Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Muncul Sinar di Gegumuk Agung Areal Setra, Ngereh Tengah Malam

Muncul Sinar di Gegumuk Agung Areal Setra, Ngereh Tengah Malam

Written By Dre@ming Post on Kamis, 22 September 2016 | 7:12:00 AM

BANGLI - Versi Ida Pedanda Made Manggis, munculnya suara-suara aneh, sinar benderang, dan terjadinya kerauhan saat ritual Ngereh pertanda rencang Ida Batara sudah hadir di lokasi

Krama Desa Pakraman Bunutin, Kecamatan Bangli Nangiang Tapakan Barong di Pura Dalem Pemuhuman

Beragam kejadian aneh beraroma mistis bukan hanya terjadi sebelum krama Desa Pakraman Bunutin, Kecamatan Bangli putuskan untuk nangiang (membuat) Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda di Pura Dalem Pemuhuman. Saat digelarnya ritual Ngereh di Setra Desa Pakraman Bunutin pasca upacara Pasupati pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (17/9) tengah malam, juga terjadi peristiwa mistis. Salah satunya, mendadak muncul sinar benderang di areal setra.

Semburat cahaya benderang saat ritual Ngereh malam itu terlihat melsat dari atas menuju Gegumuk Agung di areal Setra Desa Pakraman Bunutin, di mana Tapakan Ida Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda disetanakan. Menurut kesaksian sejumlah krama, munculnya sinar tersebut terjadi memasuki dinihari sekitar pukul 00.05 Wita.

Setelah melesatnya semburat sinar yang kemudian jatuh menukik di Gegumuk Agung arel setra, Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda terlihat masolah (bermain). Sedangkan lokasi sekitar Gegumuk Agung pun terlihat terang benderang. Padahal, seharusnya malam itu gelap gulita, karena memang tidak dibolehkan ada lampu peneran-gan saat Ngereh. “Semua lampu dipadamkan saat ritual Ngereh,” ungkap salah satu prajuru Desa Pakraman Bunutin, I Putu Setiabudi, Minggu (18/9).

Saat itu, lanjut Putu Setiabudi, Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Ratu Rangda juga tetap distanakan sementara di Gegumuk Agung areal setra. Sama sekali tidak ada krama yang nyolahang (memainkan) tapakan selama prosesi Ngereh. Namun, tapakan justru terlihat masolah setelah ada sinar melesat.

Selain menyaksikan Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda masolah, krama setempat juga sayup-sayup mendengar suara kuuk.., kuuk.., kuuk. Habis itu, terjadi peristiwa niskala di mana sejumlah krama pangempon Pura Dalem Pemuhuman kerauhan (kesurupan) massal di setra. Pamangku Pura Prajapati Desa Pakraman Bunutin, Jro Mangku Nyoman Sujana, juga ikut kerauhan.

Prosesi Ngereh Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda itu sendiri diawali dengan upacara Atur Piuning di Pura Dalem Pemuhuman. Setelah prosesi lengkap, barulah Tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda kapundut (diiring) menuju Setra Desa Pakraman Bunutin yang lokasinya menyatu dengan Pura Prajati, Sabtu malam pukul 23.00 Wita. Kemudian, ritual Ngereh dimulai tepat tengah malam pukul 24.00 Wita.

Bertindak sebagai yajmana karya adalah Ida Pedanda Made Manggis, sulinggih dari Griya Gaga Siladan, Desa Pakraman Tamanbali, Kecamatan Bangli. Menurut Ida Pedanda Made Manggis, upacara Ngereh merupakan salah satu rangkaian prosesi setiap nangiang Tapakan Barong maupun Rangda. “Tujuannya, mohon panugrahan (anugerah Ida Batara, Red),” ungkap Ida Pedanda Manggis, Rabu (21/9).

Ida Pedanda Manggis menjelaskan, saat ritual Ngereh, Tapakan Ratu Gede Barong Ket mendapat waranugraha dari Sanghyang Banaspatiraja, sementara Tapakan Rangda mendapatkan waranugraha dari Ida Batari Durga. Keduanya disimboliskan dari lokasi dan tempat nunas taru (kayu) yang dipakai untuk membuat tapel Barong dan Rangda.

Ritual Ngereh harus dilaksanakan pas tengah malam, karena bermakna filosofis logis. Menurut Ida Pedanda Manggis, ibarat bersemadi (bertapa), tentu membutuhkan suasana hening, sehingga bisa fokus. Nah, waktu yang tepat untuk suasana hening adalah tengah malam. “Secara tatwa, itu maknanya,” jelas sulinggih yang memimpin langsung ritual Ngereh di Setra Desa Pakraman Bunutin ini.

Ida Pedanda Manggis menyebutkan, bisa saja muncul kejadian-kejadian beraorama mistis saat ritual Ngereh. Peristiwa mistus yang sering terjadi saat Ngereh, antara lain, kerauhan, munculnya sinar, dan terdengar suara aneh. “Itu tandanya rencang (pengiring Ida Batara) telah hadir. Jika rencangnya sudah hadir, Ida Batara tentunya telah nyeneng (hadir) pula,” jelas Ida Pedanda Manggis.

Desa Pakraman Bunutin sendiri putuskan nangiang tapakan Ratu Gede Barong Ket dan Tapakan Rangda, menyusul terjadinya serentetan peristiwa aneh. Di antaranya, terjadi kabrebehan (musibah) yang ditandai meninggalnya beberapa warga secara beruntun dalam rentang waktu 10 hari pasca prosesi Ngaben Massal, September 2015 silam.

Kejadian aneh lainnya, pohon Beringin keramat di areal Setra Desa Pakraman Bunutin juga mendadak terbakar, lalu roboh. Habis itu, muncul sipta (petunjuk niskala) lainnya di mana Gegumuk Ageng (gundukan tanah ukuran besar) di areal setra mendadak meledak. Sipta meledaknya Gegumuk Ageng tersebut diterima melalui mimpi Pamangku Pura Prajapati Desa Pakraman Bunutin, Jro Mangku Nyoman Sujana. Bahkan, mimpi yang sama terulang sampai tiga kali.











sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen