Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Bayar Kaul Lidah Manusia, Kerangka Jro Wayan Kulit di Tegalan ‘Angker’ Diaben

Bayar Kaul Lidah Manusia, Kerangka Jro Wayan Kulit di Tegalan ‘Angker’ Diaben

Written By Dre@ming Post on Senin, 22 Agustus 2016 | 8:02:00 AM

Petulangan lembu emas yang digunakan saat pengabenan Jro Wayan Kulit yang merupakan leluhur Banjar Minggir, Desa Batununggul, Nusa Penida.
NUSA PENIDA- Penduduk Banjar Minggir, Desa Pakraman Ketapang Paibon Klod, Desa Batununggul, Nusa Penida akhirnya melakukan pengabenan terhadap leluhurnya, Jero Wayan Kulit, Sabtu (20/8/2016)

Kerangka Jero Wayan Kulit diaben setelah melalui paruman adat dan dengan perencanaan yang matang.

Seperti diketahui, sudah beratus-ratus tahun lamanya warga setempat tidak menyadari keberadaan kuburan leluhur Jero Wayan Kulit di sebuah tegalan (lahan) kosong.

"Para tetua sebelum melaksanakan upacara ngaben, langsung bertanya ke orang pintar. Terungkap saat upacara ngaben, prati sentanana (keturunan) Jro Wayan Kulit membayar kaul blayag awakul, petulangan berupa lembu berwarna emas. Dari pemikiran para leluhur kami, bahwa blayag yang dimaksud merupakan lidah manusia," terang Ketut Suartina yang juga ketua panitia pengabenan Jro Wayan Kulit.

Setelah minta petunjuk kepada Sulinggih Ida Dukuh Acarya Daksa, blayag awakul yang diminta, bisa diganti dengan banten pemegat lan saur suara dan kunyit yang dibungkus emas sebanyak awakul.

Uniknya, petulangan saat ngaben Jro Wayan Kulit ini menggunakan lembu emas.

Didalam lembu tersebut juga berisi ikatan kawat emas sebanyak lima titik, yakni di tanduk dan sudut-sudutnya berisi emas dengan total 130 gram.

"Kami berharap melalui upacara ngaben, leluhur kami dapat tempat yang baik. Mudah-mudahan prati sentana (keturunan) beliau di Banjar Minggir diberikan jalan yang baik dan rahayu, " harap Ketut Suartina.

Kisah perjalanan leluhur Banjar Minggir bernama Jro Wayan Kulit, seperti diceritakan Ketut Suartina berawal dari ratusan tahun lalu.

Berdasarkan sumber lontar dari desa setempat, disebutkan Jro Wayan Kulit hijrah ke Banjar Minggir karena berselisih paham dengan saudaranya.

Perselisihan ini memicu gejolak emosi yang tidak bisa dibendung oleh Jro Wayan Kulit dan memutuskan pindah dari wilayah asalnya dan berjalan mengarah ke timur, hingga sampai disebuah wilayah di ujung selatan Nusa Penida bernama Banjar Minggir, Desa Batununggul.

Tidak ada yang tahu kapan dan alasan Jro Wayan Kulit meninggal.

Ngaben Jro Wayan Kulit sempat menarik perhatian rombongan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta ketika berkunjung ke Nusa Penida.

Rombongan Bupati Klungkung akhirnya menyempatkan diri untuk hadir ke Banjar Minggir, Batununggul sehari sebelum acara puncak pengabenan tersebut.

Diliang Lahat Jero Wayan Kulit Ditemukan Taring Babi, Kerang dan Cawang Klasik

Selama ini warga Banjar Minggir tak menyangka tegalan kosong di wilayah itu terdapat kuburan yang dipercayai merupakan tempat jasad leluhurnya Jero Wayan Kulit.

Di tegalan tersebut ditemukan kerangka jenazah manusia.

Gigi dari jenazah tersebut diketahui masih utuh dan tengkorak jenazah menghadap ke barat.

Jenazah tersebut juga terkubur bersama taring babi, kerang dan cawang klasik.

Keanehan demi keanehan telah dirasakan warga sebelum penemuan kerangka jasad itu.

Lahan kosong atau tegalan seluas sekitar 25 are itu dikenal angker.

Menurut penuturan warga setempat, aura mistik dan angker sangat terasa ketika memasuki lahan kosong tersebut.

"Tidak ada warga yang berani menggarap tegalan tersebut. Setiap ada warga yang masuk ke tegalan itu, pasti mengaku takut dan bulu kuduknya berdiri," ujar Ketut Suartina, warga Banjar Minggir, Desa Pakraman Ketapang Paibon Klod, Desa Batununggul, Nusa Penida.

Pernah suatu ketika, lahan kosong tersebut akan digarap oleh petani sekitar dengan menanaminya tumbuhan palawija.

Namun, tidak satupun tumbuhan palawija yang dapat tumbuh di lahan kosong itu.

Warga juga menemukan tumpukan batu yang tampak seperti suatu penanda.

Keanehan ini pun terus berlanjut, hingga akhirnya ada warga setempat yang mengalami mimpi jika lahan tersebut adalah kuburan.

"Pada jaman dahulu, tidak ada setra umum. Melainkan dikuburkan di tegalan atau bahasa Nusa Penida disebut 'Mel'. Setelah menerima informasi dari warga terkait mimpi dan hal-hal aneh di tegalan tersebut, para penglingsir menanyakan hal tersebut ke Ida Pandita Dukuh Acahrya Daksa dari Geria Dukuh Samiaga, Penatih, Denpasar. Dari konsultasi tersebut, disebutkan jika di tegalan tersebut terkubur leluhur Banjar Minggir yang meminta untuk diaben," jelas Ketut Suartina.

Setelah merujuk dari berbagai sumber lontar di desa setempat, warga menduga kuat jika di tegalan tersebut memang terkubur jenazah Jero Wayan Kulit yang sudah berabad-abad lamanya.

Pasca meminta petunjuk, dilakukanlah penggalian di tegalan yang diduga kuburan dari Jero Wayan Kulit.

Dugaan warga pun terbukti.

Di tegalan tersebut ditemukan kerangka jenazah manusia.

Gigi dari jenazah tersebut diketahui masih utuh dan tengkorak jenazah menghadap ke barat.

Jenazah tersebut juga terkubur bersama taring babi, kerang dan cawang klasik.

Warga pun menyimpulkan jika kerangka tersebut merupakan jenazah leluhur mereka.








sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen