Pages

Rabu, 15 Februari 2017

Lewat Pewisik Pancuran Arca Naga di Carangsari Ditemukan

Lokasi penemuan pancuran berbentuk kepala naga ramai dikunjungi warga di Banjar Mekar Sari, Desa Carangsari, Petang, Badung, Selasa (14/2/2017).
MANGUPURA - Sebuah pancuran yang bentuknya menyerupai arca kepala naga menggegerkan warga Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali.

Keberadaan arca yang diperkirakan telah terkubur puluhan tahun itu diketahui lewat pawisik (petunjuk).

Awalnya, Wayan Yuliana (30) mencoba mengunggah beberapa foto dari arca yang ditemukannya itu di akun facebook miliknya (yang diberi nama “Nanoe Bme”) pada Senin (13/2/2017).

Tak diduga, tanggapan dari para facebooker membeludak hingga ribuan.

Foto-foto arca yang diposting Yuliana itu dibagikan (share) oleh netizen sehingga menjadi viral kemana-mana.

Dari pantauan di lapangan kemarin, warga terlihat berdatangan ke bagian belakang rumah Yuliana, dekat sungai kecil.

Mereka ingin melihat langsung pancuran berbentuk kepala naga itu, dan penasaran dengannya.

Arca itu terkubur di dalam tanah sekitar 1,5 meter.

Lokasi penemuan arca tampaknya bukan sebuah tempat yang benar-benar baru dijamah.

Sebab, beberapa puing dan bangunan berbahan batu paras dan bata yang terlihat kuno, berserakan di sekitar penemuan tersebut.

Bahkan ada satu pelinggih yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 2 are itu.

Lokasi itu juga sudah biasa menjadi tempat untuk menghaturkan sesajen dari keluarga Wayan Dapet (50), ayah Yuliana.

Wayan Yuliana pun terkejut saat disambangi ke rumahnya.

Alasannya, dia tak menduga foto yang di upload-nya di facebook itu akan menjadi perbincangan ramai di dunia maya, bahkan sampai dirinya didatangi wartawan untuk diwawancara.

“Sambil merenung, Senin (13/2/2017) lalu saya coba upload foto tersebut di facebook. Ternyata demikian banyak tanggapan dari masyarakat. Bahkan mereka juga mengunjungi rumah saya,” jelas Yuliana, pria yang berkulit sawo matang itu, Selasa (14/2/2017).

Yuliana menuturkan, niat untuk melakukan penggalian dan akhirnya berhasil menemukan arca naga itu berangkat dari persoalan yang dihadapi dirinya dan keluarga.

Yuliana dan anggota keluarganya berulangkali ditimpa berbagai masalah.

Yuliana sendiri mendapatkan masalah dalam urusan pekerjaan, asmara, dan bahkan mengalami kecelakaan berkali-kali.

Karena rentetan masalah yang menimpa itu, kemudian ada seorang kerabat yang menyarankan Yuliana untuk memohon petunjuk atau sering dikenal mapinunas dalam agama Hindu.

Berdasarkan saran itu, dia akhirnya mapinunas.

Ia pun merasa memperoleh petunjuk bahwa ada sesuatu di sekitar pekarangan rumahnya, tepatnya di lokasi penemuan pancuran arca naga tersebut.

“Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah mapinunas saya mendapat petunjuk bahwa ada sesuatu di halaman rumah yang lokasinya tepat pada penemuan pancuran ini,” ujarnya sembari menunjukkan pancuran berbentuk naga tersebut.

Pria yang bekerja di sebuah koperasi di Denpasar ini lantas menanyakan soal petunjuk itu kepada Wayan Dapet.

Ia juga meminta penjelasan tentang sejarah keluarga dan denah tempat tinggal keluarga.

Wayan Dapet kemudian bercerita tentang hal-hal yang diketahui dan masih bisa diingatnya saat masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar.

“Dulu sekitar tahun 1979, kata ayah saya, di lokasi rumah ini ada tiga pancuran dan telaga kembar,” kata Yuliana.

Disebutkan Wayan Dapet, pancuran itu bukanlah pancuran biasa, melainkan warisan leluhurnya yang telah terkubur puluhan tahun, bahkan diduga merupakan peninggalan purbakala.

Berdasarkan cerita ayahnya itu, Yuliana memutuskan untuk melakukan pembersihan dan penggalian di sekitar lokasi yang dimaksudkan ayahnya.

Sebelum melakukan pembersihan dan penggalian lokasi, Yuliana melakukan pembersihan diri dengan cara melukat dan menjalankan ritual.

“Meskipun belum lakukan penggalian, feeling saya mengatakan saat itu bahwa pancuran tersebut ada di sini,” terang Yuliana.

Penggalian berjalan selama dua hari, dan dikerjakan secara bergotong royong bersama keluarga dan kerabat Yuliana.

Tepat pada rerahinan Sabuh Mas atau Selasa 24 Januari 2017, pancuran arca naga itu ditemukan.

“Sesuai feeling saya, benar bahwa di titik itu ada sesuatu yang ingin saya cari, dan akhirnya ditemukan,” jelas dia.

Yuliana mengaskan, dirinya percaya dengan peninggalan leluhurnya tersebut, meskipun tidak begitu memahami urusan niskala.

“Saya percaya bahwa tempat ini akan memiliki pengaruh terhadap apa yang terjadi dan menimpa saya dan keluarga selama ini,” ucap Yuliana.

Kini, ia dan keluarganya bertekad untuk membersihkan tempat ditemukannya pancuran kepala naga itu secara keseluruhan, dan kemudian melestarikannya seperti dahulu kala.

Sementara itu, Wayan Dapet mengatakan dirinya tidak mengetahui pasti mengapa tempat tersebut bisa ada dan mengapa tempat tersebut bisa terkubur.

Kendati tidak mengetahui asal-muasal dan sejarahnya, namun Wayan Dapet dan keluarga tetap melangsungkan upacara piodalan di sebuah palinggih yang ada di sekitar tersebut.

Bangunan petirtaan itu, kata Wayan Dapet, memang sudah ada dari dulu.

Namun, arca naga baru ditemukan setelah ada pawisik lewat mimpi.

“Saya tidak begitu mengetahui tempat ini, kapan dibangunnya dan kenapa hingga bisa terkubur. Tapi di palinggih sini, saya tetap melakukan upacara piodalan setiap enam bulan sekali,” jelas Dapet.

Yang diketahui Wayan Dapet lewat penuturan yang didengarnya dari para pendahulunya, ada seorang buyutnya yang menjadi balian (orang pintar). Kemudian, si balian memanfaatkan tempat tersebut untuk melakukan pengobatan.









sumber : tribun