Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , , » Bangun Monumen Dewa, Tetap Kondusif, Usut Tuntas, Pujayasa Tak Turunkan Citra Bali

Bangun Monumen Dewa, Tetap Kondusif, Usut Tuntas, Pujayasa Tak Turunkan Citra Bali

Written By Dre@ming Post on Minggu, 23 Februari 2014 | 9:03:00 AM

Gubernur Berharap Tahun Politik Bali Tetap Kondusif, Kasus Ketut Pujayasa Tak Turunkan Citra Bali, Empat Penjuru Bali Akan Dibangun Monumen Dewa, Pastika Minta Kematian TKI Bali Diusut Tuntas.
Pastika Minta Kematian TKI Bali Diusut Tuntas

Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta kasus kematian Tenaga Kerja Indonesia Nyoman Gede Bagiada, yang bekerja di kapal pesiar Constellation I saat berlayar di perairan Selat Yucatan dapat diusut tuntas.

"Indikasinya bunuh diri, tetapi saya kira harus ada penelitian dan penyelidikan. Kita tidak bisa terima begitu saja, apalagi di tengah lautan. Bisa saja dibunuh orang," katanya usai menggelar simakrama atau temu wicara bulanan dengan masyarakat, di Denpasar, Sabtu.

Pihaknya akan terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan meminta agar penyebab kematian TKI asal Mengwi, Kabupaten Badung, Bali itu diusut tuntas serta berkomitmen untuk berupaya maksimal membantu warga Bali yang tersangkut masalah di luar negeri

"Kami akan urus sejauh mungkin kita mampu. Pendampingan kami lihat dulu, pemerintah pusat juga sudah melakukan, paling tidak kita peduli dan bertanya ada apa sesungguhnya," ujar Pastika.

Yang jelas, mantan Kapolda Bali itu tidak mau jika kasus tersebut dianggap selesai begitu saja dan ia juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas tewasnya Bagiada.

Sebelumnya Kepala Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia BP3TKI di Denpasar I Wayan Pageh mengatakan terkait tewasnya Nyoman Bagiada, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan telah dilakukan pencarian oleh petugas pemantau laut Amerika Serikat, namun tidak ditemukan.

Menurut dia berdasarkan laporan yang diterima dari Kepolisian Fort Lauderdale, Florida, dan ditembuskan kepada Kementerian Luar Negeri RI, kejadian tersebut diketahui terjadi pada 29 Januari 2014 sekitar pukul pukul 02.00 dini hari waktu setempat saat kapal pesiar tersebut berlayar di perairan Selat Yucatan, atau di antara perairan Meksiko dan Kuba, sekitar 300 mil dari Amerika Serikat.

Dari keterangan yang diterima pihak BP3TKI dari Kementerian Luar Negeri RI tertanggal 12 Februari 2014 itu, disebutkan bahwa berdasarkan penyelidikan pihak kepolisian setempat, pria yang bekerja di bagian juru masak itu sengaja menceburkan diri ke laut yang terekam langsung kamera pengawas atau "closed circuit television" (CCTV).

Dari surat Kemenlu RI dengan nomor 03180/WN/02/2014/65 dan ditandatangani Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Tatang Budhie Utama Razak itu disebutkan bahwa pihak kepolisian dari US Coast Guard, jasad pria dari Banjar Serangan, Desa Mengwi, Kabupaten Mengwi itu tidak ditemukan mengingat ia terjun dari ketinggian sekitar 45 meter dan kemungkinan terhisap gelombang akibat baling-baling kapal.

Bagiada sengaja menceburkan diri diduga akibat tekanan batin karena penyakit diabetes yang diidapnya dan tidak tidak mendapat biaya cuti pulang dari perusahaannya bekerja, Royal Carribbean Cruises Ltd (RCCL) untuk menjenguk keluarganya di Bali. Hal tersebut juga diperkuat oleh teman-temannya.

Empat Penjuru Bali Akan Dibangun Monumen Dewa

Empat penjuru arah mata angin Pulau Bali direncanakan dibangun monumen atau patung empat dewa Hindu dengan ukuran besar, sesuai dengan usul dari maestro lukis Nyoman Gunarsa.

"Saya setuju dengan usul itu, dan ini pasti bisa terwujud. Namun harus diseminarkan dulu dan saya minta Pak Gunarsa untuk menjadi salah satu narasumbernya," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada acara simakrama atau temu wicara bulanan dengan masyarakat Bali, di Denpasar, Sabtu.

Pastika sependapat dengan usul Gunarsa untuk membangun monumen tersebut sebagai simbol "pengunci" atau pelindung alam Bali secara rohani sekaligus ciri khusus yang mudah dilihat ketika orang luar memasuki Pulau Dewata.

Di arah pintu masuk timur Pulau Bali (Pelabuhan Padangbai, Karangasem) direncanakan dibangun monumen Dewa Iswara; di arah selatan (Pelabuhan Benoa, Denpasar) akan dibangun monumen Dewa Brahma; di arah barat (Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana) dibangun patung Mahadewa dan arah utara (Pelabuhan Celukan Bawang, Buleleng) dibangun patung Dewa Wisnu.

Namun, ia menandaskan untuk merealisasikan patung tersebut harus diseminarkan terlebih dahulu karena harus mendengar pendapat dari banyak pihak.

"Hal ini menyangkut Bali dan bukan main-main karena terkait kepercayaan juga. Hal-hal sensitif harus dibicarakan dulu secara mendalam, tidak serta merta begitu saja. Pertama apakah rakyat Bali setuju dulu atau tidak," katanya.

Menurut mantan Kapolda Bali itu, biaya pembangunannya dapat menggandeng pihak ketiga seperti para pengelola di empat pelabuhan yakni Pelindo dan ASDP. Sedangkan jika tidak mau bisa dibiayai oleh pemerintah.

"Dulu saya juga pernah berencana membangun patung yang tinggi di daerah Pantai Segara Rupek, Gilimanuk sehingga orang dari Pulau Jawa bisa melihat jelas penanda Pulau Bali," ujarnya.

Gubernur Berharap Tahun Politik Bali Tetap Kondusif

Gubernur Bali Made Mangku Pastika berharap pada tahun politik ini masyarakatnya tetap menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah karena pemilu merupakan peristiwa penting dalam suksesi kepemimpinan di Tanah Air.

"Tahun 2014 merupakan tahun politik yang menjadi momentum penting dalam kehidupan bernegara sehingga keamanan dan kondusivitas Bali harus tetap terjaga," katanya saat mengawali simakrama atau temu wicara bulanan dengan masyarakat, di Denpasar, Sabtu.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Bali punya kearifan lokal berupa semangat "menyama braya" atau persaudaraan yang bisa dijadikan kekuatan dalam menghadapi tahun politik tersebut.

Sementara itu terkait pelaksanaan simakrama, Pastika menegaskan kembali komitmennya untuk melaksanakan kegiatan ini secara berkelanjutan. Simakrama baginya merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. "Melalui kegiatan ini, kami terbuka menerima berbagai masukan baik berupa saran hingga kritik dari masyarakat," ujarnya.

Pada kesempatan itu, salah satu peserta, Wayan Suarjaya dari Denpasar menyampaikan apresiasi atas besarnya perhatian Pemprov Bali terhadap keberadaan desa pakraman (desa adat). Selain meningkatkan bantuan untuk desa pakraman, Gubernur bali juga memberi bantuan operasional kepada Mejelis Desa Pakraman.

"Baru kali ini ada Gubernur yang memperhatikan majelis desa pakraman dengan memberikan bantuan operasional dari tingkat majelis alit, madya hingga majelis utama," urainya.

Selain perhatian terhadap keberadaan lembaga tradisional, Suarjaya juga menilai sejumlah program unggulan Pemprov Bali seperti Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbangsadu), Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri), bedah rumah dan lainnya, manfaatnya telah dirasakan oleh masyarakat.

"Namun demikian, saya minta Pemprov Bali melakukan pembinaan administrasi pertanggungjawaban penggunaan anggaran agar tak ada yang tersangkut masalah hukum di kemudian hari," katanya.

Terkait dengan perhatian terhadap desa pakraman, Pastika menegaskan bahwa hal itu sudah menjadi kewajibannya. Keberadaan lembaga tradisional ini memang harus diperkuat karena merupakan benteng Bali dalam menghadapi dampak negatif era globalisasi. Hanya saja, ia kembali mengingatkan agar berbagai bantuan yang diberikan bisa digunakan dengan baik dan benar.

Kasus Ketut Pujayasa Tak Turunkan Citra Bali

Gubernur Bali Made Mangku Pastika berpandangan kasus yang menimpa TKI, Ketut Pujayasa (28), yang diduga terlibat dalam perkara penganiayaan dan pemerkosaan di Florida, Amerika Serikat, tidak lantas menurunkan citra pekerja asal Pulau Dewata.

"TKI kita ribuan orang, kalau ada satu dua yang begitu, wajar-wajar saja, manusiawi. Hal itu bisa terjadi pada siapa saja," katanya usai menggelar simakrama atau temu wicara bulanan dengan masyarakat, di Denpasar, Sabtu.

Menurut dia, kasus yang menimpa Ketut Pujayasa, TKI asal Kabupaten Buleleng, Bali, itu tidak langsung mempengaruhi kepercayaan pihak asing untuk mempekerjakan putra asal Pulau Dewata di kapal pesiar.

"Yang penting ke depan harus kita bekali mereka yang akan bekerja di luar negeri dengan berbagai hal yang membuat mereka tidak berbuat hal-hal tercela," ujarnya.

Mantan Kapolda Bali itu menilai memang kasus yang menimpa Ketut Pujayasa tak sederhana dan ancaman hukumannya cukup berat. "Perkosaan dan percobaan pembunuhan itu tidak sederhana, apalagi di atas kapal," ucapnya.

Pihaknya pun akan terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan berupaya maksimal untuk membantu warga Bali yang tersangkut masalah di luar negeri. "Kami akan urus sejauh mungkin kita mampu. Pendampingan kami lihat dulu, pemerintah pusat juga sudah melakukan, paling tidak kita peduli dan bertanya ada apa sesungguhnya," ujarnya.

Berkaca dari kejadian itu, Pastika kembali mengingatkan empat hal yang harus dihindari putra-putri Bali ketika bekerja di luar negeri yakni mabuk-mabukan, judi, main wanita dan berkelahi. "Penyakitnya itu kalau anak-anak kita bekerja di kapal pesiar, ikut-ikutan mabuk, judi sehingga ketika turun tidak mempunyai uang," ucapnya.

Oleh karena itu, setiap kali melepas TKI Bali untuk bekerja di kapal pesiar, ia pasti mewanti-wanti untuk menghindari keempat hal tersebut.

Selain itu, kepada para TKI yang saat ini masih di luar negeri, Pastika berharap agar mereka menjaga diri masing-masing. "Ingat bahwa ada keluarga yang ditinggalkan di rumah. Biaya untuk berangkat juga tak sedikit, bahkan ada yang sampai menggadaikan sawah," katanya.

Sebelumnya Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) di Denpasar, I Wayan Pageh, mengatakan pihaknya telah berbicara dengan perwakilan Konsulat Jenderal RI di Houston dan perusahaan tempat Ketut Pujayasa telah menyediakan pengacara. Pemerintah Amerika Serikat telah menunjuk seorang pengacara yakni Chantel R Doakes dari sebuah kantor pembela publik di Kota Fort Lauderdale, Florida.

Pihak BP3TKI pun telah berkoordinasi dengan agen yang mengirim pria yang ditempatkan di bagian tata hidangan itu yakni PT Sumber Bakat Insani dan Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) untuk penanganan termasuk dengan pihak KJRI di Houston, Texas.

Dia menjelaskan bahwa Ketut merasa dihina dengan kata-kata kasar oleh seorang tamu wanita berusia sekitar 31 tahun berkewarganegaraan Amerika Serikat pada Jumat (14/2) saat mengantarkan sarapan pagi kepada wanita itu dalam pelayaran pesiar di perairan Roatan, Honduras.

Oleh karena tidak terima dengan kata kasar itu, dari pemberitaan sejumlah media "online" di Amerika Serikat disebutkan bahwa ia kemudian memasuki kamar tempat tamu itu menggunakan kunci induk dan menunggu wanita tersebut di dalam kamarnya. Diberitakan bahwa Ketut menganiaya tamunya dan diduga melakukan pemerkosaan.

Ketut ditangkap oleh Badan Intelijen Federal Amerika Serikat saat kapal pesiar super besar itu merapat di Port Everglades pada Minggu (16/2) dan ditahan di Penjara Broward County di Fort Lauderdale, Florida.



sumber : antarabali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

TNI Turun Tangan Memperketat Pos Jaga Gunung Agung

Gunung Agung AMLAPURA - Banyaknya warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) memilih balik ke rumah daripada tinggal di pengungs...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen