Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Pusing, Mual-mual, Muntah-muntah, Diare, Puluhan Bocah SD Keracunan

Pusing, Mual-mual, Muntah-muntah, Diare, Puluhan Bocah SD Keracunan

Written By Dre@ming Post on Selasa, 24 Januari 2012 | 8:24:00 AM

Selasa, 24 Januari 2012, 08:19

ilustrasi
TABANAN - Puluhan siswa dari lima sekolah dasar (SD) berbeda di wilayah Desa Pakraman Bale Agung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, didera keracunan massal usai santap nasi yasa, Senin (23/1) dini hari. Bahkan, Bendesa Pakraman Bale Agung I Wayan Bebet, dan sejumlah warga lainnya juga ikut keracunan nasi yasa yang dihidangkan dalam rangkaian perayaan Siwa Ratri di Pura Prajapati itu.

Data yang dihimpun dari RSUD Tabanan, Senin kemarin, total korban keracunan usai santap nasi yasa untuk perayaan Siwa Ratri di Pura Prajapati, Desa Pakraman Bale Agung itu mencapai 50 orang. Rinciannya, 30 korban anak-anak SD dan 20 korban lainnya remaja hingga dewasa. Dari jumlah itu, hingga Senin siang masih ada 6 korban keracunan yang dirawat inap di RSUD Tabanan karena kondisi fisiknya sangat lemah, termasuk di antaranya Bendesa Pakraman Bale Agung I Wayan Bebet.

Sedangkan 5 korban rawat inap lainnya masing-masing Ni Putu Winda Indriyani, 10 (bocah SD asal Banjar Tengah Kangin, Desa/Kecamatan Kerambitan), Amiati, 10 (bocah SD asal Desa Kukuh/ Kecamatan Marga, Tabanan), Puri Andayani, 16 (siswi SMA asal Banjar Tengah Kawan, Desa/Kecamatan Kerambitan), Ni Putu Mikani, 21 (warga Banjar Tengah Kawan, Desa/Kecamatan Kerambitan), dan Sumantri (warga asal Banjar Baturiti Tengah, Desa/Kecamatan Baturiti, Tabanan). Menurut Wakil Direktur Pelayanan dan Mutu RSUD Tabanan dr Ni Luh Gede Sukardiasih, 50 pasien korban keracunan dari wilayah Kerambitan itu berdatangan ke rumah sakit sejak Senin dini hari sekitar pukul 04.30 Wita hingga siang pukul 11.00 Wita. Gejala yang
dialami para korban keracunan hampir sama: mengeluh pusing, mual-mual, muntah-muntah, hingga diare.

Para korban keracunan, kata dr Sukardiasih, mengakui mengalami gejala-gejala tersebut setelah menyantap nasi yasa dalam Pasraman Widya yang digelar Desa Pakraman Bale Agung di Pura Dalem dan Pura Prajapati. Pasraman Widya itu sendiri dilaksanakan serangkaian perayaan hari suci umat Hindu, Siwa Ratri (bermakna melebur dosa) yang jatuh pada Purwani Tilem Kapitu, Minggu (22/1). Begitu tiba di RSUD Tabanan, menurut dr Sukardiasih, para korban keracunan ini langsung mendapat penanganan intensif di Instalasi Rawat Darurat (IRD). Setelah mendapat penanganan medis sesuai prosedur, sebanyak 44 orang dari total 50 korban keracunan nasi yasa tersebut dibolehkan meninggalkan rumah sakit. “Mereka yang lemas dan tidak bisa minum, kami beri infus. Sedangkan para korban yang masih bisa minum, kami upayakan agar mereka minum. Ada enam korban yang kondisi fisiknya sangat lemah, sehingga harus menjalani perawatan intensif. Dari keenam korban yang harus rawat inap di RSUD Tabanan itu, termasuk Bendesa Pakraman Bale Agung (I Wayan Kebet),” terang dr Sukardiasih. Hingga Senin siang, pihak rumah sakit belum memastikan unsur mana dalam makanan nasi yasa tersebut yang menjadi sumber petaka keracunan massal. Yang jelas, nasi yasa yang disantap puluhan korban dalam Pasraman Widya disertai pakemitan di pura semalam suntuk berisi ikan gerang (teri), telor, kacang tanah, mie, sambal, dan daun kecarum.

Menurut kesaksian seorang korban keracunan yang siswi SDN 1 Kerambitan, Putri Prasanti, dirinya menyantap nasi yasa yang diberikan pasraman, Senin dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Habis makan, dia mengalami pusing dan muntah-muntah. “Usai makan nasi itu, perut saya juga langsung terasa sakit, dengan kepala pusing, disertai mual dan muntah-muntah. Saya juga mencret (diare),” tutur bocah kelas III SDN 1 Kerambitan ini.

Pengakuan senada juga disampaikan I Gede Riski, 10, bocah kelas V SDN 1 Baturiti. Gede Riski mengaku langsung mual-mual dan muntah-muntah setelah santap nasi yasa. Bahkan, dia juga mengalami diare.

Sementara, salah seorang wali murid, I Wayan Pasek, mengatakan nasi bungkus yang jadi petaka itu dibuat di salah satu griya. Pasca-keracunan massal yang didominasi korban bocah SD itu, Wayan Pasek mengaku langsung menanyakannya ke griya.

Informasi yang didapatkan Wayan Pasek di griya, nasi yasa itu ternyata dimasak Minggu siang sekitar pukul 11.00 Wita, lalu dibungkus sorenya pukul 17.00 Wita. Kemudian, nasi yasa sebanyak 90 bungkus tersebut dibawa ke Pura Dalem dan Pura Prajapati, Desa Pakraman Bale Agung, Minggu malam sekitar pukul 20.00 Wita, untuk dibagi-bagikan kepada peserta pasraman. “Barulah pada dini hari (Minggu) sekitar pukul 01.00 Wita, nasi yasa sebanyak 90 bungkus itu dibagi-bagikankan kepada siswa dan orangtua siswa yang ikut pasraman di Pura Prajapati,” terang Wayan Pasek. “Setelah santap nasi yasa itu, gejala keracunan seperti pusing, mual, muntah, dan mencret terjadi sekitar pukul 03.00 Wita,” imbuhnya.

Dipaparkan Wayan Pasek, Pasramam Widya serangkaian perayaan Siwa Ratri yang dipusatkan di Pura Prajapati dan Pura Dalem malam itu diikuti siswa dari 5 SD se-Desa Pakraman Bale Agung. Desa Pakraman Bale Agung sendiri, kata Wayan Pasek, didukung oleh tiga desa dinas, yakni Desa Kerambitan (Kecamatan Kerambitan), Desa Kukuh (Kecamatan Marga), dan Desa Baturiti (Kecamatan Baturiti). Sedangkan lima SD di wilayah Desa Pakraman Bale Agung meliputi SDN 1 Kerambitan, SDN 3 Kerambitan, SDN 1 Kukuh, SDN 2 Kukuh, dan SDN 1 Baturiti.

Pasraman Widya ini, kata Wayan Pasek, awalnya digelar saat musim liburan sekolah, 24 Desember 2011 lalu. “Puncak pasraman yang diikuti anak-anak SD itu digelar pada malam Siwa Ratri di Pura Prajapati dan Pura Dalem, yang berlokasi di Banjar Pekandelan, Desa Kerambitan,” jelas Wayan Pasek. Sementara itu, Bendesa Pakraman Bale Agung I Wayan Bebet, belum bisa dimintai keterangannya terkait musibah keracunan massal yang didominasi 30 bocah SD tersebut. Masalahnya, kondisi fisik Wayan Bebet yang ikut jadi korban masih sangat lemah dalam perawatan di RSUD Tabanan.

Sedangkan Kapolsek Kerambitan Kompol Ida Bagus Mantra, mengaku pihaknya sudah mengambil sampel makanan yang diduga sebagai penyebab keracunan massal ini. “Namun, kami belum bisa memberikan kesimpulan dari peristiwa yang diduga keracunan itu. Buat sementara, sampel makanan sedang diperiksakan ke laboratorium,” ujar Ida Bagus Mantra yang dikonfirmasi secara terpisah, Senin kemarin.

Ditegaskan IB Mantra, polisi juga sudah memeriksa pembuat nasi yasa bungkusan dari Griya Pada, Desa/Kecamatan Kerambitan, yakni Ida Ayu Kade Karmiasih, 39. Kepada polisi, Karmiasih mengakui memang dirinya membuat nasi untuk para peserta pasraman.

Karmiasih mengaku memasak makanan tersebut menggunakan bahan dan bumbu sewajarnya, dengan menu berupa nasi, ikan gerang, telur, kacang, mie, sambal, dan daun kecarum. Menu masakan tersebut diolah Minggu siang pukul 11.00 Wita, lalu dibungkus sorenya sekitar pukul 17.00 Wita. “Nasi bungkus tersebut baru dibawa ke pura malamnya sekitar pukul 20.00 Wita, kemudian disantap dini hari pukul 01.00 Wita,” jelas IB Mantra menirukan pengakuan sang pembuat nasi. Ini untuk kesekian kalinya terjadi musibah keracunan massal di wilayah Kabupaten Tabanan dalam kurun setahun. Kasus terakhir terjadi pada 11 Juni 2011 lalu, ketika ratusan siswa TK, SD, guru pengajar, plus prajuru desa keracunan massal setelah menyantap nasi bungkus pascaacara perpisahan kelas VI SDN 4 Angseri, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti. Sebanyak 18 korban keracunan di antaranya harus dirawat inap di puskesmas dan rumah sakit.

Total korban keracunan pascamenyantap nasi bungkus dalam acara perpisahan di SDN 4 Angseri saat itu tercatat mencapai 124 orang. Mereka terdiri dari 6 siswa TK, 89 siswa SD, 8 guru, 4 istri kepala dusun, 4 orang perwakilan adat, dan 3 prajuru adat. Sebanyak 4 korban di antaranya harus menjalani rawat inap di RSUD Tabanan, 14 korban rawat inap di Puskesmas Tabanan III, dan 106 korban lainnya dibolehkan pulang alias hanya rawat jalan.

Seluruh korban sebelumnya mendapatkan nasi bungkus yang berisi daging ayam, mie, dan sayur kul yang dibuat warga setempat. Selesai acara perpisahan kelas VI SDN 4 Angseri hari itu, nasi bungkus dibagikan kepada para siswa dan dibawa pulang ke rumah masing-masing. Setibanya di rumah masing-masing, nasi bungkus tersebut ada yang dimakan sendiri oleh para siswa, ada pula yang disantap keluarganya.

Berselang 2 jam setelah menyantap nasi bungkus yang dibagikan usai acara perpisahan di sekolah itu, para korban mulai mengalami gejala keracunan. Gejalanya pun hampir sama: pusing, mual-mual, muntah, hingga tubuhnya jadi lemas. 

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

PVMBG Belum Pastikan Penurunan Status, GA Masih Alami Erupsi

Visual gunung agung dari desa Suwat Gianyar sabtu(16/12) pada pukul 6.00 dan pukul 7.30 wita Hembusan asap berwarna putih dan kelabu ...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen