Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , , » Menderita Stres, Penghuni Ashram Tewas Dibunuh

Menderita Stres, Penghuni Ashram Tewas Dibunuh

Written By Dre@ming Post on Senin, 09 Juni 2014 | 7:41:00 AM

pemilik sekaligus pengasuh Ashram Ratu Bagus, Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus, 68, membenarkan ada pasiennya yang ditemukan meninggal, Ninggu pagi. Namun, Ida Pandita mengaku tidak tahu apa sebenarnya penyebab kematian tragis korban Ketut Sutarma. “Apakah meninggal karena bunuh diri atau dibunuh orang lain, saya tidak tahu. Yang jelas, pasien itu ditemukan sudah meninggal,” ungkap Ida Pandita saat dikonfirmasi, Minggu kemarin.Ida Pandita mengaku tidak sempat melihat jasad korban Ketut Sutarma, karena kemarin pagi keburu dibawa ke RS Sanglah. Menurut Ida Pandita, korban yang asal Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung ini belum genap sepekan tinggal di Ashram Ratu Bagus karena menderita sakit inguh (stres). “Pasien saya itu (korban) sakit inguh, tapi belakangan kondisinya sudah membaik,” jelas Ida Pandita.
AMLAPURA - Salah satu penghuni Ashram Ratu Bagus di Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, I Ketut Sutarma, 40, ditemukan tewas berlumuran darah, Minggu (8/6) pagi. Korban yang baru sepekan tinggal dalam asram untuk menjalani pengobatan alternatif ini diduga kuat tewas dibunuh, namun dibuat seolah-olah seperti orang bunuh diri.

Jasad korban Ketut Sutarma, penghuni ashram asal Banjar Kedewatan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung ditemukan berlumuran darah dalam posisi menggantung di Jembatan Ashram Ratu Bagus, Minggu pagi sekitar pukul 06.30 Wita.

Kematian tragis korban pertama kali diketahui I Ketut Santiasa, 41, penghuni ashram asal Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, saat hendak turun ke sungai untuk buang air besar. Setibanya di jembatan kecil yang menghubungkan dua bangunan asrham di atas sungai, saksi Ketut Santiasa melihat ada kaki terendam di air sungai.

Setelah didekati, ternyata itu kaki dari korban Ketut Sutarma, yang tewas menggantung dalam kondisi berlumuran darah. Korban masih mengenakan kaos putih dan celana pendek putih yang juga berlumuran darah, di mana jasadnya menggantung dengan leher terjerat selendang batik coklat motif bunga-bunga yang dikaitkan ke palang jembatan.

Saksi Santiasa pun langsung memberitahukan temuan heboh ini kepada rekan-rekannya sesama penghuni Ashram Ratu Bagus, termasuk I Putu Negara yang sedang mabanten. Kemudian, penghuni ashram yang jumlahnya mencapai seratusan orang, sebagian warga negara asing, terjun ke sungai.

Selanjutnya, peristiwa heboh di Asram Ratu Bagus---yang diasuh Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus, 68---ini dilaporkan ke Mapolsek Selat. Tak lama berselang, petugas gabungan Polsek Selat dan Polres Karangasem terjun ke lokasi TKP, dengan dikoordinasikan langsung Kapolsek Selat AKP I Made Sudiasa dan Kasat Reskrim Polres Karangasem, AKP I Dewa Putu Anom Dananjaya. Petugas kepolisian langsung melakukan olah TKP, meminta keterangan saksi-saksi, dan mengevakuasi jasad korban dari jembatan di sungai sekitar Ashram Ratu Bagus. Karena korbannya diduga tewas karena dibunuh, jasad Ketut Sutarma kemarin dikirim polisi ke RS Sanglah, Denpasar untuk kepentingan otopsi guna mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Kasat Reskrim Polres Karangasem, Anom Dananjaya, menyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lokasi TKP, korban Ketut Sutarma tewas bukan akibat gantung diri. Sebab, lehernya tidak menjulur, alat vital korban juga tidak mengeluarkan air mani.

Selain itu, tinggi dasar jembatan dengan atap penyangga hanya 125 cm, sedangkan tinggi tali dari penyangga jembatan ke leher korban 60 cm. Karenanya, jasad korban menggantung dalam posisi duduk di atas aliran air. Tapi, lehernya terjerat selendang agar seoilah-olah korban tewas gantung diri.

Menurut Anom Dananjaya, korban Ketut Sutarma diduga kuat tewas dibunuh. Sebab, ditemukan luka berat hingga kepalanya remuk. Pakaian yang dikenakannya penuh lumuran darah, terutama bagian punggung. “Karena terlihat ada kejanggalan, makanya petugas melakukan penyelidikan lebih jauh,” ungkap Anom Dananjaya.

Ashram Ratu Bagus di mana korban Ketut Sutarma tinggal sambil berobat sejak sepekan terakhir diasuh oleh Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus. Data yang dihimpun, saat ini ada seratusan penghuni di shram tersebut. Mereka berada di sana untuk pengobatan alternatif. Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus, pengasuh ashram juga dikenal sebagai balian untuk pengobatan alternatif. Ada beragam aktivitas yang dilakukan di Asrham Ratu Bagus ini sebagai bagian terapi, termasuk meditasi dan lainnya yang jadwalnya tersusun rapi setiap hari. Korban Ketut Sutarma kabarnya berada di Ashram Ratu Bagus sejak sepekan terakhir, untuk pengoibatan alternatif lantaran menderita stres.

Sebelum ditemukan tewas bersimbah darah, korban Ketut Sutarma sempat bekerja pasang paving di Ashram Ratu Bagus. Korban kabarnya terakhir kali berkomunikasi dengan penghuni Ashram Ratu Bagus, I Wayan Gunarta, yang sekaligus pimpinan proyek pavingisasi di ashram tersebut, sebelum ditemukan tewas.

Saksi I Nyoman Dami membenarkan korban Ketut Sutarma sempat ikut kerja pasang paving di Ashram Ratu Bagus, Sabtu (7/6) hingga tengah malam pukul 00.00 Wita. Kebetulan, Nyoman Darmi ikut dalam pekerjaan pasang paving ini. “Saya lihat dia (korban) ikut pasang paving. Tapi, saya tidak kenal dia dan tidak sempat berkomunikasi dengannya,” kata Nyoman Dami, penghuni ashram asal Banjar Umasari Kauh, Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Karangasem.

Sementara itu, pemilik sekaligus pengasuh Ashram Ratu Bagus, Ida Pandita Mpu Nabe Parama Daksa Natha Ratu Bagus, 68, membenarkan ada pasiennya yang ditemukan meninggal, Ninggu pagi. Namun, Ida Pandita mengaku tidak tahu apa sebenarnya penyebab kematian tragis korban Ketut Sutarma. “Apakah meninggal karena bunuh diri atau dibunuh orang lain, saya tidak tahu. Yang jelas, pasien itu ditemukan sudah meninggal,” ungkap Ida Pandita saat dikonfirmasi, Minggu kemarin.

Ida Pandita mengaku tidak sempat melihat jasad korban Ketut Sutarma, karena kemarin pagi keburu dibawa ke RS Sanglah. Menurut Ida Pandita, korban yang asal Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung ini belum genap sepekan tinggal di Ashram Ratu Bagus karena menderita sakit inguh (stres). “Pasien saya itu (korban) sakit inguh, tapi belakangan kondisinya sudah membaik,” jelas Ida Pandita.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen