Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Setelah Diusir dari Desa, Ini Alasan Kertiasih Nekat Pulang

Setelah Diusir dari Desa, Ini Alasan Kertiasih Nekat Pulang

Written By Dre@ming Post on Selasa, 09 Juni 2015 | 8:48:00 AM

Sekitar 200-an warga bergerak dari Balai Banjar Belaluan, Desa Adat Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Kamis (4/6). Mereka gotong royong meratakan rumah I Ketut Manuaba. Sanksi sosial oleh warga dilanggar keluarga Manuaba.
GIANYAR - Setelah ditundung (diusir) pada akhir 2014 lalu dari desa, Kertiasih sempat menyewa sekamar rumah kos di daerah Batubulan, Gianyar, Bali.

Di sana mereka berlima tinggal.

Manuaba tidak bisa bekerja setelah sakit yang dideritanya.

Terlebih ia disibukkan dengan kasus dugaan korupsi yang membelitnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kertiasih pun maju sebagai tulang punggung keluarga.

Ia sempat bekerja serabutan.

Selain itu bermodal sebuah mesih jahit, disela waktu luang ia gunakan untuk mencari uang tambahan.

Berat memang, namun tiada pilihan lain lagi untuknya.

"Saya punya mesin jahit, kadang saya juga kerja serabutan. Uangnya saya pakai untuk memenuhi kebutuhan, untuk biaya anak sekolah juga," kisahnya.

Tak berselang lama, Kejari Gianyar memutuskan untuk menahan Manuaba.

Sidang digelar, putusan hakim pun inkracht.

Manuaba lalu diganjar hukuman penjara.

Ditinggal menjalani hukuman, Kertiasih dipaksa kembali menjadi single fighter untuk anak-anaknya.

Namun upayanya tidak bertahan lama.

Biaya kos, biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari yang kian melambung tinggi membuatnya berpikir untuk pulang ke rumahnya di Belaluan.

"Selain itu saya juga berpikir bahwa saya masih krama desa. Saya masih mempunyai kewajiban ngayah di pura. Itu sebab mengapa saya pulang," kata dia.

Kendati kemungkinan buruk bisa saja terjadi, tapi tidak ada pilihan lain lagi selain pulang.

Rumah orangtua kandung Kertiasih yang masih berada di Belaluan menjadi menjadi tujuan tempatnya untuk singgah.

Dengan mesin jahit yang dimiliki, di sana ia bekerja lagi.

Namun dalam hatinya ia merasa tidak enak tinggal lama di rumah orangtuanya.

Ia juga khawatir orangtuanya akan kena imbas karena berani menampungnya.

Statusnya tersebut kembali membuatnya berpikir untuk kembali ke rumah suaminya.

Belum lagi anak-anaknya yang terus meminta pulang.

Kertiasih tidak bisa berpikir jernih.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah ia harus pulang kendati meskipun harus mati.

"Akhirnya saya pulang bersama anak-anak. Kemudian didatangi warga, saya diajak ikut paruman. Karena saya bersikeras untuk tinggal, lalu saya diusir dan rumah itu dirobohkan. Saya tidak bisa berpikir jernih waktu itu," ucapannya.


Meski Diusir, Kertiasih Ingatkan Anak-anaknya ‘Jangan Membenci Mereka’

GIANYAR - Ni Nyoman Kertiasih (40), jujur mengakui bahwa perbuatan suaminya, I Ketut Manuaba (45), memang salah.

Namun tidak semestinya kesalahan yang dilakukan oleh sang ayah harus ditanggung juga oleh ketiga buah hatinya.

Rumah yang mereka tempati saat ini sudah rata dengan tanah.

Begitu juga dengan sanak saudara yang tidak berani menampung mereka berempat karena takut dengan sanksi adat.

"Ke mana tiang harus pergi? di mana juga tiang harus tinggal? Tiang seperti tidak memiliki siapa-siapa dan apa-apa," kata Kertiasih bertanya-tanya saat ditemui di Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Gianyar, Blai, Minggu (7/6/2015).

Air mata wanita yang menafkahi putra-putrinya dari hasil menjahit pakaian ini tampak menggenang.

Suaranya pun terdengar lirih terbata.

Ingin sekali rasanya ia mengutarakan isi hati yang sesungguhnya.

Berteriak lantang dan bertanya, di mana letak keadilan.

Kertiasih hanyalah seorang ibu yang ingin melihat masa depan anak-anaknya cerah.

Beban berat kini ia pikul sendiri.

Dia harus menenangkan anak-anaknya setiap hari di pengasingan.

Pertanyaan kapan pulang kerap kali terlontar dari bibir ketiga buah hatinya itu.

Kertiasih pun mengaku bingung bagaimana harus menejelaskannya.

"Saya bilang, iya kita akan segera pulang nak," jawab dia sembari memeluk anaknya.

Kebohongan yang sejatinya kenyataan pahit itu hanyalah untuk membuat ketiga buah hatinya tenang.

Namun berita di media massa tak luput dari pantauan sang anak pertama, Ni Putu Mirati Bindari (17).

Mirati membawa handphone yang bisa digunakan untuk mengakses berita bagaimana warga merobohkan rumah tempat ia tumbuh sedari kecil.

"Malam itu pas saya dibawa ke sini, saya sudah tahu rumah kami akan dihancurkan. Tapi sebisa mungkin anak-anak saya tidak mengetahuinya. Saya bilang kami hanya pindah sementara," kisahnya.

Setelah anaknya mengetahui kabar di luar sana bahwa rumah mereka sudah rata tanah, kebohongan Kertiasih tak bisa ditutupi.

Ia harus berkata yang sebenarnya karena sang anak mulai menuntut.

Kejujuran yang pahit dan menyakitkan itu pun disampaikannya.

"Iya nak memang rumah kita sudah begitu adanya. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi," begitu dia membenarkan kabar dari media massa.

Mirati pun terpukul. Sang adik, I Kadek Natih Swastika (11), hanya bisa menangis.

Sementara si bungsu, Ni Komang Arisanti (5), belum mengerti apa-apa.

Kertiasih berujar bingung bagaimana cara dia membangkitkan kembali semangat anak-anaknya yang mulai roboh sama halnya dengan kondisi rumahnya yang hancur berkeping-keping.

Kertiasih mencoba menegarkan hatinya dulu.

Ia berupaya menjadi sosok ibu tabah yang bisa menjadi inspirasi untuk ketiga anaknya.

Perlahan nasihat-nasihat mulai disampaikannya. Kertiasih pun berpesan.

"Ini memang perbuatan bapakmu, salah bapakmu sehingga kamu yang harus menanggungnya. Namun kalian jangan pernah benci sama orang-orang di sana (Belaluan). Doakan mereka supaya hati nuraninya terketuk. Kalian harus kuat," begitu Kertiasih terus mengulangi nasihatnya setiap hari.

Sang suami, I Ketut Manuaba kini mendekam di balik jeruji Rumah Tanahan (Rutan) Gianyar.

Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat pengasingan Kertiasih saat ini.

Namun, hampir sebulan lebih ia tidak sempat bersua dengan suaminya itu.

Sementara anak-anaknya terus meminta untuk berkunjung.

Namun karena pertimbangan keamanan dan sebagainya, Kertiasih bersedia taat dengan peraturan untuk tinggal dan menjaga anak-anaknya.







sumber : tribun
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen