Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Diterkam Kucing, Bocah SD Tewas Akibat Rabies

Diterkam Kucing, Bocah SD Tewas Akibat Rabies

Written By Dre@ming Post on Kamis, 09 Juli 2015 | 8:43:00 AM

Berdasarkan pemeriksaan medis di RSUD Klungkung, korban Okta Puspita menunjukkan gejala klinis suspect rabies. Gejala-gejala tersebut, antara lain, panas tinggi, sakit perut, sakit leher, sesak napas, takut melihat air, dan terkaget-kaget. “Setelah dicek, ternyata pasien memang pernah punya riwayat dicakar kucing,” ungkap Direktur RSUD Klungkung, dr Made Adi Swapatni, Rabu kemarin. Berdasarkan penuturan pihak keluarga, bocah Dewa Ayu Okta Puspita pernah dicakar kucing saat berkunjung ke rumah neneknya di Banjar Kerobokan, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, sekitar 23 Juni 2015 lalu. Kakek dan nenek korban yang tinggal di Desa Sepang, yakni pasutri Dewa Putu Ngurah dan Desak Made Rai, merupakan orangtua kandung Desak Putu Indrayanti (ibunda dari Dewa Ayu Okta Puspita).Gbr Ist
SEMARAPURA - Satu lagi bocah SD di kawasan Klungkung tewas karena positif rabies. Kali ini, korbannya adalah Dewa Ayu Okta Puspitayanti, 11, bocah SD asal Banjar Kaleran, Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (8/7). Dia meregang nyawa hanya berselang kurang dari dua pekan pasca kematian I Gusti Ngurah Ari Krisna,12, bocah lulusan SD asal Banjar Kubu, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan.

Korban Dewa Ayu Okta Puspitayanti, siswi yang baru naik ke Kelas VI SDN 1 Bungbungan, menghembuskan nmapas terakhir dalam perawatan di Zal A RSUD Klungkung, Rabu siang sekitar pukul 12.30 Wita. Sebelum meninggal, putri bungsung dari dua bersaudara pasangan Dewa Gede Suarjana dan Desak Putu Endrawati ini sempat sehari semalam dirawat di RSUD Klungkung. Bocah perempuan berusia 11 tahun ini sebelumnya dilarikan keluarganya ke RSUD Klungkung di Semarapura, Selasa (7/7) siang pukul 13.00 Wita. Berdasarkan pemeriksaan medis di RSUD Klungkung, korban Okta Puspita menunjukkan gejala klinis suspect rabies. Gejala-gejala tersebut, antara lain, panas tinggi, sakit perut, sakit leher, sesak napas, takut melihat air, dan terkaget-kaget. “Setelah dicek, ternyata pasien memang pernah punya riwayat dicakar kucing,” ungkap Direktur RSUD Klungkung, dr Made Adi Swapatni, Rabu kemarin. Berdasarkan penuturan pihak keluarga, bocah Dewa Ayu Okta Puspita pernah dicakar kucing saat berkunjung ke rumah neneknya di Banjar Kerobokan, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, sekitar 23 Juni 2015 lalu. Kakek dan nenek korban yang tinggal di Desa Sepang, yakni pasutri Dewa Putu Ngurah dan Desak Made Rai, merupakan orangtua kandung Desak Putu Indrayanti (ibunda dari Dewa Ayu Okta Puspita).

Menurut kakak kandung korban, Dewa Ayu Desi Sari Ratih, 15, adiknya yang kemudian tewas positif rabies ini dicakar kucing saat makan be pindang. “Adik saya terluka gores di paha akibat dicakar kucing saat liburan ke rumah nenek di Desa Sepang,” kenang Dewa Ayu Desi Ratih di rumah duka di Banjar Kaleran, Desa Pakraman Bungbungan, Banjarangkan, Rabu sore.

Sedangkan kedua orangtua korban, pasutri Dewa Gede Suarjana dan Desak Putu Indrawati, mengaku tidak tahu peristiwa maut dicakar kucing yang menimpa putri keduanya. Selama ini, pasutri Dewa Gede Suarjana dan Desak Putu Indrawati tinggal terpisah di kawasan Tegalasih, Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Buleleng karena merantau kerja di kebun kopi. Sementara kedua putrinya, Dewa Ayu Desi Ratih dan Dewa Ayu Okta Puspita, tinggal di terpisah kampung halamannya di Banjar Kaleran, Desa Bungbungan, Banjarangkan. Mereka tinggal berama kakek-neneknya dari garis ayah, Dewa Ayu Putu Raka-Dewa Putu Geger (orangtua dari Dewa Gede Sujana). Nah, 10 hari pasca dicakar kucing, bocah Okta Puspita mulai jatuh sakit. Sampai akhirnya mereka dilarikan ke RSUD Klungkung, Selasa siang. Namun, nyawanya tidak tertolong. Kurang dari 24 jam setelah dirawat, bocah yang baru naik Kelas VI SD ini meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, bocah Okta Puspita sempat minta foto dan makan bersama orangtuanya. Gadis cilik ini juga minta doakan agar panjang umur dan minta dinyanyikan lagu ‘Kasih Ibu’. “Kami semua berupaya memenuhi permintaannya. Kami foto bersama menggunakan kamera HP,” cerita bibi korban, Desak Ayu Sumiati. Jenazah korban Dewa Ayu Okta Puspita sendiri sudah dikuburkan melalui ritual Mangkingsan ring Gni di Setra Desa Pakraman Bungbungan kemarin. Sedangkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan, 7 anggota keluarga korban sudah langsung divaksin, Rabu sore. Pemberian vaksin dengan cara disuntik di bagian lengan ini dilakukan oleh I Nyoman Arjana, petugas dari Puskesmas Banjarangkan I. “Nanti tiga kali vaksin sampai 21 hari,” ujar Nyoman Arjana.

Sementara itu, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta Rabu kemarin sempat melayat ke rumah duka di Banjar Kaleran, Desa Pakraman Bungbungan, Banjarangkan. Sebelum melayat ke rymah duka, Bupati Suwirta juga sempat jenguk korban di RSUD Klungkung. Selain menyampaikan dukacita kepada keluarga almarhum, Bupati Suwirta juga mengimbau masyarakat semakin waspada terhadap rabies. “Sumber penyebaran rabies bukan hanya anjing, tapi juga satwa lain seperti kucing,” ujar Suwirta. Makanya, eliminasi anjing liar untuk penanggulangan rabies juga terus diintensifkan. “Langkah-langkah itu tetap kita imbau kepada masyarakat,” imbuhnya. Bocah Dewa Ayu Okta Puspita sendiri merupakan korban tewas kedua akibat rabies di wilayah Klungkung tahun 2015 ini. Kurang dari dua pekan sebelumnya, kematian tragis serupa juga menimpa I Gusti Ngurah Ari Krisna, 12, bocah lulusan SD Banjar Kubu, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan yang meregang nyawa di RSUD Klungkung, Minggu (26/6) siang. Bedanya, korban IGN Ari Krisna yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara keluarga pasangan I Gusti Ngurah Arimbawa, 45, dan Ni Wayan Suci, 42, sempat digigit anjing sebulan sebelumnya. Kala itu, bocah IGN Ari Krisna disergap dan digigit anjing di pertigaan bagian selatan Banjar Bucu, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan tatkala disuruh ibundanya membeli es batu. Dengan kematian beruntun 2 bocah dari Klungkung ini, maka telah jatuh 10 korban tewas akibat rabies di Bali tahun 2015 sejak Januari hingga Juli. Angka ini naik tajam ketimbang kasus serupa selama tahun 2014 yang di Bali tercatat hanya 2 korban tewas rabies (1 di Buleleng, 1 di Karangasem).

Dari 10 korban tewas akibat rabies di Bali tahun 2015 ini, terbanyak jatuh di wilayah Buleleng yakni 3 orang, disusul Klungkung dengan 2 korban tewas. Sedangkan 5 korban tewas rabies lainnya masing-masing tersebar di Badung (1 orang), Bangli (1 orang), Gianyar (1 orang), Tabanan (1 orang), dan Karangasem (1 orang).











sumber : nusabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen