Minggu, 21/10/2012 07:39
DENPASAR - Bank Indonesia Wilayah III/Denpasar mencatat barang impor di Bali selama triwulan II/2012 terbanyak berasal dari Hong Kong.
Asisten Direktur BI Denpasar, Sunarto, Sabtu, mengatakan, barang impor dari Hong Kong mencapai 26,26 persen. Disusul oleh Amerika Serikat (15,55 persen), Singapura (13,55 persen), dan China (11,44 persen).
"Realisasi pembelian mata dagangan dari luar negeri berkurang hingga 10,43 persen pada triwulan II/2012 menjadi hanya bernilai 29,70 juta dolar AS. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 40,76 juta dolar AS," katanya.
Sedangkan produk impor dari Hong Kong terutama perhiasan, suku cadang dan aksesoris musik, mesin, dan perangkat komputer, sedangkan dari AS berupa barang konstruksi, suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor.
Pedagang asal Singapura mayoritas memasok barang-barang berupa mesin, peralatan komputer, dan perhiasan. Sementara dari China kebanyakan barang-barang konsumsi, jam, peralatan fotografi, peralatan kantor, baju, dan sepatu. Pakaian asal China banyak ke Bali bahkan diperdagangkan hingga ke perdesaan.
Ia menyebutkan, Bali sebagai daerah pariwisata, maka pengembangan akomodasi perhotelan, apartemen dan vila semakin gencar, sehingga berdampak pada permintaan barang-barang berkualitas tinggi yang
didatangkan dari mancanegara.
Jaminan mutu dan yang bermerek menjadi acuan untuk menjadikan kelengkapan hotel atau apartemen mewah di Bali semakin berkelas. Hal itu seiring kenyamanan dari kelengkapan hotel tersebut.
Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tapi juga permintaan akan fasilitas mewah di hotel menjadi tolok ukur pelayanan bagi wisatawan untuk memancing turis asing ke darah ini.
Kelengkapan tersebut harus dipenuhi oleh hotel maupun vila yang tersebar di Pulau Dewata, maka tidak mengherankan jika impor daerah ini bertambah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagai tujuan wisata.
Bali mampu memenuhi permintaan maka tidak mengherankan jika jumlah kunjungan turis asing ke daerah ini meningkat terus menjadi 1.882.559 orang Januari-Agustus 2012, bertambah 4,57 persen dari periode sama 2011 hanya 1.800.346 orang.
Asisten Direktur BI Denpasar, Sunarto, Sabtu, mengatakan, barang impor dari Hong Kong mencapai 26,26 persen. Disusul oleh Amerika Serikat (15,55 persen), Singapura (13,55 persen), dan China (11,44 persen).
"Realisasi pembelian mata dagangan dari luar negeri berkurang hingga 10,43 persen pada triwulan II/2012 menjadi hanya bernilai 29,70 juta dolar AS. Padahal periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 40,76 juta dolar AS," katanya.
Sedangkan produk impor dari Hong Kong terutama perhiasan, suku cadang dan aksesoris musik, mesin, dan perangkat komputer, sedangkan dari AS berupa barang konstruksi, suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor.
Pedagang asal Singapura mayoritas memasok barang-barang berupa mesin, peralatan komputer, dan perhiasan. Sementara dari China kebanyakan barang-barang konsumsi, jam, peralatan fotografi, peralatan kantor, baju, dan sepatu. Pakaian asal China banyak ke Bali bahkan diperdagangkan hingga ke perdesaan.
Ia menyebutkan, Bali sebagai daerah pariwisata, maka pengembangan akomodasi perhotelan, apartemen dan vila semakin gencar, sehingga berdampak pada permintaan barang-barang berkualitas tinggi yang
didatangkan dari mancanegara.
Jaminan mutu dan yang bermerek menjadi acuan untuk menjadikan kelengkapan hotel atau apartemen mewah di Bali semakin berkelas. Hal itu seiring kenyamanan dari kelengkapan hotel tersebut.
Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tapi juga permintaan akan fasilitas mewah di hotel menjadi tolok ukur pelayanan bagi wisatawan untuk memancing turis asing ke darah ini.
Kelengkapan tersebut harus dipenuhi oleh hotel maupun vila yang tersebar di Pulau Dewata, maka tidak mengherankan jika impor daerah ini bertambah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagai tujuan wisata.
Bali mampu memenuhi permintaan maka tidak mengherankan jika jumlah kunjungan turis asing ke daerah ini meningkat terus menjadi 1.882.559 orang Januari-Agustus 2012, bertambah 4,57 persen dari periode sama 2011 hanya 1.800.346 orang.
sumber : MICOM