Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Lubang Besar Disiapkan Kubur 832 Korban Meninggal, Begini Kondisi Seribu Krama Bali di Sulteng

Lubang Besar Disiapkan Kubur 832 Korban Meninggal, Begini Kondisi Seribu Krama Bali di Sulteng

Written By Dre@ming Post on Senin, 01 Oktober 2018 | 9:22:00 AM

Evakuasi Korban Gempa dan Tsunami di Palu
Gempa Palu: Begini Kondisi Terkini Seribu Krama Bali di Tolai Barat Sulawesi Tengah

DENPASAR - Ketika gempa 7.7 SR mengguncang Palu, Donggala dan wilayah Sulawesi Tengah, semua warga di Desa Tolai Barat, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah berhamburan keluar rumah.

"Karena goncangan lumayan kuat, beberapa masyarakat yang bermukim dekat pantai langsung naik gunung karena melihat air laut surut," kata Ni Nyoman Sunarti ketika diwawancarai via messenger, Minggu (30/9/2018) malam.

Beberapa saat setelah gempa komunikasi pun lumpuh, termasuk jaringan seluler lumpuh total.

Listrik juga padam bahkan hingga saat ini masih padam.

"Tidak lama dari gempa komunikasi jaringan seluler lumpuh total, PLN padam, beberapa pengendarara motor ada yang jatuh, tapi tidak ada korban jiwa. Sampai saat ini PLN masih padam. Lumayan panik saat itu," kata wanita yang akrab dipanggil Nanik ini.

Untuk alat komunikasi saat ini hanya mengandalkan wifi, dan penerangan menggunakan genset.

"Cuman BBM lagi susah. Kemarin harga eceran perbotol mencapai Rp 20 ribu. Kalau hari biasa harga eceran normal Rp 9 ribu," katanya.

Sementara untuk kebutuhan makanan dan air di daerahnya aman, hanya kesusahan mendapat BBM.

Ia mengatakan bahwa tempat tinggalnya berjarak 2 jam dari Palu.

Saat ini ia dan keluarganya sudah kembali menempati rumahnya.

"Kondisi di sini aman dan kondusif. Yang ngungsi sudah pada pulang. Dari kemarin sore sudah pada pulang dari gunung. Karena cari tempat tinggi," jelasnya.

Ia mengatakan akibat gempa ini beberapa rumah roboh.

Selain itu puluhan bangunan pura di dua kecamatan yaitu Kecamatan True dan Balinggi juga roboh.

"Yang bangunan lama banyak roboh. Ada merajan di rumah warga, Tembok Pura Purnesade juga roboh, itu pura umum yang kemarin tempat Rare Kual (grup lawak asal Buleleng) pentas," katanya.

Ia menambahkan bahwa di daerahnya ada seribu lebih masyarakat Bali. "Mayoritas Hindu di sini. Banyak, seribu lebih. Keadaannya baik, aman," katanya.

Berdasarkan penuturannya, orang tuanya transmigrasi ke Sulawesi tahun 1950an dan ia pun lahir di Sulawesi.

Sementara itu, keluarganya di Bali berada di Sangeh, Banjar Batu lumbang, Badung.

"Keluarga di Bali sudah tau semua keadaan di Tolai aman," ujarnya.

Made Sugia Ngaku Bayu Gantut

I Made Sugia, warga Bali yang tinggal di Desa Salopangkang, Kecamatan Topoyo, Mamuju, Sulawesi Barat mengatakan, warga di desanya panik.

Ketika gempa mengguncang, mereka lari ke gunung tanpa ada instruksi dari aparat desa.

"Gempa pertama warga panik langsung mengungsi ke gunung. Satu desa, hampir 99 persen warga desa ngungsi ke gunung," kata Sugia ketika dihubungi, Sabtu (29/9).

Apalagi, menurutnya, jarak desa dengan pantai hanya 6 km yang menambah kepanikan warga karena takut akan terjadinya tsunami.

Sugia mengatakan, ini adalah gempa paling keras yang ia rasakan sejak tinggal di Sulawesi mulai 1992.

"Ini yang paling keras dari tahun 92 saya di sini. Kami jelas panik dan ngungsi bersama keluarga," tuturnya.

Menurut keterangannya, enam pelinggih dari tiga rumah roboh akibat gempa ini. Selain itu, dua rumah milik kerabatnya dari suku Bugis juga rusak berat.

"Ada sanggah (pelinggih) di tiga rumah roboh. Enam sanggah jadinya itu karena satu rumah ada dua sanggah. Rumah teman Bugis juga rusak berat. Tembok hancur," ujarnya.

Sugia mengatakan, listrik mati saat gempa kemarin dan menyala kembali pukul 23.00 waktu setempat.

Tak hanya sekali, dirinya bersama warga desa lain dua kali mengungsi ke gunung. Saat gempa pertama ia mengungsi ke gunung dan pulang pukul 22.00 Wit.

Ketika sudah di rumah dirinya bersama istri dan satu anaknya makan seperti biasa.

Saat mau tidur kembali ia merasakan goncangan gempa yang membuat dirinya kembali mengungsi ke gunung.

"Jam satu pagi baru saya pulang ke rumah lagi," katanya.

Kini ia masih merasa trauma akibat gempa tersebut.

Ia mengaku belum melakukan aktivitas apapun sejak pagi karena masih trauma akibat gempa ini.

"Yang jelas saya masih trauma, apalagi saya bayu gantut (cepat merasa takut). Jadinya dari pagi tidak ke mana-mana. Ada sebenarnya beberapa warga yang beraktivitas di kebun sawit. Tapi saya memilih diam di rumah," jelasnya.

Saat ini kondisinya dan situasi di desanya baik-baik saja. "Kondisi rumah dan keluarga astungkara baik-baik saja. Tapi 30 menit sebelum saya bicara di telepon ini juga ada gempa. Karena gempa, listrik dipadamkan," katanya.

Terpisah, Made Juliani, warga Bali yang keluarganya ada di Mamuju, mengatakan, dampak gempa juga terasa hingga Desa Tommo, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

"Secara umum kondisi Ibu Bapak saya dan keluarga di sana baik. Tapi getaran gempa terasa hingga di sana. Karena Mamuju itu kan dekat dengan Palu," kata Juliani yang juga bekerja di KompasTV Dewata ketika dihubungi, Sabtu.

Ia mengatakan, tidak ada kerusakan parah di desa tempat tinggal keluarganya.

Sementara itu, kakak dan tantenya yang tinggal di Salopangkang kemarin sempat mengungsi ke daerah yang lebih tinggi ketika ada peringatan potensi tsunami karena rumahnya dekat pantai.

Merespon terjadinya gempa di Donggala dan Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, anggota Komisi VIII DPR RI Dapil Bali I Gusti Agung Putri Astrid Kartika langsung berkoordinasi dengan Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Wisnu Bawa Tenaya (WBT).

Hal itu dilakukan karena banyaknya transmigran asal Bali di wilayah itu.

"Kita berharap, bencana ini akan segera tertangani dampaknya dan semua yang menjadi korban bisa mendapat pertolongan," ujarnya di Denpasar, Sabtu.

Diketahui, PHDI masih terus mengumpulkan data mengenai kondisi di lapangan.

Masalah kebencanaan sendiri adalah salah-satu bidang kerja Komisi VIII selain masalah agama, sosial serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

"Kami akan terus memantau perkembangan penanganan agar pemerintah memberikan respons yang cepat dan tepat sebagaimana dilakukan saat gempa Lombok," tegasnya.

Khusus kepada warga Bali, politisi yang akrab disapa Gung Tri ini berharap agar ada gerakan untuk bersolidaritas dan memberikan bantuan.

Selain itu, para mahasiswa asal Palu yang saat ini sedang kuliah di Bali perlu mendapat perhatian agar mereka tidak terlalu panik menghadapi situasi.

Ini Penjelasan Ahli Soal Pohon dan Bangunan 'Berjalan' Pascagempa Donggala yang Terekam Warga

Sebuah video yang memperlihatkan kondisi Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pascagempa di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah viral di media sosial.

Dalam video itu muncul lumpur yang membuat rumah dan pepohonan seakan berjalan.

Video berdurasi dua menit tersebut lantas mendapat banyak perhatian dari netizen.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pun memberi penjelasan terkait video tersebut.

Sutopo menyampaikan penjelasan itu melalui akun Twitter-nya, @Sutopo_PN, Minggu (30/9/2018).

Menurut keterangan darinya, fenomena di Sigi itu disebut likuifaksi.

"Munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu akibat gempa 7,4 SR adalah fenomena likuifaksi (liquefaction).

Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan," tulis Sutopo.

Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi dan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia, menyampaikan pendapat serupa.

"Likuifaksi hanya satu dugaan," kata Rovicky.

"Gempa menyebabkan kekuatan lapisan tanah menghilang dan tidak bisa menahan yang di atasnya. Likuifaksi atau tanah yang tergetarkan ini kemudian membuat longsoran," tambahnya.

Menurut penjelasannya, dalam fenomena itu lapisan batu pasir mencair akibat getaran.

"Ini terjadi segera setelah gempa, kemungkinan gejala likuifaksi, yaitu adanya lapisan batu pasir yang berubah perilakunya akibat getaran, menjadi seperti likuida. Gejala ini menyebabkan lapisan di atasnya 'tergelincir' dan bergerak meluncur," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, gempa berkekuatan magnitudo 7,4 dan tsunami terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018).

Likuifaksi Bencana Alam Paling Berbahaya yang Menyerang Secara Diam–diam. Sementara itu, dilansir dari laman Ikatan Ahli Geologi Indonesia www.iagi.or.id, menjelaskan, likuifaksi adalah suatu proses yang membuat kekuatan tanah menghilang dengan cepat.

Kekuatan serta daya dukung tanah menurun dikarenakan getaran yang diakibatkan oleh gempa maupun guncangan lainnya.

Likuifaksi bertanggung jawab atas banyaknya kerusakan yang mengerikan dalam sejarah gempa bumi di seluruh dunia.

Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada Mei 2007 telah memperlihatkan gejala likuifaksi.

Terjadi kerusakan yang serius pada bangunan dan infrastruktur di Yogyakarta, termasuk daerah Pleret.

Likuifaksi dapat terjadi jika terdapat material lepas berupa pasir dan lanau yang berada di bawah muka air tanah, sehingga ruang pori antar butir terisi oleh air.

Tanah yang terlikuifaksi tidak dapat menahan berat apapun yang berada di atasnya, baik itu berupa lapisan batuan diatasnya maupun bangunan yang akhirnya mengakibatkan hilangnya daya dukung pada pondasi bangunan.

Efek yang dapat ditimbulkannya adalah menurunnya permukaan tanah di tempat terjadinya likuifaksi.

Penurunan permukaan tanah dapat membuat permukaan menjadi dekat atau malah berada di bawah muka air tanah.

Hal ini akan lebih buruk lagi jika ternyata terdapat struktur–struktur geologi di daerah tersebut.

Disebutkan, likuifaksi menjadi satu di antara bencana alam paling berbahaya yang menyerang secara diam–diam.

Lubang Besar Disiapkan untuk 832 Korban Meninggal, Segera Dimakamkan Secara Massal

Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (30/9/2018) korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah mencapai 832 orang.

Korban sebagian besar berasal dari Kota Palu. Korban tewas rencananya akan dimakamkan secara massal dalam satu tempat.

Bahkan, seorang anak kecil yang usianya tampak masih balita ditemukan tertidur di selokan atau saluran air karena terpisah dari orangtuanya saat bencana terjadi.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, berdasarkan data sementara yang tercatat korban tewas sebanyak 832 jiwa.

Menurutnya, 821 orang korban berasal dari Kota Palu dan 11 lainnya dari Kabupaten Donggala.

Sementara dua kabupaten terdampak lainnya yaitu Kabupate Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong belum diketahui lantaran akses informasi dan transportasi yang masih terputus.

“Diperkirakan jumlah korban masih terus bertambah karena banyak korban yang belum teridentifikasi, masih tertimbun reruntuhan bangunan atau tanah longsor serta daerahnya belum terjangkau tim SAR (Search and Rescue),” jelas Sutopo di Graha BNPB, Jakarta Pusat, Minggu (30/9/2018).

Sutopo kemudian menjelaskan bahwa korban meninggal kini sedang dalam proses pemakaman secara massal.

Ia mengatakan pemakaman secara massal segera dilakukan setelah korban meninggal dunia telah melalui proses identifikasi DVI, face recognition, dan sidik jari.

Pemakaman massal menurutnya perlu segera dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit bagi pengungsi korban gempa bumi dan tsunami yang bertahan di luar ruangan.

“Sedangkan untuk korban luka berat berjumlah 540 orang yang dirawat di sejumlah rumah sakit seperti RS Wirabuana, RS Budi Agung, dan RS Samaritan, sementara pengungsi yang diketahui total berjumlah 16.732 orang,” tegas Sutopo.

Sutopo mengatakan BNPB dan sejumlah tim gabungan relawan yang datang ke Sulawesi Tengah masih akan terus melakukan evakuasi di sejumlah tepat yang diduga masih terdapat korban akibat gempa bumi dan tsunami.

“Namun beberapa kendala begitu menyusahkan kami seperti listrik yang terputus, akses komunikasi juga terputus, alat berat terbatas, tenaga SAR (search and rescue) masih perlu ditambah, akses jalan darat untuk mengirim bantuan banyak terhambat serta daerah terdampak yang luas,” ujarnya.

Rupanya, dalam tragedi bencana alam gempa dan tsunami di Palu ini ada seorang anak kecil yang kehilangan orang tuanya.

Melansir dari Twitter presenter televisi Cherryl Tanzil, mengunggah foto seorang anak kecil ini tertidur pulas di gendongan Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Namun di balik pulasnya si anak kecil ini, rupanya menyimpan cerita duka yang cukup mengiris hati.

Sebab, bocah kecil yang belu diketahui identitasnya ini terpisah dari kedua orang tuanya saat terjadinya tsunami di Palu.

Bahkan saat ditemukan, anak kecil ini berada di saluran air.

Anak kecil ini mengalami luka di kepala, tangan dan kaki yang kemudian langsung diobati oleh pihak medis.

Terlihat, kaki si anak kecil ini bahkan sudah diperban.

Setelah diobati, anak kecil ini diserahkan ke Polda Palu saat Panglima TNI meninjau langsung korban gempa Palu Sabtu siang (29/9/2018).

Cheryl Tanzil pun meminta netizen yang apabila merasa kenal dengan anak kecil ini harap menghubungi Polda Palu.

Karena saat ini anak kecil ini sedang dalam perlindungan dan perawatan di Polda Palu, Sulawesi Tengah.

"Adik kecil yang digendong Mensos ini terlepas dari orang tuanya saat tsunami di Palu. Ia ditemukan warga di saluran air & diobati,

lalu diserahkan ke Polda Palu saat Panglima TNI meninjau langsung korban gempa Palu siang ini (29/9/2018).

Jika ada yg kenal mohon hubungi Polda Palu," tulis Cheryl Tanzil, Sabtu (29/9/2018).













sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Toko Tiongkok Panik, Cok Ace Bongkar Praktik Jual Murah Yang Rusak Citra Pariwisata Bali

Wakil Gubernur Bali, Cok Ace bersama rombongan melakukan sidak di toko milik warga Tiongkok di Jalan By Pass Ngurah Rai, Badung, Kamis (...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen