Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Korban Tewas Tambah Jadi 7

Korban Tewas Tambah Jadi 7

Written By Dre@ming Post on Jumat, 16 Maret 2012 | 5:47:00 AM

Jumat, 16 Maret 2012, 05:39

ist
BANGLI - Korban tewas bencana longsor dan air bah di kawasan pegunungan Kintamani bertambah jadi 7 orang. Satu korban terakhir jatuh di Desa Sukawana yakni Nyoman Gunawan, 47, yang hilang hingga sejak Selasa (13/3) malam. Sementara, Desa Pinggan dan Desa Belandingan terisolasi akibat bencana longsor susulan disertai pohon-pohon bertumbangan, Kamis (15/3), hingga ratusan KK terancam kelaparan.

Korban Nyoman Gunawan merupakan satu-satunya korban tewas di Desa Sukawana. Sedangkan 6 korban tewas lainnya jatuh di Desa Belandingan (5 orang) dan Desa Pinggan (1 orang). Korban tewas di Desa Belandingan masing-masing I Wayan Tapa, 12, I Wayan Budaradnya, 25, I Wayan Dastri, 29, I Made Karbi, 36, dan I Komang Witri alias Jro Mangku Witri, 46.

Sementara korban tewas di Desa Pinggan adalah bocah I Ketut Ari Sutapa, 5. Keenam korban tewas di dua desa bertetangga (Pinggan dan Belandingan) ini meregang nyawa akibat bencana longsor dan air bah yang terjadi Selasa sore hingga Rabu (14/3) dinihari.

Perihal bencana longsor dan air bah yang merenggut nyawa korban Nyoman Gunawan, warga asal Banjar Munduk, Desa Sukawana baru diketahui setelah dilaporkan prajuru desa ke polisi, Kamis kemarin. Menurut Kasubag Humas Polres Bangli AKP Ida I Dewa Nyoman Rai, dari laporan yang diterimanya, korban
Nyoman Gunawan diduga kuat hilang akibat bencana longsor.

“Sesuai laporan dari Kepala Desa Sukawana dan sejumlah warga setempat, korban Nyoman Gunawan diperkirakan dihantam longsor dan kemudian terseret air bah saat hendak pulang ke pondoknya dengan naik sepeda motor, Selasa lalu,” terang Dewa Nyoman Rai di Bangli, Kamis kemarin.

Hingga kemarin petang, jasad korban Nyoman Gunawan belum ditemukan. Upaya pencarian yang dilakukan warga Desa Sukawana bersama petugas Basarnas, kepolisian, dan TNI belum membuahkan hasil, karena cuaca ekstrem. “Ratusan warga Desa Sukawana masih terus melakukan pencarian bersama polisi, TNI, dan petugas Basarnas,” ujar Dewa Nyoman Rai.

Bahkan, informasi lain yang dihimpun, pencarian korban Nyoman Darmawan dilakukan hingga ke wilayah Desa Pinggan dan Desa Songan. Pencarian dilakukan dengan menyusuri sungai besar yang menjadi muara sungai-sungai kecil di sekitarnya. Sungai besar ini berhulu di wilayah Banjar Paketan, Desa Sukawana, melewati Desa Pinggan, Desa Belandingan, dan bermuara di Danau Batur (Desa Songan).

“Saya tadi (kemarin) juga sempat ikut bersama-sama ratusan warga Desa Sukawana melakukan pencarian korban dengan menyusuri sungai,” ungkap Made Mur, 28, salah seorang warga Desa Pinggan.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun Pinggan, Desa Pinggan, I Nengah Punia, 53. Menurut Nengah Punia, kemarin siang sejumlah warga dari Desa Sukawana melakukan pencarian korban Nyoman Gunawan hingga sungai di wilayah Desa Pinggan dan Desa Belandingan. “Dalam pencarian tersebut, warga sempat bolak-balik menelusuri sungai. Namun, hasilnya nihil,” katanya.

Sementara, 4 korban dari total 6 korban tewas di Desa Pinggan dan Desa Belandingan sudah ditemukan sebelumnya. Sebagian telah ditemukan Selasa malam, sebagian lagi ditemukan Rabu siang. Dua di antaranya ditemukan di bagian hulu (utara) Danau Batur, yakni Wayan Dastri dan Komang Witri alias Jro Mangku Witri (keduanya asal Desa Belandingan).

Sedangkan dari dua korban tewas yang sebelumnya dinyatakan hilang, satu di antaranya sudah ditemukan jasadnya, Kamis kemarin, yakni Wayan Budaradnya (asal Desa Belandingan). Tinggal satu korban tewas asal Desa Belandingan yang hingga kini belum ditemukan, yaitu I Wayan Tapa.

Jasad korban Wayan Budaradnya kemarin ditemukan petugas gabungan Basarnas dan Polri dibantu warga, dalam posisi tertimbun sebagian di Tukad Yeh Sau, perbatasan antara Belandingan dan Desa Songan. “Jasab korban Budaradnya sudah langsung diserahkan ke pihak keluarganya di Desa Belandingan,” ungkap Kasubag Humas Polres Bangli AKP Ida I Dewa Nyoman Rai.

Selain merenggut 7 korban nyawa, bencana longsor dan air bah di tiga desa di Kintamani ini juga menyebabkan 17 korban terluka, di mana 16 orang di antaranya berasal dari Desa Pinggan. Dari 17 korban luka itu, 12 orang di antaranya terbilang luka serius, namun hanya 4 korban yang dilarikan ke RSUD Bangli untuk menjalani rawat inap, termasuk Ni Nyoman Ribut, 42.

Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang masih mengamuk di Desa Pinggan dan Desa Belandingan, Kamis pagi hingga malam. Akibatnya, terjadi lagi beberapa titik longsor disertai banyaknya pohon bertumbangan melintang ke jalan. Walhasil, akses jalan terputus, hingga Desa Pinggan dan Desa Belandingan praktis terisolasi dalam kondisi gelap gulita karena aliran listrik padam sejak Selasa malam.

Menurut Kepala Desa Pinggan I Ketut Janji, 43, warganya juga ketakutan keluar rumah karena hujan lebat disertai angin kencang yang terus mengamuk. Aktivitas yang berani mereka lakukan saat ini hanya sebatas ke tegalan buru-buru untuk memberi pakan ternak saja.

“Longsor dan pohon bertumbangan masih banyak terjadi di beberapa titik. Dalam hitungan saya, setidaknya 102 KK warga kami yang kini terancam kelaparan,” keluh Ketut Janji saat dikonfirmasi per telepon.

Ditambahkan Ketut Janji, hingga kemarin sore belum ada bantuan berupa sembako dan lainnya dari pemerintah. “Kami mohon pemerintah segera memberikan alat berat, yang terpenting bantuan sembako. Kami tidak bisa melakukan aktivitas di sini. Aktivitas perekonomian warga kami lumpuh total,” jelas Ketut Janji diamini Kadus Pinggan Nengah Punia.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Badan Kesbangpolinmas Bangli Dewa Gede Suparta, juga mengakui akses jalan menuju Desa Pinggan dan Desa Belandingan terputus akibat tertutup lumpur dan pohon roboh. “Tadi (kemarin) saya harus balik lagi karena tidak bisa menembus lokasi bencana di dua desa itu. Banyak pohon pinus roboh menutup akses jalan,” tutur Dewa Suparta.

Menurut Dewa Suparta, sebetulnya sehari sebelumnya, Rabu, akses jalan menuju Desa Pinggan dan Desa Belandingan sempat bisa dilalui kendaraan. “Tapi saat ini (Kamis) tak bisa lagi dilewati sepeda motor, bahkan jalan kaki pun sulit. Sialnya, jalan alternatif melewati Desa Songan dari Panelokan juga lumpuh. Jadi, Desa Pinggan dan Belandingan kini terisolasi,” jelas Dewa Suparta.

Ditanya soal kerugian material akibat bencana di sejumlah desa di Kintamani, menurut Dewa Suparta, pihaknya masih melakukan pendataan. “Atas perintah Bupati (Made Gianyar) kami masih melakukan pendataan. Yang jelas, pemerintah akan membantu biaya perawatan para korban bencana,” katanya.

Sementara itu, Bupati Bangli Made Gianyar menyatakan upaya penanggulangan yang jadi prioritasnya adalah menangani akses jalan. Sebab, saat ini ini petugas belum bisa masuk ke lokasi bencana di Desa Pinggan dan Desa Belandingan. “Akses jalan lumpuh,” ujar Bupati saat dikonfirmasi per telepon, tadi malam. 

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

GA Tipe Tertutup, Fase Letusan Freatik, Freatomagmatik, Terakhir Magmatik

Penampakan Gunung Agung dari Pos Pantau Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem, Rabu (22/11/2017) sore (grafis) 3 Kali Tremor Menerus Te...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen