Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Krama Bali Yang Baru Terdata Meninggal Dunia Di Palu sebanyak 9 Orang

Krama Bali Yang Baru Terdata Meninggal Dunia Di Palu sebanyak 9 Orang

Written By Dre@ming Post on Rabu, 03 Oktober 2018 | 10:36:00 AM

Kondisi Hotel Roa-roa usai diguncang gempa Palu berkekuatan 7,4 SR, Sosok Dewa Yoga (bawah). Kondisi bangunan krama Bali di lokasi terdampak gempa bumi di Palu, Selasa (2/10/2018). (atas)
Amor Ring Acintya, 9 Krama Bali Meninggal di Palu Akibat Gempa & Tsunami, Ini Identitas Korban

DENPASAR - Sekitar 5.000 orang krama Bali yang ada di Palu, Sulawesi Tengah, terdampak bencana gempa bumi dan tsunami.

Dan hingga kemarin, terdata ada sembilan orang yang meninggal dunia.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris PHDI Sulawesi Tengah, I Ketut Suarayasa, ketika dihubungi, Selasa (2/10) petang.

"Yang terkena dampak kita yang di Palu ada sekitar 5.000 jiwa. Dampaknya ini meluas dengan tiga kondisi berbeda," kata Suarayasa.

Pertama, gempa berdampak terhadap semua rumah dan efeknya itu ke semua umat Hindu yang ada di sana.

Kedua, saat tsunami juga ada beberapa krama Bali yang terkena dampak bahkan polisi yang sedang berjaga juga meninggal.

Kondisi ketiga yaitu di perbatasan Palu dan Sigi tepatnya di Petobo ada perumahan krama Bali yang amblas karena lumpur (likuifaksi).

"Terkait yang terkena lumpur kami belum punya data pasti berapa umat kita di rumah itu yang hilang. Umat kena dampak semua mengungsi," katanya.

Kemarin, krama Bali yang pengungsi menurut Suarayasa sudah banyak yang pulang ke kampungnya masing-masing.

Begitupun untuk mahasiswa yang sebelumnya mengungsi sudah mulai pulang ke kampung masing-masing yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.

"Umat kita kini sudah terkonsentrasi di perumahannya masing-masing. Tapi tinggal di depan rumahnya karena kebetulan rumahnya yang di komplek yang kebetulan banyak orang Balinya tidak sampai roboh. Jadi masih bisa ditinggali tapi bikin semacam tempat darurat di depan rumah. Seperti saya juga melakukan itu dan tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah," paparnya.

Untuk penanganan krama Bali yang terdampak ini pihaknya sudah membuka dua posko yaitu di Pura Jagatnata Sulawesi Tengah dan di balai Banjar Tanggul.

Bagi yang rumahnya roboh ditampung di Pura Jagatnatha.

"Tapi di balai Banjar Tanggul tidak ada yang menempati sekarang, karena mereka menumpang di keluarganya di Tanggul. Kita siapkan di situ kalau ada yang memerlukan," imbuhnya.

Saat hari pertama gempa dan tsunami jumlah krama Bali yang mengungsi sebanyak 500 KK, dimana yang terdata resmi atau ikut mebanjar sekitar 2.000.

Sementara yang tidak ikut mebanjar sekitar 1.000 orang dan mahasiswa yang berasal dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah sebanyak 2.000.

"Adik mahasiswa banyak mengungsi pada hari pertama dan kedua dan sekarang sudah dijemput keluarganya. Yang hari ini masih ada sekitar 10 KK di sana," terangnya.

Ia menambahkan sebagian besar mahasiswa Hindu tersebut kuliah di Universitas Tadulako mencapai 1200 orang.

Sementara itu Pura Jagatnata di Sulawesi Tengah juga mengalami kerusakan parah. Padmasana hancur, pagar keliling yang baru dibangun dua tahun lalu roboh, begitu pula candi bentar bagian atasnya juga jebol.

"Kalau di Palu pura besarnya hanya Pura Jagtnatha dan di rumah masing ada merajan. Kalau rumahnya hancur merajannya juga kena. Tapi kami belum memiliki data berapa merajan yang rusak," katanya.

Adapun krama Bali yang baru terdata meninggal dunia di Palu sebanyak sembilan orang.

Tujuh orang sudah teridentifikasi dan dua orang lainnya hilang karena tenggelam di Petobo.

Adapun identitas tujuh krama Bali yang meninggal di Palu tersebut yaitu Mak Dimas, Istri dari Pak Kundro Sigi, Gusti Ngurah Putu Sudarmana (polisi), Gusti Kadek Sukamiarta (polisi), Desak Nyoman Elia Puspitasari (polwan), Putu Ayu Lennyaningsih (polwan), dan Made Muliastuti (polwan).

Saat ini krama Bali yang terdampak di Palu sangat membutuhkan air minum dan makanan.

"Kalaupun ada uang, tempat beli minum dan makan tidak ada lagi," katanya.

Keadaannya pun masih seperti kota mati karena listrik belum menyala. Pakai genset juga sulit karena BBM langka.

“BBM kita prioritaskan untuk isi sepeda motor saja. Antrean di SPBU bisa sampai 5 jam. Sejak 3 hari lalu sampai kemarin SPBU diserbu massa dan diambil paksa minyaknya. Tapi hari ini sudah dikuasai aparat sehingga antre. Tapi dijatah sedikit-sedikit," imbuhnya.

Doakan Korban

Sementara itu, anggota Polres Jembrana menggelar persembahyangan di Pura Pura Pujastuti, Selasa (2/10), untuk mendoakan rekan seprofesinya yang menjadi korban gempa di Palu.

Wakapolres Jembrana, Kompol Komang Budiartha, didampingi Kabag Sumda Kompol Jagat, menyaatakan kegiatan doa bersama ini ditujukan untuk para korban Bencana di Sulteng.

"Semoga bagi korban yang telah meninggal dunia diterima di-Sisinya,dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ujarnya.

Budiartha menyatakan duka bencana alam di Sulteng ini juga dirasakan jajaran Polres Jembrana, dengan meninggalnya putra Jembrana, Brigadir Gusti Kade Sukamiarta alias Gus Maiz.

Bripda Putu Dian Paramitha Dewi juga turut berbelasungkawa.

Mitha mengenal betul sosok Gus Maiz serta ketiga polwan yang turut jadi korban karena pernah bertugas di Polres Palu.

“Elia Puspitasari dan Putu Ayu Lennyaningsih bahkan seangkatan dengan saya di Palu,” kata Mitha, polwan asal Desa Kubu, Bangli, yang kini bertugas di Polres Karawang, Jawa Barat.

Sekretaris PHDI Sulawesi Tengah Ungkap Kondisi Terkini Krama Bali di Lokasi Terdampak Gempa

Sekitar 5.000 krama Bali yang ada di Palu terdampak gempa dan tsunami.

Hal itu disampaikan Sekretaris PHDI Sulawesi Tengah (Sulteng), I Ketut Suarayasa ketika dihubungi, Selasa (2/9/2018) petang.

"Yang terkena dampak di Palu ada sekitar 5.000 jiwa. Dampaknya ini meluas dengan tiga kondisi berbeda," kata Suarayasa.

Pertama, gempa berdampak terhadap semua rumah, dan efeknya itu ke semua krama.

Kedua, saat tsunami juga ada beberapa krama Bali yang terkena dampak bahkan, polisi yang sedang berjaga juga meninggal.

Kondisi ketiga, di perbatasan Palu dan Sigi tepatnya di Petobo ada perumahan krama Bali yang amblas karena lumpur (likuifaksi).

"Terkait yang terkena lumpur, kami belum punya data pasti berapa umat kita di rumah itu yang hilang. Semua umat kena dampak mengungsi," katanya.

Untuk hari ini, krama Bali yang pengungsi menurut Suarayasa sudah banyak yang pulang ke kampungnya masing-masing.

Begitupun untuk mahasiswa yang sebelumnya mengungsi sudah mulai pulang ke kabupaten masing-masing yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah.

Untuk penanganan krama Bali yang terdampak ini pihaknya sudah membuka dua posko yaitu di Pura Jagatnata Sulawesi Tengah dan di balai Banjar Tanggul.

Bagi yang rumahnya roboh ditampung di Pura Jagatnatha hingga saat ini.

Saat hari pertama gempa dan tsunami jumlah krama Bali yang mengungsi sebanyak 500 KK dimana yang terdata resmi atau ikut mebanjar sekitar 2000.

Sementara yang tidak ikut mebanjar sekitar 1.000 orang dan mahasiswa yang berasal dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah sebanyak 2000.

"Adik mahasiswa banyak mengungsi pada hari pertama dan kedua dan sekarang sudah dijemput keluarganya. Yang hari ini masih ada sekitar 10 KK di sana," terangnya.

Ia menambahkan sebagian besar mahasiswa Hindu tersebut kuliah di Universitas Tadulako mencapai 1.200 orang.

Dewa Yoga Ditemukan Kritis di Balik Reruntuhan Hotel Roa-Roa, Minta Bantuan Lewat Pipa Paralon

Pegawai Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah II Denpasar, Dewa Gede Yoga Nata Kusuma, dikabarkan ditemukan dalam kondisi kritis di balik reruntuhan Hotel Roa-Roa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10).

Sebelum ditemukan, Dewa Yoga sempat minta bantuan melalui pipa paralon kepada petugas hotel.

Asisten Umum Satuan Kerja (Satker) BPJN Metropolitan Denpasar, Komang Martana, mengungkapkan Dewa Yoga sudah ditemukan oleh tim evakuasi.

Informasi yang ia dapat terakhir, Dewa Yoga memang ditemukan dalam keadaan kritis setelah hampir empat hari tertimbun reruntuhan hotel yang rubuh oleh gempa 7,4 SR pada Sabtu (28/9) lalu.

"Tapi kami belum mendapatkan informasi lebih lanjut. Karena beliau di wilayah II," kata Martana melelalui pesan WhatsApp, tadi malam.

Rekan Dewa Yoga di BPJN Wilayah II Denpasar, Ida Bagus Oka Keniten, yang sekarang masih berada di Makassar juga mengaku mendapatkan informasi bahwa Dewa Yoga sudah ditemukan dalam kondisi kritis.

"Kondisi di Palu belum aman, jadi kami belum bisa ke sana. Saya masih di Makassar ini. Komunikasinya sulit. Info terakhir hanya itu saja (ditemukan kritis). Selengkapnya saya tidak berani bilang karena tidak lihat langsung," kata IB Keniten melalui sambungan telepon.

IB Keniten menjadi perwakilan tim BPJN Wilayah II Denpasar yang berangkat ke Palu pada Senin (1/10) untuk memastikan kondisi Dewa Yoga.

Tim ini juga berangkat bersama istri Dewa Yoga, Gusti Ayu Gede Dina Karamani (30).

Dewa Yoga terbang ke Palu dengan pesawat Garuda Indonesia pada 28 September 2018 pagi.

Warga Banjar Tegal Ambengan, Dusun Sakeh, Sudimara, Tabanan, ini berangkat bersama dua rekan sekantornya, Muhdi Riyanto dan I Wayan Setiadi.

Ketiganya ke Palu untuk memperkuat tim gateball Kementrian PU Bina Marga. Tim ini akan tampil di Kejuaraan Nasional Gateball Palu Nomoni Cup III.

Mereka tiba di Palu pukul 15.15 Wita, dan kemudian menginap di Hotel Roa-Roa.

Pukul 18.02 Wita, gempa dahsyat dengan kekuatan 7,4 SR mengguncang Palu dan Kabupaten Donggala. Berselang 30 menit kemudian, terjadi tsunami yang menyapu Kota Palu.

Dewa Yoga kemudian diketahui turut menjadi korban gempa dan tsunami tersebu.

Staf Bagian Penata Administrasi Teknik BPJN Wilayah II Denpasar diduga tertimbun reruntuhan di lantai tujuh Hotel Roa-Roa.

Sementara dua rekannya, Muhdi Riyanto dan I Wayan Setiadi, selamat. Saat terjadi gempa, keduanya berhasil menyelamatkan diri.

Sang Ibu Sedih

Sementara itu ibu kandung Dewa Yoga, Dewa Ayu Yayu Ratna Dewi, tak kuasa menahan sedih hingga meneteskan air mata ketika disambangi di rumahnya di Banjar Tegal Ambengan, Selasa (2/10).

Ia sangat sedih mendengar kabar anak kandungnya tersebut turut menjadi korban gempa dan tsunami di Palu.

Karena tak kuasa menahan air matanya, ia kemudian meminta anaknya atau adik kedua dari Dewa Yoga, Dewa Bagus Dwipa Nata Kusuma (36), untuk menemani awak media.

Dewa Dwipa kemudian menceritakan sekelumit kisah kakaknya yang dikabarkan menjadi korban gempa.

Dituturkan, pada Jumat (28/9) pukul 03.00 Wita, Dewa Yoga berangkat dari rumah dinas Puskesmas Pembantu (Pustu) Mekayu, Desa Lalang Linggah, Selamadeg Barat, menuju Bandara Ngurah Rai, Badung, untuk terbang ke Makassar dan selanjutnya ke Palu.

Untuk diketahui, istri Dewa Yoga bekerja di Puskesmas Pembantu Mekayu.

Sebelum berangkat, ia berpamitan dengan istrinya, Gusti Ayu Gede Dina Karamani (30), dan ketiga anaknya yaitu Dewa Ayu Nindia Nata Nia (9), Dewa Gede Danendra Nata (6), dan Dewa Bagus Nusakti Adi Nata yang masih berusia 1,5 tahun.

Kemudian ketika tiba di Palu ia juga sempat menghubungi istrinya lewat telepon.

“Keluarga mengetahui kabar Dewa Yoga ikut menjadi korban gempa dari kedua rekannya. Saat kejadian Dewa Yoga menginap di Hotel Roa-Roa. Saat baru mendengar kabar itu, kami begitu cemas,” tutur Dewa Dwipa.

Selain itu, kata dia, mendengar kabar gempa tersebut keluarga pun panik.

Saat itu, keluarga sempat menghubungi Dewa Yoga namun hasilnya nihil. Nomor telepon yang dihubungi tak tersambungkan.

Hal itu pun semakin membuat keluarga panik dan cemas. Istri Dewa Yoga bersama iparnya pun berangkat menuju Palu bertujuan mengetahui kebenaran kabar tersebut.

Dari informasi dua teman Dewa Yoga di Palu, Setiadi dan Muhdi, sebelum kejadian gempa bumi mereka bersama-sama di hotel.

Kemudian sekitar pukul 16.00 Wita, kedua temannya mengajak Dewa Yoga membeli makananan ke luar hotel.

Saat itu Dewa Yoga meminta kedua temannya untuk menunggu di lobi hotel dan ia menyusul.

Beberapa waktu berselang gempa berkekuatan 7.4 SR mengguncang Kota Palu. Dua temannya yang sedang berada di lobi hotel pun lari keluar hotel menyelamatkan diri.

Sementara Dewa Yoga masih berada di kamar hotel.

“Terakhir, kami mendengar kabar katanya Yoga selamat. Tetapi hingga saat ini belum jelas kabar tersebut. Kabarnya, di tengah reruntuhan hotel ia sempat meminta bantuan melalui pipa paralon kepada petugas hotel agar dapat keluar dari reruntuhan bangunan hotel. Kabar itu kami terima dari temannya,” tutur Dewa Dwipa.

“Hingga saat ini kami belum mendapat kabar apakah Dewa Yoga selamat atau tidak," lanjutnya dengan nada pelan.

Meskipun begitu, Dewa Dwipa beserta keluarga tetap sangat berharap Dewa Yoga selamat agar dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

Dari Palu dilaporkan, Tim SAR menemukan enam korban yang selamat dan tujuh meninggal dunia di Hotel Roa-Roa, kemarin.

Dua jenazah yang ditemukan di tangga darurat hotel, sudah berhasil dievakuasi. Satu di antara dua korban itu merupakan atlet paralayang asal Jawa Timur.

Hotel Roa-Roa menjadi salah satu tempat yang memakan korban cukup banyak. Sebanyak 50-60 orang diduga masih tertimbun di bawah puing-puing hotel delapan lantai ini.

Hotel Roa-Roa merupakan hotel bintang tiga yang memiliki akses yang dekat dengan Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu. Waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar 10 menit.

1.235 Meninggal

Terpisah, hingga kemarin siang BNPB mencatat sudah 1.234 orang terdata meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah.

Sembilan kabupaten dan kota terdampak. Empat di antaranya, terdampak paling parah, yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

"1.234 meninggal dunia. Tersebar di 109 titik. Data resmi 1.234 proses identifikasi. Kami menerima jenazah langsung dibawa-bawa ke rumah sakit. Korban dipilah-pilah (asal daerah, red)," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (2/10).

Dia mengaku tidak dapat mengklasifikasikan asal daerah para korban bencana alam tersebut. Dia hanya memastikan korban berasa dari kota/kabupaten yang terdampak bencana alam.

Untuk jumlah korban jiwa itu, kemungkinan akan bertambah mengingat sejumlah daerah terkena dampak bencana alam masih kesulitan untuk diakses.

Sutopo juga menjelaskan terkait laporan yang disampaikan oleh masyarakat setempat. 152 orang dikabarkan tertimbun dan 62 ribu mengungsi di ratusan titik lokasi pengungsian.

"Korban tertimbun yang berdasarkan laporan masyarakat ada 152 orang. Sementara pengungsi (diketahui sebanyak) 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik. Kerusakan rumah dialami lebih dari 65 ribu unit. Rumah rusak 65.733 unit dan kerusakan ini belum kita klasifikasikan, (apakah) rusak berat, rusak sedang, rusak ringan," ujar Sutopo.

Selain 1.234 korban yang ditemukan meninggal dunia, 799 orang mengalami luka berat, serta 99 orang dinyatakan hilang. Hingga kemarin, proses evakuasi, pengiriman bantuan logistik dan tim relawan juga masih dilakukan untuk memasuki lokasi yang masih terisolir.







sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Untuk Proyek Shortcut Satu Keluarga Minta Lahannya Ditukar Guling

Putu Yasa (berdiri), pemilik lahan asal Desa Pegayaman, minta lahannya ditukar guling saat proses ganti rugi tanah shortcut di Singaraja...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen