Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » 50 KK Pengungsi Mulai Tempati Tenda

50 KK Pengungsi Mulai Tempati Tenda

Written By Dre@ming Post on Senin, 27 Januari 2014 | 7:21:00 AM

“Tenda pengungsian baru bisa didirikan sejak pagi tadi (Minggu), setelah cuaca mulai cerah,” jelas Mangku Suwinten. “Warga korban banjir yang kesulitan tempat tinggal dan harus dibantu dengan tenda, mencapai 50 KK,” imbuhnya. Versi Mangku Suwinten, ini untuk kesekian kalinya terjadi bencana banjir bandang di Dusun Kaja Kauh, Desa Sudaji. Jauh sebelumnya, bencana banjir skala besar juga pernah terjadi sekitar tahun 1969. Kala itu, bencana banjir bandang bahkan merenggut 7 korban jiwa. Pasalnya, bencana ketika itu terjadi di malam hari. Dalam bencana Kamis lalu, kata Mangku Suwenten, tidak sampai merenggut korban nyawa, karena terjadinya sore hari. “Karena kejadian sore hari, warga korban bencana masih sempat menyelamatkan diri. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau bencana banjir bandang ini menerjang malam hari,” tutur Mangku Suwinten setengah bersyukur. Gbr Ist
SINGARAJA - Sebanyak 50 kepala keluarga (KK) korban bencana banjir bandang di Dusun Kaja Kauh, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng mulai menempati tenda-tenda pengungsian, sejak Minggu (26/1) pagi. Sedangkan 20 KK korban bencana di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan hingga kemarin masih bertahan di pengungsian di Pura Cengkede.

Warga pengungsi mencapai 70 KK ini merupakan korban bencana banjir bandang yang menerjang rumah-rumah mereka pada saat hampir bersamaan di tempat terpisah, Kamis (23/1) sore. Sebelum dibangun tenda, 50 KK korban banjir bandang di Desa Sudaji ini mengungsi di di tempat terpencar sejak bencana menerjang. Sedangkan 20 KK korban bencana di Desa Bebetin sejak awal sudah mengungsi ke Pura Cengkede, yang berada di Desa Galungan, Kecamatan Sawan. Tenda-tenda untuk korban bencana dari Desa Sudaji dibangun di wilayah Dusun Kaja Kauh yang posisinya lebih aman (tinggi).

Menurut Kepala Dusun (Kadus) Kaja Kauh, Mangku Putu Suwinten, warganya yang jadi korban bencana sudah mulai menempati tenda pengungsian, sejak Minggu pagi. Tenda-tenda tersebut merupakan pemberian Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng. Rencananya, kata Mangku Suwinten, akan dibangun sekitar 10 tenda pengungsian bagi korban bencana banjir. “Nanti mungkin satu tenda bisa ditempati 5 KK pengungsi. Tapi, kita serahkan sepenuhnya pada warga korban yang mengaturnya,” jelas Kadus Mangku Suwinten di lokasi tenda pengungsian, Minggu kemarin. Kadus Mangku Suwinten menyatakan, korban bencana banjir di Desa Sudaji mencapai 50 KK dan mereka mengungsi bersama keluarganya yang berjumlah ratusan orang.

Terdata, ada 24 unit rumah di bantaran sungai Banjar Kaja Kauh yang hanyut akibat luapan air sore itu. Sedangkan korban lainnya yang tempat tinggalnya tidak hanyut, juga ikut mengungsi karena rumah-rumah mereka sudah rusak dan berbahaya untuk ditempati. “Waktu itu, para korban bencana banjir bandang memilih mengungsi ke rumah-rumah milik warga lainnya yang berlokasi di tempat lebih aman,” ungkap Mangku Suwinten. Hanya saja, menurut Mangku Suwinten, karena lokasi bencana sulit dijangkau lantaran berada di bawah bukit dan jalan menuju ke lokasi juga hancur dan berlobang, bantuan untuk para korban sempat tersendat, terutama tenda. Apalagi, sejak bencana menerjang sampai Sabtu (25/1), hujan lebat terus menggguyur kawasan Dusun Kaja Kauh, Desa Sudaji.

“Tenda pengungsian baru bisa didirikan sejak pagi tadi (Minggu), setelah cuaca mulai cerah,” jelas Mangku Suwinten. “Warga korban banjir yang kesulitan tempat tinggal dan harus dibantu dengan tenda, mencapai 50 KK,” imbuhnya. Versi Mangku Suwinten, ini untuk kesekian kalinya terjadi bencana banjir bandang di Dusun Kaja Kauh, Desa Sudaji. Jauh sebelumnya, bencana banjir skala besar juga pernah terjadi sekitar tahun 1969. Kala itu, bencana banjir bandang bahkan merenggut 7 korban jiwa. Pasalnya, bencana ketika itu terjadi di malam hari. Dalam bencana Kamis lalu, kata Mangku Suwenten, tidak sampai merenggut korban nyawa, karena terjadinya sore hari. “Karena kejadian sore hari, warga korban bencana masih sempat menyelamatkan diri. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau bencana banjir bandang ini menerjang malam hari,” tutur Mangku Suwinten setengah bersyukur.

Sementara itu, tenda pengungsian juga disiapkan bagi para korban bencana banjir bandang di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng---yang lokasinya di sebelah selatan (bagian atas) Desa Sudaji. Para korban bencana banjir Desa Bebetin hingga saat ini mengungsi di Pura Cengkede, Desa Pakraman Galungan, Kecamatan Sawan---berlokasi di sebelah selatan Desa Bebetin. Data di lapangan, jumlah pengungsi yang masih bertahan di Pura Cengkede, Desa Galunggung, Minggu kemarin, memncapai 20 KK dengan jumlah anggota sekitar 60 orang. Mereka berasal dari Banjar Manuksesa, Desa Bebetin. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng mendrop tenda ke Pura Cengkede, untuk digunakan para pengusian korban bencana jika sewaktu-waktu mereka membutuhkannya. “Kita siapkan saja tenda pengungsian tersebut. Kita sudah kirim tendanya ke lokasi (tempat pengungsian di Pura Cengkede dan Dusun Kaja Kauh (Desa Sudaji),” papar Kapala BPBD Buleleng, I Putu Dana, saat ditemui di lokasi bencana di Banjar Manuksesa, Desa Bebetin, Minggu kemarin.

Sedangkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Buleleng kemarin mengerahkan alat berat ke lokasi bencana banjir bandang di Banjar Manuksesa, Desa Bebetin. Alat berat dikerahkan untuk memberishkan material longsor yang memenuhi jalanan menuju pusat Banjar Manuksesa. “Kita baru sebatas membuka akses jalan dulu. Setelah ini terbuka, baru kita pikirkan penanganan kerusakan lainnya,” ungkap Kepala Dinas PU Buleleng, I Ketut Yasa. Sementara, Kepala Desa (Perbekel) Bebetin, I Ketut Laksana, mengatakan pihaknya telah membuat kesepakatan dengan warga setempat, termasuk para korban bencana terhadap keberadaan material bekas banjir bandang. Nantinya, warga berhak memiliki kayu-kayu yang hanyut akibat banjir bandang. “Berdasarkan kesepakatan, batang kayu milik masing-masing warga, sedangkan batunya milik pemerintah yang kelak akan digunakan untuk perbaikan infrastruktur jalan dan irigasi yang rusak karena terjangan bencana,” beber Perbekel Ketut Laksana, Minggu kemarin. Banjir bandang di Desa Bebetin sendiri menerjang Kamis (23/1) sore sekitar pukul 17.30 Wita.

Bencana di banjar Manuksesa, Desa Bebetin ini bukan hanya menyebabkan puluhan warga mengungsi ke Pura Cengkede, yang berlokasi di Desa Galungan. Bencana sore itu juga merenggut satu korban nyawa. Korban tewas dalam bencana banjir di Desa Bebetin sore itu adalah Ni Kadek Sri Ayu Padmini, 19. Korban yang mahasiswi STKIP Agama Hindu Singaraja ini terseret air bah sejuah 500 meter bersama motor yang ditungganginya, sepulang dari kuliah. Saat musibah terjadi, posisi korban sekitar 500 meter dari rumahnya di Banjar Manuksesa. Jasad korban Kadek Sri Ayu Padmini yang merupakan putri pasangan I Wayan Wardi, 45, dan Ni Luh Mariani, 42, ini baru ditemukan Kamis malam pukul 23.30 Wita. Saat ditemukan, jasad korban tersangkut bebatuan di tengah sawah. Sementara motornya, baru ditemukan warga Jumat pagi, tak jauh dari posisi jazad korban. Jenazah korban Kadek Sri Ayu Padmini sendiri sudah dimakamkan keluarganya di Setra Desa Pakraman Bebetin, Jumat (24/1) sore.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen