Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » GA Terus Menenang, Siang Ini Tidak Ada Gempa Tremor Maupun Tektonik

GA Terus Menenang, Siang Ini Tidak Ada Gempa Tremor Maupun Tektonik

Written By Dre@ming Post on Senin, 23 Oktober 2017 | 4:02:00 PM

Gambar ini diambil dari pos pantau Gunung Api Agung, di Rendang, Karangasem, Bali.
Cuaca cerah dari pos pantau Gunung Agung (GA) di Rendang Karangasem, Bali siang ini, Senin (23/10/2017) membuat gunung yang berstatus Awas ini terlihat jelas.

Hari ini pun gempa menurun drastis daripada minggu-minggu sebelumnya pasca status gunung menjadi Awas.

PVMBG merekam hanya ada 48 gempa sejak pukul 06.00 WITA sampai 12.00 WITA.

i Rinciannya sebagai berikut :

■ Vulkanik Dangkal

(Jumlah : 13, Amplitudo : 2-5 mm, Durasi : 8-11 detik)

■ Vulkanik Dalam

(Jumlah : 25, Amplitudo : 3-8 mm, S-P : 1-2 detik, Durasi : 8-30 detik)

Siang ini juga tercatat tidak ada gempa tremor maupun tektonik.

Meski periode pengamatan pagi tadi pukul 00.00 – 06.00 WITA tercatat ada 1 gempa tremor, 15 Vulkanik Dangkal dan 30 Vulkanik Dalam.

Adapun siang ini dilaporkan secara visual Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 200-400 m di atas kawah puncak.

Namun, penampakan gunung setinggi 3.142 mdpl ini agak berbeda daripada sebelumnya.

Bila biasanya asap putih tak terlalu mengepul, hari ini penampakannya berbeda seperti pada gambar. Gambar ini diambil dari pos pantau Gunung Api Agung, di Rendang, Karangasem, Bali.

Terlihat asap putih lebih tebal membumbung dari kawah Gunung Agung.

Gempa Menurun Drastis Malah Menjadi Pertanyaan

Gempa yang menurun beberapa hari terakhir menjadi pertanyaan dari banyak pihak apakah aktivitas Gunung Agung akan mereda, dan kemudian status bahayanya diturunkan.

Kepala PVMBG Kasbani menegaskan, meskipun intensitas gempa menurun drastis beberapa hari terakhir, namun tidak ada penurunan status bahaya.

Aktivitas vulkanik Gunung Agung tetap dinyatakan berada pada level IV (Awas).

ahkan ia meminta agar masyarakat terus waspada jika tiba-tiba intensitas gempa mengalami penurunan drastis.

"Meskipun kita lihat intensitas gempa menurun cukup drastis pada Jumat (20/10), yang total hanya mencapai 399 kali gempa dalam 24 jam, namun angka ini masih sangat tinggi. Kita jangan jadikan ini sebagai pedoman penurunan status, karena juga harus didukung dengan data-data lain. Penurunan gempa yang drastis bisa juga terjadi karena magma sudah tidak membentuk rekahan lagi, sehingga magma sudah lebih mudah naik ke atas. Jadi harus waspada jika tiba-tiba nanti jumlah gempa menurun sangat drastis tanpa didukung menurunnya deformasi (penggelembungan) gunung, " terang Kasbani saat memberikan keterangan pers terkait kondisi terkini Gunung Agung di Pos Pantau Agung Agung Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (21/10/2017) pagi.

Kasbani yang didampingi Kepala Bidang Mitigasi PVMBG I Gede Suantika dan Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana lalu menunjukkan data total jumlah gempa yang terjadi di Gunung Agung selama sebulan terakhir, atau semenjak ditingkatkan levelnya menjadi Awas.

Jumlahnya sangat mencengangkan. Gunung Agung selama sebulan terakhir telah mengalami gempa lebih dari 25.000 kali.

Jumlah ini, menurut Kasbani, sangat luar biasa besar jika dibandingkan gunung api-gunung api di manapun di Indonesia, bahkan di dunia.

"Gunung Agung berbeda dengan gunung api lain di Indonesia. Biasanya gunung api di Indonesia belum mencapai jumlah gempa sebanyak itu sudah mengalami letusan. Tapi Gunung Agung sangat spesial dan luar biasa, sudah didorong dan berkali-kali didobrak oleh magma, tapi masih mampu bertahan sehingga belum erupsi," jelas Kasbani.

Berdasarkan kekuatan dan intensitas gempa terasa, PVMBG membuat perkiraan atau analisis tentang berapa volume magma yang akan terlontar ke atas jika Gunung Agung mengalami erupsi/letusan.

PVMBG merekam jumlah gempa terasa tertinggi mencapai kekuatan 4,2 Skala Richter (SR) hingga 4,3 SR.

Berdasarkan analisis tersebut, diperkirakan Gunung Agung sangat memungkinkan untuk memuntahkan material letusan mencapai 18 juta meter kubik jika meletus.

Jumlah muntahan material ini sangat besar dibandingkan muntahan letusan dari gunung-gunung api Lain di Indonesia dan bahkan di dunia.

“Setiap gunung punya karakter masing-masing. Gunung Agung sebelum masuk fase Waspada, rata-rata jumlah gempanya sangat minim, yakni hanya 0 sampai 1 kali gempa dalam sebulan. Saat ini gempanya bahkan berfluktuasi di angka tinggi. Bagi kami, Gunung Agung adalah pelajaran sangat bagus bagi para ahli gunung api dunia dari sisi keilmuan,” aku Kasbani.

Selain dari sisi seismik (kegempaan), penurunan status Gunung Agung juga harus melihat data lain dari sisi deformasi, geokimia hingga pantauan seismik jarak jauh melalui satelit.

Dari segi deformasi, tiltmeter dan GPS secara konsisten menunjukkan bahwa Gunung Agung masih mengalami inflasi (penggelembungan) secara merata dan signifikan. Bahkan yang terbaru kemarin, di bagian tepi Gunung Agung mengalami deflasi (pengecilan), namun di bagian tengah hingga puncak mengalami inflasi (penggelembungan) yang cukup signifikan.

Berdasarkan alat tiltmeter dan GPS, peningkatan penggelembungan (inflasi) mencapai sekitar 6 cm.

"Untuk ukuran penggelembungan gunung, ini cukup besar. Meskipun seismik (gempa) menurun tapi secara deformasi memang sangat tidak mendukung kita untuk mengambil keputusan penurunan status gunung," tegas Kasbani.

Dari hasil analisis geokimia, hasil pengukuran gas Gunung Agung dengan metode Differential Optical Absorption Spectroscopy di jarak 12,5 Km dan 3,5 Km dari puncak Gunung Agung, tidak terdeteksi adanya kadar SO2 yang tinggi.

Namun, hal ini tidak dapat ditafsirkan sebagai rendahnya aktivitas magmatik.

Konsentrasi SO2 kemungkinan berada di bawah batas kemampuan peralatan untuk mendeteksi sejauh itu, ataupun hal lain yang menyebabkan tidak terdeteksinya gas SO2 adalah sistem Gunung Agung yang dalam keadaan tertutup (close system).

“Asap putih yang keluar dari kawah Gunung Agung sangat memungkinkan disertai dengan keluarnya gas-gas magmatik (CO2, SO2 dll). Jika dalam konsentrasi tinggi, gas-gas ini dapat tercium sangat menyengat dan membahayakan keselamatan mereka yang menghirup,” Jelas Kasbani

Berdasarkan analisis komprehensif dari berbagai metode mulai dari seismik, deformasi, geokimia hingga penginderaan jarak jauh melalui satelit, disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi.

Oleh karena itu, pihak PVMBG masih menetapkan status Gunung Agung di level IV (awas).

Penurunan status, kata Kasbani, bisa dilakukan bila kegempaan turun pelan-pelan, deformai juga turun pelan-pelan, dari visual tidak terjadi emisi gas dan suara gemuruh yang keras di kawah.

“Jika itu semua terjadi, barulah bisa jadi pedoman untuk turunkan status vulkanik gunung. Jadi status gunung bukan tergantung dari tim PVMBG, tapi informasi dari apa yang terjadi di gunung itu sendiri,” jelas Kasbani.






sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Terjadi Letusan Gunung Agung 21 November 2017 pukul 17:05 WITA

Gunung Agung Terjadi letusan Gunung Agung pada pukul 17:05 WITA. Letusan diawali oleh Gempa Tremor Low-Frequency. Asap teramati berteka...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen