Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Dendam Kesumat, Ipar Perbekel Tewas Dibunuh Tetangga

Dendam Kesumat, Ipar Perbekel Tewas Dibunuh Tetangga

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 11 Oktober 2014 | 10:18:00 AM

Hanya saja, menurut dia, sejak istrinya, Ni Wayan Rimpi, meninggal dunia 3 tahun silam, pelaku Wayan Carita jarang bermasyarakat. Pria berusia 57 tahun itu lebih banyak mengurung diri di rumahnya. Selaku Perbekel, Wayan Nedeng menyerahkan sepenuhnya kasus pembunuhan terhadap adik iparnya ini kepada proses hukum yang berlaku. Di sisi lain, Kapolsek Sidemen AKP AA Ngurah Agung menyatakan pelaku Wayan Carita sudah diamankan, namun belum resmi ditetapkan status tersangka. Pemeriksaan intensif terhadap pelaku juga baru akan dilakukan, Sabtu (11/10) ini. “Terpenting, pelaku berikut barang bukti berupa senjata sabit dudah kita amankan,” jelas Kapolsek AA Ngurah Agung, Jumat kemarin.Gbr Ist
AMLAPURA - Kasus pembunuah sadis terjadi di Banjar Lebu Anyar, Desa Lokasari, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Jumat (10/10) pagi. Korbannya adalah Ni Nengah Kariasih, 38, yang notabene adik ipar Kepala Desa (Perbekel) Lokasari, I Wayan Nedeg, 45. Sedangkan pelakunya diduga tetangga korban sendiri, I Wayan Cerita alias Gatra, 57. Korban Nengah Kariasih ditemukan tewas bersimbah darah di dibiarkan tergeletak di tengah jalan, dengan 15 luka sabetan.

Kematian tragis korban Nengah Kariasih pertama kali diketaui I Gede Arnawa, 14, siswa Kelas III SMPN 2 Sidemen, Jumat pagi sekitar pukul 06.30 Wita. Pagi itu, bocah SMP ini hendak berangkat ke sekolahnya melalui jalan sepi di Bukit Pecatu, Banjar Lebu Anyar, Desa Lokasari.

Begitu melintas di lokasi TKP, saksi Gede Arnawa terkejut melihat ada seorang ibu rumah tangga tergeletak bersimbah darah di tengah jalan. Ibu rumah tangga yang tergeletak tak bernyawa dengan penuh luka sabetan di sekujur tubuhnya ini kemudian dikenali Gede Arnawa sebagai Nengah Kariasih, tetangganya yang sehari-hari buka warung sembako dan kebutuhan lainnya.

Dalam situasi terkejut dan panik, saksi Gede Arnawa langsung memberitahukan apa yang dilihatnya di jalan sepi kepada suami korban, I Ketut Sumarta, 40 (yang notabene adik kandung Perbekel Wayan Nedeg). Suami korban pun datang ke lokasi TKP. Benar saja, Ketut Sumarta menemukan istrinya sudah tergeletak tewas bersimbah darah di jalan sepi. Padahal, dia tahu istrinya baru beberapa menit sebelumnya pergi dari rumah hendak belanja barang-barang dagangan ke Pasar Klungkung buat stok di warung. Ketut Sumarta lantas melaporkan musibah ini kepada kakaknya yang menjabat Perbekel Lokasari, Wayan Nedeg. Kemudian, Perbekel Wayan Nedeng melaporkan kasus dugaan pembunuhan ini ke Polsek Sidemen.

Polisi tidak perlu repot-repot melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan sadis. Sebab, sesaat setelah mendapat laporan terjadinya pembunuhan dari Perbekel Wayan Nedeg, orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan sadis tersebut, I Wayan Carita alias Gatra, justru datang ke Mapolsek Sidemen sambil membawa sebilah sabit yang barusan dipakai menghabisi nyawa korban. Selain untuk melapor, duda yang ditinggal mati istrinya sekitar 3 tahun silam ini juga sekaligus menyerahkan diri ke polisi. Dari pelaku Wayan Carita pula terkuak kronologis pembunuhan.

Kendati pelaku telah menyerahkan diri, pagi kemarin petugas Polsek Sidemen tetap terjun ke lokasi kejadian di jalan sepi Bukit Pecatu, Banjar Lebu Anyar, Desa Lokasari untuk melakukan olah TKP dan sekaligus mengevakuasi jasad korban Nengah Kariasih. Kemudian, jasad ibu tiga anak ini dikirim ke RS Sanglah, Denpasar untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Sebaliknya, pelaku Wayan Carita diamankan polisi di Mapolsek Sidemen untuk proses lebih lanjut.

Terungkap, nyawa korban Nengah Kariasih dihabisi pelaku saat berpapasan di tengah jalan sepi kawasan Bukit Pecatu, Banjar Lebu Anyar, Desa Lokasari, Jumat pagi sekitar pukul 06.00 Wita atau 30 menit sebelum jasadnya ditemukan tergeletak. Ketika itu, ibu tiga anak dari pernikahannya dengan Ketut Sumarta ini jalan kaki sendirian sekitar 400 meter arah selatan rumahnya, karena hendak mencari angkutan umum untuk pergi belanja ke Pasar Klungkung. Korban Nengah Kariasih memang rutin belanja ke Pasar Klungkung tiga hari sekali, untuk stok barang dagangan di warungnya.

Saat berjalan kaki sendirian di jalan sepi kawasan perbukitan itu, korban Nengah Kariasih membawa tiga bakul, sebuah jirigen untuk bensin, dan beberapa tas kresek. Sedangkan pelaku Wayan Carita yang notabene tetangga korban, pagi itu datang dariu arah berlawanan (berpapasan di jalan). Pelaku yang membawa senjata sabit ukuran besr baru balik setelah semalaman menginap di rumah putrinya, Ni Wayan Siti.

Tak jelas, bagaimana persis awalnya. Informasinya, begitu berpapasan di jalan, pelaku Wayan Carita naik pitam akibat dendam lama atas kematian almarhum istrinya, Ni Wayan Rimpi, 50, sekitar 3 tahun silam. Konon, Wayan Carita curiga istrinya kala itu meninggal karena kena ilmu hitam yang dipasang korban Nengah Kariasih. Ketika berpapasan di jalan sepi di perbukitan sekitar 400 meter sebelah selatan rumah korban, pelaku Wayan Carita langsung menyerang Nengah Kariasih dengan senjata sabit. Pada serangan pertama, pelaku tiga kali menyabetkan sabutnya ke punggung korban. Diduga, korban Nengah Kariasih sempat mencoba lakukan perlawanan dengan menangkis sabit milik pelaku, hingga terluka di bagian jari. Pada serangan berikutnya, pelaku Wayan carita menebas bagian perut kiri korban Nengah Kariasih. Akibatnya, isi perut korban sampai keluar. Sedangkan serangan berikutnya menyasar leher kiri dan dada kanan korban. Setelah darah mengucur deras, korban Nengah Kariasih akhirnya tersungkur. Korban kemudian tergeletak tewas bersimbah darah dalam posisi tengadah.

Suami korban, Ketut Sumarta, bahkan tidak tega melihat kondisi jenazah istrinya yang penuh luka dan mandi darah. Begitu juga kedua anak korban: Ni Luh Eka Yuliantari, 20 (mahasisiswi sebuah perguruan tringgi) dan I Komang Edi, 18 (siswa Kelas III SMA). Bapak dan anak ini masih shock berat.

Sementara, pelaku Wayan Carita mengakui terus terang nekat membunuh korban Nengah Kariasih karena dendam lama. Sejak kematian istrinya, Ni wayan Rimpi, 3 tahun lalu, dia mengaku menanggung derita sakit hati dan dendam kesumat. Wayan Carita mengisahkan, pada suatu hari dia sempat menyaksikan ada kucing putih ajaib di tengah malam. Setelah dikejar, kucing tersebut masuk ke rumah korban Nengah Kariasih. “Saya yakin kucing putih itu adalah siluman dia (korban). Makanya, saya bunuh dia karena sakit hati,” tutur Wayan Carita di Mapolsek Sidemen, Jumat kemarin. Namun, Wayan Carita membantah lakukan pembunuhan terencana. “Saya setiap hari membawa sabit ke mana-mana. Kebetulan tadi (kemarin pagi) saya pulang dari menginap di rumah anak, lalu ketemu dia (korban) di jalan. Ya, saya babat dengan sabit. Saya tidak tahu apakah dia meninggal atau tidak, karena saya langsung meninggalkannya tergeletak di jalan,” jelas pelaku Wayan Carita sembari mengaku siap diganjar hukuman mati atas perbuatannya.

Secara terpisah, Perbekel Lokasari, Wayan Nedeg, yang notabene kakak ipar korban, enggan mengomentari adanya indikasi dendam antara pelaku Wayan Carita vs Nengah Kariasih. “Mengenai kematian istri pelaku 3 tahun lalu, sulit dibuktikan penyebabnya. Ya, namanya saja di desa (muncul riak-riak dugaan mati karena ilmu hitam, Red),” ujar Perbekel Wayan Nedeg.

Hanya saja, menurut dia, sejak istrinya, Ni Wayan Rimpi, meninggal dunia 3 tahun silam, pelaku Wayan Carita jarang bermasyarakat. Pria berusia 57 tahun itu lebih banyak mengurung diri di rumahnya. Selaku Perbekel, Wayan Nedeng menyerahkan sepenuhnya kasus pembunuhan terhadap adik iparnya ini kepada proses hukum yang berlaku. Di sisi lain, Kapolsek Sidemen AKP AA Ngurah Agung menyatakan pelaku Wayan Carita sudah diamankan, namun belum resmi ditetapkan status tersangka. Pemeriksaan intensif terhadap pelaku juga baru akan dilakukan, Sabtu (11/10) ini. “Terpenting, pelaku berikut barang bukti berupa senjata sabit dudah kita amankan,” jelas Kapolsek AA Ngurah Agung, Jumat kemarin.

Semen tara itu, pihak Instalasi Forensik RS Sanglah telah melakukan otopsi terhadap jenazah korban Nengah Kariasih, Jumat siang. Dari hasil otopsi, diketahui korban tewas dibunuh dengan 15 luka tusukan/sabetan. Dari jumlah itu, 5 luka di antaranya merupakan tusukan kategori fatal yang menyebabkan korban meregang nyawa.

Menurut Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RS Sanglah, dr IB Putu Alit SpF, 5 luka kategori fatal itu adalah sabetan senjata tajam di bagian perut kanan tembus hati, luka perut bagian depan, luka bagian leher hingga engenai tulang iga dan pembuluh darah, serta luka di punggung kiri dan kanan.

"Memang ada 15 luka-luka, sebagian besar merupakan luka sayatan senjata tajam. Tapi, 5 luka kategori fatal itulah yang menyebabkan korban meninggal," jelas dr IB Putu Alit saat dikonfirmasi secara terpisah di RS Sanglah, Jumat kemarin.





sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen