Bupati Geredeg punya nilai plus karena memiliki massa dukungan riil di Gumi Lahar Karangasem. Faktanya, Bupati Geredeg sukses memenangkan Capres-Cawapres dari Golkar di Karangasem dalam Pilpres 2009 lalu. Selaku panglingsir Pasemetonan Tangkas Kori Agung, Geredeg juga dianggap potensial merangkul pemilih dari warga sorohnya.

Sebaliknya, dari sisi kewilayahan, Suwandhi dianggap memiliki keunggulan dalam membangun kekuatan Bali Selatan dan Bali Utara. Hitung-hitungan kewilayahan, Suwandhi dianggap menjadi representasi kekuatan Bali Selatan, sementara Pastika representasi kekuatan Bali Utara karena berasal dari Buleleng. Karena itu, bocoran yang diperoleh, Suwandhi mendapat dukungan dari jajaran DPD II Golkar kawasan Bali Selatan, seperti Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung, bahkan Bangli (Bali Tengah).

Di sisi lain, DPD II Golkar Badung enggan melepas Bupati Gde Agung sebagai Cawagub Bali yang diusung partainya. Dari sisi kemampuan, Gde Agung memang punya kelas sebagai Cawagub, bahkan jadi Cagub Bali. Namun, tenaganya masih dibutuhkan untuk membangun Badung hingga tahun 2015, sehingga Golkar setempat tidak rela Gde Agung diambil sebagai Cawagub Bali 2013. Ketua DPD II Golkar Badung, I Ketut Suiasa, mengakui Gde Agung sangat pantas dan layak menjadi Cagub maupun Cawagub. Namun, Golkar Badung menyiapkan calon lain yang sedang dilakukan survei. Banyak kandidat dari Badung yang bisa diajukan sebagai Cawagub untuk Pilgub Bali 2013.

“Sempat ada wacana politik akan mengusung Gde Agung jadi Cawagub dari Golkar. Sebagai komponen masyarakat Badung, tentu ini patut diapresiasi. Tapi, kami berharap beliau (Gde Agung) menyelesaikan tugasnya memimpin Badung sampai waktunya habis tahun 2015. Intinya, beliau jangan diganggu-lah,” tegas Ketut Suiasa secara terpisah, Minggu kemarin. Ketut Suiasa memaparkan, pernyataannya tersebut didasarkan atas komitmen Gde Agung sebelum terpilih kembali sebagai Bupati Badung periode kedua melalui Pilkada 2010 lalu. Selain itu, visi dan misi Gde Agung adalah menuntaskan program yang direncanakan hingga 2015.

Dicontohkan, proyek pembangunan RSUD Badung di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, yang akan dituntaskan Bupati Gde Agung hingga tahun 2015. Demikian pula program penuntasan kemiskinan. Suwiasa sendiri mengaku sudah pernah berkomunikasi dengan Gde Agung terkait masalah ini.

“Saya tahu betul bagaimana karakter Bupati Gde Agung. Komitmennya pasti akan dilaksanakan dan akan dituntaskan hingga akhir masa jabatan. Ini komitmen yang pernah disampaikan,” lanjut politisi Golkar asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, yang juga Wakil Ketua DPRD Badung ini.

Sementara itu, Gubernur Pastika kembali memanaskan ‘mesin’ di Sekretariat Sekar Tunjung Center (STC), Denpasar, Minggu kemarin, saat berdialog dengan kalangan seniman serta pemilik sepeda motor scooter dan klub sepeda motor se-Bali. Dalam acara dialog tersebut, banyak masukan yang diberikan untuk Pastika untuk memimpin Bali ke depan.

Sebaliknya, Pastika mengungkap berbagai persoalan Bali, termasuk intrik politik yang dialaminya. Misalnya, kasus dana upacara mamukur massal di Jembrana yang nyelonong tanpa proposal dan hendak menjebak Pastika. Menurut Pastika, dirinya kasihan terhadap masyarakat yang dipolitisasi. Dirinya selaku pribadi kemudian menyumbang krama di Jembrana untuk upacara mamukur massal tersebut.

“Usulan dana mamukur massal itu menyalahi mekanisme. Kalau saya cairkan, saya bisa kena kasus hukum. Kalau saya tidak cairkan, saya dikampanyekan menghalangi orang beryadnya. Begitu kondisinya, saya dikerjain di bawah. Saudara-saudara-lah yang nanti harus menjelaskan kepada masyarakat,” papar Pastika. Dalam acara tersebut, Pastika mendapat dukungan kalangan seniman dan klub sepeda motor supaya tetap tegar dan harus maju ke Pilgub 2013 demi masa depan Bali. Kalangan seniman juga menyerahkan tiga buah lukisan untuk Pastika, melalui Wayan Santrayana. Salah satunya, lukisan Prajaniti Mandara. Lukisan Prajaniti Mandara ini menggambarkan sosok manusia pemimpin dengan leher terpotong, di mana tangan kanannya membawa lilin dan tangan kirinya membawa pisau eksekusi. Dalam kondisi leher terpotong tersebut, muncul bunga teratai. Di belakang sang pemimpin ada ribuan manusia sebagai simbul rakyat yang dipimpinannya.

Di hadapan Pastika, Wayan Santrayana mengatakan, pemimpin dengan kepala terpotong seperti dalam lukisan Prajaniti Mandara harus rela menanggalkan kepalanya sebagai symbol dan menanggalkan keinginan pribadi demi kepentingan rakyat. ”Pemimpin harus sederhana, rela meninggalkan keinginan pribadi demi rakyat,” ujar Santrayana.

Ditambahkan Santrayana, pemimpin juga harus memberikan penerangan bagi rakyatnya seperti simbol lilin dalam lukisan Prajaniti Mandara. Sedangkan pisau eksekusi adalah simbol pemimpin yang harus tegas dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, bunga teratai di leher yang terpotong menggambarkan pemimpin yang mesti menimbulkan kesadaran bagi rakyatnya.

Lukisan kedua yang diberikan kepada Pastika adalah adegan ngaben massal diapit gedung-gedung tinggi. Menurut Santrayana, selama ini Gubernur Pastika sering memberikan ceramah di masyarakat bahwa dalam melaksanakan ajaran agama dan upacara di Bali harus sesuai dengan ajaran suci Weda. “Boleh saja melaksanakan upacara besar, tapi jangan mengurangi maknanya,” tegas seniman asal Tabanan ini. Lukisan ketiga yang diserahkan, menggambarkan simbol kerusakan lingkungan parah. Menurut Santrayana, slogan ‘Ajeg Bali’ tentang lingkungan hanya sebatas slogan. Dalam lukisan ini terlihat gedung-gedung bertingkat yang di sekitarnya hanya ada satu dua pohon. Lukisan tersebut bermakna banyak yang berkoar-koar mengaku pro lingkungan, namun belum pernah mengerjakan apapun untuk lingkungan. “Ajeg Bali hanya slogan saja,” tandas Santrayana.

Dre@ming Post______
sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen