Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Gempa 5 SR Buat Warga Karangasem Panik, Dikira Gunung Meletus

Gempa 5 SR Buat Warga Karangasem Panik, Dikira Gunung Meletus

Written By Dre@ming Post on Jumat, 10 November 2017 | 2:41:00 PM

Nengah Suarjana dan istrinya, Ni Nengah Suastini , pengungsi asal Banjar Gede, Desa Muncan, Selat, Karangasem, memilih bertahan di pengungsian Gor Swecapura, Gelgel, Klungkung, Kamis (10/11/2017)
AMLAPURA – Gempa berkekuatan 5,0 skala richter (SR) mengguncang Bali yang berpusat di 11 Km timur laut Karangasem dengan kedalaman 10 Kilometer, Kamis (9/11/2017) sekitar pukul 05.54 wita.

Berapa bangunan pemerintah daerah (pemda) Karangasem dan rumah warga di bagian atap jebol, tembok retak, genting berjatuhan hingga puluhan lembar.

Seperti yang terjadi di Ruang Paripurna Lantai III, Kantor DPRD Karangasem.

Plafonnya jebol hingga lima titik setelah diguncang gempa.

Diameter kerusakan sekitar 2–3 meter per titik.

Sebagian tembok di lantai 2 dan 3 retak yang panjangnya belasan meter.

Sekretaris Dewan (Sekwan) Karangasem, Wayan Ardika menjelaskan, pegawai DPRD melihat kondisi tersebut sekitar pukul 07.30 Wita.

Bahan plafon sudah ditemukan berserakan di lantai.

"Untungnya tak ada korban jiwa saat kejadian,” kata Ardika. Ardika mengatakan, kerugian sekitar Rp 20 juta.

Ditambahkan, ruang rapat paripurna akan tetap digunakan, walaupun kondisi plafon jebol karena masih layak.

Dalam waktu dekat pihaknya segera memperbaiki kerusakan.

Sehingga anggota DPRD dan pimpinan organisasi perangkat daerah merasa nyaman saat mengikuti rapat paripurna.

Info dihiimpun di lapangan, rumah warga di Desa Culik Kecamatan Abang dan Desa Ban Kecamatan Kubu juga terkena imbas guncangan gempa.

Sebagian rumah warga retak, genting berjatuhan ke tanah, plafon jebol.

Pura serta pelinggih retak lantaran getarannya keras.

Kondisi seperti ini dialami warga di Kecamatan Bebandem, Manggis, Sidemen, Abang, Selat, Rendang, Kubu, dan Karangasem.

Dikira Gunung Meletus

Gempa sempat membuat panik warga Karangasem.

Warga yang berada di dalam rumah, di pasar, dan tempat umum lainnya berhamburan keluar gedung.

Mereka mengira gempa terjadi karena letusan Gunung Agung yang status siaga.

Rohimah, warga Kelurahan/Kecamatan Karangasem mengaku, hampir sebagian pedagang dan pembeli di Pasar Amlapura Barat dan Timur berhamburan keluar.

Warga yang berada di dalam rumah dan toko juga melakukan hal sama demi menyelamatkan dirinya.

”Lumayan besar dan lama gempanya. Pedagang dan pembeli sebagian keluar, ada juga yang masih di dalam. Warga semua khawatir, dikira Gunung Agung meletus,” kata Rohmah, sapannya.

I Wayan Eka, warga Desa Amerta Bhuana, Kecamatan Selat juga utarakan hal sama.

Sebagian warga yang berada di rumah berhamburan keluar untuk selamatkan keluarga masing-masing.

Di tempat terpisah, Nengah Suarjana dan istrinya, Ni Nengah Suastini, warga asal Banjar Gede, Desa Muncan, Selat, Karangasem, memilih bertahan di pengungsian GOR Swecapura, Gelgel, Klungkung.

Gempa tektonik lokal berkuatan 5 SR yang terjadi Kamis pagi menjadi alasan kuat mengapa keluarga tersebut lebih memilih bertahan di tenda pengungsian, dari pada pulang ke kampung.

Padahal kampung mereka tidak masuk dalam radius rawan, pasca diturunkannya aktivitas vulkanik Gunung Agung dari awas menjadi siaga.

Kepanikan sempat terjadi di pos pengungsian itu.

Pengungsi yang tinggal di dalam bangunan GOR, berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

Suasana benar-benar panik, karena gempa itu dirasakan paling keras dari pada gempa-gempa yang mereka rasakan selama ini.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menjelaskan, gempa berkekuatan 5 SR yang terjadi Kamis pagi merupakan dampak langsung dari aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Gempa tersebut termasuk dalam gempa tektonik lokal yang disebabkan oleh intrusi magmatik Gunung Agung.

Ia mengetakan, gempa tersebut adalah gempa dengan kekuatan terbesar yang direkam PVMBG sejak Gunung Agung mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

“Gempa itu merupakan gempa tektonik lokal yang sumbernya dari intrusi magmatik. Jadi magma di dalam berusaha merangsek ke permukaan, naik dengan masuk ke rongga-rongga. Dalam kondisi tertentu, proses ini dapat mengganggu sesar-sesar di sekitarnya sehingga terjadilah gempa. Sebenarnya ini kelanjutan dari gempa-gempa tetkonik lokal sebelumnya, hanya saja kekuatan paling besar adalah gempa yang tadi (kemarin, Red) pagi,” kata Devy ketika ditemui di Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa Rendang.

Meskipun gempa tektonik lokal yang terekam cukup kuat, menurutnya, hal itu tidak dapat diartikan akan mempercepat proses erupsi dari Gunung Agung.

Hingga saat ini Gunung Agung masih tetap dalam stastus level III (Siaga), dan aktivitas vulkaniknya masih terus dalam pemantauan.

Sementara berdasarkan rekaman gempa terasa beberapa hari terakhir, tim PVMBG masih memperkirakan magma rata-rata berada di kedalaman 4 sampai 5 kilometer dari kawah.

“Gempa terasa sebelumnya yang memiliki kekuatan 2,9 SR. Kami sempat rekam magma berada di kedalaman 2 sampai 3 km. Tapi magma tidak hanya di satu titik, tersebar di titik dangkal maupun dalam. Pada intinya aktivitas vulkanik Gunung Agung sampai saat ini masih tinggi dan kita masih terus monitor perkembangannya,” kata Devy.











sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen