Headlines News :
Home » » Tersangka Rusuh: Songan 3, Kawan 2

Tersangka Rusuh: Songan 3, Kawan 2

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 23 Juli 2011 | 06.36

Sabtu, 23 Juli 2011, 06:29

BANGLI - Tiga hari pasca bentrok massa yang menyebabkan 1 korban tewas dan 13 terluka, pejabat lingkungan Pemkab Bangli secara estafet tangkil ke sejumlah pura besar, Jumat (22/7). Bupati Bangli Made Gianyar bersama jajarannya road show niskala ke Pura Ulun Danu Batur, Pura Jati, Pura Pucak Penulisan, Pura Cempaga, dan Pura Kehen. Sementara, polisi telah menetapkan 5 tersangka rusuh Bangli, masing-masing 3 warga Desa Songan dan 2 warga Kelurahan Banjar Kawan.

Dalam road show niskala ke pura-pura kemarin, Wakil Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta juga ikut mendampingi Bupati Made Gianyar. Selain itu, seluruh pimpinan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) lingkungan Pemkab Bangli juga ikut sembahyang bersama dan ngaturang
guru piduka lan bendu piduka di sejumlah pura ini.

Persembahyangan guru piduka lan bendu piduka ke Pura Ulun Danu Batur (Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli), Pura Pucak Penulisan (Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani), Pura Jati (Desa Batur, Kecamatan Kintamani), dan Pura Cempaga (Kecamatan Bangli) ini dilakukan sebagai upaya niskala, agar bentrokan fisik tidak terulang di Gumi Sejuk.

Kabag Kesra Setda Bangli, I Wayan Rupa, mengatakan ritual guru piduka lan bendu piduka di beberapa pura di Bangli merupakan upaya niskala untuk mendoakan alam beserta isinya agar kembali aman dan sekaligus menetralisasi aura negatif pasca bentrok.

“Sehari sebelum tangkil ke pura-pura ini, Pak Bupati bersama jajaran juga sudah melaksanakan persembahyangan bersama di Padmasana Kantor Bupati Bangli dan Pura Kehen (Kota Bangli),“ terang Wayan Rupa, Jumat kemarin.

Hal senada disampaikan Kasubag Humas Pemkab Bangli, Made Mahindra Putra. “Tujuan persembahyangan ke berbagai pura ini untuk memohon keselamatan dan mendoakan agar Bangli tentram, diharapkan ke depan tidak pernah terulang lagi peristiwa serupa,” jelas birokrat asal Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli ini. Ditambahkan Mahindra, Pemkab Bangli juga telah merencanakan untuk menggelar upacara pecaruan di TKP bentrok, Jalan Nusantara Bangli, tepatnya sebelah selatan Mapolsek Kota Bangli dan SMPN 1 Bangli. Upacara pecaruan ini bermakna pembersihan secara niskala. Masalahnya, di lokasi bentrok massa ini seorang warga Banjar Serongga, Desa Songan, Kecamatan Kintamani, yakni Jero Selamet alias Jero Wi, 55, tewas mengenaskan saat ketegangan Selasa (19/7) malam pukul 20.00 Wita.

Hingga Jumat kemarin, sisa ceceran darah korban masih membekas di lokasi TKP bentrok antara massa Desa Songan (Kecamatan Kintamani) vs massa gabungan dari Kota Bangli yang dimotori Kelurahan Banjar Kawan. Selain darah korban tewas, juga bekas ceceran darah 13 korban terluka dalam bentrokan malam itu. Dari 13 korban terluka itu, 5 orang di antaranya asal Desa Songan, yakni Jero Lanang, Putu Mertawan, Wayan Sentana, Jero Purnia Sutama, dan Jero Made Kamudarsana. Sementara 7 korban luka lainnya dari Kelurahan Banjar Kawan, masing-masing Kadek Junaedi, Komang Juliarta, Komang Widi Nova, Alit Vijaya, Kadek Dede, Komang Sandi, dan Putu Krisna. Selain itu, ada 1 korban terluka dari Puri Dencarik Bangli, yakni AA Semaraputra.

Terkait upaya secara sekala untuk mengembalikan situasi pasca bentrok, menurut Mahindra, Bupati Bangli Made Gianyar telah membentuk Tim Mediasi Perdamaian. Tim Perdamaian ini diketuai langsung Sekda Bangli, Wayan Sutapa, dengan anggota Asisten I, Kabag Kesra, Bagian Hukum, Kesbang Polinmas, Camat Kintamani, dan Camat Bangli.

Dikatakan Mahindra, Tim Mediator Perdamaian diberikan batas waktu selama dua hari sejak Kamis (21/7) untuk membuat draff perdamaian antara pihak Desa Songan dan Kelurahan Banjar Kawan. Selanjutnya, draft perdamaian akan diserahkan kepada perwakilan masyarakat dalam tiga hari ke depan untuk dievaluasi kembali, sesuai dengan kesepakatan keduabelah pihak.

Isi nota kesepakatan damai nantinya menitikberatkan pada hak, kewajiban, dan sanksi yang akan diterima oleh keduabelah pihak bilamana kelak mereka melanggar kesepakatan. “Kita berharap dengan upaya secara sekala dan niskala yang ditempuh ini, permasalahan bisa segera diatasi sehingga aktivitas masyarakat Bangli kembali normal,” harap Mahindra.

Sementara itu, jumlah tersangka kasus bentrok massa di Kota Bangli, Selasa malam, bertambah menjadi 5 orang dari semula hanya 3 orang. Dua (2) tersangka terakhir yang baru ditetapkan Polres Bangli, Jumat kemarin, berasal dari Kelurahan Banjar Kawan, masing-masing berinsial KAW, 37, dan KMA, 40. Sedangkan 3 tersangka yang telah ditetapkan dua hari sebelumnya, semua berasal dari Desa Songan, yakni berinisial IGA, 41, IKD, 70, dan JS, 42. Ketiga tersangka asal Desa Songan ini ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan senjata tajam. Pilisi sudah menyita barang bukti berupa senjata tajam berupa keris dan tombak dari 3 tersangka ini.

“Ketiga tersangka dari Desa Songan ini dijerat Undang-undang Darurat dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara,” terang Kasubag Humas Polres Bangli, AKP Ida I Dewa Nyoman Rai, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat kemarin.

Sedangkan 2 tersangka dari Kelurahan Banjar Kawan, menurut Dewa Rai, dijerat sebagai tersangka karena ada bercak darah korban tewas Jero Selamet alian Jero Wi yang diduga menempel di baju mereka. Selain itu, dari barang bukti berupa senjata pedang, juga ada bercak darah korban tewas. “Pakaian tersangka yang ada bercak darahnya berwarna loreng,” terang Dewa Rai.

Di sisi lain, korban tewas Jero Selamet dianggap sebagai pahlawan bagi warga Desa Songan. “Dianggap pahlawan, karena Jero Selamet sebagai korban saat membela kebenaran,” ujar salah satu tokoh Desa Songan, I Gede Tindih, Jumat sore.

Gede Tindih yang notabene seorang politisi juga mempertanyakan aparat kepolisian, yang dinilai melakukan pembiaran. Pasalnya, beberapa jam sebelum bentrok massa Desa Songan vs Kelurahan Banjar Kawan malam itu, ada massa yang melakukan sweeping terhadap warga Desa Songan di RSUD Bangli dan kantor pemerintahan. Namun, kata Tindih, aparat terkesan membiarkannya. “Yang boleh melakukan sweeping itu kan aparat negara, bukan warga,” protes Tindih. Menurut Tindih, warga Desa Songan juga meminta agar tiga rekannya yang ditahan sebagai tersangka rusuh di Mapolres Bangli (IGA, IKD, dan JS) segera dibebaskan dari sel tahanan. Khusus kepada Pemkab Bangli, Tindih mengingatkan pemerintah di bawah kendali Bupati Made Gianyar tidak hanya cukup melakukan mediasi pasca bentrok.

Ke depannya, kata Tindih, pemerintah mesti melakukan kajian mendalam, soal mengapa acap terjadi perkelahian pelajar di Kota Bangli, yang antara lain melibatkan siswa dari Desa Songan vs Kelurahan Banjar Kawan. “Perlu dikaji, apakah itu karena faktor ekonomi, sosial, atau politik,” tegas Tindih.

Sementara, suasana Kota Bangli dari pagi hingga sore kemarin tampak kondusif. Pantauan, simpul-simpul massa seperti di Jalan Nusantara Bangli dan sekitarnya sudah tidak kelihatan. Kalau roh ada orang, itu hanya segelintir dan mereka duduk-duduk saja, tanpa terlihat bawa senjata tajam.

Kondisi serupa juga terpampang di Desa Songan, yang lokasinya di tepi barat laut Danau Batur. Warga setempat sudah mulai banyak yang beraktivitas kembali. Hanya, warga Desa Songan rata-rata masih diliputi duka atas kematan Jero Selamet dalam insiden bentrok massa di Kota Bangli.

Kendati suasana sudah cukup kondusif, namun aparat keamanan masih tetap disiagakan di lapangan. Polisi, antara lain, siaga di kawasan wisata Penelokan, Kecamatan Kintamani, yang menjadi pintu keluar Desa Songan. Denyut pariwisata di Panelokan pun sudah kembali menggeliat kemarin.

sumber : NusaBali
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Total Kunjungan


Visitors Today

Recent Post

Foto Display

Loading...

Popular Posts

Berita Terkini

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen