Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Sunyi, Pecalang Pantau Tapa Beratha Penyepian

Sunyi, Pecalang Pantau Tapa Beratha Penyepian

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 21 Maret 2015 | 3:36:00 PM

Pecalang Di GWK membersihkan bekas Ogoh-ogoh
Denpasar - Petugas keamanan desa adat (pecalang) memantau dan mengamankan pelaksanaan tapa beratha penyepian tahun baru saka 1937 dalam suasana sepi, hening dan damai, Sabtu.

Petugas di masing-masing desa adat berkoordinasi dengan Bendesa adat setempat mengawasi pelaksanaan tapa beratha penyepian yang umumnya berlangsung khidmat dan lancar.

Kompleks perumahan Perum-Perumnas Monang-Maning Denpasar, kawasan pemukiman yang dihuni sekitar 2.500 kepala keluarga, yang berasal dari berbagai etnis di Nusantara, dengan toleransi tinggi menghormati pelaksanaan Tapa Bratha penyepian.

Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa pecalang (petugas keamanan desa adat) yang berjaga di ujung gang dan perempatan jalan.

Kepala Dusun Cemara Agung di Kawasan Perumnas Monang Maning Denpasar I Putu Galung yang warganya terdiri atas lintas agama menjelaskan, pihaknya jauh sebelumnya telah mengkoordinasikan tentang pengamanan Nyepi.

Pengamanan yang melibatkan para pecalang juga mengikutsertakan tokoh lintas agama dengan harapan memudahkan pengamanan jika ada yang melakukan pelanggaran.

Pecalang mengawasi dan memantau pelaksanaan tapa beratha penyepian yang wajib dilaksanakan umat Hindu di wilayahnya masing-masing meliputi amati karya (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), amati geni (tidak menyalakan api), amati Lelungan (tidak bepergian) dan amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tanpa hiburan/bersenang-senang).

Selain itu mereka juga bertanggungjawab membantu masyarakat sekaligus mengantarnya jika ada warga yang membutuhkan pertolongan ke rumah sakit, misalkan untuk melahirkan atau mendapatkan pertolongan medis.

Hal itu karena Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten (Pemkab) dan pemerintah kota (Pemkot) di Pulau Dewata tidak mengeluarkan dispensasi atau keistimewaan bagi kendaraan bermotor untuk bisa lalu lalang pada Hari Suci Nyepi.

Tidak ada keistimewaan bagi siapapun untuk bisa menggunakan kendaraan bermotor saat umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian, kecuali dispensasi yang dikeluarkan oleh Bendesa adat (desa pekraman) untuk warganya yang mendesak, karena sakit atau melahirkan ke rumah sakit.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali, Komisaris Besar Hery Wiyanto sebelumnya mengakui, pihaknya telah bekerja sama Pecalang untuk menjaga keamanan wilayah selama rangkaian Hari Raya Nyepi.

Polisi dan Babinkamtibmas tetap kerja sama dengan Pecalang yang melaksanakan pengamanan di masing-masing wilayah. Untuk itu telah melakukan koordinasi terkait kegiatan pengamanan selama rangkaian Hari Raya Nyepi sejak kegiatan ritual "melasti" atau ritual pembersihan benda-benda sakral ke pantai, "pengerupukan" yakni pada saat upacara "mecaru" atau ritual pembersihan alam dan lingkungan hingga tradisi mengarak "ogoh-ogoh" atau patung raksasa yang berwujud menyeramkan yang digelar sehari sebelum Nyepi.

Pecalang yang nanti melakukan kegiatan pengamanan lingkungan. Polisi juga ikut mengamankan. Tetapi yang dikedepankan pecalang adat karena aturannya memang tidak boleh keluar, namun tetap dipantau ucapnya.








propinsibali.com_____
sumber : Antara Bali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Gunung Agung Status Awas, Area Steril 12 Km, Pengungsi Diperkirakan 100 Ribu Orang

Bupati Mas Sumantri saat kunjungi warganya yang mengungsi di Buleleng (kiri). Walikota IB Rai Mantra saat mengunjungi pengungsi di kawasan...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen