Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Setelah Almarhum, Korban Teror Poso Naik Pangkat

Setelah Almarhum, Korban Teror Poso Naik Pangkat

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 08 Februari 2014 | 7:17:00 AM

“Gugur dalam melaksanakan tugas, almarhum dapat kenaikan pangkat,” katanya. Kapolda Bali, Irjen Albertus Julius Benny Mokalu, juga membenarkan kenaikan pangkat dari Bharada menjadi Bharatu untuk anggota Brimob korban penembakan teroris ini.
NEGARA - Personel Brimob asal Bali yang tewas dalam baku tembak dengan kelompok teroris di daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (6/2) siang, Bharada I Putu Satria Wirabuana, 21, mendapat penghormatan berupa kenaikan pangkat. Korban yang sebelumnya berpangkat Bharada (Bhayangkara Dua), kini naik menjadi Bharatu (Bhayangkara satu).

Kenaikan pangkat dari Bharada menjadi Bharatu itu terlihat sudah melekat dalam sejumlah karangan bunga dukacita yang terpampang di rumah duka keluarga almarhum Putu Satria Wirabuana (bukan Wira Bhuana sebagaimana ditulas sebelumnya, Red) di Desa Pakraman Moding Sari, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana, Jumat (7/2) siang. Adanya kenaikan pangkat bagi almarhum Putu Satria Wirabuana dari Bharada menjadi Bharatu ini juga dibenarkan Kepala Detasemen A Pelopor Brimob Polda Sulteng, Kompol Eko Udi Kariyanto, yang ikut mengantar jenazah korban ke rumah duka, Jumat kemarin. “Gugur dalam melaksanakan tugas, almarhum dapat kenaikan pangkat,” katanya. Kapolda Bali, Irjen Albertus Julius Benny Mokalu, juga membenarkan kenaikan pangkat dari Bharada menjadi Bharatu untuk anggota Brimob korban penembakan teroris ini.

"Kenaikan pangkat yang diberikan yaitu dari Bharada menjadi Bharatu," ujar Kapolda Albertus di sela acara penyambutan jenazah almarhum di Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, Jumat siang. Menurut Kapolda Bali, penghargaan kenaikan pangkat diberikan sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan almarhum terhadap negara dalam memberantas terorisme. Selain dapat kenaikan pangkat, personel Brimob yang baru setahun bertugas di Foso sebelum akhirnya tewas didor teroris ini nantinya juga akan mendapat santuan uang dari pemerintah. Namun, Kapolda Bali tidak menyebutkan berapa jumlah uang yang akan diberikan untuk almarhum. Yang jelas, Kapolda Bali menyatakan sangat bangga dengan perjuangan almarhum Putu Satria Wirabuana.

"Sesuai dengan namanya ‘Satria’, pemberani," ujar Kapolda yang kemarin jemput jenazah anggota Brimob korban penembakan teroris ke Bandara Internasional Ngurah Rai bersama Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya. Jenazah almarhum Putu Satria Wirabuana sendiri tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai, Jumat siang sekitar pukul 11.00 Wita. Jasad korban diterbangkan dari Poso menggunakan pesawat Lion Air. Jenazah diterima langsung Kapolda Bali, kemudian dilepas melalui upacara militer. Usai upacara penghormatan ala militer di Bandara Internasional Ngurah Rai, jenazah korban kemarin siang langsung dibawa ke rumah duka di Desa Pakraman Moding Sari, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, jenazah korban tiba di rumah duka kemarin siang pukul 13.30 Wita.

Dari pantauan, kedatangan jenazah korban disambut tangis histeris beberapa keluarga almarhum. Mereka yang menangis histeris sehingga harus dipapah, antara lain, ibunda korban, Ni Wayan Sulastri, 44. Demikian pula kedua adik perempuan korban, Ni Kadek Kartika Wirawati, 19, dan Ni Komang Suci Sastrawati, 16. Sedangkan ayah korban, Aiptu I Ketut Telayana, 52, yang juga anggota polisi Polsek Melaya, mencoba tabah. Kepala Detasemen A Pelopor Brimob Polda Sulteng, Kompol Eko Udi Kariyanto, ikut mengantar jenazah korban penembakan teroris di Poso ini ke rumah duka, Jumat kemarin. Eko Udi memaparkan, selama bertugas di Poso, almarhum Bharatu Putu Satria Wirabuana menjadi anggota Subden III Brimob Polda Sulteng. “Terus terang, Polda Sulteng merasa sangat kehilangan atas tewasnya prajurit terbaik kami (Putu Satria Wirabuana). Almarhum kerjanya bagus. Meski masih baru dan muda, tapi secara kedinasan dia sangat baik dan pantas diacungi jempol. Saya yakin tidak semua prajurit berani seperti almarhum dalam kondisi seperti itu,” beber Eko Udi.

Selain dianggap sebagai anggota jempolan, menurut Eko Udi, almarhum Putu Satria juga sosok yang sangat supel dan ramah. Selama bertugas di Poso, almarhum tidak pernah sekali pun membuat masalah. “Makanya, kami Polda Sulteng sengaja datang mengantar jenazah almarhum ke rumah duka untuk mengucapkan terimakasih kepada pihak keluarga, karena telah mencetak anak bangsa yang perlu dijadikan tauladan. Dengan kegigihannya, almarhum sampai mengorbankan nyawanya demi menjaga kemanan dan kenteteraman di Polda Sulteng,” puji Eko Udi. Disinggung mengenai krologis peristiwa hingga tewasnya almarhum Putu satria, menurut Eko Udi, insiden maut terjadi serangkaian Operasi Aman Malio Satu untuk menyasar kelompok teroris jaringan Santoso. Dalam operasi itu, rutin digelar patroli gabungan dengan TNI ke lokasi-lokasi yang diduga menjadi persembunyian kelompok DPO teroris.

“Patroli dilakukan jalan kaki, karena lokasinya tidak bisa menggunakan kendaraan, sekalipun kendaraan roda dua. Patrolinya bersambung terus, dimulai hari Selasa (4/2) lalu. Ternyata, saat patroli hari Kamis ada penghadangan dari kelompok mereka (teroris jaringan Santoso, Red),” ujar Eko Udi. Nah, saat terjadi penghadangan ketika patroli di kawasan pegunungan Desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulteng, Kamis siang sekitar pukul 11.00 Wita---berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Poso---itulah terjadi baku tembak. Kemudian, Putu Satria tewas tertembak. “Saat itu memang dari pihak kita (petugas gabungan) yang kena tembak duluan. Kemudian, dilakukan pengejaran dan kita dapatkan beberapa orang dari kelompok mereka. Almarhum ikut dalam satu regu. Hanya beliau saja yang kena tembak dari pihak kita.

Almarhum tertembus satu peluru di dada kiri hingga mengenai jantung,” cerita Eko Udi. Bukan hanya Putu Satria Wirabuana yang tewas tertembak dalam insiden di Poso siang itu. Dua terduga teroris juga dilaporkan tewas dalam baku tembak dengan petugas siang itu. Salah satunya, terduga teroris berinisial F, yang tewas akibat kehabisan darah. Sementara itu, Kapolri Jenderal Sutarman memastikan dua terduga teroris yang tewas tertembak siang itu dari jaringan pimpinan Santoso. "Ya, sudah dipastikan kelompok jaringan teroris Santoso," ungkap Kapolri Sutarman dilansir Antara seusai acara serah terima jabatan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat kemarin. Kapolri Sutarman mengatakan, jaringan Santoso menguasai medan di Gunung Biru, Poso, karena merupakan tempat latihan militer kelompok tersebut.

"Begitu melihat anggota kita berpakaian dinas, langsung diserang. Mereka menembak duluan, membidiknya kan gampang," jelasnya. Jumat kemarin, Kapolri Sutarman memimpin langsung doa atas gugurnya Bharatu Putu Satria Wirabuana, anggota Brimob asal Bali. "Saya turut berbela sungkawa, satu anggota Bhayangkara negara gugur dalam melaksanakan tugas. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Saya mohon kerelaan hadirin untuk mendoakan almarhum," pinta Kapolri.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen