Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » , » Granat Meledak, 1 Tewas, 1 Luka

Granat Meledak, 1 Tewas, 1 Luka

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 05 Oktober 2013 | 7:16:00 AM

Kapolres Tabanan AKBP Dekananto Eko Purwono menyatakan bahwa dari material yang dikumpulkan dari lokasi kejadian, pihaknya menemukan serpihan granat jenis Nanas. "Kita sudah amankan cincin granatnya di sekitar lokasi,” ujar Kapolres. Tak jauh dari lokasi ledakan granat di Desa Candi Kuning sebelumnya dijadikan ajang latihan Kopassus dalam rangka pengamanan KTT APEC. Kapendam IX/Udayana, Kolonel Wing Handoko, juga mengakuinya. Tapi, menurut Wing, selama pelaksanaan latihan, Kopassus sama sekali tidak menggunakan granat. Dalam latihan penyerbuan cepat dan pembersihan kampung itu, Kopassus menggunakan peluru hampa. “Kita gunakan peluru hampa dan dinamit. Tapi, dinamit sudah diledakkan dan tak ada yang tersisa,” tegas Wing dikutip metrobali.com terpisah, Jumat kemarin. Penggunaaan dinamit, imbuh dia, sebagai bentuk simulasi suara. Wing menegaskan granat yang meledak hingga merenggut satu nyawa dan satu korban terluka itu bukan milik TNI. “Jadi kami tegaskan itu bukan milik kami (TNI). Kami mendorong pihak kepolisian untuk mengusut siapa pemilik granat itu,” pinta Wing. Sementara, jenazah korban ledakan granat dari Desa Candi Kuning sudah tiba di RS Sandlah, Jumat sore pukul 17.30 Wita, dengan diantar ambulans RSUD Tabanan. Jenazah Yesi Puspa langsung diotopsi.
TABANAN - Ledakan granat jenis Nanas terjadi di kebun strawberry milik keluarga I Wayan Puja, 58, di Banjar Bukit Catu, Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Jumat (4/10) pagi. Akibat ledakan granat yang sebelumnya ditemukan tercecer di perkebunan tak jauh dari lokasi bekas latihan Kopassus tersebut, seorang buruh ABG tewas mengenaskan, sementarta satu korban lagi menderita luka berat.

Informasi di lapangan, ledakan keras granat jenis Nanas itu terjadi Jumat pagi sekitar pukul 09.30 Wita. Ledakan terjadi di seputar garase mobil salah satu bangunan di kebun strawberry milik Wayan Puja. Korban tewas dalam ledakan granat di kebun strawberry ini adalah Yesi Puspa, 14, yang merupakan anak dari pasuteri buruh di perkebunan tersebut, Moh Imron, 46, dan Junainah, 43. Korban Yesi Puspa juga ikut maburuh di sana bersama kedua orangtuanya. Sedangkan korban terluka adalah I Komang Budayasa, 13, bocah asal Banjar Bukit Catu, Desa Candi Kuning. Seperti halnya korban tewas Yesi Puspa, bocah Komang Budayasa juga jadi buruh di kebun strawberry milik Wayan Puja, yang lengkap berisi bangunan hotel dan restoran namun tidak lagi beroperasi. Korban Yesi Puspa tewas mengenaskan dengan tubuh terkoyak, di mana sebagian dagingnya yang terburai masih menempel di dinding mobol, serta kedua tangan terpotong. Potongan jari tangan korban juga berserak di jok mobil. Sedangkan mobil Pick Up dalam garase di mana granat meledak, mengalami kerusakan di baguan kaca depan.

Sebaliknya, korban selamat Komang Budayasa terluka di bagian wajah hingga dilarikan ke RSUD Tabanan. Saat musibah terjadi, korban Yesi Puspa dan Komang Budayasa sedang bermain-main kotak warna hijau yang ternyata berisi granat. Kotak maut itu sebelumnya ditemukan korban Yesi Puspa tercecer di perkebunan milik Wayan Puja, Kamis (3/10), lalu dibawa ke garase salah satu bangunan. Barulah Jumat pagi kemarin, Yesi Puspa membuka benda berbentuk kotak hijau itu bersama Komang Budayasa, yang ternyata meledak hebat. Ketika ledakan maut terjadi kemarin pagi pukul 09.30 Wita, pemilik kebun strawberry, Wayan Puja, yang notabene menjabat sebagai Bendesa Pakraman Bukit Catu, Desa Candi Kuning, tengah berada di warung depan perkebunannya. Tiba-tiba, dia mendapat laporan ada ledakan keras di kebun strawberry bagian bawah, hingga menyebabkan satu korban tewas dan satu lagi terluka parah. Adalah korban Komang Budayasa sendiri yang mendatangi Wayan Puja dalam kondisi berdarah-darah, untuk memberitahukan terjadinya ledakan maut di kebun bagian belakang.

Korban Budayasa memberitahukan bahwa Yesi Puspa terkena ledakan hebat. Wayan Puja kemudian mencari orangtua Yesi Puspa, yakni Moh Imron dan Junainah, yang bekerja di bagiabn bawah kebunnya persis di belakang penampungan air PDAM. Wayan Puja dan Moh Imron lanjut naik motor menuju lokasi ledakan. Saat tiba di lokasi ledakan, Moh Imron melihat kedua tangan putranya sudah dalam kondisi terputus. “Saya lihat Yesi Puspa dalam keadan pingsan di kiri mobil (Pick Up DK 9057 GF) di mana kedua tangannya sudah terputus. Saat itu, anak saya masih bernapas. Tak berselang lama, anak saya langsung meninggal,” keluh Moh Imron, buruh asal Dusun Barurejo, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur yang sudah menetap di Banjar Bukit Catu, Desa Candi Kuning, sejak 15 tahun silam. Moh Imron dan Wayan Puja kemudian mengangkat tubuh Yesi Puspa ke dalam bak terbuka mobil Pick Up DK 9057 GF. Semula, korban hendak dibawa ke rumah sakitm namun urung dilakukan karena Yesi Puspa keburu meninggal. Saat itu pula, ibunda korban, Junainah, langsung menangis histeris sambil bergulingan di tanah karena sedih melihat kondisi putra keduanya tewas mengenaskan.

Pada saat bersamaan, korban selamat Komang Budayasa yang terluka di bagian wajah dilarikan ke RSUD Tabanan. Musibah maut ini kemudian dilaporkan ke Polsek Baturiti dan Polres Tabanan. Petugas gabungan dari Polsek Baturiti, Polres Tabanan, dan Tim Gegana Polda Bali pun turun ke lokasi TKP. Kapolres Tabanan AKBP Dekananto Eko Purwono juga terjun ke lokasi TKP bersama Komandan Kodim 1619 Tabanan, Letkol Inf Rudi Hermawan. Saat olah TKP, petugas menemukan 1 bok granat, 1 cincin pengaman granat, 1 pengunci granat, serpihan granat jenis Nanas, dan 1 tang. Warga setempat yang menyaksikan olah TKP, menduga granat yang meledak tersebut milik Koppasus yang sempat latihan perang-perangan di perbukitan kawasan itu, Rabu (2/10) malam. Selain itu, saat olah TKP kemarin, petugas juga menemukan jari tangan korban teqwas Yesi Puspa di bawah pohon pinus, yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah timur lokasi ledakan. Satu potongan jari tangan lagi ditemukan dalam jok mobil. Usai proses olah TKP, Jumat sore pukul 15.00 Wita, jenazah korban Yesi Puspa dikirim ke RS Sanglah, Denpasar.

Sementara, saat police line dibuka kemarin sore, warga langsung mendatangi lokasi TKP ledakan granat. Kaca depan mobil Pick Up tampak pecah berantakan, serpihan kaca berserakan di garase. Serpihan daging tubuh korban Yesi Puspa juga masih menempel di dinding mobil. Sedangkan di sekitar bangunan hotel yang tak beroperasi lagi, terlihat ada dua dus bekas ransel bertuliskan TNI-AD. Pada kardus bertuliskan nama bekal: ransel punggung besar No. Kode prod: TNI-AD 2013.18.888. Jml/Sat/Uk: 1 pcs. No Koli: 242/800. Berat bruto: 5.92 kg. Kardus satunya lagi bertuliskan sama, hanya nomor Koli yang beda yakni 686/800. Kedua kardus itu lengkap isi logo TNI-AD serta untuk penerimaan. Ditemui secara terpisah di ruang perawatan RSUD Tabanan, Jumat kemarin, korban terluka Komang Budayasa mengisahkan koronologis ledakan maut yang nyaris merenggut nyawanya. Dia mengatakan, Jumat pagi sekitar pukul 9.30 Wita, dirinya berencana mengambil air di kebun strawberry Wayan Puja.

Saat itu, dia melihat Yesi Puspa mengambil benda berbentuk kotak warna hijau. Benda berbentuk kotak hijau itu diambil dari dalam mobil Pick Up yang terparkir di garase. Bodayasa pun menanyakan asal usul benda tersebut. Nah, Yesi Puspa mengakui benda tersebut ditemukan berserakan dari sebelah hotel yang masih satu kawasan dengan perkebunan strawberry milik Wayan Puja, Kamis lalu. Kemarin pagi, Yesi Puspa lanjut mengambil tang dan membuka kotak maut warna hijau itu untuk mengeluarkan isinya. Pada saat bersamaan, jatuh satu benda berbentuk baut, sedangkan benda dalam kotak dilihat ada lubang kecilnya. Benda serupa baut yang jatuh tadi dimasukkan ke dalam lubang benda tersebut. “Begitu dimasukkan, langsung meledak,” tutur Budayasa. Saat meledak, benda yang kemudian disebut granat itu dipegang dengan tangan kiri dalam keadaan berdiri. Budayasa sendiri ikut terluka dalam ledakan ini. Menurut dokter jaga IRD RSUD Tabanan, dr Wayan Duta Krisna, korban Budayasa mengalami luka robek 3 cm x 2 cm di alis kanan, luka robek 2 cm x 1 cm di dahi tengah dengan kedalaman 0,5 cm. Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, mengaku prihatin warganya jadi korban ledakan granat. “Sangat disayangkan ada kejadian yang tak diharapkan. Semoga tak ada unsur kelalaian dalam kejadian ini. Kita harapkan kejadian ini tak terulang lagi,” ungkap Bupati Eka Wiryastuti, Jumat kemarin, yang kemarin mengutus Wakil Bupati IGK Sanjaya menjenguk korban Komang Budayasa di IRD RSUD Tabanan.

Sementara itu, Kapolres Tabanan AKBP Dekananto Eko Purwono menyatakan bahwa dari material yang dikumpulkan dari lokasi kejadian, pihaknya menemukan serpihan granat jenis Nanas. "Kita sudah amankan cincin granatnya di sekitar lokasi,” ujar Kapolres. Tak jauh dari lokasi ledakan granat di Desa Candi Kuning sebelumnya dijadikan ajang latihan Kopassus dalam rangka pengamanan KTT APEC. Kapendam IX/Udayana, Kolonel Wing Handoko, juga mengakuinya. Tapi, menurut Wing, selama pelaksanaan latihan, Kopassus sama sekali tidak menggunakan granat. Dalam latihan penyerbuan cepat dan pembersihan kampung itu, Kopassus menggunakan peluru hampa. “Kita gunakan peluru hampa dan dinamit. Tapi, dinamit sudah diledakkan dan tak ada yang tersisa,” tegas Wing dikutip metrobali.com terpisah, Jumat kemarin. Penggunaaan dinamit, imbuh dia, sebagai bentuk simulasi suara. Wing menegaskan granat yang meledak hingga merenggut satu nyawa dan satu korban terluka itu bukan milik TNI. “Jadi kami tegaskan itu bukan milik kami (TNI). Kami mendorong pihak kepolisian untuk mengusut siapa pemilik granat itu,” pinta Wing. Sementara, jenazah korban ledakan granat dari Desa Candi Kuning sudah tiba di RS Sandlah, Jumat sore pukul 17.30 Wita, dengan diantar ambulans RSUD Tabanan. Jenazah Yesi Puspa langsung diotopsi.

Namun, hingga tadi malam pukul 19.00 Wita, hasil otopsi belum bisa diumumkan. “Proses otopsi masih berlangsung. Jadi, hasilnya belum bisa kami berikan. Yang langsung melakukan otopsi adalah Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RS Sanglah (dr IB Putu Alit). Silakan konfirmasi langsung ke beliau,” ujar Kepala Instalasi Forensik RS Sanglah, dr Dudut Rustyadi.


sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Guru Piduka Dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih Mohon GA Tak Meletus

Ritual guru piduka di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Sabtu (18/11) Di...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen