Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Pura Dalem Bahkan Digeser, Takut Kesaktian Dadong Guliang

Pura Dalem Bahkan Digeser, Takut Kesaktian Dadong Guliang

Written By Dre@ming Post on Jumat, 05 Agustus 2016 | 6:44:00 AM

 Kuburan Dadong Guliang di Banjar Sukaduka Hyangapi, Desa Pakraman Akah, Klungkung. Jika ada bayi yang menangis tiada henti, orangtuanya kerap mencolek tanah Kuburan Dadong Guliang. Begitu tanah kuburan dioleskan ke dahi si bayi, spontan tangisnya akan reda.
SEMARAPURA - Tak banyak orang tahu, ada sebuah kuburan keramat yang luasnya hanya 3 meter x 3 meter di tegalan milik keluarga I Ketut Konten di Banjar Sukaduka Hyangapi, Desa Pakraman Akah, Kecamatan Klungkung. Itulah Kuburan Dadong (Nenek) Guliang, pere-mpuan yang semasa hidupnya dikenal sakti mandraguna. Takut oleh kesaktian Dadong Guliang, krama terpaksa mengungsi ke desa lain, bahkan sampai memindahkan lokasi Pura Dalem.

Tidak ada yang tahu pasti, kapan Dadong Guliang meninggal dunia dan dibuatkan kuburan seluas 3 meter x 3 meter. Yang pasti, di areal Kuburan Dadong Guliang juga dibangun sebuah tugu untuk menghaturkan persembahan berupa banten sodan, banten saiban, dan sebagainya.

Menurut Pamangku Pura Puseh Desa Pakaraman Akah, Jro Mangku Wayan Diasna, Kuburan Dadong Guliang dikenal sangat angker. Selain itu, Kuburan Dadong Guliang juga diyakini memiliki dimensi niskala yang bertuah untuk berbagai hal. Tak heran jika sejumlah public figure pernah datang ke kuburan ini. Bahkan, presenter dan pelawak kondang Tukul Arwana juga pernah melakukan syuting di Kuburan Guliang.

Jro Mangku Diasna mengisahkan, Dadong Guliang merupakan perempuan asal Desa Guliang, Bangli. Karena ada persoalan di tempat asalnya, Dadong Guliang memilih berkelana menuju sebuah lahan kosong ke Klungkung yang kini disebut Banjar Sukaduka Hyangapi, Desa Akah.

Ternyata, kedatangan Dadong Guliang membawa bencana bagi warga setempat, karena kekutatan yang dimilikinya. Dadong Guliang memiliki kesaktian atau black magic yang tidak tertandingi. Dengan kesaktiannya, Dadong Guliang berhasil menaklukkan tokoh-tokoh di Desa Akah.

“Tidak ada yang tahu persis siapa nama asli Dadong Guliang. Yang jelas, dia berasal dari kawasan Guliang,Bangli hingga warga di sini menyebutnya Dadong Guliang. Berdasarkan penuturan para tetua, kedatangan Dadong Guluang ke Desa Akah sudah terjadi ratusan tahun silam,” ujar Jro Mangku Diasna saat ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Tak lama setelah kedatangannya ke Desa Akah, kata Jro Mangku Diasna, berita soal kesaktian Dadong Guliang tersebar luas ke berbagai kawasan. Ketakutan paling parah dirasakan warga yang bermukim di sekitar tempat tinggal Dadong Guliang di Banjar Sukaduka Hyangapi, Desa Akah.

Saking takutnya, penduduk sekitar kemudian pilih mengungsi dan menyebar ke sejumlah banjar di Desa Akah, yakni Banjar Sangging, Banjar Bungaya, Banjar Tengah, Banjar Pekandelan, Banjar Gede, dan Banjar Gingsir. “Pemukiman warga yang mengungsi tersebut berjarak sekitar 1,5 kilometer arah barat Desa Akah yang dipisahkan Tukad Kunyit,” jelas Jro Mangku Diasna.

Bukan hanya mengungsi, warga setempat juga sampai memindahkan Pura Dalem ke Banjar Pekandelan, Desa Pakraman Akah. Sedangkan bekas lokasi Pura Dalem yang lama kini sudah berubah menjadi carik (sawah), yang disebut Carik Dalem. Demikian pula bekas pemukiman warga seebelum ditinggal menungsi karena kesaktian Dadong Guliang, kini sudah berubah menjadi carik. Tempat itu dinamai Carik Paumahan, karena sempat ada rumah di sana.

Seiring berjalnnya waktu, kata Jro Mangku Diasna, ajal pun menjemput Dadong Guliang yang sakti mandraguna. Jenazah Dadong Guliang langsung dikuburkan di tegalan kawasan Banjar Sukad Hyangapi, tepatnya di tegalan milik keluarga Ketut Konten. “Kisah ini juga tertulis pada sebuah lontar yang mengisahkan asal mula Desa Pakaman Akah,” papar Jro Mangku Diasna.

Setelah meninggalnya Dadong Guliang, kata Jro Mangku Diasnya, warga yang se-belumnya mengungsi ke wewidangan Desa Pakraman Akah akhirnya kembali ke wilayahnya masing-masing. Mereka pun kembali bermukim di wilayah bekas kekuasaan Dadong Guliang.

Dalam perkembangan, jumlah penduduk dari kelompok warga yang sempat mengungsi ini kian bertambah. Karena jumlahnya banyak, warga setempat kemudian mendirkan Banjar Sukaduka Hyangapi, yang secara administratif masuk wilayah Desa Pakraman Akah. “Kata Hyangapi sendiri memiliki makna bahwa di tempat itu pernah muncul kekuatan niskala berupa api yang dahsyat,” terang Jro Mangku Diasna.

Untuk mencegah kekutan niskala kembali masuk ke Banjar Sukaduka Hyangapi, maka pihak adat memasang sejumlah penyengker niskala dengan sarana meletakkan sejumlah batu di berbagai titik. Batu-batu tersebut dipasang sedemikian rupa, hingga posisinya mengelilingi wewidangan Desa Pakraman Akah. “Sampai saat ini batu-batu itu masih ada,” katanya.

Kuburan Dadong Guliang sendiri diyakini memiliki berbagai dimensi niskala. Jika ada bayi yang menangis tiada henti-hentinya, maka orangtua si bayi biasanya mencolek tanah Kuburan Dadong Guliang. Begitu tanah kuburan dioleskan ke dahi si bayi, biasanya spontan tangisnya akan reda.

Menurut Jro Mangku Diasna, banyak warga datang ke Kuburan Dadong Guliang untuk memohon keturunan. Hanya saja, tidak semua mereka yang mohon berkah keturunan dio kuburan ini terkabulkan permohonannya. Bukan hanya itu, tak sedikit pula warga yang datang buat mohon nomer togel di Kuburan Dadong Guliang. “Tapi, berdasarkan pengamanan saya, warga yang datang ke Kuburan Dadong Guliang lebih banyak memohon kerahayuan (keselamatan) dengan sembahyang,” katanya.

Sementara itu, menantu dari I Ketut Konteng, pemilik tegalan di mana Kuburan Dadong Guliang, yakni Ni Wayan Sukerti, mengaku setiap pagi pihaknya rutin menghaturkan banten sodan di areal kuburan tersebut. Menurut Wayan Sukerti, ritual tersebut dihaturkan atas petunjuk orang pintar. “Sejauh ini tidak pernah ada ganguan apa-apa di pekarangan rumah kami,” cerita Wayan Sukerti.








sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen