Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Bupati Tabanan Dari Pura, Preman, hingga Pengukir Sejarah

Bupati Tabanan Dari Pura, Preman, hingga Pengukir Sejarah

Written By Dre@ming Post on Selasa, 16 Februari 2016 | 9:56:00 AM

Sebagai Bupati Perempuan, Ni Putu Eka Wiryastuti diminta percantik wajah Kota Tabanan dengan membangun taman
TABANAN - Ni Putu Eka Wiryastuti akan dilantik kembali sebagai Bupati Tabanan 2016-2021 (periode kedua), 17 Februari 2016 lusa. Dia merupakan figur ke-10 yang memimpin rakyat Tabanan selama 74 tahun terakhir sejak 1942. Sebelum Srikandi PDIP ini ukir sejarah sebagai ‘Bupati Wanita Pertama di Bali’ saat dilantik jadi Bupati Tabanan 2010-2015 lalu, ada 9 figur yang pernah memimpin Gumi Lumbung Beras. Termasuk di antaranya I Gusti Made Debot, yang dikenal sebagai ‘Bupati Pura’ karena getol beryadnya untuk pembangunan pura-pura di Tananan.

Sebelum Putu Eka Wiryastuti naik ke kursi Bupati Tabanan 2010-2015 (periode pertama), daerah yang dikenal memiliki aura politik ‘panas’ ini selalu dipimpin figur laki-laki. Bahkan, tiga tentara sempat didapuk memimpin Tabanan secara bergantian di era Orde Baru.

Tjokorda Ngurah Gede merupakan tokoh pertama yang memimpin Tabanan ketika Proklamasi Kemerdekaan RI belum diproklamirkan Soekarno-Hatta. Tokoh asal Puri Gede Tabanan ini memimpin Tabanan selama 10 tahun, periode 1942-1952. Waktu itu, istilahnya bukan Bupati Tabanan.

Di era kepemimpinan Tjok Ngurah Gede ini, Tabanan masih berjuang keras untuk kembalikan tanah-tanah kerajaan yang sebelumnya dirampas pemerintah kolonial Belanda. Setelah berlalunya era Tjok Ngurah Gede, muncul I Nyoman Oka sebagai pemimpin Tabanan periode 1953-1955. Tak ada catatan prestasi yang menonjol di era kepemimpinan Nyoman Oka, tokoh sipil asal Singaraja, Buleleng.

Setelah Nyoman Oka lengser, tampuk kepemimpinan dilanjut Ida Bagus Puja sebagai Bupati Tabanan periode 1955-1967. Selama 12 tahun memimpin Tabanan, tokoh sipil asal Gianyar ini dikenal getol libatkan para siswa SD, SMP, SMA untuk pawai obor setiap perayaan 17 Agustuis-an. Karenanya, Tabanan pun jadi bak lautan obor.

Kemudian, muncul I Gusti Made Debot sebagai Bupati Tabanan 1967-1973. Tokoh sipil asal Jero Timpag, Banjar Jambe Belodan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan ini dikenal sebagai ‘Bupati Pura’. Kenapa? Pasalnya, Gusti Made Debot selalu suntikkan semangat dan bantuan kepada krama yang mau membangun pura. Dia getol beryadnya untuk pembangunan pura-pura di Tabanan.

“Dia (Gusti Made Debot) sampai dapat julukan ‘Bupati Pura’, karena getol beryadnya di pura-pura,” ungkap pensiunan guru sejarah yang juga seniman dari Jero Tengah, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Minggu (14/2). Selain itu, Gusti Made Debot juga dikenal sebagai Bupati Tabanan yang mempopulerkan panganjali umat Hindu ‘Om Swastyastu’.

Setelah Gusti Made Debot lengser, tampil I Wayan Staat Darmanaba menggantikannya sebagai Bupati Tabanan 1973-1979. Pada masa pemerintahan tokoh asal Singaraja, Buleleng inilah Kantor Bupati Tabanan sekarang dibangun mulai 1975. Semula, Kantor Bupati Tabanan berlokasi di sebelah barat Pasar Tua Tabanan, yang sekarang jadi Kantor BPD Bali Cabang Tabanan. Kemudian, Bupati Staat Darmanaba memindahkan dan bangun gedung Kantor Bupati ke Alun-alun Timur Kota Tabanan, yang berlokasi di sebelah selatan RSUD Tabanan.

Setelah berlalunya era Bupati Staat Darmanaba, Tabanan justru sedmpat silih berganti dipimpin perwira TNI AD. Awalnya, muncul nama Soegianto, perwira TNI asal Purwokerto, Jawa Tengah sebagai Bupati Tabanan 1979-1989. Ada hal bertolak belakang dalam pemerintahan Bupati Soegianto. Krama Tabanan kala itu berbondong-bondong meninggalkan kampung halamannya untuk transmigrasi ke Pulau Sumatra dan Sulawesi. Namun, Bupati Soegianto mencatat sukses tersediri. Sebab, di era kepemimpinannya, Tabanan mencatat prestasi bidang pertanian hingga dapat julukan sebagai ‘Daerah Lumbung Beras Pulau Dewata’.

Pasca berlalunya Soegianto, muncul Brigjen TNI (Purn) I Ketut Sundria menjadi Bupati Tabanan 1989-1994. Perwira TNI asal Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung yang kala itu juga menjabat Ketua DPD I Golkar Bali, dikenal sebagai Bupati yang sangat tegas. Bahkan, Bupati Sundria tak segan memukul pegawai yang bersalah atau malah kerja.

Di masa pemerintahan Bupati Sundria, Tabanan berprestasi tingkat nasional di bidang kebersihan, hingga tiap tahun jadi langganan peraih tropi Adipura, bahkan Adipura Kencana. Bupati Sundria kemudian digantikan I Komang Wijana, Bupati Tabanan 1994-1999 yang juga dari kalangan TNI. Di era kepemimpinan perwira TNI asal Karangasem ini, tidak ada prestasi yang menonjol, namun Tabanan berhasil mempertahankan tropi Adipura.

Pasca lengsernya Bupati Wijaya, muncul Nyoman Adi Wiryatama sebagai Bupati Tabanan pertama era reformasi. Politisi PDIP asal Banjar Tegeh, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti ini selama dua periode menjadi Bupati Tabanan (2000-2005 dan 2005-2010). Pada periode pertama, Adi Wiryatama dipilih melalui DPRD Tabanan. Sedangkan untuk periode kedua, Adi Wiryatama terpilih melalui Pilkada Tabanan 2005.

Adi Wiryatama dikenal sebagai ‘Bupati Preman’. Mantan Sekretaris DPD PDIP Bali yang kini menjabat Ketua DPRD Bali 2014-2019 ini juga dikenang, karena dulu getol memanfaatkan rumah dinas sebagai tempat pashantian setiap malam Minggu. Itulah bagian untuk membuat rakyat semakin dengan Bupatinya.

Di era Bupati Adi Wiryatama, ada 6 kelurahan yang dilikuidasi dan diubah menjadi desa dinas, yakni Kelurahan Banjar Anyar (di Kecamatan Kediri), Kelurahan Denbantas (Kecamatan Tabanan), Kelurahan Delod Peken (Kecamatan Tabanan), Kelurahan Dajan Peken (Kecamatan Tabanan), Kelurahan Dauh Peken (Kecamatan Tabanan), dan Kelurahan Samsam (Kecamatan Kerambitan). Adi Wiryatama juga ukir prestasi dan tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) atas prakarsa pementasan Cak Kolosal 5.000 Penari di DTW Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri.

Setelah Adi Wiryatama lengser tahun 2010, giliran putri kandungnya naik ke kursi Bupati Tabanan 2010-2005, berpaket dengan I Komang Gede Sanjaya di posisi Wakil Bupati Tabanan. Bahkan, pasangan Eka Wiryastuti-Sanjaya terpilih untuk periode kedua sebagai Bupati Tabanan 2016-2021 melalui Pilkada 2015.

Eka Wiryastuti pun mengukir sejarah sebagai Bupati Wanita Pertama di Bali. Dia terpilih dengan pasangan yang sama melalui Pilkada Tabanan 2010 dan pilkada Tabanan 2015. Pada peride pertama kepemimponannya sebagai Bupati Tabanan 2010-2015, Eka Wiryastuti getol mempersembahkan penghargaan Muri setiaap tahun. Penghargaan Muri yang diukir saat puncak perayaan HUT Kota Tabanan ini berkat beragam kegiatan bersifat massal yang digelarnya, mulai dari sunatan massal, pap smear, joged bumbung, hingga nyangrai kopi massal.

Selama periode pertama (2010-2015), Bupati Eka Wiryastuti total pesrembahkan 18 penghargaan Muri untuk Tabanan. Selain Muri, Eka Wiryastuti juga getol membangun patung. Mulai dari mengganti patung Sagung Wah di titik nol Kota Tabanan, ganti patung Oleg di Jalan Pahlawan Tabanan berujung temuan BPK, hingga yang paling fenomenal membongkar patung Wisnu Murti di Catus Pata Kediri dan menggantinya dengan patung Bung Karno.

Kini, Eka Wiryastuti terpilih kembali menjadi Bupati Tabanan 2016-2021. Raja Tabanan, Ida Tjokorda Anglurah Tabanan, berharap dalam periode kedua kepemimpinannya, Eka Wiryastuti-Sanjaya mampu penuhi harapan masyarakat berupa infrastruktur jalan. Bupati Eka Wiryastuti juga diminta untuk lebih konsisten beri perhatian ke pertanian. “Termasuk melindungi pertanian agar tak beralih fungsi ke industri,” harap Ida Tjokotrda Anglurah Tabanan.

Bupati Eka Wiryastuti juga diharapkan beri perhatian kepada seniman-seniman di Tabanan agar mereka bisa berekspresi dan berkresi untuk harumkan nama daerah. Sebagai Bupati Perempuan, Eka Wiryastuti juga diminta mempercantik wajah Kota Tabanan dengan membuat taman. Ida Tjokorda Anglurah mencontohkan jangan membangun seperti Taman Kota dipenuhi batu.

Sementara itu, tokoh perempuan, Sri Malini, berharap Bupati Eka Wiryastuti mampu katrol prestasi Tabanan di bidang pendidikan. Para siswa Tabanan diharapkan dimotivasi agar jadi duta Bali dalam lomba akademik dan non akademik tingkat nasional maupun internasional. “Prestasi siswa Tabanan pada periode pertama kepemimpinan Eka Jaya sudah bagus, menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional. Pada periode kedua, agar lebih meningkat,” harap Sri Malini.

Sebaliknya, anggota Dewan Pendidikan Tabanan yang juga pengurus Panti Asuhan SOS Desa Taruna, AA Made Sueca, berharap Bupati Eka Wiryastuti bisa bebaskan siswa di Tabanan dari SPP, utamanya tingkat SMA/SMK. Di samping itu, siswa miskin agar dibantu melanjutkan sekolah sehingga bisa terbebas dari kemiskinan. “Siswa Tabanan harus bebas SPP dan penerimaan siswa baru agar sesuai persyaratan,” harap Agung Sueca.









sumber : nusabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen