Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » 5 Buruh Mati Tak Wajar, Penghuni Niskala Minta Tebusan 11 Nyawa

5 Buruh Mati Tak Wajar, Penghuni Niskala Minta Tebusan 11 Nyawa

Written By Dre@ming Post on Kamis, 21 Januari 2016 | 8:09:00 AM

 Bendungan Titab yang berlokasi di perbatasan Kecamatan Seririt dan Kecamatan Busungbiu, Buleleng. –LILIK SURYA ARIANISaat digelar upacara pakelem di Bendungan Titab, sejumlah krama mendadak kerauhan. Saat itulah, penhuni gaib kawasan bicara melalui raga krama kerauhan bahwa banyak keluarganya hilang karena proyek bendungan, hingga mereka minta tebusan 11 nyawa
SINGARAJA - Inilah sepenggal kisah mistik di balik megahnya proyek Bendungan Titab di kawasan Buleleng Barat, yang dicanangkan akan beroperasi secara penuh setelah terisi 12 juta meter kubik air, Maret 2016 mendatang. Selama 5 tahun proses pengerjaan bendungan sejak 2010 silam, banyak terjadi peristiwa mistik yang sulit dicerna akal sehat. Misalnya, mesin lampu dan Truk hidup sendiri hingga 5 buruh proyek meninggal tak wajar. Konon, penghguni alam niskala kawasan proyek minta tebusan 11 nyawa manusia.

Kisah-kisah mistik ini diungkapkan Ni Made Niasih, 45, warga Desa Ularan, Kecamatan Seririt, yang kesehariannya jualan makanan dan minuman di seputar Bendungan Titab, terjun ke lokasi menyusul peristiwa ledakan dalam bendungan tersebut, Minggu (17/1) lalu. Kebetulan, ada sekitar 20 buruh proyek asal Jawa yang dulu tinggal kos di rumah Made Niasih selama pengerjaan Bendungan Titab. Para buruh itulah yang menceritakan segala keanehan di seputar Bendungan Titab kepada Made Niasih.

Made Niasih mengatakan, para buruh proyek kala itu sering curhat kepada dirinya soal peristiwa-peristiwa mistik yang dialaminya di lokasi Bendungan Titab. “Saya tahu persis keluhan-keluhan 20 buruh proyek tersebut, karena mereka kos di rumah saya lantaran bedeng yang dibangun di areal bendungan sudah penuh,” ungkap Made Niasih.

Salah satu peristiwa mistik yang membuat para buruh proyek ketakutan, kata Niasih, adalah keanehan Truk yang diparkir di areal Bendungan Titab. Lampu dan mesin Truk kerap hidup sendiri, padahal tiada orang di dalamnya. “Peristiwa aneh soal Truk hidup sendiri ini biasanya terjadi di malam hari,” kenang perempuan berusia 48 tahun ini. Salah seorang buruh proyek, Agus, sempat lari tunggang langgang ketika mengecek Truk yang hidup sendiri itu. Selain itu, kata Niasih, para buruh prouyek juga sering mendengar suara-suara tangisan saat malam hari ketika mereka masih tinggal di bedeng-bedeng areal Bendungan Titab.

Cerita mistik lainnya, lanjut Nariasih, adalah peristiwa kematian tidak wajar yang menimpa 5 buruh proyek. “Saya tidak hafal nama-nama buruh proyek yang meninggal dan tanggal kejadiannya. Tapi, saya masih ingat betul kronologis kejadiannya,” terang Niasih.

Menurut Niasih, salah seorang buruh proyek tewas mengenaskan akibat terlindas Truk di jalan tanjakan areal Bendungan Titab. Saat itu, korban bersama satu buruh lainnya bermaksud membawa bahan material bagunan ke bagian atas proyek bendungan. Namun, di tengah perjalanan menanjak, mesin Truk mendadak mati, sehingga korban harus turun mengganjal ban agar kendaraan tidak ngatret.

Sayangnya, kata Niasih, setelah memastikan ban Truk terganjal dengan sebongkah batu, korban bermaksud menyampaikan kepada sopir bahwa segalanya beres. Namun, baru saja buruh ini bangun dari jongkok usai pasang pengganjal ban, Truk justru bergerak mundur dan melindas korban hingga tewas.

Dalam waktu yang berbeda, seorang buruh proyek tiba-tiba ditemukan tewas di dalam Truk saat istirahat makan siang. Awalnya, buruh proyek asal Jawa ini sedang istirahat makan siang pukul 12.00 Wita. Setelah makan siang, korban memutuskan untuk beristirahat dan tidur di dalam Truk.

Namun, korban tidak kunjung keluar dari dalam Truk hingga petang pukul 18.00 Wita. “Setelah dicek oleh temannya, ternyata buruh ini didapati sudah meninggal tanpa sebab di dalam Truk. Padahal, sebelumnya korban sehat-sehat saja,” cerita Niasih.

Sementara, satu buruh proyek lainnya tewas hanyut di sungai sekitar Bendungan Titab saat mancing malam hari. Saat itu, airan air Tukad (Sungai) Saba---yang kini dimanfaatkan untuk mengairi Bendungan Titab---sebetulnya tidak terlalu deras. Tapi, korban tiba-tiba hanyut dan terseret arus sejauh 700 meter, diduga karena terpeleset saat mancing.

Sederet peristiwa mistik ini dikait-kaitkan dengan kondisi niskala kawasan, karena Bendungan Titab berada di perbatasan 6 desa bertetangga di dua kecamatan wilayah Buleleng Barat, yakni Kecamatan Busungbiu dan Kecamatan Seririt. dari 6 desa tersebut, 4 di antaranya masuk wilayah Kecamatan Busungbiu, yakni Desa Titab, Desa Kekeran, Desa Busungbiu, dan Desa Telaga. Sedangkan 2 desa lagi masuk wilayah Kecamatan Seririt, masing-masing Desa Ularan dan Desa Ringdikit.

Konon, selama pengerjaan proyek Bendungan Titab tersebut, banyak penghuni alam niskala yang kehilangan anggota keluarganya akibat digusur paksa. Mereka yang hidup di alam niskala kemudian meminta ganti rugi berupa nyawa manusia (buruh proyek).

Hal ini juga terungkap saat peristiwa niskala kerauhan (kesurupan) massal yang dialami sejumlah krama ketika digelar upacara pamelaspas lan haturkan pakelem di Bendungan Titab pada Purnamaning Kapitu, 25 Desember 2015 lalu. Saat ritual pakelem (menenggelamkan) seekor sapi, seekor kambing, seekor cicing blangbungkem, dan seekor angsa di genangan air Bendungan Titab yang sudah mulai diisi, mendadak sejumlah krama kerauhan.

Nah, saat kerauhan, penghuni alam niskala seputyar Bendungan Titab mengaku banyak kehilangan anggota keluarganya selama pengerjaan proyek. Keluhan tersebut disampaikan melalui raga krama yang kerauhan. Penunggu gaib kawasan merasa terdesak, bahkan banyak keluarganya yang hilang, karena pengerjaan proyek Bendungan Titab menggunakan alat berat dan juga dibom untuk memperluas dan memperdalam sungai. “Melalui raga krama kerauhan, penghuni alam niskala minta ganti rugi 11 nyawa manusia,” cerita Made Niasih.

Proyek Bendungan Titab sendiri mengambil lahan yang pembebasannya dilakukan di 6 desa wilayah dua kecamatan bertetangga. Total lahan yang dibabaskan dalam pembangunan proyek Bendungan Titab ini mencapai sekitar 137 hektare. Pembebasan lahan dibagi masing-masing Balai Wilayah Sungai-Bali Penida (BWS-BP) seluas 69 hektare, Pemprov Bali seluas 48 hektare plus 30 are, dan Pemkab Buleleng seluas 20 hektare plus 70 are.

Dari total lahan yang dibebasnyan mencapai 137 hektare lebih tersebut, seluas 64 hektare diplot untuk genangan Bendungan Titab. Untuk tubuh bendungan seluas 5 hektare, untuk spillway dan bangunan lainnya seluas 10 hektare, plus 69 hektare lagi peruntukannya buat kawasan sabuk hijau.

Bendungan Titab baru mulai diisi air sejak 13 Desember 2015 lalu. Saat ini baru terisi 2,5 juta meter kubik air dengan ketinggian air mencapai 30 meter. Jika diisi penuh, Bendungan Titab yang luasnya mencapai 64 hektare akan mampu menampung 12 juta meter kubuk air dengan ketinggian 60 meter. Bendungan diperkirakan akan terisi penuh 12 juta meter kubik air, Maret 2016 mendatang.












sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gubernur: Lebih Baik Listrik Mandiri, PHDI Se-Bali Tolak Bali Crossing

Ketua PHDI Bali Prof Dr IGN Sudiana MSi bersama jajaran PHDI se-Bali saat tolak proyek listrik Bali Crossing, di Denpa¬sar, Kamis (18...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen