Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Tentang Foto Kubah Lava di Kawah GA, Ini Penjelasan PVMBG

Tentang Foto Kubah Lava di Kawah GA, Ini Penjelasan PVMBG

Written By Dre@ming Post on Minggu, 10 Desember 2017 | 8:17:00 PM

Foto yang dimuat di website www.vulkane.net ini menyatakan bahwa foto itu adalah kubah lava di kawah Gunung Agung.
PVMBG Angkat Bicara Soal Beredarnya Foto Kubah Lava di Kawah Gunung Agung, Simak Fotonya

Sebuah foto yang menampilkan kubah lava di kawah sebuah gunung menjadi perbincangan di media sosial.

Pasalnya, foto yang dimuat di website www.vulkane.net itu menyatakan bahwa foto itu adalah kubah lava di kawah Gunung Agung (GA).

Website itu juga mengklaim, bahwa foto itu adalah foto pertama yang memperlihatkan kubah lava di kawah Gunung Agung.

Dijelaskan pula bahwa fotografer mengambil resiko untuk bisa mengabadikan foto tersebut.

Terkait foto tersebut, pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi membenarkan lava telah keluar ke permukaan kawah setelah erupsi 25 November 2017 lalu.

“Soal foto kawah tadi, PVMBG sudah tahu ada lava keluar ke permukaan kawah setelah erupsi 25 November lalu. Makanya kita rilis statetement itu di Press Release 1 December lalu, bahwa ada pertambahan lava di kawah,” jelas Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunungapi Wilayah Timur, PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

Ia menegaskan, PVMBG tentunya tidak akan merekomendasikan siapapun untuk naik ke puncak karena situasinya yang sangat berbahaya.

“Kalau selamat ya keberuntungan, kalau tidak selamat ya wajar. Kalau ingin tahu dongeng lava dome, lava lake dan lain-lain, nanti saya bisa ceritakan contoh-contoh yang ada di seluruh dunia,” ucap Devy.

Ia mengatakan, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa selanjutnya yang terjadi pada Gunung Agung.

“Seseorang yg sudah membaca beberapa artikel saja tidak bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi selanjutnya di Gunung Agung,” ujarnya.

Ia menegaskan, rekomendasi PVMBG sudah jelas apa potensi bahaya yang mungkin terjadi saat ini.

Hal itu bukan hasil penerawangan, tapi buah dari analisis komprehensif yang mempertimbangkan sejarah masa lalu, data masa kini, dan perbandingan contoh-contoh kasus yang ada di dunia.

“Kita tidak perlu takut dengan Gunung Agung, Gunung Agung bukanlah sosok pembunuh. Erupsi adalah siklus hidup Gunungapi, untuk kesetimbangan alam, untuk menjadi manfaat bagi manusia,” katanya

Sementara itu, pantauan PVMBG terhadap Gunung Agung periode Minggu (10/12/2017) pukul 06.00-12.00 Wita tampak terjadi 10 kali mengeluarkan hembusan

Berikut laporan lengkapnya:

VISUAL

Gunung jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500-2500 m di atas puncak kawah.

KEGEMPAAN

Hembusan

(Jumlah : 10, Amplitudo : 10-25 mm, Durasi : 60-150 detik)

Low Frekuensi

(Jumlah : 3, Amplitudo : 5-15 mm, Durasi : 40-100 detik)

Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 2 mm)

KESIMPULAN

Tingkat Aktivitas G. Agung Level IV (Awas)

REKOMENDASI

Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

Gunung Agung Lontarkan Butiran Abu Sebesar Biji Merica

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mendeteksi bahwa Gunung Agung mengeluarkan butiran abu vulkanik berbentuk bulat (lapili) sebesar biji merica yang menerjang Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12).

Hujan lapili mulai mengguyur Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Sabtu (9/12).

Hujan lapili terjadi sekitar pukul 08.30 Wita atau sesaat setelah Gunung Agung mengalami erupsi dan mengeluarkan asap pekat setinggi sekitar 2.000 meter.

Perbekel Desa Ban, Kubu, I Wayan Potag menjelaskan, hujan lapili tersebut sempat mengagetkan dirinya.

Abu vulkanik dalam bentuk butiran-butiran seperti pelor membuat atap seng di kediaman Wayan Potag bersuara.

Desa Ban berjarak 3 Km dari puncak Gunung Agung.

"Seperti hujan abu, tapi butiran abunya lebih besar. Bentuknya bulat, dan menyerupai pelor. Membuat atap seng sampai berbunyi saat dijatuhi butiran itu. Setelah diambil dan diremukkan, butiran itu jadi debu," ujar Wayan Potag

Hujan lapili tersebut berlangsung singkat atau kurang dari 1 menit, mengikuti awan.

Lapili itu lalu diambil oleh Wayan Potag, dan dimasukannya ke dalam plastik.

"Saya sudah masukkan ke dalam plastik. Nanti biar bisa dicek oleh petugas, ini sebenarnya apa," jelasnya.

Diungkapkan Wayan, hujan butiran abu itu terjadi saat dirinya sedang di rumah.

“Hujan abu tadi lumayan. Tapi tak ada korban. Warga Ban di KRB (Kawasan Rawan Bencana) III dan II sudah pergi mengungsi, jadi sepi. Yang masih bertahan adalah warga Ban di KRB I seperti Banjar Ban, Panek, dan Manik Aji," kata Wayan Potag.

"Sebelumnya, kami belum tahu butiran abu ini sama sekali. Pertanda apa ya? Kita belum tahu. Hal ini sudah disampaikan kepada pasemetonan jaga baya (pasebaya)," jelas I Wayan Potag.

Untuk diketahui, Desa Ban terdiri dari 15 banjar dinas. Dari jumlah itu, sebanyak 6 banjar dinas masuk KRB III, 6 banjar dinas masuk KRB II, dan 3 banjar dinas masuk KRB I.

Warga yang berada di KRB III dan II sudah mengungsi. Sedangkan warga di KRB I masih bertahan di rumah.

Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) I Gede Suantika menjelaskan bahwa abu yang berbentuk bulat itu disebut lapili.

“Tim kami sedang mengecek ulang ke Desa Ban," kata I Gede Suantika di Pos Pantau Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Sabtu (9/12).

Lapili adalah material vulkanik berupa abu, namun memiliki ukuran yang lebih besar.

"Kemungkinan besar itu lapili. Itu lumrah keluar saat gunung mengalami erupsi. Tapi nanti akan kita pastikan lagi, dan kita ambil sampelnya," jelas Gede Suantika.

Sementara itu, Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, butiran berwarna abu berbentuk bundar produk erupsi Gunung Agung yang jatuh di Desa Ban tersebut, dalam istilah vulkanologi dinamakan accretionary lapilli.

Lapili dapat terbentuk pada kolom erupsi karena kondisi kelembaban dan gaya elektrostatis. Kondisi yang dimaksud terjadi di saat material abu berinteraksi dengan air.

Air itu bisa air dari kawah, sehingga ini sering diasosiasikan dengan letusan freatomagmatik.

Tapi kelembaban ini juga bisa bersumber pada kondisi meteorologis. Misalnya, abu yang disemburkan Gunung Agungberinteraksi dengan awan hujan.

"Nah saat kondisi-kondisi itu terpenuhi, maka kumpulan abu tersebut menjadi berbentuk bulat. Jadi itu sebenarnya masih abu tapi terkumpul jadi berbentuk granule atau butiran," jelas Devy.

Dua Hari Berturut-turut 4 Wanita Kerauhan di Pengungsian Gunung Agung, Diduga Pertanda ini

Dua hari sejak Kamis (7/12/2017) dan Jumat (8/12/2017) pengungsi yang menetap di posko Banjar Kembang Merta, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti mengalami kerauhan.

Setiap hari ada dua orang yang mengalami kerauhan pada malam harinya.

Sekretaris Desa Candikuning I Made Mudita saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan terkait hal tersebut.

“Minggu (10/12) kami sudah berkoordinasi, dan akan melakukan upakara pakeling dan mecaru,” katanya.

Mudita memperkirakan, terjadinya kerauhan tersebut merupakan sebuah pertanda agar pihaknya menggelar upakara ritual khusus terkait keberadaan pengungsi di balai banjar.

Karena selama ini hal tersebut belum dilakukan.

“Balai banjar kan merupakan tempat berkumpul untuk bermusyawarah. Besok akan kami lakukan ritual yang tujuannya khusus terkait keberadaan pengungsi,” jelasnya.

Disebutkan, pengungsi yang kerauhan adalah perempauan.

Mudita menyebut dalam dua hari, ada empat pengungsi yang kerauhan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Gusti Made Sucita saat dihubungi mengatakan, jika pihaknya sudah berkoordinasi dengan Perbekel Desa Candikuning dan Bendesa Adat Kembang Merta terkait ritual yang akan dilakukan pada Senin (11/12/2017).

“Kami sudah rapatkan dan akan menggelar upacara ritual pada senin sekitar pukul 16.00 wita,” jelasnya.

Ia menyebutkan, untuk jumlah pengungsi yang terdata di posko Kembang Merta sebanyak 308 jiwa.

Jumlah tersebut menjadi paling banyak di Kabupaten Tabanan.

Sucita mengatakan, pengungsi yang berada di Kembang Merta tidak sempat kembali ke Karangasem karena jarak kampung halaman dekat dengan Gunung Agung.

“Total di Tabanan ada 676 jiwa pengungsi,” ujarnya.








sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Benda Purbakala Unik Berisi Serpihan Tulang dan Alat Mirip Kapak Di Temukan Di Bangli

Warga melihat sarkofagus yang ditemukan Nengah Lodra di Subak Dugul, Banjar Selat Peken, Desa Selat, Susut, Selasa (14/8). Sarkofagus yan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen