Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Tak Boleh Dikubur Bersama Janin, Ini Surat Wasiat Suwitri

Tak Boleh Dikubur Bersama Janin, Ini Surat Wasiat Suwitri

Written By Dre@ming Post on Senin, 10 April 2017 | 8:59:00 AM

Surat wasiat Suwitri, Jenazah Suwitri usai diturunkan dari pohon boni.
BANGLI – Ni Nengah Suwitri (23) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri pada hari Sabtu (8/4/2017) lalu.

Suwitri diketahui sedang mengandung dengan umur kandungan 4 bulan.

Pihak keluarga telah membawa mayat Suwitri ke RSUP Sanglah untuk mengeluarkan janinnya, karena sesuai aturan desa di kediaman Suwitri tak dibolehkan jasad dikubur bersama janin di kandungannya.

Hal itu dibenarkan Kanit Reskrim Polsek Kintamani, Dewa Gde Oka.

"Sesuai dengan adat di Desa tersebut, orang yang sedang hamil tidak diperbolehkan dikubur beserta dengan janinnya, maka dari itu, pihak keluarga akan membawa ke RSUP Sanglah," jelasnya.

Berdasarkan pantauan, hingga saat ini jenazah Suwitri belum menjalani operasi untuk mengeluarkan janinnya di RSUP Sanglah.

Pihak keluarga diketahui masih mengurus persyaratan administrasi untuk melakukan operasi terhadap mayat Suwitri.

Sebelumnya, Suwitri diketahui nekat melakukan aksi bunuh diri usai ditemukan sepucuk surat bagi suaminya.

Warga sekitar pun melakukan pencarian terhadap wanita asal Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli itu.

Akhirnya Suwitri ditemukan dalam posisi gantung diri di pohon Boni, tepatnya di kebun milik Pak Sri.

Kapolsek Kintamani, Kompol Gede Sumena didampingi Kanit Reskrim Polsek Kintamani, AKP Dewa Gde Oka menjelaskan, awal mula kejadian tersebut, sekira pkl 09.00 Wita, Suwitri diketahui pergi ke kebun dengan alasan untuk mencari rumput, namun hingga sore hari, Suwitri tak kunjung pulang.

Pihak keluarga yang khawatir, meminta bantuan warga setempat untuk mencari keberadaan Suwitri.

Pada pukul 20.00 Wita, seorang warga bernama Nengah Mudiarsa (35) menemukan Suwitri sudah dalam keadaan meninggal dengan cara gantung diri di pohon Boni, yang berada di kebun milik Pak Sri dengan menggunakan tali plastik warna biru.

"Salah seorang warga bernama Mudiarsa yang ikut membantu mencari keberadaan korban, akhirnya menemukan korban, namun sudah dalam posisi meninggal dengan cara gantung diri di pohon Boni," ujar Sumena saat dikonfirmasi pada hari Minggu (9/4/2017).

Lanjutnya, mengetahui hal tersebut, Mudiarsa memberi tahu warga lainnya untuk membantu menurunkan korban dan melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kintamani.

"Warga yang mengetahui hal tersebut, selanjutnya melaporkan kepada Polsek Kintamani. Dan dari laporan warga yang masuk pada pukul 21.00 Wita, pihak kami langsung menuju ke TKP," ucap Sumena.

Dari hasil olah TKP, identifikasi, pemeriksan medis dan keterangan para saksi disimpulkan bahwa Suwitri meninggal dunia murni akibat bunuh diri dengan cara gantung diri karena ditemukan tanda-tanda umum korban meninggal gantung diri dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Hal tersebut dipertegas dari hasil pemeriksaan Tim medis polsek Kintamani, Nyoman Suwarti yang dikatakan oleh Kanit Reskrim Polsek Kintamani, Dewa Gde Oka bahwa pada leher korban didapat luka bekas jeratan, pada kemaluan juga keluar air seni, diperkirakan korban meninggal 5 jam yang lalu.

Sedangkan untuk motif kejadian, Oka mengatakan, bahwa Suwitri bunuh diri akibat permasalahan keluarga, yaitu karena korban tidak cocok dengan keluarganya dan sering terlibat cekcok.

Hal tersebut didukung dengan bukti-bukti berupa SMS dan surat wasiat yang ditinggalkan.

"Sebelum kejadian bunuh diri, korban sempat memberi tahu suaminya melalui SMS yang mengatakan, bahwa ia akan pergi jauh dan ditemukan surat wasiat di kamar korban sebagai petunjuk bahwa korban meningggal murni akibat bunuh diri," ujar Oka.

Sepucuk surat serta pesan singkat (SMS) kepada suaminya

Isi surat tersebut berbunyi:

"Tek amone cang marengin bli hidup dini. Jani cang kel mulih.
Melahang bli mejalan, nu lantang tuwuh bline.
Cang nunas sica, pang sing ade murta rauh mai ke pekarangane.
Ne pang sing nemu slamet ane ngoyong di karang ne...
Cang mepamit dini, cang kar ngayah, de sebetange cang...
Ape ye ade di kamare ker idih.
Kekelang cang ngayah...
"

(Sampai di sini saya hidup bersamamu bli. Sekarang saya akan pulang. Baik-baik bli menjalani hidup karena hidup bli masih panjang. Saya berdoa agar tidak ada Murta datang ke pekarangan rumah ini. Ini agar tidak menemukan keselamatan untuk yang tinggal di pekaranganne. Saya pamit, saya akan ngayah. Apa yang ada di kamar saya minta untuk bekal ngayah)








sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen