Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Ngaturang Guru Piduka, 1963 GA Erupsi Hebat Tepat Penyajaan Galungan

Ngaturang Guru Piduka, 1963 GA Erupsi Hebat Tepat Penyajaan Galungan

Written By Dre@ming Post on Selasa, 17 Oktober 2017 | 7:38:00 AM

Citra Satelit Kawah Gunung Agung (bawah)
Khawatir Gunung Agung (GA) Kembali Meletus saat Menjelang Galungan

Warga Griana Kangin Hari Ini Ngaturang Guru Piduka.

Peristiwa meletusnya Gunung Agung di tahun 1963 silam, masih melekat diingatan beberapa warga.

Seperti yang diungkapkan Ni Ketut Merta (61), pengungsi asal Desa Griana Kangin, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem.

Setiap menjelang hari raya Galungan, wanita renta tersebut selalu terngiang peristiwa letusan yang memakan ribuan korban jiwa tersebut

Ni Ketut Merta (60) bersama 3 orang rekannya sedang mejejaitan ketika ditemui di Pos Pengungsian Banjar Lebah, Semarapura Kangin, Klungkung, Senin (16/10/2017).

Tangannya yang sudah mulai mengkriput, tampak lihai menyayat helai demi helai janur.

Ia dan rekannya ketika itu sedang mempersiapkan sarana upakara, karena warga Griana Kangin, Selasa (17/10/2017) akan melaksanakan upacara Guru Piduka di Pura Desa Setempat.

Sembari mejejaitan, Ni Ketut Merta berusaha mengingat-ingat kembali peristiwa meletusnya Gunung Agung di tahun 1963 silam.

Ketika itu usia nenek dari 2 cucu ini baru menginjak 7 tahun.

Ni Ketut Merta ingat betul, saat itu ia dan keluarganya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut hari raya Galungan.

“Saat kejadian itu, saya dan keluarga sedang mempersiapkan banten untuk menyambut hari Galungan. Saya ingat betul, karena kami biasanya saat penyajaan Galungan atau dua hari sebelum Galungan semua banten harus sudah siapkan,” jelas Ni Ketut Merta

Ia mengungkapkan, ketika itu ia dan warga di desanya sudah sangat terbiasa merasakan gempa.

Gempa keras yang semakin dirasakannya terjadi saat memasuki wuku Dungulan, atau tiga hari menjelang peraayaan Hari Raya Galugan.

Saat itu gempa benar-benar mengguncang kampung halamannya yang berjalan sekitar 9 Kilomter dari Puncak Gunung Agung.

Ia menggambarkan, dasyatnya gempa sampai membuat tanah di desanya terasa lebih lembek dari biasanya.

“Walau kami sering merasakan gempa, tapi kami tidak pernah berpikiran jika Gunung Agung akan meletus. Waktu itu tidak ada peraalatan canggih seperti sekarang, benar-benar tidak ada yang tau jika Gunung Agung akan meletus. Semua sibuk untuk persiapan hari raya Galungan,” jelas Ni Ketut Merta.

Keesokan harinya, atau tepat saat hari penyajaan atau dua hari sebelum Hari Raya Galungan hal yang tidak terduga pun terjadi.

Saat dini hari, terdengar suara dentuman disertai gemuruh yang sangat keras.

Tanah benar-benar terasa terguncang.

Warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Langit terasa pekat oleh abu, sehingga Ni Ketut Merta harus berlari dan mengungsi hingga ke Dusun Pesangkan, di Desa Duda Timur.

“Saya ingat betul, kejadian itu tepat terjadi saat penyajaan Galungan. Karena peristiwa tersebut, kami ketika itu tidak merayakan hari raya Galungan. Hari raya berubah menjadi kesedihan,ketika itu lama sekali kami mengungusi. Mungkin saja lebih dari 6 bulan,” terang Ni Ketut Merta.

Bahkan, hari-hari berikutnya gunung Agung tetap meletus.

Sepanjang hari terjadi hujan abu di wilayah Banjar Griana.

Beberapa minggu setelah letusan hebat pada penyajaan Galungan, lelaki di desanya tetap beraktivitas seperti biasa di sawah.

“Saya sangat ingat, beberapa hari setelah letusan, orangtua saya pergi ke sawah untuk menanam ketela. Mereka dihujani ujan abu. Bahkan, sampai terasa menyengat di kulit,” ujar Ni Ketut Merta.

Peristiwa meletusnya Gunung Agung tahun 1963 silam, membuat Ni Ketut Merta merasa khawatir.

Terlebih situasi saat ini tidak jauh berbeda dengan saat ini, yakni Gunung Agung menunjukan peningkatan aktivitasnya menjelang hari raya Galungan yang jatuh beberapa hari lagi.

Ni Ketut Merta pun berharap agar kejadian Gunung Agung meletus saat penyajaan Galungan di tahun 1963, tidak terulang tahun ini.

Ia justru berharap agar Gunung Agung bisa segera normal, sehingga Ia dan seluruh masyarakat di Banjar Griana dapat merayakan Hari Raya Galungan di kampung halaman.

“Sebenarnya kami sudah sangat jenuh di pengungsian. Walaupun kami disini sangat diperhatikan, tapi kami sangat ingin kembali ke rumah dan dapat kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya,” harap Ni Ketut Merta.

Sementara warga di Desa Griana , Selasa (17/10) berencana akan ngaturang Guru Piduka di Pura Puseh Desa Adat Griana Kangin.

Hal ini dilakukan karena tradisi ngusaba goreng yang rencananya akan diigelar pada Purnama sasih kelima (3/11/2017), urung untuk dilaksanakan mengingat status Gunung Agung yang masih bersatus awas.

“ Ini sebagai permohonan maaf warga, karena tidak tidak dapat melaksanakan upacara Ngusaba Goreng,” ujar Ni Ketut Merta.












sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

TNI Turun Tangan Memperketat Pos Jaga Gunung Agung

Gunung Agung AMLAPURA - Banyaknya warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) memilih balik ke rumah daripada tinggal di pengungs...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen