Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Rai Mantra vs Arjaya Saling Sodok

Rai Mantra vs Arjaya Saling Sodok

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 26 September 2015 | 7:53:00 AM

Acara debat terbuka pasangan Calon Walikota (Cawali)-Calon Wakil Walikota (Cawawali) Denpasar untuk Pilkada 2015 telah dugelar, Jumat (25/9) malam. Perdebatan panas terjadi antara IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara (pasangan noimor urut 1 yang diusung PDIP-NasDem) vs I Made Arjaya-AA Ayu Rai Sunasri (pasangan nomor utut 3 yang diusung Koalisi Bali Mandara). Beberapa kali, Rai Mantra vs Made Arjaya terlibat saling sodok.
DENPASAR - Acara debat terbuka pasangan Calon Walikota (Cawali)-Calon Wakil Walikota (Cawawali) Denpasar untuk Pilkada 2015 telah dugelar, Jumat (25/9) malam. Perdebatan panas terjadi antara IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara (pasangan noimor urut 1 yang diusung PDIP-NasDem) vs I Made Arjaya-AA Ayu Rai Sunasri (pasangan nomor utut 3 yang diusung Koalisi Bali Mandara). Beberapa kali, Rai Mantra vs Made Arjaya terlibat saling sodok.

Selain Paket Dharma-Negara (Rai Mantra-Jaya Negara) dan Paket AS (Arjaya-Rai Sunasri), dalam debat yang ditayangkan langsung televisi swasta, Jumat malam, juga melibatkan pasangan I Ketut Resmiyasa-IB Batu Agung Antara (pasangan nomor urut 2 yang diusung Gerindra-Hanura). Acara debat semalam dipandu Dr Drs AA Oka Wisnumurti MSi. Sedangkan panelis yang ditampilkan adalah Prof Dr Nyoman Subawa (akademisi dari Unud), Drs Putu Sarjana MSi, Dr Nyoman Subanda (akademisi dari FISIP Undiknas Denpasar), Ida Bagus Anom (akademisi dari Universitas Mahasaraswati Denpasar), Drs Suka Arjawa MSi (akademisi dari FSIP Unud). Debat Cawali Denpasar tadi malam mengambil tiga sesi: penyampaian visi misi, pertanyaan panelis yang dijawab ketiga kandidat, pertanyaan saling silang antar kandidat, dan closing statement. Ketiga kandidat diberikan menyampaikan visi misi selama masing-masing 3 menit. Sang juara bertahan Rai Mantra belum tuntas menyampaikan paparan visi misinya, ketika waktu 3 menit keburu habis. Sedangkan Ketut Resmiyasa sempat terlihat grogi, walaupun menyisakan waktu dalam penyampaian visi misinya. Sebaliknya, kandidat Made Arjaya yang mendapat kesempatan terakhir, menyelesaikan sesi penyampaian visi misi tepat waktu dalam 3 menit.

Dari tiga pasangan calon, debat sengit dan saling sodok terjadi antara Rai Mantra vs Made Arjaya. Saling sodok mereka suguhkan saat sesi menjawab pertanyaan panelis soal Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Walikota (Perwali) yang bisa diterapkan di Denpasar. Kandidat Arjaya yang mendapat kesempatan pertama, langsung menyodok dengan menyoroti masalah alih fungsi lahan terutama pelanggaran jalur hijau. Si ‘Udeng Poleng’ juga menyorot masalah penanganan KTP yang sekarang masih hanya terpusat di kota. “Kalau saya terpilih, pelayanan KTP akan saya dekatkan ke tingkat kecamatan, supaya masyarakat tidak kesulitan dan terlayani dengan cepat,” tegas Arjaya. Soal kebudayaan, Arjaya tawarkan untuk menghidupkan City Tour yang sebelumnya hanya sebatas slogan saja. Kebudayaan bukan hanya sebatas serimonial. Menurut Arjaya, program ‘Pagi Denpasar Bersih, Malam Denpasar Terang’ yang dicanangkan Paket AS, menjadi jawabannya. “Denpasar menuju Kota Taman yang Mandara akan menjawabnya. Denpasar yang kehidupan perekonomiannya 24 jam, kami tawarkan di sini kalau kami dipercaya nanti,” lanjut si ‘Udeng Poleng’ yang juga mantan Ketua Komisi I DPRD Bali 2004-2009 dan 2009-2014.

Situasi debat semakin panas ketika kandidat Rai Mantra mencounter sodokan Arjaya. Menurut Rai Mantra. konsep kota berawasan budaya yang digariskan ketika dirinya memerintah adalah kota budaya yang tidak tercabut dari akarnya. Soal urusan birokrasi pemerintahan di eranya, kata dia, pelayanan dibalik dari ‘dilayani’ menjadi ‘melayani’. “Sewaka Dharma itu semangatnya melayani, bukan dilayani. Jadi, di Denpasar itu, pelestarian kebudayaan tidak tercabut dari akar budaya. Harus dipahami konsep budaya tidak hilang fungsi dan bentuknya,” tandas Walikota Denpasar 2008-2010 dan 2010-2015 ini.

Debat terbuka masih terjadi antara Rai Mantra vs Arjaya, ketika panelis menyodori pertanyaan soal macetnya Denpasar beserta semwrawutnya infrastruktur kabel- kabel dan gorong-gorong. Kandidat Arjaya yang dapat kesempatan pertama, langsung menjawab dengan program drainase terpadu, persoalan tersebut bisa diatasi. “Kabel PLN, kabel telepon, dan pipa PDAM terintegrasi. Soal macet, kita ingin perbaiki infrastruktur supaya jalan-jalan di Denpasar tidak kayak mie kriting,” tandas politisi PDIP asal Sanur, Denpasar Selatan ini. Persoalan kemacetan lalulintas ini sempat didinginkan oleh jawaban kandidat Resmiyasa. Menurut Resmiyasa, Paket Resmi-Agung menawarkan penggunaan angkutan massal. “Di mana pun kota yang macet itu jawabannya adalah angkutan publik yang bersifat massal,” tandas politisi Gerindra ini. Toh, saling sindir antara Rai Mantra vs Arjaya kembali terjadi ketika masing-masing kandidat diberikan kesempatan melontarkan pertanyaan satu sama lain. Rai Mantra yang dapat kesempatan pertama, menanyai lawannya soal program MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan antisipasi persaingan tenaga kerja pariwisata. “Saya tidak melihat kedua rekan saya menyentuh masalah MEA dan persaingan naker, khususnya pariwisata,” ujar Rai Mantra.

Rai Mantra juga menyodok kritikan yang hanya melihat dari luar saja. Sementara dirinya yang berada dalam pemerintahan sebelumnya, lebih paham persoalan. “Jadi, yang hanya melihat dari luar, tentu tidak paham. Yang paham itu kami karena kami ada di dalamnya,” serang Rai Mantra. Pertanyaan Rai Mantra soal MEA diberikan solusi oleh kandidat Resmiyasa. Menurut Resmiyasa, MEA harus dihadapi dengan proteksi naker asing ke Bali. “Pemerintah sudah men-delay-nya dengan memberlakukan MEA tidak tahun 2015 ini. Ke depan, harus ada ketegasan pemerintah dalam menerima naker asing,” kata Resmiyasa. Sementara, si ‘Udeng Poleng’ Arjaya menyambut sindiran Rai Mantra. Menurut Arjaya, MEA hanya bisa dijawab dengan pendidikan yang berkualitas. Soal kritikan Rai Mantra yang hanya melihat dari luar saja, kata Arjaya, justru karena berdiri sebagai pengamat dari luar yang bisa melihat persoalan. Dibandingkan berada di dalam, tidak menyadari adanya masalah. “Kandidat nomor urut 1 (Rai Mantra) jangan panik-lah dengan MEA. Hampir 10 tahun menjabat, jangan panik. Bagi kami, hanya dengan pendidikan, pendidikan, dan pendidikan yang sudah ada dalam program kami, MEA bisa dihadapi,” tegas Arjaya. Namun, seusai acara debat yang digelar di Hotel Aston Denpasar tadi malam, ketegangan para kandidat kembali cair. Seperti sebelum debat, para kandidat kembali saling berangkulan dan salam-salaman, serta cipika cipiki seperti ketika naik ke podium di awal-awal acara.

Kandidat untuk Pilkada Denpasar 2015 merupakan yang paling awal melakoni sesi debat. Sedangkan acara debat untuk Calon Bupati (Cabup)-Calon Wakil Bupati (Cawabup) untuk Pilkada di 5 daerah lainnya, baru akjan dilaksanakan November 2015. Debat untuk kandidat Pilkada Tabanan, misalnya, diagendakan pertengahan November dan akhir November 2015.

Sedangkan acara debat kandidat untuk Pilkada Karangasem, diagendakan berlangsung 22 November 2015 dan 29 November 2015. Sementara agenda debat kandidat untuk Pilkada Badung direncanakan14 November 2015, lalu 21 November 2015, dan 22 November 2015. Debat kandidat untuk Pilkada Jembrana diagendakan 27 November 2015. Sebaliknya, acara debat kandidat untuk Pilkada Bangli akan digelar 29 Oktober 2015. Pilkada Denpasar 2015 menjadi satu dari dua perhelatan serentak di Bali yang melibatkan tiga pasangan calon. Satu daerah lagi yang pesta politiknya melibatkan tiga pasangan calon, terjadi di Karangasem. Dalam Pilkada Karangasem 2015, tiga pasangan calon yang akan bertarung masing-masing I Gusti Ayu Mas Sumatri-Wayan Artadipa (diusung NasDem-Hanura-PKPI dengan didukung Gerindra), I Made Sukerana-I Komang Kisid (diusung Golkar-Gerindra), dan I Wayan Sudirta-Ni Made Sumiati (diusung PDIP). Sedangkan di empat daerah lainnya, semua menampilkan tarung head to head alias diikuti 2 pasangan calon. Pilkada Badung 2015 melibatkan duel pasangan I Nyoman Giri Prasta-I ketut Suiasa (diusung PDIP-Golkar-NasDem disukung Hanura) vs I Made Sudiana-I Nyoman Sutrisno (diusung Demokrat-Gerindra). Pilkada Bangli 2015 melibatkan duel IB Brahmaputra-I Ketut Ridet (diusung Demokrat-Gerindra) vs I Made Gianyar-Sang Nyoman Sedana Arta (incumbent yang diusung PDIP). Sebaliknya, Pilkada Tabanan 2015 melampilkan duel I Wayan Sarjana-IB Komang Astawa Merta (diusung Gerindra-NasDem-Hanura dengan didukung Golkar) vs Ni Putu Eka Wiryastuti-I Komang Gede Sanjaya (incumbent yang diusung PDIP dengan didukung Golkar). Sementara Pilkada Jembrana 2015, melampilkan head to head antara sang juara bertahan I Putu Artha-Made Kembang Hartawan (diusung PDIP) vs I Ketut Sinatra-I Gusti Agung Sudanayasa (diusung Hanura-NasDem-PKB).








sumber : nusabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen