Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Bandara Ngurah Rai Semrawut?, Menbudpar: Tulisan Time Hanya Gangguan Kecil, Selamatkan Bali!

Bandara Ngurah Rai Semrawut?, Menbudpar: Tulisan Time Hanya Gangguan Kecil, Selamatkan Bali!

Written By Dre@ming Post on Kamis, 07 April 2011 | 2:10:00 PM

Kamis, 7 April 2011 - 10:39 WIB
  
Menbudpar: Kita Harus Selamatkan Bali!

JAKARTA- Kritik tajam Majalah Time terhadap kenyamanan dan kebersihan pariwisata Bali turut menyita perhatian Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik.

Dia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama, bahu-membahu guna menyelamatkan pariwisata Bali. “Pak Menteri Jero Wacik menegaskan, kita harus selamatkan Bali,” ungkap Dirjen Destinasi Pariwisata Kemenbudpar, Firmansyah Rahim, saat ditemui di JIExpo, Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Firmansyah juga menyadari bahwa saat ini Bali mengalami kepadatan di bagian selatan. Karenanya, Kemenbudpar mengusulkan agar kepadatan tersebut didistribuskan ke Bali bagian utara, demi menyelamatkan Bali.

Mengenai kepadatan turis di Bandara Ngurah Rai, Kemenbudpar mengusulkan agar pembangunan bandara di Bali utara dipercepat. “Apabila itu sudah jalan, Bali akan terasa lebih nyaman dan tertata dengan rapi,” katanya.

Ini merupakan solusi jangka panjang, agar kepadatan penduduk Bali lebih merata. Sedangkan untuk jangka pendeknya adalah pembersihan sampah di tempat menumpuknya sampah dan juga imbauan agar turis dan masyarakat membuang sampah pada tempatnya.
  
Menbudpar Anggap Tulisan Time Hanya Gangguan Kecil

 JAKARTA- Walaupun Majalah Time menyebut Bali saat ini sudah seperti neraka, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, meyakini hal itu tidak akan mengurangi jumlah wisman berkunjung ke Bali.

"Itu tidak apa apa, datang aja lagi. Itu kan hanya gangguan kecil. Itu biasa, medianya saja yang membesar-besarkan, toh mereka juga datang lagi," kata Jero Wacik di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Dia mengungkapkan sejauh ini tidak ada angka penurunan jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Dewata. "Tidak. Yang menurun hanya turis Jepang, itu juga karena mereka sedang recovery kehidupannya," sambungnya.

Sejauh ini, kata Wacik, wisman yang berkunjung ke Bali masih mencapai 7.000 wisman per harinya. "Ke Bali sejauh ini masih 7.000 per hari, itu sudah bagus sekali,  kalau wisatawan domestik enggak kita hitung," jawabnya.

Sebelumnya, Dirjen Destinasi Pariwisata Kemenbudpar, Firmansyah Rahim, mengungkapkan bahwa Jero Wacik memberi perhatian dalam kasus karut marutnya pariwisata di Bali ini. Bahkan, dia mengutip bahwa Jero Wacik mengajak agar pariwisata Bali segera bisa diselamatkan.
  
Menbudpar: Itu Hanya Daun Jatuh ke Sungai, Terbawa ke Laut

 JAKARTA- Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, menganggap santai tulisan Majalah Time mengenai bakteri dan plankton yang mencemari Pantai Kuta. Menurutnya itu hanyalah daun yang jatuh dari pohon.

“Begini, kan beberapa kali sering terjadi kalau ada angin kencang di sekitar Bali itu banyak daun-daun. Pohon-pohon yang tumbang dan terbawa sungai, terus ke laut. Dari laut itu ada angin baru ke bawa ke pantai,” urai Jero Wacik, menjawab tudingan tulisan Majalah Time tersebut, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Kemudian, lanjut Jero Wacik, sampah daun tersebut terdampar di sekitar Pantai Kuta dan hal itu memang sering terjadi.

“Tapi biasanya Bupati Badung sudah mempunyai sistem. Asal ada itu (sampah daun) timnya turun, dibersihkan, satu hari juga selesai," jawabnya.

Andrew Marshall menulis di Majalah Time edisi 1 April. Dia menyebut Bali sudah seperti neraka. Pantai Kuta, yang dulu dianggap sebagai surga turis mancanegara kini sudah tercemar bakteri dan plankton. Jika berendam di Pantai Kuta dalam setengah jam, maka kulit akan mengalami alergi.
  
Akhirnya, Pantai Kuta Mulai Dibersihkan

 DENPASAR- Kritik tajam Majalah Time tampaknya berhasil. Meski banyak yang menolak kritik tersebut, siang tadi Pantai Kuta mulai dibersihkan.

Aksi bersih-bersih ini dimulai pukul 13.00 Wita dengan melibatkan ratusan pedagang, anak pantai, petugas Balawista, dan Polisi Air Polda Bali.

Menurut Ketua Satgas Pantai Kuta, Anak Agung Ngurah Tresna, aksi kebersihan itu serantak dimulai dari Pantai Kuta hingga ke Pantai Legian.

Diakui Tresna, aksi bersih-bersih dilakukan setelah ada pemberitaan Majalah Time yang menilai Pantai Kuta kotor oleh sampah. Karena itu, pihaknya mengajak semua elemen untuk menjaga kebersihan pantai agar wisatawan merasa nyaman saat menikmati keindahan pantai.

"Saya sudah meminta pedagang untuk kompak. Bersama-sama menjaga pantai, karena pantai juga mata pencaharian mereka," katanya, Rabu (6/4/2011).

Dalam aksi bersih-bersih ini, mereka juga mengerahkan dua unit alat berat untuk mengangkut sampah organik seperti ranting dan batang kayu. Bersama dengan sampah yang berserakan sepanjang pantai, semuanya diangkut truk untuk dibuang ke TPA.

"Biasanya ada sekira 20 sampai 100 truk yang mengangkut sampah setiap harinya," ungkap Tresna. Meski begitu, tetap saja banyak ditemukan tumpukan sampah di pantai, yang merupakan sampah kiriman dari laut.

Ditanya sampai kapan aksi kebersihan dilakukan, Tresna mengatakan aksi bersih ini tidak terikat waktu. Pihaknya akan terus bersama semua komponen masyarakat di Kuta hingga pantai benar-benar bersih.

Banyaknya sampah itu juga di luar dugaan, sebab  biasanya pada musim kali ini yakni bulan Maret, kiriman sampah lewat laut sudah selesai. Justru yang terjadi masih banyak ditemukan sampah kiriman sehingga hal itu menyebabkan sampah berserakan di pantai.


Tidak hanya itu, pihaknya juga akan menindak para pedagang yang malas ikut membersihkan pantai. Dalam aksi ini, sekira 150 pedagang menghentikan aktivitasnya berjualan. Aksi itu juga mendapat respons para wisatawan asing yang tengah berjemur di pantai.

Menurut pengamatan seorang wisatawan asal Kanada, meski Pantai Kuta terlihat kotor namun tetap menjadi tempat bagus untuk dikunjungi.

"Bali termasuk paling kotor dibanding negara tujuan wisata lainnya di  Asia Tenggara, seperti Thailand atau Malaysia," ujarnya.
  
Peneliti: Berenang di Kuta Bisa Berakibat Iritasi

DENPASAR- Tercemarnya Pantai Kuta dibenarkan peneliti dari Laboratorium Balai Karantina Ikan Ngurah Rai, Bali, Drh Putu Eka Sudaryatma. Bahkan, dia menyebut berenang di Kuta bisa berakibat iritasi dan gatal-gatal.

Hal itu terjadi kepada orang yang memiliki kulit yang sensitif. Sebagaimana dikatakan Sudaryatma saat berbincang dengan Okezone melalui telepon, Kamis (7/4/2011).

Sudaryatma mengatakan hal itu terjadi disebabkan banyaknya plankton laut mati dan mengakibatkan pencemaran. Kematian flora laut itu disebabkan terjadinya cuaca ekstreem. Seperti awal Maret lalu, air laut berubah menjadi coklat dan planton laut membusuk.

Menurut peneliti Laboratorium Balai Karantina Ikan Ngurah Rai Bali, Drh Putu Eka Sudaryatma, Pantai Kuta memang pernah tercemar bakteri saat terjadi cuaca panas atau hujan secara ekstrim.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel air pantai yang nampak keruh berwarna coklat. Dia menyebut air tersebut telah tercemar akibat bakteri. "Sejak tanggal 1 sampai 4 Maret lalu, dari hasil uji laboratorium air Pantai Kuta mengarah tercemar bakteri," kata Sudaryatma.
Berubahnya warna coklat setelah dilakukan untuk mengetahui kadar keasaman PH air laut, ternyata ada penurunan PH dari kondisi normal antara 7 sampai 7,5 PH air turun menjadi 4. Penurunan kadar asam itu, disebabkan banyak faktor dan yang dominan karena faktor bakteri.

Didesak apa kesimpulan akhir dari penelitiannya itu, Sudaryatma enggan menjelaskan lebih jauh sebab bukan menjadi kewenangannya. "Saya sudah serahkan laporan hasil penelitian itu ke Dinas Perikanan dan Keluatan Kabupaten Badung, silakan konfirmasi langsung ke sana," sergahnya.

Dia menjelaskan, indikasi pencemaran akibat bakteri menguat karena setelah ada cuaca ekstrim itu maka terjadi peningkatan bakteri. Metabolisme bakteri itu bisa menyebabkan penurunan PH sehingga bisa mengancam mikroorganisme plankton.

Jika PH laut normal, maka plankton dapat berkembang hidup dengan baik, sebaliknya jika PH turun akan menyebabkan kematian massal kerana PH tidak cocok itu. "Banyaknya plankton yang mati lalu berkumpul di spot atau titik-titik sehingga menyebabkan air menjadi berubah keruh berwarna kecoklatan," katanya menjelaskan.

Plankton merupakan flora alami dan normal itu, sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan kehidupan di laut, sehingga ketika terjai kematian massal plankton, akhirnya menimbulkan pencemaran.

Jika melihat potensi terjadinya pencemaran di pantai yang disebabkan perubahan cuaca ekstrim seperti saat terjadi angin barat pada bulan Maret lalu, maka ancaman itu bisa saja datang sewaktu-waktu.

 "Kasus ini pertama kali saya temukan, hanya saja kapan akan terjadi lagi saya tidak tahu. Yang pasti bakteri itu akan muncul kalau terjadi perubahan cuaca ekstrim," jelasnya.

Bandara Ngurah Rai Tak Lagi Jadi Pintu 'Surga'

DENPASAR- Pintu masuk Bali kini tak menjadi gerbang surga lagi. Karena, banyak turis mancanegara yang mengeluhkan pelayanan yang semrawut di bandara Ngurah Rai ini.

Keluhan wisman ini juga membuat gusar Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika. Dia mengaku banyak mendapatkan keluhan dari turis. “Saya sering mendapat keluhan langsung dari mereka mulai antrean panjang di imigrasi hingga lamanya pemeriksaan di Bea Cukai," ungkap Pastika dalam jumpa pers di Kantor Gubernuran, Renon, Denpasar, Rabu (6/4/2011).

Dia menilai ada kelemahan dalam sistem pelayanan di Imigrasi Ngurah Rai sehingga mengakibatkan pelayanan kepada wisatawan yang datang menjadi kurang maksimal.
"Itu di imigrasinya yang tidak benar kalau sampai penumpang menunggu cukup lama," katanya.

Pastika mengaku sudah seringkali menyampaikan masalah imigrasi di Bandara Ngurah Rai ini ke Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Wakil Presiden Boediono, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun tetap saja masalah ini tidak mendapatkan tindak lanjut.

Dalam kesempatan itu, Pastika juga menilai Bandara Ngurah Rai sudah terlalu sempit dan perlu dilakukan pelebaran. Sehingga pelayanan penumpang bisa optimal. Banyaknya antrean penumpang dikarenakan sedikitnya pelayanan dokumen keimigrasian ‘imigration on board’.

"Kalau saja ada 20 board tentunya bisa lebih cepat dan lancar pelayanannya," sebut
mantan Kapolda Bali ini.

Tak hanya itu, kegusaran tersebut juga sudah dia sampaikan ke Kemenbudpar. Dia meminta agar kementerian ini datang dan mendokumentasikan pelayanan penumpang di bandara ini.

"Saya sudah lapor Budpar, saya minta Pak Menteri membikin video bagaimana antrean penumpang di bandara," ucapnya.

Pastika juga mengaku lelah karena telah menyampaikan hal tersebut kepada semua pihak terkait. Padahal jika tidak segera diperbaiki maka selain membuat wisman tidak nyaman juga bisa berpeluang terjadinya praktek tidak terpuji saat pengurusan dokumen.

"Ya kalau penumpang sampai terlantar duduk lesehan di lantai hanya menunggu pemeriksaan, nanti ada oknum berseragam yang mendekati menawarkan jasa untuk pengurusan cepet atau lewat jalan tol," selorohnya.

Selain masalah imigrasi, Pastika juga menyoroti pelayanan Bea Cukai. Dia menyoroti banyaknya penumpukan barang sehingga bisa mengakibatkan terjadinya kehilangan barang.

"Kalau ada penumpang kehilangan barangnya di bandara saya ditelepon. Masak sih gubernur harus mengurusi barang hilang di bandara terus. Saya sudah capek mengurus hal itu yang tentunya ada pihak yang berwenang mengurusi," kesalnya.

Sorotan lain disampaikan Pastika adalah lemahnya aspek pengamanan di bandara. Seperti antara waiting area dengan boarding masih menjadi satu lokasi. Yang membuatnya tak habis pikir, justru munculnya pedagang atau outlet di ruang tunggu, yang membuat situasi terlihat sesak dan semrawut.

"Kalau mau masuk ke pesawat juga tidak ada sekuriti lagi, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan penumpang, ini sistem securitynya sangat mengerikan," katanya prihatin.

Keluhan mengenai bandara ini merupakan salah satu dari masalah yang dikeluhkan wisman dari hasil survey yang dilakukan Dinas Pariwisara Bali. Selain bandara, mereka juga mengeluhkan mengenai sampah, dan semrawut lalu lintas Denpasar.
 
sumber : okezone
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

PVMBG Belum Pastikan Penurunan Status, GA Masih Alami Erupsi

Visual gunung agung dari desa Suwat Gianyar sabtu(16/12) pada pukul 6.00 dan pukul 7.30 wita Hembusan asap berwarna putih dan kelabu ...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen